Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Kegelapan di dalam kamar hotel butik itu terasa begitu pekat dan hangat, menciptakan gelembung realitas yang membuat siapa pun di dalamnya lupa akan dunia luar yang kejam. Keheningan hanya dipecah oleh suara dengung halus pendingin ruangan dan deru napas yang teratur. Namun, kedamaian itu harus berakhir ketika sebuah tangan besar dengan sentuhan lembut mengusap bahu Elowen yang polos.
"Sayang... hey, bangun. Ayo, kita harus pulang sekarang," bisik Ezzra. Suaranya serak khas orang yang baru terbangun, namun ada nada urgensi yang terselip di sana.
Elowen mengerang kecil, mengerjapkan matanya yang terasa berat. Ia merasakan kehangatan tubuh Ezzra di sampingnya, sebuah kenyamanan yang membuatnya enggan untuk beranjak. "Jam berapa?" tanyanya dengan suara parau.
"Jam dua pagi," jawab Ezzra singkat. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya, lalu berbalik untuk mencium pucuk kepala Elowen dengan lembut. "Ayo, pakai pakaianmu. Jika kita tidak pergi sekarang, kita akan benar-benar terjebak dalam masalah besar saat matahari terbit."
Elowen menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang remang. Tubuhnya terasa letih, namun jiwanya merasa jauh lebih hidup daripada sebelumnya. Ia menoleh ke arah Ezzra, memberikan tatapan malas yang menggoda. "Hmm, baiklah... tapi gendong aku ke kamar mandi."
Ezzra terkekeh rendah, suara tawa yang maskulin memenuhi ruangan. "Manja sekali, Baby. Kau pikir aku tidak lelah setelah r*nde-r*nde tadi?" Meskipun menggerutu, Ezzra tetap berdiri, menyambar tubuh ramping Elowen dan menggendongnya menuju kamar mandi seolah gadis itu tidak memiliki berat sama sekali.
Beberapa menit kemudian, sebuah teriakan nyaring pecah dari dalam kamar mandi, memecah kesunyian kamar.
"EZZRA!!! Kau gila?! Kau membuat tanda sebanyak ini?"
Ezzra yang sedang memakai celana jinsnya di samping tempat tidur hanya menyeringai tengil. Ia bisa membayangkan Elowen sedang menatap cermin dengan wajah memerah, memeriksa setiap inci kulitnya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar tidak tahan jika tidak meninggalkan jejak di sana. Anggap saja itu tanda kepemilikan agar kau tidak lupa siapa yang memilikimu," sahut Ezzra tanpa rasa bersalah.
Elowen, di balik pintu kamar mandi, menyentuh bercak kemerahan di bahu dan dadanya. Meskipun ia berteriak, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Ezzra mungkin berandal, tapi dia cukup cerdik. Tidak ada satu pun tanda yang ia tinggalkan di leher atau area yang sulit ditutupi pakaian. Pria itu menempatkan "tandanya" di bagian-bagian yang tersembunyi, seolah-olah itu adalah rahasia yang hanya boleh mereka berdua ketahui.
Setelah memastikan semuanya rapi, mereka keluar dari hotel itu saat jarum jam hampir menunjuk angka tiga pagi. Udara dini hari yang dingin menusuk tulang, menusuk melalui kain pakaian mereka. Elowen merapatkan jaketnya, sementara Ezzra merangkul bahunya, menuntunnya menuju area parkir yang sepi.
Namun, langkah mereka terhenti seketika. Jantung Elowen seolah berhenti berdetak saat melihat siluet seorang pria berdiri mematung tepat di depan mobil muscle milik Ezzra.
Pria itu mengenakan jaket hitam, tangannya terbenam di saku, dan wajahnya tertunduk di bawah bayangan lampu jalan yang remang. Perlahan, ia mendongak.
Jeff Feel-Lizzie.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Elowen. Tatapan Jeff yang biasanya hangat dan protektif kini berubah menjadi dingin, kosong, dan sangat mengerikan.
"Aku sudah mengikuti kalian sejak sore," ucap Jeff datar. Ia mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam tangannya dengan gerakan yang sangat mekanis. "Dan hampir jam tiga pagi baru selesai. Rekor yang cukup impresif untuk sebuah 'istirahat', bukan?"
Jeff melangkah maju, sorot matanya tertuju pada Elowen yang kini membeku di tempat. "Semalam kau mengirim pesan bahwa kau sudah sampai di apartemen mu dan ingin tidur, Elowen. See? Apa ini apartemen barumu, El? Sejak kapan kau pindah ke hotel butik murahan seperti ini?"
Elowen menelan ludah, mencoba mencari suaranya yang hilang. "Jeff, dengarkan aku... aku benar-benar kecapean setelah observasi. Kepalaku pusing dan Kami... tidak sanggup menyetir pulang ke apartemen, jadi memilih beristirahat di sini sebentar."
"Dan aku hanya menemaninya karena tidak mungkin meninggalkannya sendirian dalam kondisi lelah," sambung Ezzra, mencoba menetralkan suasana. Suaranya tenang, namun ia sudah memposisikan dirinya di depan Elowen secara protektif. "Kami tidak dalam satu kamar, Jeff. Aku hanya memastikan dia aman."
Jeff tiba-tiba tertawa. Itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang terdengar seperti gesekan logam yang berkarat. Ia menatap Elowen dengan pandangan yang merendahkan, sebuah tatapan yang tidak pernah Elowen bayangkan akan keluar dari pria sesabar Jeff.
"Tidak satu kamar? Berapa lama kalian pikir aku sudah berdiri di sini memperhatikan jendela kamar kalian yang lampunya padam selama berjam-jam?" Jeff melangkah lebih dekat hingga hanya berjarak beberapa inci dari Elowen.
"Apa kau memang selalu tidur dengan semua pria, Elowen? Apa ini caramu mencari 'pelindung' baru? Bagaimana rasanya tidur dengan berandal seperti dia? Kenapa tidak denganku saja? Apa aku terlalu 'suci' untuk tubuhmu yang ternyata begitu murahan?"
"CUKUP, JEFF!" Ucap Ezzra
"KAU GILA!" teriak Elowen, air mata kemarahan mulai menggenang. Kata-kata Jeff terasa seperti pisau yang mengiris harga dirinya. Meskipun ia memang melakukan kesalahan, mendengar Jeff merendahkannya seperti itu membuatnya muak.
"Kau gila karena kau mengkhianatiku!" suara Jeff meninggi untuk pertama kalinya. Namun detik berikutnya, ekspresinya berubah drastis menjadi memohon, sebuah ketidakstabilan emosi yang membuat Ezzra semakin waspada. "Tapi tidak apa-apa, El. Aku akan menerimamu kembali. Aku akan memaafkan kesalahan kecil ini. Kau tahu kan aku sangat mencintaimu? Kau hanya sedang bingung."
Jeff kemudian menoleh ke arah Ezzra dengan mata yang memerah. "Ezzra... kumohon, tinggalkan kekasihku. Kau sudah 'mencobanya' malam ini, kan? Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Kuharap jangan ada lagi malam kedua. Jangan rusak hubunganku."
Mendengar Jeff memohon seperti itu—setelah baru saja menghinanya—membuat rasa muak di hati Elowen mencapai puncaknya. Ia tidak bisa lagi hidup dalam kepura-puraan ini.
"Berhenti, Jeff!" Elowen melangkah keluar dari balik punggung Ezzra. "Kami tidak sedang 'mencoba'. Kami saling mencintai. Dan ini bukan malam pertama kami menghabiskan waktu bersama. Kami sudah sering melakukannya!"
Deg.
Hening. Sunyi yang mencekam menyelimuti area parkir itu. Jeff tertegun, mulutnya sedikit terbuka seolah ia baru saja dihantam oleh kenyataan yang tidak mampu diproses oleh otaknya.
Jeff kembali tertawa, kali ini lebih histeris. "Itu tidak benar, kan? Kau hanya bicara begitu agar aku marah. Ayo, El, kita pulang. Aku akan menyiapkan sarapan di apartemen mu."
Ezzra maju selangkah, menatap Jeff dengan tatapan yang sangat serius. "Lupakan Elowen, Jeff. Dia bukan lagi kekasihmu. Dia kekasihku. Kekasih backstreet-ku selama ini. Kami berpacaran di belakangmu karena dia takut padamu. Tapi sekarang semuanya sudah jelas."
Jeff menatap mereka berdua bergantian. Wajahnya yang pucat di bawah lampu jalan tampak seperti mayat. Tanpa sepatah kata pun lagi, Jeff berbalik, masuk ke dalam mobilnya, dan menginjak gas dengan kecepatan tinggi hingga ban mobilnya berdecit keras di atas aspal.
Kepergian Jeff yang tiba-tiba pagi itu meninggalkan rasa merinding yang hebat pada Elowen dan Ezzra. Mereka berdiri diam di sana, menatap sisa asap knalpot mobil Jeff. Rahasia mereka telah terbongkar dengan cara yang paling brutal. Mereka tidak menyangka bahwa "malaikat pelindung" seperti Jeff bisa berubah menjadi sosok yang begitu gelap dan mengintai dalam diam.
Badai yang selama ini mereka takuti akhirnya pecah, dan mereka tahu, mulai detik ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...