NovelToon NovelToon
Love Unscripted

Love Unscripted

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: CieMey

Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.

Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa yang terpendam

Vanya memulai hari nya dengan perasaan senang, hari ini ia akan di antar oleh papa nya, selama ini ia sangat jarang bertemu orangtuanya terlebih papa.

berbeda dengan Vanya yang terlihat bahagia, justru Nana mati matian berusaha menghilangkan fikiran kotor nya dan mencoba untuk bersikap biasa saja dengan Vanya.

Tapi saat Vanya bertemu tatap dengan Farida semua perasaan bahagia Vanya seketika sirna. perasaan itu berubah menjadi gelisah, pikiran nya penuh dengan banyak pertanyaan.

Kriiingg. Jam istirahat pertama nih" kata Irgi memulai pembicaraan.

"Iya" jawab Nana dan Vanya berbarengan. 

"Gue risih sama Farida, die deket deket gue mulu... Apa gue pacaran aja ya biar die ga deket deket gue lagi" oceh Irgi sambil meminum es teh manis yang baru saja diantarkan oleh ibu kantin.

"Yaudah pacaran aja" kata Nana kali ini dengan intonasi yang lebih hangat dari biasanya.

"Iya sih... Farida emang keterlaluan ngedeketin Lo nya, yaudah kalo emang Lo mau pacaran ya pacaran aja... Tapi harusnya Lo pacaran bukan karena mau ngehindarin Farida gi, nanti kasian dong cewek Lo di jadiin pelampiasan doang." Kata Vanya sambil mengaduk mie instan yang ia pesan tadi.

"Iya gw ngerti" kata Irgi yang baru saja di nasehati Vanya.

Bel berbunyi menandakan pergantian jam pelajaran. Vanya, Nana, dan Irgi kembali ke kelas. Di dalam kelas Bu Dwi sedang mengambil paksa lembar Jawaban seluruh siswa yang belum juga selesai mengerjakan soal. Tak ada satupun yang melawan  Bu Dwi, mereka sudah pasrah dengan nilai ulangan harian kali ini termasuk Farida.

Bu Dwi langsung meninggalkan kelas setelah semua lembar jawaban sudah berada di tangannya.

Vanya, Nana, dan Irgi kembali ke bangku masing masing. 

"Iih susah banget" kata Farida sambil menaruh kepalanya di atas meja.

"Emang Lo ga belajar?" Tanya Vanya yang baru saja duduk di bangku nya.

"Belajar kok... Tapi lupa semua" jawab Farida dengan manja.

Vanya, Nana, dan Irgi yang mendengar nya hanya memutar bola mata.

Disisi lain, Vanya masih memikirkan kejadian kemarin di depan ruang UKS. Vanya mencoba berpikir positif, ia percaya Farida tidak mungkin menyukai Nana.

Semua berjalan dengan lancar, sampai bel pulang sekolah berbunyi. Seperti rencananya tadi pagi, Nana pulang bersama Vanya. Selama di perjalanan tak ada di satupun yang mengeluarkan suara. Vanya sibuk dengan pikirannya sendiri, pak Agus lebih memilih memperhatikan jalan yang lumayan padat, sedangkan Nana ia sibuk mengotak ngatik HP Vanya. Entah apa yang sedang Nana cari, dari tadi ia sibuk dengan HP Vanya sedangkan pemilik nya hanya diam sama sekali tidak terusik dengan aktivitas Nana.

Sesampainya di rumah. Vanya memasuki kamarnya dan mengganti baju. Ada sesuatu yang menggangu pikirannya, bagaimana jika jawaban dari pertanyaan nya nanti adalah iya, Vanya mungkin akan merasa kesal dan sedih dalam waktu yang bersamaan. 

Nana berjalan menuju dapur rumah Vanya, ia membuka kulkas dan mencari cari makanan dan minuman soda. Sekaleng minuman soda dan beberapa potong puding sudah berada di tangannya. 

Sambil menunggu Vanya turun, Nana memilih memakan puding sambil menonton film horor yang baru kemarin di tayangkan di bioskop. Jika ada yang bertanya bagaimana Nana bisa menonton film yang baru saja di tayangkan di bioskop jawabannya adalah Nana membeli CD bajakan. 

Vanya menuruni anak tangga dengan ragu. Nana yang menyadari keberadaan Vanya yang menuruni anak tangga dengan sangat lambat menatap Vanya dengan tatapan penuh tanya. 

Vanya yang menyadari tatapan aneh dari Nana, tersenyum dan berjalan cepat menemui Nana yang tengah duduk di depan tv. 

"Na... Eh gajadi deh ntar aja kalo udah kelar nonton film nya" kata Vanya yang terlihat ragu. 

"Kalo ada yang mau di omongin, omongin aja Van jangan bikin gue penasaran" kata Nana tanpa mengalihkan pandangannya dari tv. 

"Nanti aja" jawab Vanya singkat.

Vanya tidak ingin merusak suasana hati nya saat ini. Ia ingin menikmati filmnya, setidaknya itu akan membuat hatinya lebih tenang sedikit. 

Tak terasa film yang di tonton Nana dan Vanya sudah selesai, mereka terlalu menikmati filmnya Sampai sampai tak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. 

"Van tadi katanya mau ngomong" kata Nana membuka percakapan. 

Vanya terdiam, ia takut menanyakan hal itu kepada Nana, Vanya takut apa yang ia khawatirkan selama ini akan terjadi. 

Dengan Sangat ragu Vanya akhirnya menanyakan kepada Nana "Na... Ada dua hal yang gue mau tanyain ke Lo, yang pertama siapa Valiza?" Belum selesai Vanya berbicara, Nana yang mendengar nama Valiza di sebut sontak ingin menjawab pertanyaan Vanya tadi. 

"Van..." 

"Nanti dulu, gue blom selesai" Vanya langsung memotong perkataan Nana. 

"Kedua... Lo suka ya sama Desya" dengan sangat ragu akhirnya Vanya berhasil menyelesaikan pertanyaan. 

"Oke boleh gue jawab sekarang?" Kata Nana dengan wajah yang terlihat lebih serius dari sebelumnya. 

Vanya hanya mengangguk. 

"Yang pertama, Valiza itu temen gue waktu kecil... Dia cantik, baik, dia bisa dapetin apapun yang dia mau kecuali kebahagian" terlihat jelas kesedihan yang Nana rasakan ketika menjelaskan tentang Valiza. Penjelasan Nana tadi cukup membuat Vanya bungkam, ia tidak mengerti mengapa Nana bilang Valiza mampu mendapatkan segalanya tapi tidak dengan kebahagiaan. Saat ini Vanya tidak ingin membuat Nana tambah sedih, ia memutuskan untuk tidak menanyakan lagi hal hal yang terkait dengan Valiza, walaupun sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan tentang Valiza yang ingin Vanya tanyakan. 

"Kedua, perasaan gue ke Desya temen Lo itu... Menarik sih, sekarang sih blom ada rasa apa apa tapi boleh lah kenalan dulu siapa tau nyantol Van" untuk kedua kalinya Vanya merasa heran dengan Nana, Nana bisa dengan mudah mengubah moodnya.

Jawaban kedua Nana membuat Vanya terdiam, apa yang ia takutkan pun terjadi. 

Vanya mencoba menenangkan pikiran nya.

"Van, eh bengong lagi Lo... Gimana mau ga ngasih nomor nya ke gue?" 

"Iya ntar gue kasih" jawab Vanya yang sudah pasrah. Ini salahnya juga karena yang terlalu cuek dengan perasaan Nana.

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
gempi
b
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!