Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUCUK 1
Hujan turun cukup deras malam ini.
Rintiknya menghantam kaca jendela kamar, menciptakan suara berirama yang seharusnya menenangkan. Lampu kamar redup, hanya menyisakan cahaya hangat yang jatuh lembut di sudut ruangan.
Raden Kirana Wijaya berdiri sejenak di ambang pintu.
Matanya tertuju pada sosok pria di atas ranjang- suaminya.
Adhikara Pradipta Mahendra.
Pria itu setengah bersandar pada headboard, satu tangan memegang buku, sementara tangan lainnya sesekali membalik halaman. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Seolah dunia di luar sana tidak pernah menyentuhnya.
Rana melangkah masuk perlahan.
Gaun tidurnya yang sederhana bergerak mengikuti langkahnya, sementara rambut panjangnya yang masih sedikit lembap jatuh di bahunya.
"Mas..." suaranya lembut, nyaris tertelan suara hujan.
Dipta tidak langsung menoleh.
"Hm?"
Rana duduk di tepi ranjang, menghadapnya. Tangannya secara refleks merapikan selimut yang sedikit terlipat, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan tanpa sadar.
"Akhir-akhir ini...Mas kelihatan capek," ucapnya pelan.
"Ada banyak pikiran, ya?"
Baru kali itu Dipta mengangkat pandangannya.
Tatapan mereka bertemu.
Namun hanya sebentar.
"Kerjaan kantor lagi banyak," jawabnya singkat, lalu kembali pada bukunya.
"Biasa."
Rana mengangguk kecil.
Biasa.
Kata itu terdengar sederhana...tapi entah kenapa, terasa seperti jarak yang makin melebar di antara mereka.
Ia diam sejenak.
Mengamati.
Cara suaminya menghindari tatapan. Cara jarinya berhenti sepersekian detik saat membalik halaman. Cara napasnya sedikit lebih berat dari biasanya.
Hal-hal kecil yang mungkin tidak akan disadari oleh orang lain.
Tapi tidak bagi Rana.
Perlahan, ia menggeser tubuhnya lebih mendekat.
Tangannya menyentuh lengan suaminya dengan lembut.
"Mas..." panggilnya lagi, kali ini lebih pelan, lebih dekat.
Dipta akhirnya menoleh, alisnya sedikit berkerut.
Rana tersenyum tipis.
Bukan senyum lebar. Bukan pula senyum canggung.
Hanya...senyum yang sudah ia latih selama bertahun-tahun.
"kalau capek...mungkin Mas butuh istirahat," ucapnya halus.
Jemarinya bergerak pelan, menyusuri lengan pria itu, berhenti di pergelangan tangan.
"Biar aku temenin..."
Ada jeda.
Hening.
Hanya suara hujan yang masih setia mengisi ruang.
Dipta menarik tangannya perlahan.
Gerakan kecil. Tapi cukup untuk menjawab segalanya.
"Nggak usah, Ran," katanya datar. "Aku lagi gak mood."
Sederhana.
Tanpa emosi.
Tanpa penjelasan.
Rana terdiam.
Senyumnya tidak langsung hilang. Ia tetap memasangnya di wajah, seolah tidak ada yang berubah.
Padahal...ini bukan pertama kalinya.
Ia menunduk sedikit, lalu mengangguk pelan.
"Iya...Mas," jawabnya lembut.
Tangannya perlahan ditarik kembali, kembali ke pangkuannya sendiri.
Dipta sudah kembali fokus pada bukunya.
Seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi.
Seolah istrinya...tidak pernah mencoba mendekat.
Rana menatapnya beberapa detik lebih lama.
Lalu, perlahan, ia berdiri.
Langkahnya ringan saat berjalan menuju jendela.
Di luar, lampu-lampu kota Yogyakarta terlihat samar di balik tirai hujan. Jalanan basah, memantulkan cahaya seperti serpihan kaca.
Indah.
Tapi dingin.
Sama seperti yang ia rasakan saat ini.
Tangannya menyentuh kaca jendela.
Dingin.
Sama seperti sentuhan yang baru saja ia terima.
Untuk sesaat, ia menutup mata.
Mengatur napas.
Mengumpulkan sesuatu yang nyaris runtuh di dalam dirinya.
Namun ketika matanya terbuka kembali...tidak ada air mata. Hanya tatapan yang lebih tenang. lebih dalam. Dan lebih dingin.
Bibirnya perlahan terangkat. Senyum kecil, tipis.
Rana kembali melangkah, menuju ranjang. Sekilas ia menatap suaminya yang masih membuka halaman buku.
Rana berbaring, menatap langit-langit kamar yang terasa sempit. Rasa dingin karena hujan membuat keinginannya semakin menjadi, terlebih sore tadi sahabatnya baru saja bercerita tentang kisahnya yang melihat adik dan adik iparnya tengah bercinta.
Lampu kamar di matikan, Dipta meletakkan buku di atas nakas lalu menyalakan lampu tidur. Ia meringkuk membelakangi istrinya yang masih terjaga. Rana menoleh, senyum jahilnya membuat ia melakukan apa yang ia inginkan. Ia beringsut dan memeluk pinggang suaminya dan berbisik pelan.
"Kok, tangan kamu dingin banget Mas?"
"Masa sih?" gumam Dipta, ia masih memejamkan kedua matanya.
Rana mengelus dada bidang suaminya, "mas sakit ya?"
Dipta mendesah, "Mas lagi sedikit gak enak badan, Ran. Kayanya Mas masuk angin."
Rana tersenyum, lagi-lagi senyum jahil. Jemarinya sengaja ia arahkan ke salah satu anggota suaminya. Anggota badan yang cukup sensitif jika ia sentuh. Tapi apa yang Rana dapatkan?
Dipta menyingkirkan tangan istrinya kasar, ia bangun dan menatap Rana yang terkejut.
"Kamu apa-apaan sih, Ran? Mas kan udah bilang sama kamu kalau Mas lagi gak enak badan. Kamu bisa gak sih ngertiin Mas?"
Rana terdiam, suaranya tercekat. Baru kali ini suaminya menolak Rana begitu kasar. Rana ikut bangun, menatap suaminya.
"Maafin Rana," gumamnya- tertunduk.
Dipta menyingkapkan selimutnya dan gegas turun dari ranjang lalu tanpa menoleh pria itu keluar dari kamar meninggalkan Rana dengan seribu tanya.
...****************...
Bersambung....
Hallo, salam kenal dari wargaiJawa Barat khususnya Tasikmalaya 👋☺️
Mohon dukungannya ya dengan vote, komen, bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ dan subscribe.
Haturnuhun 🙏