NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Pelakor / Tamat
Popularitas:64.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca
please komen, subscribe, vote, dan like🫶

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUCUK 1

Hujan turun cukup deras malam ini.

Rintiknya menghantam kaca jendela kamar, menciptakan suara berirama yang seharusnya menenangkan. Lampu kamar redup, hanya menyisakan cahaya hangat yang jatuh lembut di sudut ruangan.

Raden Kirana Wijaya berdiri sejenak di ambang pintu.

Matanya tertuju pada sosok pria di atas ranjang- suaminya.

Adhikara Pradipta Mahendra.

Pria itu setengah bersandar pada headboard, satu tangan memegang buku, sementara tangan lainnya sesekali membalik halaman. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

Seolah dunia di luar sana tidak pernah menyentuhnya.

Rana melangkah masuk perlahan.

Gaun tidurnya yang sederhana bergerak mengikuti langkahnya, sementara rambut panjangnya yang masih sedikit lembap jatuh di bahunya.

"Mas..." suaranya lembut, nyaris tertelan suara hujan.

Dipta tidak langsung menoleh.

"Hm?"

Rana duduk di tepi ranjang, menghadapnya. Tangannya secara refleks merapikan selimut yang sedikit terlipat, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan tanpa sadar.

"Akhir-akhir ini...Mas kelihatan capek," ucapnya pelan.

"Ada banyak pikiran, ya?"

Baru kali itu Dipta mengangkat pandangannya.

Tatapan mereka bertemu.

Namun hanya sebentar.

"Kerjaan kantor lagi banyak," jawabnya singkat, lalu kembali pada bukunya.

"Biasa."

Rana mengangguk kecil.

Biasa.

Kata itu terdengar sederhana...tapi entah kenapa, terasa seperti jarak yang makin melebar di antara mereka.

Ia diam sejenak.

Mengamati.

Cara suaminya menghindari tatapan. Cara jarinya berhenti sepersekian detik saat membalik halaman. Cara napasnya sedikit lebih berat dari biasanya.

Hal-hal kecil yang mungkin tidak akan disadari oleh orang lain.

Tapi tidak bagi Rana.

Perlahan, ia menggeser tubuhnya lebih mendekat.

Tangannya menyentuh lengan suaminya dengan lembut.

"Mas..." panggilnya lagi, kali ini lebih pelan, lebih dekat.

Dipta akhirnya menoleh, alisnya sedikit berkerut.

Rana tersenyum tipis.

Bukan senyum lebar. Bukan pula senyum canggung.

Hanya...senyum yang sudah ia latih selama bertahun-tahun.

"kalau capek...mungkin Mas butuh istirahat," ucapnya halus.

Jemarinya bergerak pelan, menyusuri lengan pria itu, berhenti di pergelangan tangan.

"Biar aku temenin..."

Ada jeda.

Hening.

Hanya suara hujan yang masih setia mengisi ruang.

Dipta menarik tangannya perlahan.

Gerakan kecil. Tapi cukup untuk menjawab segalanya.

"Nggak usah, Ran," katanya datar. "Aku lagi gak mood."

Sederhana.

Tanpa emosi.

Tanpa penjelasan.

Rana terdiam.

Senyumnya tidak langsung hilang. Ia tetap memasangnya di wajah, seolah tidak ada yang berubah.

Padahal...ini bukan pertama kalinya.

Ia menunduk sedikit, lalu mengangguk pelan.

"Iya...Mas," jawabnya lembut.

Tangannya perlahan ditarik kembali, kembali ke pangkuannya sendiri.

Dipta sudah kembali fokus pada bukunya.

Seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi.

Seolah istrinya...tidak pernah mencoba mendekat.

Rana menatapnya beberapa detik lebih lama.

Lalu, perlahan, ia berdiri.

Langkahnya ringan saat berjalan menuju jendela.

Di luar, lampu-lampu kota Yogyakarta terlihat samar di balik tirai hujan. Jalanan basah, memantulkan cahaya seperti serpihan kaca.

Indah.

Tapi dingin.

Sama seperti yang ia rasakan saat ini.

Tangannya menyentuh kaca jendela.

Dingin.

Sama seperti sentuhan yang baru saja ia terima.

Untuk sesaat, ia menutup mata.

Mengatur napas.

Mengumpulkan sesuatu yang nyaris runtuh di dalam dirinya.

Namun ketika matanya terbuka kembali...tidak ada air mata. Hanya tatapan yang lebih tenang. lebih dalam. Dan lebih dingin.

Bibirnya perlahan terangkat. Senyum kecil, tipis.

Rana kembali melangkah, menuju ranjang. Sekilas ia menatap suaminya yang masih membuka halaman buku.

Rana berbaring, menatap langit-langit kamar yang terasa sempit. Rasa dingin karena hujan membuat keinginannya semakin menjadi, terlebih sore tadi sahabatnya baru saja bercerita tentang kisahnya yang melihat adik dan adik iparnya tengah bercinta.

Lampu kamar di matikan, Dipta meletakkan buku di atas nakas lalu menyalakan lampu tidur. Ia meringkuk membelakangi istrinya yang masih terjaga. Rana menoleh, senyum jahilnya membuat ia melakukan apa yang ia inginkan. Ia beringsut dan memeluk pinggang suaminya dan berbisik pelan.

"Kok, tangan kamu dingin banget Mas?"

"Masa sih?" gumam Dipta, ia masih memejamkan kedua matanya.

Rana mengelus dada bidang suaminya, "mas sakit ya?"

Dipta mendesah, "Mas lagi sedikit gak enak badan, Ran. Kayanya Mas masuk angin."

Rana tersenyum, lagi-lagi senyum jahil. Jemarinya sengaja ia arahkan ke salah satu anggota suaminya. Anggota badan yang cukup sensitif jika ia sentuh. Tapi apa yang Rana dapatkan?

Dipta menyingkirkan tangan istrinya kasar, ia bangun dan menatap Rana yang terkejut.

"Kamu apa-apaan sih, Ran? Mas kan udah bilang sama kamu kalau Mas lagi gak enak badan. Kamu bisa gak sih ngertiin Mas?"

Rana terdiam, suaranya tercekat. Baru kali ini suaminya menolak Rana begitu kasar. Rana ikut bangun, menatap suaminya.

"Maafin Rana," gumamnya- tertunduk.

Dipta menyingkapkan selimutnya dan gegas turun dari ranjang lalu tanpa menoleh pria itu keluar dari kamar meninggalkan Rana dengan seribu tanya.

...****************...

Bersambung....

Hallo, salam kenal dari wargaiJawa Barat khususnya Tasikmalaya 👋☺️

Mohon dukungannya ya dengan vote, komen, bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ dan subscribe.

Haturnuhun 🙏

1
Bundanya Pandu Pharamadina
kak Author, terimakasih cerita bagus...
❤❤❤❤
Cheng Nyo
👍👍
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta Rana mungkin kurangnya komunikasi , semoga ga ada drama perempuan lain dalam rumah tangga kalian❤❤
Rosita Tumbelaka
Aq suka coment yg serius ajaa krn bikin Adrenalin ku naik..deg... deg... deg..
Rosita Tumbelaka
Ayoo Thor.... lanjut ...aneh istri nya bicara dgn pria lain di muka Umum marah. tapi suami berdua an dgn perempuan lain di tempat private mkn di resto ... apa itu pantas...
Bundanya Pandu Pharamadina
aduh Dipta gimana sih.... nggapeka dgn istri yg cemburu
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta jangan main api.. ingat istri juga anak² yg menunggu kepulanganmu
Bundanya Pandu Pharamadina
Laras ga tepat waktu klo telfon.. ga lihat waktu,
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga ga ada drama kegoda masa lalu, tetap jadi keluarga harmonis Dipta Rana❤
Bundanya Pandu Pharamadina
masa lalunya Dipta kah laras....
Bundanya Pandu Pharamadina
ijin marathon kak Author🙏
Ririn Nursisminingsih
kereen rena👍👍
Ririn Nursisminingsih
syukurin Dipta terus aja bahagiain mntan kmu itu
Ririn Nursisminingsih
dipta kmu mulai main hati rena jg mudah percaya ini juga sang mntan ganggu aja
Sayekti 0519
baguss dan nyata sakitnya
Memyr 67
𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗋𝖺𝗉 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖼𝖺𝗅𝗈𝗇 𝗃𝖺𝗇𝖽𝖺. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗇𝗂 𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂
Memyr 67
𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖽𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖾𝗇𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗋𝖺𝗃𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗌𝗎𝖺𝗌𝖺𝗇𝖺 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗋𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗇𝗒𝖺𝗆𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋 𝗈𝗍𝖺𝗄 𝖽𝗂 𝖻𝗈𝗄𝗈𝗇𝗀
Nha_A
IRT apa thoor? Ibu Rumah Tangga? kirain kalo pembantu itu ART, Asisten Rumah Tangga
🍀 YEHPPEE 🍀: typo kayak nya hehe makasih koreksinya
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart/
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih
total 1 replies
Gemuruh riuh
akhirnya happy ending 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!