seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Segera setelah mendengar penjelasan dari Liana, Pak Rudi langsung bertindak cepat. Ia menekan tombol interkom dan memerintahkan stafnya untuk segera memanggil Sasha beserta teman-temannya, Santi dan Reni, untuk datang ke ruangannya sekarang juga.
Tidak butuh waktu lama, pintu ruangan terbuka perlahan. Dengan langkah gemetar dan wajah pucat pasi, Sasha, Santi, dan Reni masuk satu per satu. Kepala mereka tertunduk dalam, tidak berani mengangkat wajah sedikit pun. Suasana di ruangan itu begitu mencekam, penuh dengan aura kekuasaan dan kemarahan yang terasa begitu berat.
Mereka bisa merasakan tatapan tajam Liana yang menusuk hingga ke tulang sumsum.
Pak Rudi membentak dengan suara keras yang menggema di ruangan itu.
"Kalian bertiga Maju! Berdiri tegak! Kalian sadar tidak kalian sedang berada di mana dan sedang berhadapan dengan siapa?!"
Sasha, Santi, dan Reni hanya bisa mengangguk pelan, tubuh mereka bergetar hebat menahan ketakutan.
Sasha berbisik pelan dengan suara parau.
"Sa... sadar Pak..."
Liana yang duduk dengan anggun di sofa tamu tidak langsung berbicara. Ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan dingin dan meneliti, seolah sedang menilai musuhnya yang sudah terperangkap.
Liana akhirnya membuka suara dengan nada yang tenang namun sangat mengintimidasi.
"Jadi... kalian bertiga yang selama ini mengganggu, menghina, dan mempermalukan anak saya, Dinda, ya?"
Mendengar pertanyaan itu, lutut Sasha rasanya lemas sekali. Ia ingin sekali lari keluar dari ruangan itu, tapi kakinya seakan terpaku di lantai marmer itu.
Liana melanjutkan dengan tegas.
"Pak Rudi... Saya tidak ingin menyelesaikan masalah ini hanya dengan hukuman biasa atau skorsing. Karena apa yang mereka lakukan sudah sangat keterlaluan, sudah melukai hati dan mental anak saya."
Liana menatap wajah Rektor.
"Saya mohon, tolong panggilkan orang tua mereka sekarang juga. Orang tua Sasha, orang tua Santi, dan orang tua Reni. Saya ingin berbicara empat mata dengan mereka. Biar mereka tahu bagaimana kelakuan anak kesayangan mereka selama di kampus. Biar mereka tahu kalau anak mereka bukanlah putri raja yang mereka banggakan selama ini, tapi justru perusak suasana dan pelaku perundungan!"
Pak Rudi langsung mengangguk patuh.
"Baik Nyonya! Segera saya lakukan! Saya akan telepon mereka sekarang juga dan minta mereka datang secepatnya!"
Sasha, Santi, dan Reni sontak mengangkat wajah mereka dengan mata terbelalak kaget dan panik.
"Jangan Tante! Jangan panggil orang tua kami! Kami mohon! Nanti kami dimarahi habis-habisan! Kami janji gak akan ngulangin lagi!" ratapnya dengan air mata mulai mengalir.
"Iya Tante... ampuni kami sekali ini aja ya Tante... please..." sahut Santi dengan suara yang ketakutan.
Namun Liana sama sekali tidak tergerak hatinya. Wajahnya kembali dingin dan tak tergoyahkan.
"Terlambat. Saat kalian menghina Dinda, saat kalian memfitnah dia, saat kalian membuat dia menangis sendirian... kalian tidak pernah berpikir untuk minta maaf atau berhenti. Sekarang... rasakan akibatnya. Biar orang tua kalian yang datang dan yang menentukan nasib kalian."
Dinda yang duduk di samping ibunya hanya diam menyaksikan. Hatinya merasa sedikit sedih melihat mereka ketakutan, tapi ia juga sadar bahwa ini adalah konsekuensi yang harus mereka terima agar mereka bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik dan tidak semena-mena lagi terhadap orang lain.
Tak lama kemudian, satu per satu orang tua dari anak-anak itu datang dengan wajah bingung dan panik. Suasana di ruang Rektor menjadi semakin ramai namun tegang. Pertemuan antara orang tua yang marah, Rektor yang kecewa, dan Liana yang siap menuntut keadilan pun dimulai .
*****
Pintu ruangan kembali terbuka. Masuklah pasangan suami istri yang terlihat rapi namun wajahnya tampak bingung dan cemas. Mereka adalah orang tua Sasha. Diikuti juga oleh orang tua Santi dan Reni yang tampak gusar.
Namun, saat mata Ayah Sasha menangkap sosok wanita cantik yang duduk di sofa utama, tubuhnya seketika mematung. Wajahnya berubah pucat, kakinya terasa lemas, dan jantungnya seakan berhenti berdetak.
Ia mengenal betul siapa wanita itu. Wanita yang sering ia lihat di rapat umum, di majalah, dan di foto di dinding kantornya. Itu adalah Ibu Liana Dewantara, pemilik utama dari perusahaan tempat ia bekerja!
Dan yang lebih membuatnya ingin pingsan, ia sadar bahwa perusahaannya hanyalah anak cabang dari grup besar keluarga Dewantara. Artinya, nasib karir dan pekerjaannya ada sepenuhnya di tangan wanita ini!
Ayah Sasha tergagap-gagap, keringat dingin langsung membanjiri dahinya.
"S-Selamat pagi... B-Bu Liana? Apa yang membawa Ibu berada di sini? A-apa ada masalah di kampus Ini ?" suaranya bergetar hebat, penuh ketakutan dan hormat.
Ibu Sasha di sebelahnya juga langsung kaget dan buru-buru menunduk sopan. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan bos besar mereka di tempat ini.
" hmmm,...pak Hasan Dan Bu Hani ."
Liana menatap mereka dengan tatapan dingin dan datar.
"Jadi Bapak bekerja di cabang perusahaan kami ya? Bagus... justru karena itu saya memanggil Bapak dan Ibu datang ke sini. Supaya Bapak tahu, anak Bapak sedang berbuat apa."
Sasha yang melihat interaksi itu langsung merasa dunia runtuh di atas kepalanya.
'Ya Tuhan... Ayah kerja di perusahaan mereka?! Berarti kita ini bawahan mereka?! Gila... kenapa nasib aku bisa seburuk ini?!'
Pak Rudi yang duduk di kursinya langsung menjelaskan dengan tegas.
"Begini Pak, Bu... Anak Bapak, Sasha, bersama teman-temannya ini terbukti melakukan perundungan atau bullying terhadap mahasiswi lain. Mereka menghina, memfitnah, dan mempermalukan korban di depan umum. Dan tahukah kalian? Korban yang mereka sakiti itu tidak lain adalah putri kandung Bu Liana sendiri, Nona Dinda!"
DUARRRR ! Seperti tersambar petir, Ayah Sasha langsung menoleh ke arah anaknya dengan mata melotot penuh amarah. Ia tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.
Ayah Sasha berteriak dengan suara tinggi karena marah dan panik.
"APA?! SASHA! BENAR INI?! KAU BERANI MENYAKITI ANAK DARI KELUARGA DEWANTARA?!"
Sasha menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar tak karuan.
"Ya... Yah... Maafkan Sasha... Sasha gak tau... Sasha gak tau kalau dia anak Bu Liana..."
Ayah Sasha tidak peduli lagi. Ia langsung berbalik badan, lalu membungkuk dalam-dalam hingga hampir 90 derajat ke arah Liana dan Dinda.
"Bu Liana... Saya minta maaf! Saya minta maaf yang sebesar-besarnya! Saya tidak tahu anak saya bisa sejahat ini! Tolong ampuni kami! Tolong jangan pecat saya! Saya janji saya akan mendidik ulang anak saya!"
Ibu Sasha juga ikut menangis dan meminta maaf berkali-kali. Mereka sangat ketakutan. Jika Liana marah sedikit saja, suaminya bisa kehilangan pekerjaan dalam sekejap mata, dan nasib keluarga mereka bisa hancur total.
Sementara itu, orang tua Santi dan Reni juga ikut panik melihat reaksi orang tua Sasha. Mereka baru sadar betapa besar dan berkuasanya keluarga yang telah mereka lawan anaknya ini.
Liana menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Saya tidak peduli soal pekerjaan Bapak selama Bapak bekerja dengan baik. Tapi soal anak Bapak... Saya tidak terima dia berbuat seenaknya. Dia sudah mencoreng nama baik, dia sudah menyakiti hati anak saya. Hukuman harus tetap diberikan agar dia jera!"
Pak Rudi mengangguk tegas.
"Baik Nyonya. Karena buktinya sudah sangat jelas dan para orang tua juga sudah mengetahui kesalahan anak mereka, maka saya putuskan: Sasha, Santi, dan Reni diberikan skorsing berat selama 1 semester, dan wajib melakukan pengabdian serta meminta maaf secara terbuka di depan seluruh mahasiswa. Jika ada keluhan lagi, saya akan keluarkan secara tidak hormat!"
Perintah itu membuat Sasha dan gengnya menangis histeris. Mereka malu setengah mati, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Ayah Sasha bahkan langsung menampar pelan lengan Sasha karena kesal.
"Minta maaf sekarang! Cepat minta maaf sama Bu Liana sama Non Dinda!"
Dengan tangan gemetar dan air mata bercucuran, Sasha, Santi, dan Reni maju selangkah, membungkuk dalam-dalam.
"Ma... Maafkan kami Tante... Maafkan kami Dinda... Kami janji tidak akan mengulanginya lagi..."