"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Hantu
Pagi di pelabuhan Marseille menyapa dengan kabut tipis yang merayap di atas permukaan air Mediterania, namun suasana di dalam kepalaku jauh lebih berkabut. Pesan dari Kaivan semalam terus berdenyut di balik pelipisku, seperti detak jam yang menghitung mundur ledakan yang tak terelakkan. Nadine ada di Paris. Dan dia membawa "sesuatu".
Aku berdiri di balkon hotel, menatap deretan kapal yang mulai bergerak keluar dari pelabuhan. Di sampingku, Bastian sedang menyesap kopi hitamnya, tampak begitu tenang dan berwibawa setelah kemenangan besar kami melawan serikat pekerja kemarin. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum yang kuberikan pagi ini, aku sedang menyusun benteng pertahanan untuk melindunginya dari hantu yang baru saja bangkit dari kubur masa lalu kami.
"Kamu terlihat sangat jauh pagi ini, Arelia," suara Bastian memecah kesunyian. Ia meletakkan cangkirnya, lalu melingkarkan lengannya di pinggangku dari belakang. Kehangatan tubuhnya biasanya adalah rumah bagiku, namun hari ini, kehangatan itu membuatku merasa bersalah.
"Hanya memikirkan sisa dokumen di Paris, Bastian," bohongku. Suaraku terdengar stabil, sebuah kemampuan baru yang kupelajari sejak menjadi pimpinan riset: kemampuan untuk menyembunyikan badai di balik ketenangan.
"Marseille sudah selesai. Marcelle sudah menandatangani kesepakatan subuh tadi. Kita menang, Rel. Sekarang, Paris adalah milikmu," Bastian mencium bahuku lembut.
Paris adalah milikmu. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti janji surga, namun bagiku, itu terdengar seperti medan perang yang sedang menunggu korbannya.
Perjalanan kembali ke Paris dengan jet pribadi terasa jauh lebih sunyi daripada saat kami berangkat. Bastian sibuk dengan panggilan konferensi internasional, sementara aku menatap keluar jendela, ke arah hamparan awan putih yang tampak seperti padang salju abadi. Aku memegang ponselku erat-alih-alih bekerja, aku justru membuka folder lama di cloud pribadiku. Folder yang berisi cadangan data dari laptop Kaivan yang sempat kusalin setahun lalu sebelum semuanya hancur.
Aku mencari nama "Nadine".
Hasilnya nihil. Kaivan terlalu cerdik untuk meninggalkan jejak digital tentang wanita itu di perangkat kantor. Namun, aku tahu ada satu hal yang selalu menjadi obsesi Kaivan: ia selalu mencatat setiap pengeluaran, setiap transaksi, bahkan yang paling gelap sekalipun. Jika Nadine membawa sesuatu untuk menjatuhkan Bastian, itu pasti berhubungan dengan masa di mana Kaivan secara tidak resmi membantu riset kompetitor saat masih bekerja di bawah Bastian.
"Rel, kita akan mendarat sepuluh menit lagi," Bastian menyentuh lenganku, membuyarkan lamunanku. "Aku harus langsung ke kantor pusat untuk rapat dengan dewan komisaris. Kamu ingin aku antar ke apartemen dulu?"
"Tidak, aku akan langsung ke kantor riset. Ada beberapa audit yang harus segera kupindahkan ke server baru," kataku cepat. Aku butuh ruang. Aku butuh waktu tanpa pengawasan Bastian untuk melacak Nadine.
Bastian menatapku dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Kamu yakin? Kamu terlihat pucat."
"Hanya jet lag kecil, Bastian. Jangan khawatirkan aku."
Begitu jet mendarat di Le Bourget, Paris menyambut kami dengan hujan gerimis yang dingin. Kota cahaya ini hari ini tampak suram, seolah-olah ia sedang bersekutu dengan kegelapan yang kubawa. Aku segera berpisah dengan Bastian di bandara, menaiki mobil jemputan yang membawaku langsung ke kantor pusat di Arrondissement ke-8.
Kantor riset global Adhitama di Paris masih sesibuk biasanya. Aroma kopi espresso dan suara ketikan papan tik yang cepat menyambutku. Aku langsung masuk ke ruangan privatku, menutup pintu, dan menguncinya.
Aku segera menghubungi Maya melalui sambungan terenkripsi ke Jakarta.
"Maya, aku butuh bantuanmu sekarang juga. Ini di luar protokol kantor," bisikku begitu Maya mengangkat telepon.
"Rel? Ada apa? Suaramu kedengaran panik banget," sahut Maya dari seberang sana. Di Jakarta mungkin sudah malam, namun aku tahu Maya selalu bisa diandalkan.
"Nadine ada di Paris. Kaivan mengirimiku pesan dari tahanan. Dia bilang Nadine punya sesuatu yang bisa menghancurkan reputasi Bastian. Aku butuh kamu melacak catatan perjalanan Nadine keluar dari Indonesia dalam tujuh puluh dua jam terakhir. Cari tahu siapa yang membiayai tiketnya."
"Gila! Nadine ke Paris? Itu cewek beneran nggak punya urat malu ya?" Maya terdengar geram. "Oke, kasih gue waktu satu jam. Gue bakal hubungi temen gue di imigrasi Soetta."
Setelah menutup telepon, aku duduk di kursi manajerku, menatap Menara Eiffel yang terlihat samar di balik jendela yang basah. Pikiranku berputar pada satu kemungkinan: Jika Nadine di Paris, dia tidak mungkin bergerak sendiri. Dia butuh uang, dia butuh perlindungan. Dan hanya ada satu orang di kota ini yang memiliki motif cukup kuat untuk mendanai keberadaan Nadine di sini.
Elena.
Mantan istri Bastian itu tidak akan pernah berhenti. Ia kalah di Marseille, maka ia akan menyerang di jantung pertahanan Bastian di Paris. Dan Nadine adalah senjata yang paling sempurna karena Nadine adalah bagian dari masa lalu yang juga menyakitiku. Elena ingin menyerang kami berdua sekaligus.
Tiba-tiba, sebuah ketukan di pintu membuatku terlonjak.
"Nona Arelia? Ini Jean-Pierre. Ada tamu untuk Anda di lobi bawah. Dia tidak memiliki janji temu, tapi dia bilang dia membawa 'kenangan dari Jakarta' untuk Anda."
Jantungku seolah berhenti berdetak. Kenangan dari Jakarta.
"Apakah dia menyebutkan namanya, Jean-Pierre?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
"Tidak, Nona. Dia hanya seorang wanita cantik dengan mantel merah. Dia bersikeras bahwa Anda akan sangat menyesal jika tidak menemuinya sekarang."
Mantel merah. Itu adalah warna favorit Nadine saat ia ingin pamer kekuatan.
Aku menarik napas panjang, merapikan blazer-ku, dan bercermin sejenak. Aku melihat wanita di cermin itu—wanita yang kuat, yang sudah menaklukkan Marseille. Aku tidak boleh membiarkan Nadine melihat ketakutanku. Aku harus menghadapinya di wilayah kekuasaanku.
"Bawa dia ke ruang rapat privat di lantai ini, Jean-Pierre. Pastikan tidak ada staf lain yang masuk ke sana selama kami bicara. Dan tolong... matikan CCTV di ruangan itu selama tiga puluh menit ke depan."
Jean-Pierre tampak bingung, namun ia mengangguk patuh. Sebagai direktur, aku memiliki otoritas penuh atas protokol keamanan di lantai ini.
Sepuluh menit kemudian, aku melangkah masuk ke ruang rapat privat. Ruangan itu berdinding kaca buram, memberikan privasi total dari hiruk-pikuk kantor. Di sana, duduk seorang wanita yang membelakangiku, menatap ke arah jalanan Paris. Mantel merahnya tampak begitu kontras dengan interior ruangan yang serba putih dan minimalis.
"Paris sangat cantik, ya, Arelia? Jauh lebih cantik daripada kubikel sempit kita di Jakarta dulu," suara itu terdengar begitu manis, namun mengandung racun yang sangat kukenal.
Nadine berbalik. Ia tampak lebih kurus, namun matanya memancarkan kilatan kemenangan yang mengerikan. Ia tersenyum sinis padaku.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Nadine?" kataku dingin, berdiri tegak di depan meja rapat yang besar.
"Hanya ingin berkunjung ke teman lama yang sekarang sudah jadi 'nyonya besar' di Paris," Nadine berdiri, melangkah perlahan mengelilingi meja, persis seperti predator yang sedang mengamati mangsanya. "Hebat ya, Rel. Kamu berhasil membuang Kaivan ke penjara dan naik ke tempat tidur bos kayamu ini dalam hitungan minggu. Aku harus belajar banyak darimu soal oportunisme."
"Jangan samakan aku denganmu, Nadine. Aku di sini karena kompetensiku. Kamu di sini karena kamu tidak punya tempat lain untuk lari setelah Kaivan hancur," balasku tajam.
Nadine tertawa, sebuah tawa yang kering dan hambar. "Kompetensi? Jangan bohongi dirimu sendiri. Kamu di sini karena Bastian butuh seseorang yang bisa ia kendalikan, seseorang yang tahu semua rahasia kotor perusahaannya tapi terlalu jatuh cinta untuk membocorkannya."
Ia berhenti tepat di depanku, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil dari tas mahalnya. Ia meletakkannya di atas meja dengan gerakan yang sengaja diperlambat.
"Kaivan bodoh karena dia mencoba menjual data risetmu, Arelia. Itu barang recehan. Yang aku bawa di sini adalah sesuatu yang jauh lebih berharga. Ini adalah catatan audit asli dari yayasan sosial Adhitama yang ditandatangani oleh ayah Bastian sepuluh tahun lalu. Ada aliran dana yang sangat besar ke rekening pribadi seorang pejabat di Prancis untuk melancarkan izin bangunan kantor ini."
Aku tertegun. Jika ini benar, maka ini bukan hanya soal skandal bisnis, tapi pidana internasional dan korupsi lintas negara. Reputasi Bastian akan hancur dalam semalam, dan ayahnya akan berakhir di penjara.
"Dari mana kamu mendapatkan ini?" bisikku.
"Kaivan menyimpannya sebagai jaminan jika suatu saat dia didepak. Dia mencurinya dari arsip rahasia ayah Bastian saat dia masih dipercaya sebagai asisten senior. Dia bilang ini adalah 'tiket emasnya'. Tapi sayang, dia terlalu emosional untuk menggunakannya," Nadine mengusap amplop itu dengan ujung jarinya. "Dan sekarang, Elena sudah setuju untuk membelinya dariku seharga tiga juta Euro."
"Lalu kenapa kamu malah menunjukkannya padaku?"
Nadine mencondongkan tubuhnya ke depan, aroma parfumnya kini terasa sangat mencekam. "Karena aku tahu kamu lebih kaya dari Elena sekarang. Aku ingin tawaran balik. Berikan aku lima juta Euro, dan aku akan menyerahkan dokumen ini padamu. Kamu bisa jadi pahlawan bagi Bastian, menyelamatkan keluarganya, dan hidup bahagia selamanya."
"Dan jika aku menolak?"
"Maka besok pagi, dokumen ini akan ada di meja redaksi Le Monde. Dan kamu akan melihat pria pujaanmu itu menangis di depan kamera saat ayahnya diseret keluar dari kantor pusat Jakarta," Nadine tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan betapa dia sangat menikmati penderitaanku. "Pilihan ada di tanganmu, Arelia. Kamu punya waktu sampai jam delapan malam ini. Temui aku di kafe kecil dekat Place de la Concorde."
Nadine merapikan mantelnya, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh padaku.
"Oh, satu lagi. Jangan coba-coba memberitahu Bastian. Elena punya informan di dalam tim legalnya. Jika Bastian bergerak satu langkah pun untuk menangkapku, dokumen ini akan otomatis terkirim ke media melalui sistem dead-man switch yang sudah diatur Elena."
Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.
Aku jatuh terduduk di kursi rapat, tanganku gemetar hebat. Aku menatap amplop cokelat yang ditinggalkan Nadine—ia sengaja meninggalkan salinan fotokopi untuk membuktikan bahwa dia tidak menggertak. Aku membuka salinan itu, dan hatiku mencelos saat melihat tanda tangan Prasetyo Adhitama di atas transaksi yang mencurigakan tersebut.
Ini adalah jebakan yang sempurna. Elena tidak hanya ingin menghancurkan Bastian, dia ingin menghancurkan seluruh dinasti Adhitama melalui tanganku. Jika aku membayar Nadine, aku melakukan tindak pidana penyuapan dan menyembunyikan bukti korupsi. Jika aku tidak membayar, aku melihat pria yang kucintai hancur.
Aku memejamkan mata, merasakan air mata mulai mengalir. Aku sudah sampai sejauh ini, aku sudah menaklukkan Jakarta dan Marseille, namun hantu masa lalu ini selalu menemukan cara untuk menarikku kembali ke kegelapan.
Ponselku bergetar. Pesan dari Bastian.
Bastian: "Rapat dengan komisaris berjalan lancar. Aku merindukanmu. Makan malam jam tujuh di Le Meurice? Aku punya kejutan kecil untukmu."
Aku terisak di tengah kesunyian ruang rapat. Kejutan kecil. Bastian ingin merayakan masa depan, sementara aku sedang menatap kehancuran masa lalunya.
Aku menghapus air mataku dengan kasar. Aku tidak boleh lemah. Jika Nadine ingin bermain kotor, maka aku akan menunjukkan padanya bahwa seorang analis tidak hanya pandai membaca angka, tapi juga pandai membaca strategi musuh.
Aku meraih ponselku, mengetik pesan untuk Maya.
"Maya, lupakan soal tiket perjalanan. Cari tahu di mana Nadine menginap di Paris sekarang. Dan aku butuh kontak tim intelijen siber Adhitama yang paling rahasia. Jangan lewat jalur kantor pusat. Gunakan jalur pribadi Bastian yang pernah dia berikan padamu."
Aku berdiri, menatap Menara Eiffel yang kini tampak seperti pedang yang menembus langit Paris.
Nyaris jadi kita?
Bukan. Kita tidak akan berakhir hanya karena gertakan seorang wanita yang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Aku akan melindungi Bastian, bahkan jika aku harus menjadi hantu yang lebih menakutkan daripada Nadine.
Peperangan di Paris baru saja dimulai. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun mencuri cahaya kami.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain