NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.

PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertelan (Bag 6)

"Ini... i i i ini gubuk yang sama kan, Bos?" tanya Deri terbata-bata, matanya mengedar panik ke sekeliling ruangan. "Mejanya... kursinya... semuanya sama persis!"

"Bukan..." gumam Sulaiman pelan, keningnya berkerut tajam. Ia menatap lantai, lalu menatap dinding anyaman bambu yang terasa begitu akrab namun asing. "Ini bukan gubuk yang sama. Tapi ini... ini adalah sama."

"Maksud Bos?" Herman ikut bingung, napasnya masih memburu.

"Kita berputar. Kita masuk ke dalam lingkaran lain," jawab Sulaiman dengan suara berat, sambil menurunkan Umar dari gendongannya. "Hutan ini tidak ingin kita pergi. Dia membiarkan kita lari, tapi hanya mengedarkan kita kembali ke titik yang sama. Seperti semut yang berputar di atas piring."

Kengerian realitas itu perlahan menghantam kesadaran mereka. Mereka tidak lari menjauh dari bahaya. Mereka hanya lari di dalam sangkar.

"Tapi... fotonya," potong Deri, suaranya bergetar. "Foto-foto di dinding itu hilang. Tidak ada satu pun foto yang terpasang di sini."

"Itu karena..." Sulaiman mendekati dinding kosong itu, tangannya menyentuh permukaan bambu yang dingin dan lembap. "Pertunjukan baru akan segera dimulai. Dan kita... adalah boneka utamanya."

Malam belum berakhir. Dan kegelapan di luar sana seolah menjadi lautan hitam yang siap menelan mereka kapan saja.

"Umar, ke sini, duduk di bangku ini. Kalian semua dengar. Kita tidak bisa keluar lagi malam ini," kata Sulaiman akhirnya, duduk lemas di atas sebuah bangku kayu. "Kita tunggu hingga pagi. Hanya ada satu harapan: makhluk-makhluk ini lemah saat matahari terbit. Kalau kita bisa bertahan hidup sampai fajar, mungkin kita punya kesempatan."

"Tapi Bos... tadi di gubuk pertama kita juga melakukan hal sama, duduk menunggu datangnya pagi, tapi apa yang terjadi? Apakah kita sudah berada di hari yang berbeda ataukah masih di hari yang sama? Protes Deri seraya mengajukan pertanyaan.

"Oleh sebab itu kita harus lebih waspada. Kali ini, kita tidak boleh tidur. Tidak sedetik pun!" Sulaiman menatap dengan mata melotot ke arah dua anak buahnya. "Kau dengar aku, Herman? Deri? Mata harus tetap terbuka. Kalau kalian tertidur, kalian tidak akan bangun lagi."

Mereka mengangguk takut.

Malam itu nuansanya terasa sangat berat. Begitu panjang hingga rasa waktu seolah hilang maknanya. Menit terasa seperti tidur, jam terasa seperti tak sadarkan diri.

Senter Sulaiman sudah sangat redup, cahayanya hanya cukup menerangi area setengah meter di depan mereka, menyisakan sudut-sudut ruangan yang gelap gulita, titik di mana bayangan-bayangan jahat tampak bergerak-gerak hidup.

Suasana hening. Terlalu hening.

Bahkan memperjelas bunyi suara napas mereka yang mencoba menenangkan diri, dan detak jantung yang bergema waspada di telinga masing-masing. Hanya si kecil Umar yang saat itu dibiarkan meringkuk terlelap dalam tidurnya.

Tik... tik... tik...

Tiba-tiba terdengar suara air menetes. Dari atap gubuk, tepat di tengah ruangan.

Drip...

Sulaiman mengarahkan senter ke atas. Tidak ada kebocoran atap yang terlihat. Tapi air itu terus menetes.

Dan saat cairan itu menyentuh lantai kayu...

Ssssst...

Asap mengepul. Kayu itu terbakar dan berlubang seolah terkena larutan asam kadar tinggi.

"Itu bukan air!" bisik Sulaiman ngeri. "Itu air liurnya..."

Mereka menunduk, menahan napas, takut jika menengadah, mereka akan melihat wajah mengerikan itu sedang menatap mereka dari celah atap.

Malam yang statusnya tidak lagi diketahui, gelap yang kepekatannya tidak lagi dapat ditebak apa yang ada di baliknya, sunyi penyiksa jiwa yang celah pelariannya seakan merapat bersama kegelapan dan misteri yang mengunci. Jangan cari matahari sebab ia telah melarikan diri dari garis peredarannya, jangan cari bulan sebab ia telah pergi jauh meninggalkan, sebab kepercayaannya terhadap malam telah hilang karena kengerian yang tak pantas bersanding dengan cahaya purnamanya.

Hhmmm...

1
Mommy Dza
Baca sejak awal thor
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?
Mommy Dza
👍💪💪💪💪
Mommy Dza
Semangat
Mommy Dza
👍👍💪
Mommy Dza
😱🥹
Mommy Dza
😱😱😵‍💫 Lariii
Mommy Dza
Teror baru dimulai
Mommy Dza
Wah penasaran dgn akhir ceritanya
Mommy Dza
Semangat Thor 💪
Mommy Dza
Waahhhh 💪
Mommy Dza
🥹🥹 Waahhh
Mommy Dza
Lanjut 💪
Mommy Dza
Horor
Mommy Dza
Teror baru dimulai 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!