Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
Kini Bara sudah melepaskan kemejanya yang basah. Untungnya kedua pria tampan tersebut memiliki postur tubuh yang hampir mirip, tinggi badan yang mencapai seratus delapan puluh lima sentimeter sehingga Bara dapat mengenakan kemeja baru milik Sandi.
"Ini semua karena perbuatan gadis gila itu." Bara masih saja terlihat kesal setiap kali teringat akan kejadian di cafe beberapa waktu lalu.
"Lain kali, lebih berhati-hatilah jika berada disekitaran seorang wanita, karena tidak semua wanita dapat memaklumi tindakan sensitif, sekalipun dilakukan secara tidak sengaja. Masih syukur wanita itu hanya menyiramkan minumannya ke pakaianmu, bukannya melaporkanmu ke pihak yang berwajib." Tutur Sandi.
"Masalahnya, aku sama sekali tidak menyenggol bo-kongnya, seorang pelayan wanita yang secara tidak sengaja melakukannya, Kawan." Protes Bara. ia memang tipikal pria yang gemar gonta-ganti pacar, namun untuk melakukan tindakan kurang sopan seperti itu, terlebih pada gadis yang tidak dikenalnya tentunya tidak akan mungkin dilakukan oleh Bara.
"Sudahlah, sebaiknya lupakan gadis yang kamu sebut gila itu!." Kata Sandi, karena tujuan utamanya bertemu dengan Bara hari ini untuk memastikan penyampaian sahabatnya itu melalui sambungan telepon semalam.
Sandi berpindah dari kursi kerjanya ke sofa, bergabung bersama Bara.
"Apa kamu yakin jika wanita yang kamu lihat lima tahun lalu adalah istriku?."
"Of course."
Sandi menyilangkan kedua kakinya seraya menyadarkan tubuhnya pada sandaran sofa saat mendengar jawaban Bara. Pria itu nampak berpikir.
"Kelihatannya kamu sangat tertarik dengan masa lalu istrimu." Komentar Bara.
"Apa kamu tidak pernah kepikiran jika gadis yang malam itu bersamaku adalah Vania?."
Deg.
Mengapa Bara tak sedikitpun kepikiran ke arah sana, sementara faktanya pagi itu ia melihat penampilan Vania nampak berantakan.
"Jika benar gadis itu adalah Vania, lalu untuk apa selama ini dia menyembunyikannya darimu?."
"Entahlah....aku juga tidak tahu. Aku sedang melakukan sesuatu untuk memastikan apakah gadis yang malam itu bersamaku benar-benar Vania atau bukan."
Bara bisa menebak hal apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu, mengingat tadi Sandi sempat mengatakan ia baru saja bertemu dengan saudari sepupunya yang berprofesi sebagai seorang dokter.
"Sebagai sahabat, aku hanya bisa mendoakan agar hasil dari usaha yang kamu lakukan sesuai dengan harapanmu." Balas Bara.
"Semoga saja."
"Jika benar gadis itu adalah Vania, tentu sudah begitu banyak penderitaan yang dilewati oleh Vania selama hampir enam tahun terakhir, terutama saat melahirkan dan membesarkan anaknya seorang diri." Membayangkan bagaimana kesulitan yang telah dilewati oleh istri sahabatnya itu membuat Bara turut prihatin pada nasib Vania.
"Tetapi, jika wanita itu bukanlah Vania apa kamu akan tetap terus mencari informasi tentang gadis yang malam itu bersamamu?." Lanjut Bara penasaran dengan jawaban Sandi.
"Ini usaha terakhir yang kulakukan untuk mencari tahu sosok gadis itu. Kalau memang gadis itu bukanlah Vania, maka aku tidak akan mencari tahunya lagi. Aku tidak ingin lagi melakukan sesuatu yang akan melukai hati istriku."
Bara langsung melebarkan senyum mendengarnya. "Sepertinya kau sudah mulai jatuh hati pada istrimu, kawan."
"Entahlah... aku juga tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Yang jelas sebagai seorang suami, aku hanya ingin menjadi suami yang bisa menjaga perasaan istriku. Bagaimanapun Vania adalah istriku, dan aku berkewajiban bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial nya melainkan juga menjaga hati dan perasaannya."
"Fiks....Kau sudah jatuh cinta pada istrimu, kawan. Hanya seorang pria yang mencintai pasangannya yang mampu melakukan hal semacam itu." Bara menggebu-gebu menyampaikan pendapatnya tentang perasaan Sandi pada istrinya.
"Ngomong-ngomong, apa kamu tidak berniat menawarkan segelas kopi untukku?." Tanya Bara yang sebenarnya sejak tadi ingin menikmati segelas kopi yang belum sempat dinikmatinya di cafe.
"Kamu ini benar-benar...." Sandi jadi sebal sendiri. Bagaimana tidak, masih berada ditengah percakapan serius, sahabatnya itu malah kepikiran dengan kopi.
"Tunggu sebentar, aku akan meminta istriku mengantarkan segelas kopi untukmu!." Meski kesal, Sandi tetap meraih ponselnya lalu menelepon Vania untuk meminta mengantarkan segelas kopi untuk Bara. Ya, hanya mengantarkan, sebab untuk urusan membuat kopi tentunya dilakukan oleh pegawai kitchen staff hotel.
"Tolong antarkan segelas kopi ke ruanganku!." Sandi menggunakan kosa kata aku, bukan saya, karena berpikir sedang mengubungi istrinya secara pribadi melalui aplikasi hijau.
"Maaf tuan, Vania sedang pergi ke sekolahan Sesil, dan tadi ponselnya ketinggalan di meja saya." Ponsel Vania ketinggalan di meja Cika saat wanita itu datang untuk meminjam mobil Cika. Sebenarnya Cika sungkan untuk mengangkat panggilan telepon di ponsel Vania, namun karena benda pipih tersebut terus bergetar pada akhirnya Cika memberanikan diri untuk menerima panggilan telepon tersebut.
"Pergi ke sekolahan Sesil?." Cicit Sandi.
"Benar tuan."
Sejenak hening dari seberang telepon, namun panggilan belum berakhir.
"Tolong antarkan segelas kopi ke ruangan saya!." Titah Sandi setelah cukup lama terdiam. Karena Sandi mengenal Cika sebagai sahabat baik istrinya, Sandi pun akhirnya meminta Cika yang mengantarkan segelas kopi ke ruangannya.
"Baik, tuan."
"Kamu masih seperti dulu, tidak pernah suka sembarang orang memasuki ruangan kerjamu. Kalau aku jadi kamu, aku pasti lebih suka pegawaiku bergantian memasuki ruanganku, biar aku bisa melihat wajah pegawaiku satu persatu."
"Sayangnya, aku bukan kamu." cetus Sandi.
"Ck....." Bara berdecak lidah mendengar jawaban Sandi.
"Tok....tok....tok...."Lima belas menit kemudian, terdengar suara ketukan dari balik pintu ruangan.
"Masuk!." Sandi mempersilahkan seseorang di balik pintu memasuki ruangannya.
"Ceklek..." Pintu terbuka.
Nampan ditangan Cika nyaris terlepas dari genggaman tangannya ketika menyaksikan keberadaan pria yang berada di cafe beberapa waktu lalu, tepatnya pria yang tadi disiramnya dengan segelas jus.
"Kau....apa yang kau lakukan di sini?." Bara yang baru mengangkat pandangannya dari layar ponselnya, sontak membulatkan kedua bola matanya saat menyaksikan keberadaan Cika.
"Apa kamu mengenal Nona Cika, Bara?." Tanya Sandi, bingung dengan ekspresi wajah Bara saat melihat keberadaan sahabat baik istrinya tersebut.
"Bara....Jadi pria di cafe tadi itu, tuan Bara? Mati aku...." Batin Cika. Ia sering mendengar beberapa pegawai hotel termasuk Vania menyebut nama Bara sebagai sahabat baik bos mereka, namun sebelumnya Cika sama sekali belum pernah bertemu dengan orangnya.
"Dialah gadis gila yang tadi menyiram ku dengan segelas jus." Kekesalan Bara kembali timbul saat melihat keberadaan Cika.
"Saya mohon maaf atas kesalahpahaman di cafe beberapa waktu lalu, tuan Bara." Sebenarnya saat di cafe tadi Cika sudah sempat meminta maaf setelah mengetahui kebenarannya, namun tetap saja ia telah melakukan tindakan yang mampu membuat pria itu kesal setengah mati.
"Ck....lain kali jangan terlalu cepat menyimpulkan suatu kejadian! Lagipula, aku sama sekali tidak berminat menyenggol bo-kong mu yang tidak seberapa itu." Cetus Bara sambil mengarahkan pandangannya pada bo-kong Cika. Kalau bukan karena sedang berada di ruang kerja pimpinan hotel, mungkin Cika sudah mencolok mata pria menyebalkan itu biar buta sekalian.
Selama mengenal Bara, baru kali ini Sandi melihat sahabatnya itu mengomel pada seorang wanita. Biasanya Bara mampu memaklumi pembuatan apapun yang dilakukan oleh seorang wanita, terlebih jika wanita itu berparas cantik.
"Letakan kopinya di meja, setelah itu keluarlah!." Kata Sandi.
"Baik, tuan."
Mana dukungannya sayang-sayangku.....? 😘😘😍😍🥰🥰
alahaayyy mereka tu smsm mauu tp msih bingung ajaa mengungkapkannya🤭🤭
lah lah bagus sandi kamu bilang gitu sama siapa sih mamahnya vania namanya pokonya dia we ...biar dia sadar kalu dia telah menukar vania dengsn uang 20 miliar 👍 amnesia kali tih orang masih menyebut dirinya ibu mertua 🤭🤭🤭
cie cie bara ke gep jadi kelimpungan kan buat jelasin 🤭🤭
cie cie vania yang melongo karna tingkah kedua nya 🤣🤣🤣