Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Semburat jingga fajar baru saja menghilang, digantikan oleh cahaya emas yang hangat menyirami pelataran ndalem. Pagi itu, suasana di kediaman Kyai Luqman terasa lebih hidup. Jika biasanya hanya terdengar suara lantunan dzikir dan derap langkah santri menuju madrasah, kini ada tawa kecil dan percakapan ringan yang menyelip di antara rutinitas suci tersebut.
Zavier berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah kemeja batiknya yang berwarna biru dongker. Di sampingnya, Zaheera sedang berkutat dengan jarum pentul, memastikan jilbab pashmina melingkar dengan sempurna. Ini adalah hari pertama mereka kembali ke rutinitas kampus sebagai sepasang suami istri yang sah.
"Sudah siap, Makmumku?" goda Zavier, sambil meraih tas ranselnya yang berisi tumpukan kitab dan buku referensi ekonomi.
Zaheera menoleh, memberikan senyuman yang jauh lebih cerah daripada matahari di luar. "Siap, Gus Imam. Tapi Mas... apa tidak apa-apa kita berangkat bersama? Bagaimana kalau teman-teman di kampus curiga?"
Zavier melangkah mendekat, mengecilkan jarak di antara mereka. Ia membantu merapikan tas bahu Zaheera, lalu menggenggam jemari istrinya erat. "Biarkan saja. Lagipula, berita pernikahan kita sudah mulai tersebar perlahan. Aku tidak mau istriku harus naik angkutan umum atau jalan kaki sendirian sementara suaminya punya motor di garasi."
Motor besar Zavier menderu pelan membelah jalanan desa yang masih berkabut tipis. Zaheera duduk di belakang, tangannya melingkar malu-malu di pinggang Zavier. Ia menyandarkan dagunya di bahu suaminya, menghirup aroma parfum maskulin yang kini menjadi candu barunya.
Dulu, di kota A, mereka terbiasa melaju dengan mobil mewah menuju kelab atau mal. Kini, di atas motor sederhana menuju kampus Islam, rasanya jauh lebih mendebarkan. Setiap kali motor melewati polisi tidur dan tubuh mereka bersentuhan, jantung Zaheera berdegup kencang—bukan karena adrenalin yang salah, tapi karena rasa syukur yang meluap.
"Kita sampai, Zee," bisik Zavier saat mereka memasuki area parkir Universitas Al-Iman.
Zavier turun lebih dulu, lalu membantu Zaheera melepaskan helmnya. Gerakan Zavier yang begitu lembut—merapikan helaian rambut yang keluar dari jilbab Zaheera—tak pelak menarik perhatian mahasiswa lain yang baru saja tiba.
Beberapa mahasiswi berbisik-bisik, menatap iri pada "Gus Idola" mereka yang kini tampak sangat memuja mahasiswi baru di sampingnya.
Saat mereka berjalan menuju selasar gedung Ekonomi, sesosok gadis dengan jilbab lebar berwarna hijau lumut sudah menunggu di depan mading. Fatimah. Begitu melihat sahabatnya datang bersama Zavier, mata Fatimah berbinar jahil.
Zavier berpamitan pada Zaheera dengan sebuah anggukan sopan dan senyuman rahasia sebelum melangkah menuju gedung Syariah. Begitu Zavier menjauh, Fatimah langsung menghambur dan merangkul lengan Zaheera.
"Ehem! Yang baru pulang dari rumah sakit kok auranya beda ya?" goda Fatimah, menyenggol bahu Zaheera dengan nakal.
Zaheera berusaha menahan senyum, meski pipinya sudah memerah padam. "Apa sih, Fatimah? Biasa saja."
"Biasa saja katanya?" Fatimah tertawa kecil sambil mereka berjalan menuju kelas. "Tadi aku lihat dari jauh, ada yang pegangan tangan erat sekali, ada yang helmnya dibukakan dengan penuh kasih sayang... Duh, Zaheera, aku sampai harus mengelus dada supaya tidak iri melihat keromantisan kalian."
"Mas Zavi hanya memastikan aku aman, Fatimah," bela Zaheera pelan.
"Mas Zavi?" Fatimah mengulangi panggilan itu dengan nada yang dibuat-buat manis. "Wah, panggilannya sudah ganti ya? Kemarin masih 'Gus Zavier', sekarang sudah 'Mas Zavi'. Manis sekali telingaku mendengarnya."
Zaheera mencubit lengan Fatimah dengan gemas. "Fatimah, stop! Nanti kalau ada yang dengar bagaimana?"
"Biarkan saja semua orang dengar, Zee! Biar mereka tahu kalau Gus Zavier yang dingin dan kaku itu ternyata bisa jadi selembut kapas kalau di depan istrinya," Fatimah melanjutkan godaannya tanpa ampun.
"Eh, tapi ceritakan padaku... bagaimana rasanya malam pertama di ndalem? Apa Mas Zavi mengajarimu ngaji sampai subuh, atau... ada agenda lain?"
Zaheera hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Ia teringat memori malam pertama mereka, tentang mukena sutra putih, doa di depan perutnya, dan bagaimana Zavier tidak membiarkannya tidur sejenak pun karena rasa syukurnya yang meluap.
"Dia... dia mengajariku banyak hal, Fatimah. Hal-hal yang belum pernah aku ketahui sebelumnya tentang kedamaian," jawab Zaheera dengan nada yang mendadak serius dan penuh haru.
Fatimah terdiam sejenak, melihat binar ketulusan di mata sahabatnya. Ia merangkul bahu Zaheera lebih erat. "Aku benar-benar bahagia untukmu, Zee. Kamu terlihat jauh lebih cantik sejak menikah dengan Gus Zavier. Bukan cuma cantik wajah, tapi cantik hati. Sepertinya Gus Zavier benar-benar membawa cahaya untukmu."
Zaheera tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Fatimah saat mereka memasuki ruang kuliah. Di dalam hatinya, ia mengamini setiap kata sahabatnya. Rutinitas barunya sebagai istri seorang Gus mungkin tidak semewah kehidupannya dulu, namun setiap detik yang ia lalui—mulai dari dibonceng motor pagi-pagi hingga digoda Fatimah di selasar kampus—terasa jauh lebih bernyawa.
Pagi itu, di antara tumpukan buku dan tugas kuliah, Zaheera menyadari bahwa hijrahnya bukan lagi sebuah pelarian, melainkan sebuah kepulangan yang paling indah ke pelukan seorang pria yang kini ia panggil "Mas Zavi".
Sementara di gedung sebelah, Zavier sedang menatap catatan kuliahnya, namun pikirannya sesekali melayang pada wajah merona istrinya saat ia lepaskan helm tadi—sebuah motivasi baru baginya untuk menjadi imam yang paling tangguh bagi bidadari nya.