Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 Tidak seperti Wei Lu yang Dulu
Pagi-pagi sekali, Wei Ying sudah berkutat di dapur dengan segala macam bahan makanan. Dia menanak nasi dan menata makanan di meja makan. Aroma lezat menguar di udara menggugah selera.
Lu Xue berjalan mendekat ke arah meja makan, lalu menyapa Ibu Wei.
"Selamat pagi, Ibu Wei."
"Oh, selamat pagi, nak. Cuci wajahmu dan kembali ke sini.." Ujar Wei Ying.
Lu Xue berjalan menuju sumur, ia membuka tutup kendi dan mengambil air dengan batok kelapa.
Setelah itu ia kembali berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi dengan tenang memperhatikan ibu Wei. Tak lama Lu Shu dan Lu Bao datang, mereka langsung menuju sumur juga untuk mencuci muka.
Setelah hampir 3 bulan tinggal dengan Ibu yang berubah itu, perlahan ke tiga anak itu mulai terbiasa dengan aturan baru yang di buat Wei Ying.
Meski pada awalnya mereka terus berprasangka buruk, tapi setelah berulang kali melihat hal baik yang di lakukan Wei Ying, ketiga anak itu akhirnya menghilangkan prasangka buruk mereka.
Kini mereka sudah terlihat seperti Ibu dan anak sungguhan.
"Ini, makanlah.." ujar Wei Ying setelah menyerahkan piring masing-masing untuk ke tiga anaknya.
Wei Ying kembali sibuk, ia segera menyiapkan berbagai kudapan kecil dan juga teh. Setelah itu membawanya ke teras rumah.
"Ibu, apa ibu tidak ikut makan?" tanya Lu Xue saat Wei Ying kembali lagi.
"Kalian makan dulu saja ya, ibu mau menyiapkan makanan untuk para pekerja dulu." ujarnya. "Oh, Xue.. bisakah nanti tolong ibu untuk membereskan meja makannya.."
Xue tersenyum dan mengangguk, "Baik, bu.."
.
.
Para pekerja datang untuk melakukan pekerjaan yang di minta Wei Ying, lalu sesuai kesepakatan Wei Ying turun tangan langsung mengawasi dan memberi arahan.
Di mulai dari merobohkan pagar dan gerbang lama, lalu di lanjut menggali tanah untuk membuat pondasi baru dari batu.
Matahari mulai naik, saat pekerjaan sudah setengah jalan.
"Mari istirahat dulu, saya sudah menyiapkan teh dan beberapa kudapan." seru Wei Ying.
"Wah, benar.. matahari sudah setinggi ini ternyata!"
Mereka lalu menepi ke teras rumah dan duduk di sana. Wei Ying menuangkan teh dan mereka mulai menikmati kudapan manis dan lezat yang sudah di sajikan.
"Wohh, ini sangat lezat!" seru seorang pria paruh baya bernama Zhuo Liyu. "Aku baru lihat makanan seperti ini, dimana kamu membelinya Ibu Wei?"
"Ah, itu aku membuatnya sendiri.." sahut Wei Ying berbohong, sebenarnya itu makanan yang keluar dari space hole miliknya.
Kini Wei Ying menyebut kemampuan anehnya dengan nama Space hole.
"Makanan ibu memang sangat enak!" seru Lu Xue tiba-tiba muncul di belakang Wei Ying.
"Lihat! Ini juga dari ibu.. apa paman mau mencobanya?" tawarnya seraya menyodorkan toples permen yang dulu di berikan Wei Ying.
"Apa itu?" tanya Kakek Chen, salah satu yang mengajukan diri untuk bekerja.
"Ibu Wei bilang ini namanya permen.." ujar Lu Xue sambil membuka tutup toples itu dan membiarkan kakek Chen mengambil satu.
"Hm, rasanya manis.." sahut kakek Chen.
Lu Xue tersenyum kecil, "Benarkan, ini sangat enak. Tapi Ibu Wei bilang jangan makan banyak-banyak, nanti gigi jadi sakit.." timpal Lu Xue saat kakek Chen hendak mengambil lagi permen dari toples itu.
Suasana hangat menyelimuti kediaman Wei.
.
.
"Bukankah Wei Lu terlihat sangat anggun dan ramah?" ujar Zhuo Liyu saat perjalanan pulang setelah bekerja di kediaman Wei.
"Benar, dia terlihat sangat berbeda dengan Wei Lu beberapa bulan lalu. Anak-anak juga terlihat lebih terurus.." timpal Kakek Chen.
"Ku harap perubahannya bertahan lama, aku sangat kasihan pada ketiga anak itu.."
Rumor tentang perubahan sifat Wei Ying menyebar seperti banjir bandang yang menerjang seisi desa. Ada yang percaya ada yang menganggap itu sebagai akting belaka. Tapi yang pasti angin menyegarkan bertiup dari kediaman Wei.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭