sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
..
...
Axelle menarik Rea keluar kelas menuju gudang belakang sekolah, tempat yang paling jarang didatangi orang. Begitu sampai di sana, Axelle menyudutkan Rea ke tembok.
"Lo ceroboh banget, Xavandra! Kalau Vanya tahu, rahasia kita tamat dalam satu jam lewat grup gosip sekolah!" bentak Axelle pelan tapi tajam.
Rea menepis tangan axel ke dari pergelangan nya. "Gue panik, Axelle! Gue nggak biasa bohong!"
"Mulai sekarang, lo harus biasa," bisik Axelle, wajahnya mendekat sampai ujung hidung mereka bersentuhan. "Karena di sekolah ini, gue itu musuh lo.! apa kata orang orang nanti kalau sampe tau hubungan kita! "
"iya gue tau..! " jawab Rea mendengus
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat ke arah gudang "siapa? "Itu suara Pak Satpam
Langkah kaki Pak Satpam terdengar semakin dekat, suara kunci cadangan yang berdenting di tangannya terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasi Rea.
"Mampus!" umpat Axelle pelan. Tanpa aba-aba, dia menarik lengan Rea, menyeretnya ke sudut gudang yang paling gelap, di balik tumpukan meja dan kursi kayu yang sudah berdebu.
"Axelle, apa yang lo—"
"Diem, Xavandra!" bisik Axelle tajam. Dia menekan tubuh Rea ke sudut tembok, lalu menumpuk dua kursi di depan mereka sebagai penghalang.
Ruang itu sangat sempit. Rea bisa merasakan dada bidang Axelle menempel pada tubuhnya. Napas Axelle yang memburu menerpa keningnya, dan untuk pertama kalinya, Rea sadar betapa kuatnya aroma parfum wood-musky milik cowok itu.
Ceklek!
Pintu gudang terbuka. Cahaya lampu senter Pak Satpam menyisir ruangan.
"Perasaan tadi ada suara di sini," gumam Pak Satpam, langkahnya mendekat ke arah tumpukan kursi tempat mereka bersembunyi.
Rea memejamkan mata rapat-rapat, tangannya secara tidak sadar meremas kemeja Axelle karena ketakutan. Jantungnya berdegup sangat kencang, sampai dia yakin Axelle bisa mendengarnya.
Melihat Rea yang hampir menangis karena panik, entah kenapa sisi protektif Axelle muncul. Dia melingkarkan satu tangannya di pinggang Rea, menariknya lebih rapat agar benar-benar tersembunyi. Tangan satunya lagi dia gunakan untuk membungkam mulutnya sendiri agar napasnya tidak terdengar.
Lampu senter itu berhenti tepat di depan celah kursi mereka. Sedetik... dua detik...
"Ah, kucing paling," gerutu Pak Satpam lalu berbalik keluar dan mengunci kembali pintunya.
Hening.
Mereka masih dalam posisi itu selama hampir satu menit, memastikan keadaan benar-benar aman. Rea perlahan membuka matanya dan mendongak, hanya untuk menemukan manik mata hitam Axelle yang sedang menatapnya dalam. Sangat dalam.
"Lo... bisa lepasin gue sekarang," bisik Rea serak.
Axelle bukannya menjauh, malah semakin mengunci tatapannya. "Lo takut banget ya reputasi lo ancur?"
"Bukan cuma reputasi gue, Axelle. Nama keluarga gue, harapan Papa gue..." suara Rea bergetar. karena Rea terlahir dari keluarga otoriter, yang selalu menuntut kesempurnaan.
Axelle terdiam sebentar, lalu dengan gerakan tak terduga, dia menyentuh helai rambut Rea yang berantakan. "Gue nggak bakal biarin itu terjadi. Seenggaknya gue juga gak mau anak anak galaksi tau"
Axelle menjauh, memberikan ruang bagi Rea untuk bernapas lega. "Gue bakal cari cara buat buka pintu ini. Lo diem di sini."
Axelle memanjat jendela kecil di bagian atas gudang dengan lincah, lalu membukanya. "Keluar lewat sini. Gue bakal kasih tumpuan buat lo."
Rea berhasil keluar lebih dulu, disusul Axelle. Tapi sebelum mereka berpencar kembali ke kelas, Axelle menarik tangan Rea sebentar.
"Inget, Xavandra. jika lu gak mau reputasi lu rusak.. jangan ceroboh lagi! " ucap Axelle dengan nada yang terdengar menjengkelkan sebelum dia pergi meninggalkan Rea yang sudah kesal
...----------------...
Pintu rooftop terbuka dengan tendangan santai dari Ferro. Cowok itu jalan sambil nyengir, satu tangannya nenteng plastik es teh, satunya lagi megang cilok panas.
"Woi! Muncul juga lo, Bangsat!" teriak Ferro heboh, suaranya melengking di antara deru angin. "Semalem ke mana lo? Kita tungguin di basecamp sampe jam dua pagi, batang hidung lo gak keliatan. Motor sport lo juga gak ada di parkiran biasa!"
Axelle yang lagi nyender di pagar pembatas cuma nengok sekilas, lalu ngerampas es teh di tangan Ferro tanpa permisi. Dia minum dalam sekali teguk.
"Haus gue," gumam Axelle pendek.
"Eits, santai dong, Bos!" Zayden, cowok yang gayanya paling branded dengan rambut perak undercut, deketin Axelle sambil masukin tangan ke saku celana. "Muka lo ditekuk mulu dari tadi pagi. Pantesan semalem lo absen, denger-denger bokap lo balik ya?"
Axelle ngangguk pelan, matanya natap lurus ke depan. "Iya. Si Elgard tiba-tiba mendarat semalem. Gak kasih kabar, tau-tau udah di depan muka."
"Anjir! Pantesan!" sahut Jaxon, si atlet basket yang lagi asyik push-up di pojokan. "Kalo Om Elgard udah turun gunung mah, lo pasti langsung dikandangin ya, Xel? Gila, baru juga mau kita ajak balapan di trek baru."
"Halah, palingan Axelle disuruh baca laporan saham tuh sama bokapnya semalem," celetuk Ferro sambil ketawa ngakak, mulutnya penuh bumbu kacang. "Makanya pagi ini tampangnya kayak orang kurang tidur. Gimana, Xel? Dompet aman? Atau disita gara-gara absen di rumah?"
Axelle cuma senyum tipis, senyum yang sebenernya nyimpen rahasia besar yang gak mungkin dia bagi ke siapa pun sekarang. "Aman. Cuma ya gitu, pengawasan makin ketat. Gue gak bisa bebas keluar-masuk rumah kayak biasanya."
"Dih, berasa tahanan kota lo," timpal Liam, cowok paling cool yang sedari tadi cuma nyimak di balik headphone-nya. "Tapi ya udah lah, yang penting lo gak kenapa-kenapa. Semalem Bandung ujan deres banget, kita pikir lo kecelakaan atau apa."
"Gak lah. Gue cuma... kejebak macet," bohong Axelle lancar, padahal dalem hatinya dia lagi bayangin kejadian di ruko semalem yang bikin hidupnya berubah total.
Arkan, si jenius komputer, nutup laptopnya dengan bunyi plak yang nyaring. "Tapi tumben banget bokap lo balik mendadak gitu, Xel? Ada proyek gede atau... ada yang ngelaporin kelakuan lo di sekolah?"
Axelle diem bentar, matanya tajem natap Arkan. "Biasa lah, urusan bisnis dia. Gak usah bahas bokap gue terus. Haus gue makin jadi gara-gara kalian interogasi."
"Ya udah, cabut kantin yuk!" ajak Ferro penuh semangat. "Laper nih gue, cilok doang gak nendang. Gue mau liat ada mangsa baru gak di bawah, bosen liat muka kalian mulu!"
Mereka berlima pun turun dari rooftop dengan gaya sok jagoan khas bad boy. Di koridor, mereka jadi pusat perhatian semua cewek, seperti biasa suara bisikan yang berisik memuji ketampanan mereka dengan pekikan tertahan.
namun mata axel tampa sengaja menangkap sosok Rea duduk di pojok kantin bersama bagas. axel menyeringai entah apa yang dipikirkan di otak kecil nya itu.
valery di lawan singa betina nya xander lo 🤣🤣🤣🤣
gemes jadi nya🤣🤣🤣🤣
rea keceplosan 🤣🤣🤣
semngat thor
tapi aku suka terimakasih kk author 😘😘
ceritanya hampir mirim kyk kisah hidup ku , axelle adalah aku si manusia kesepian yang terabaykan😭😭😭😭
jd curhat kan aku , btw makasih kk author 😘😘😘
kasian bgt my bad boy
cepet sadar ready
cepet bucin
cepet ada junior kalian
wkwkwkwkww
biar author pusing🥳🥳
tapi percaya sih , semua di bawah kendali kk author, ya ikuti alur nya aja , walau baca nya sambil nangis😭😭
rea pinter ngeles nye yeee🤣🤣
kak up 2 dong kepo sama yg ini😁😁😁