NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teror Untuk Tono

Tono sedang berdiri di dekat jendela, menghirup udara malam yang dingin, ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu.

Dingin.

Bukan dingin seperti angin malam. Dingin yang berbeda. Dingin yang masuk ke dalam tulang. Dingin yang tidak berasal dari luar, tapi dari dalam. Dari sesuatu yang tiba-tiba memenuhi ruangan.

Ia menoleh ke belakang. Aisyah masih duduk di sofa. Tidak ada yang berubah. Tapi Tono merasakan ada yang berbeda. Udara di ruangan itu terasa... berat. Seperti ada tekanan yang tidak terlihat. Seperti ruangan itu tiba-tiba menjadi lebih kecil dari sebelumnya.

"Kau merasakan itu?" tanyanya pada Aisyah.

Aisyah mengangkat wajahnya. Matanya yang kosong menatap Tono. "Rasakan apa?"

Tono tidak menjawab. Ia menggeleng, mencoba mengabaikan perasaan itu.

Mungkin hanya kelelahan. Tiga hari terakhir ia tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Rafiq. Wajah Rafiq di ambang pintu kamar malam itu.

Wajah Rafiq dengan mata kosong yang menatapnya. Wajah Rafiq yang tidak berteriak, tidak memukul, tidak melakukan apa pun—hanya berdiri di sana, menatap, dan itu lebih menakutkan daripada amarah apa pun.

Ia kembali ke sofa, duduk di samping Aisyah. Ia meraih gelasnya, meneguk whisky yang tersisa. Alkohol hangat mengalir di tenggorokannya, tapi tidak cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin.

"Tono..."

Suara Aisyah membuatnya menoleh. Tapi Aisyah tidak sedang bicara. Aisyah menatap ke arah dinding. Wajahnya pucat, matanya membelalak.

"Kau dengar itu?" bisik Aisyah.

Tono mengernyit. "Dengar apa?"

Itu.

Suara dari dalam dinding. Seperti ada sesuatu yang bergerak di balik tembok. Seperti ada jari-jari yang mengetuk dari dalam, pelan, ritmis.

Tok. Tok. Tok.

Tono membeku. Rumahnya tidak mungkin ada tikus. Rumahnya terawat, bersih, tidak ada celah untuk hewan masuk. Tapi suara itu nyata. Ia mendengarnya.

Tok. Tok. Tok.

Ia berdiri, berjalan mendekati dinding. Suara itu berhenti ketika ia mendekat. Ia menempelkan telinganya ke tembok. Diam. Tidak ada apa-apa.

Ia kembali ke sofa. Suara itu kembali.

Tok. Tok. Tok.

Kali ini dari arah yang berbeda. Dari atap.

Tono menoleh ke atas. Plafon rumahnya yang putih bersih tidak menunjukkan apa-apa. Tapi suara itu ada. Seperti ada yang berjalan di atas atap. Langkah kaki yang berat, pelan, berjalan dari satu ujung ke ujung lain.

"Ada orang di atap," kata Aisyah. Suaranya gemetar.

"Tidak mungkin," jawab Tono. Tapi kakinya sudah bergerak menuju pintu. Ia membuka pintu depan, menengok ke atap rumahnya. Tidak ada siapa pun. Hanya genteng yang tersusun rapi di bawah sinar bulan yang mulai tertutup awan.

Ia masuk kembali. Menutup pintu.

Dan ketika pintu tertutup, suara itu datang lagi. Bukan dari atap. Dari pintu.

DOR! DOR! DOR!

Tono tersentak. Aisyah berteriak kecil. Suara itu keras, seperti ada yang memukul pintu dari luar dengan kepalan tangan. Tono menoleh ke pintu. Tidak ada siapa pun di balik jendela kaca. Halaman depan kosong.

Tidak ada mobil. Tidak ada orang.

Tapi suara itu terus datang.

DOR! DOR! DOR!

Sekarang dari jendela. Dari dinding samping. Dari dinding belakang. Semua bersamaan. Seperti ada puluhan tangan yang memukul rumahnya dari segala arah.

"TONO!" Aisyah berteriak. Ia berlari mendekati Tono, meraih lengannya dengan tangan yang gemetar.

Tono mencoba tetap tenang. "Hanya angin. Hanya—"

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Karena dari sudut ruangan, dari tempat yang paling gelap di antara lemari dan dinding, ia mendengar suara lain. Suara yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Bisikan.

Bisikan yang tidak jelas. Tidak bisa ia tangkap kata-katanya. Tapi ia bisa merasakannya. Bisikan itu seperti angin yang berbisik di telinganya, dingin, menusuk, masuk ke dalam kepalanya dan tidak mau keluar.

Aisyah juga mendengarnya. Wajahnya pucat pasi. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

Bisikan itu semakin keras. Semakin jelas.

Tono tidak bisa menangkap kata-katanya, tapi ia bisa merasakan isinya. Kemarahan. Sakit hati. Pengkhianatan. Dan satu nama yang terus berulang yang muncul dalam pikirannya di dalam bisikan itu, seperti mantra yang tidak pernah berhenti.

Rafiq.

Tono merasakan kakinya lemas. Dadanya sesak. Kepalanya terasa seperti akan pecah. Bisikan itu memenuhi seluruh ruangan, memenuhi seluruh kepalanya, tidak ada tempat untuk berlari, tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Ia melihat Aisyah. Aisyah sudah jatuh berlutut di lantai, kedua tangannya menutup telinga, matanya terpejam rapat, mulutnya bergerak-gerak seperti sedang berdoa. Tapi tidak ada suara doa yang keluar. Yang keluar hanya isak tangis yang tertahan.

Tono mencoba bergerak. Mencoba meraih ponselnya di atas meja. Tapi kakinya tidak mau bergerak. Tangannya tidak mau terangkat. Seluruh tubuhnya terasa berat, seperti ada yang menekannya dari atas.

Tekanan yang semakin lama semakin kuat.

Bisikan itu berubah. Tidak lagi berbisik. Sekarang seperti teriakan. Teriakan dari segala arah. Dari dinding. Dari lantai. Dari atap. Dari dalam kepalanya sendiri.

Teriakan yang tidak bisa ia tahan. Teriakan yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir.

Teriakan yang Ia tak mengerti artinya, tapi dalam pikirannya hanya satu nama.

RAFIQ!

Tono merasakan sesuatu putus di dalam kepalanya. Seperti ada tali yang selama ini menahan kesadarannya, tiba-tiba terputus.

Dunia di sekelilingnya berputar. Lampu-lampu rumah yang terang benderang tiba-tama terlihat redup, lalu terang, lalu redup lagi. Wajah Aisyah di depannya menjadi buram, berbayang, seolah ada dua Aisyah yang berdiri di depannya.

Ia mencoba berteriak. Tapi mulutnya tidak mau terbuka.

Ia mencoba berlari. Tapi kakinya tidak mau bergerak.

Ia hanya bisa berdiri di sana, di tengah ruang tamunya yang terang benderang, dengan bisikan-bisikan yang terus memekik di telinganya, dengan tekanan yang terus menekan dadanya, dengan rasa dingin yang membekukan darahnya.

Dan kemudian semuanya menjadi hitam.

Tono jatuh.

Tubuhnya yang besar roboh ke lantai dengan bunyi keras. Matanya terbuka, tapi tidak melihat apa-apa. Mulutnya setengah terbuka, tapi tidak ada napas yang keluar dengan teratur. Dadanya naik turun dengan cepat, tidak berirama, seperti orang yang kehabisan udara.

Aisyah berteriak. Ia merangkak mendekati Tono, mengguncang bahu pria itu, berteriak memanggil namanya. Tapi Tono tidak merespons. Matanya yang terbuka hanya menatap kosong ke langit-langit, ke lampu gantung yang masih menyala terang, ke sesuatu yang tidak bisa ia lihat.

Di luar rumah, angin bertiup kencang. Pohon-pohon bergoyang. Dan di kejauhan, di sebuah rumah kecil di pinggir desa yang gelap, Rafiq membuka matanya.

Rafiq terduduk di lantai kayu yang dingin. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Kemeja hitamnya basah menempel di punggung dan dadanya.

Napasnya terengah-engah, seperti baru saja berlari jauh. Tiga huruf di dahinya masih terasa panas, masih berdenyut, masih menyala.

Ia menatap layar di depan matanya yang perlahan memudar. Ia melihat Tono terbaring di lantai. Ia melihat Aisyah berteriak ketakutan. Ia melihat kekacauan yang ia ciptakan. Ia melihat balas dendam yang baru saja ia mulai.

Dan Rafiq tersenyum.

Senyum yang lebar. Senyum yang puas. Senyum yang sudah lama tidak ia rasakan. Senyum yang sama sekali tidak hangat. Senyum yang gelap, senyum yang dingin, senyum yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang telah menjual jiwanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Rasakan itu," bisiknya. Suaranya serak, parau, seperti suara orang yang baru saja berteriak sepanjang malam. "Itu baru permulaan, Ton. Masih panjang. Masih sangat panjang."

Ia menatap lilin di depannya yang akhirnya padam. Asap tipis membubung dari sumbu yang hangus. Ruangan menjadi gelap total. Hanya kegelapan yang tersisa.

Tapi Rafiq tidak takut pada kegelapan. Tidak lagi.

Kegelapan kini adalah rumahnya. Kegelapan kini adalah temannya. Kegelapan kini adalah kekuatannya.

Ia berbaring di lantai kayu yang dingin, membiarkan tubuhnya yang lelah beristirahat. Di telinganya, ia masih mendengar sisa-sisa mantra yang ia bacakan. Di dahinya, tiga huruf itu masih berdenyut pelan. Di dalam hatinya, sesuatu yang baru mulai tumbuh.

Bukan kesedihan. Bukan penyesalan. Tapi kenikmatan. Kenikmatan yang gelap. Kenikmatan yang membuat ia ingin lebih. Lebih banyak. Lebih dalam. Lebih menyakitkan.

"Mereka belum merasakan setengah dari apa yang aku rasakan," gumamnya dalam gelap.

"Tapi mereka akan merasakannya. Semua. Satu per satu."

Ia menutup matanya. Dan dalam tidurnya yang lelap, ia bermimpi. Bukan mimpi buruk seperti yang dulu. Tapi mimpi yang aneh.

Mimpi tentang kegelapan yang luas, tentang mata-mata merah yang berkelap-kelip di kejauhan, tentang suara-suara yang menyambutnya dengan sorak-sorai.

Ia bermimpi bahwa ia tidak lagi sendirian dalam kegelapan itu. Ia adalah bagian dari kegelapan itu sendiri.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!