NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Residu Hujan dan Kesepakatan di Atas Kap Mobil

Suara wiper mobil yang menyapu sisa-sisa air hujan menjadi satu-satunya melodi di dalam kabin SUV Adrian malam itu. Zeva duduk meringkuk di kursi penumpang, dibungkus jas biru tua milik Adrian yang masih menyisakan kehangatan tubuh pria itu. Aroma maskulin yang elegan—campuran kayu cendana dan sedikit aroma hujan—seolah menyelimuti indra penciumannya, memberikan rasa aman yang asing.

​"Lu yakin kakek lu nggak lagi nyiapin algojo buat gue besok?" tanya Zeva memecah keheningan. Suaranya sedikit serak karena udara dingin dan sisa emosi yang meluap.

​Adrian melirik sekilas ke arah Zeva. Gadis itu terlihat sangat kecil di dalam jas besarnya. Riasan wajahnya sudah sedikit luntur terkena air hujan, tapi matanya masih memancarkan api yang sama.

​"Kakek Wijaya adalah pria yang membangun kekaisarannya dari nol. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mengatakan 'ya' dan menjilat kakinya," Adrian menjelaskan sambil memutar setir dengan tenang. "Clarissa adalah contoh sempurna dari apa yang dia benci, meski dia sendiri yang menjodohkannya denganku. Clarissa itu membosankan. Tapi kau... kau melempar siput ke gelas wine-nya dan berjalan telanjang kaki keluar dari restoran. Kau memberinya sesuatu yang belum pernah dia dapatkan selama dua puluh tahun terakhir: hiburan yang jujur."

​Zeva mendengus, mencoba menyembunyikan rasa bangganya. "Gue nggak bermaksud ngehibur siapa pun. Gue cuma... gue nggak tahan aja liat muka sombong si Clarissa itu. Masa dia bilang katering Mpok Leha itu cuma buat pelayan? Katering bibi gue itu legendaris di kelurahan, tahu!"

​"Saya tahu. Dan kejujuran itulah yang membuatnya tertarik," lanjut Adrian. "Tapi besok akan lebih sulit. Kita tidak akan berada di restoran umum. Kita akan berada di rumahnya. Wilayah kekuasaannya."

​Mobil itu akhirnya berhenti di depan gang rumah Zeva. Adrian mematikan mesin, namun ia tidak segera membukakan pintu untuk Zeva. Ia menatap lurus ke depan, ke arah lampu jalan yang temaram.

​"Zevanya," panggil Adrian lembut.

​"Hm?"

​"Terima kasih. Untuk tadi. Kau melakukan apa yang tidak pernah berani aku lakukan selama ini. Berdiri di depan Kakek dan menjadi dirimu sendiri."

​Zeva menoleh, menatap profil samping Adrian yang tegas. Di bawah cahaya lampu jalan, Adrian tidak terlihat seperti CEO yang kejam. Ia terlihat seperti seorang pria yang selama ini hidup di dalam sangkar emas yang terlalu sempit.

​"Yah... itu kan bagian dari kontrak, Bos. Meskipun gue hampir jantungan pas siput itu terbang," balas Zeva sambil terkekeh pelan. "Tapi Adrian, gue serius. Kalau besok gue beneran bikin kakek lu kena serangan jantung karena gaya gue, jangan tuntut gue ya."

​Adrian tersenyum kecil. "Saya akan menyiapkan ambulans di depan gerbang rumahnya."

​Keesokan paginya, Jakarta disambut dengan langit biru yang cerah, seolah-olah hujan semalam hanyalah pembersih dari segala kekacauan. Zeva terbangun dengan perasaan berat di kepalanya. Namun, ia tidak punya waktu untuk bersantai. Pukul sembilan pagi, motor Adrian—maksudnya mobil Adrian—sudah terparkir di depan gang.

​Namun kali ini, bukan Adrian yang menjemputnya. Siska, sang sekretaris, turun dari mobil dengan membawa koper besar.

​"Selamat pagi, Nona Zevanya. Pak Adrian menginstruksikan saya untuk membantu Anda pindah," ujar Siska dengan senyum formalnya.

​Zeva yang masih memakai daster batik dan memegang sikat gigi langsung tersedak. "Pindah? Pindah ke mana? Gue nggak mau pindah ke penjara ya!"

​"Bukan ke penjara, Nona. Sesuai dengan rencana Pak Adrian, untuk meyakinkan Tuan Besar Wijaya bahwa hubungan kalian serius, Anda harus tinggal bersama di apartemen Pak Adrian mulai hari ini," jelas Siska tenang.

​"Hah?! Tinggal bareng?! Lu sinting ya?" teriak Zeva hingga Mpok Leha keluar dari dapur dengan membawa spatula.

​"Ada apa ini ribut-ribut? Pindah? Zeva mau dibawa ke mana?" Mpok Leha mulai panik.

​Siska dengan sangat tenang menyerahkan sebuah map cokelat kepada Mpok Leha. "Ini adalah surat kontrak kerja resmi untuk keponakan Anda, Ibu Leha. Pak Adrian juga sudah menyiapkan dana kompensasi untuk gangguan operasional katering Anda selama Zevanya tidak ada. Anggap saja ini beasiswa untuk Zevanya."

​Mpok Leha melihat angka nol di dalam dokumen tersebut dan matanya langsung berbinar-binar. "Zeva! Berangkat sekarang! Ini rejeki anak sholehah! Jangan bikin Bos Adrian nunggu!"

​"Mpok! Kok gue dijual sih?!" protes Zeva tak percaya.

​"Bukan dijual, Zev! Ini namanya pengembangan karier! Lagian lu di sini cuma ngerusakin kompor mulu. Udah, sana beresin baju lu! Yang rapi!"

​Zeva hanya bisa mengacak rambutnya dengan frustrasi. Ia masuk ke dalam kamarnya yang sempit, memasukkan beberapa kaos oblong, jeans favoritnya, dan tentu saja, helm bogo pink-nya ke dalam tas ransel besar. Ia merasa seperti akan berangkat ke medan perang tanpa senjata.

​Apartemen Adrian berada di kawasan SCBD, sebuah gedung kaca yang menjulang tinggi dengan keamanan yang lebih ketat daripada bandara internasional. Saat lift pribadi membawa mereka langsung ke lantai paling atas, Zeva merasa telinganya berdenging.

​Pintu lift terbuka, menunjukkan sebuah ruang terbuka (open plan) yang sangat luas. Lantainya terbuat dari marmer putih bersih, perabotannya berwarna abu-abu dan hitam minimalis. Semuanya terlihat sangat... steril.

​"Selamat datang di markas besar robot," gumam Zeva saat kakinya yang memakai sandal jepit menyentuh karpet mewah.

​Adrian sedang berdiri di dekat jendela, memegang cangkir kopi putih. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku. Ia terlihat sedikit lebih manusiawi hari ini.

​"Taruh tasmu di sana, Siska akan mengaturnya," kata Adrian tanpa menoleh. "Dan Zevanya, ada beberapa aturan baru selama kau tinggal di sini."

​Zeva menjatuhkan ranselnya dengan bunyi BUK yang keras di atas lantai marmer. "Aturan lagi? Lu nggak bosen apa hidup penuh aturan?"

​Adrian berbalik, menatap Zeva dengan datar. "Aturan pertama: Jangan menyentuh apa pun yang terbuat dari kristal atau kaca jika tanganmu masih berminyak karena gorengan. Aturan kedua: Kau akan menempati kamar tamu di sebelah kanan. Aturan ketiga: Jangan pernah masuk ke ruang kerja saya tanpa izin."

​"Gue juga punya aturan," balas Zeva, berjalan mendekati Adrian dan berdiri tepat di depannya. "Satu: Jangan coba-coba ngatur jam tidur gue. Dua: Gue tetep bakal masak makanan gue sendiri kalau makanan lu terlalu hambar. Tiga: Jangan pernah komplain soal suara motor gue kalau gue kangen motoran."

​Adrian menatap Zeva sejenak, lalu mengangguk singkat. "Deal."

​"Satu lagi," tambah Zeva. "Kenapa gue harus pindah ke sini? Kemarin kan cuma bilang pacar pura-pura, bukan berarti gue harus jadi asisten rumah tangga lu juga kan?"

​"Karena kakek saya punya mata-mata di mana-mana," Adrian menjelaskan, suaranya merendah. "Dia tidak akan percaya kita pacaran kalau kita tinggal terpisah. Dia tahu jadwal saya, dia tahu siapa yang masuk ke gedung ini. Jika kau di sini, statusmu sebagai 'tunangan' akan lebih kredibel."

​"Tunangan?" Zeva hampir melompat. "Kemarin katanya pacar! Sekarang naik pangkat jadi tunangan?"

​"Skalasi konflik, Zevanya. Kakek saya tidak akan berhenti hanya dengan kata 'pacar'. Kita harus memberikan sesuatu yang lebih permanen agar dia benar-benar berhenti mencampuri hidup saya."

​Zeva menghela napas panjang, ia duduk di sofa kulit yang sangat empuk, hampir membuatnya tenggelam. "Lu bener-bener pinter ya kalau soal bisnis tipu-tipu begini. Oke, tunangan pura-pura. Tapi inget, kalau lu beneran jatuh cinta sama gue, gue nggak tanggung jawab ya."

​Adrian tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat sinis namun ada nada main-main di dalamnya. "Jangan khawatir. Selera saya bukan gadis yang melempar siput di meja makan."

​"Bagus. Selera gue juga bukan robot yang minum kopi pahit setiap pagi," balas Zeva tajam.

​Sore harinya, Adrian membawa Zeva ke balkon apartemennya. Dari sana, seluruh Jakarta terlihat seperti miniatur. Angin bertiup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Zeva.

​"Malam ini, kita akan makan siang di rumah Kakek. Ingat, jangan menyerang Clarissa lagi kecuali dia yang memulai. Dan yang paling penting... jadilah dirimu yang 'setengah' barbar," instruksi Adrian.

​"Setengah barbar?"

​"Maksudnya, jangan terlalu liar sampai merusak barang antik, tapi jangan terlalu lembut sampai kakek saya curiga kau sedang berakting. Jadilah Zevanya yang berani bicara, tapi tetap tahu di mana sendok diletakkan."

​Zeva menatap pemandangan kota di depannya. Ia merasa seperti sedang berada di ambang jurang. Di satu sisi, ada kenyamanan luar biasa di apartemen ini yang belum pernah ia rasakan. Di sisi lain, ia merindukan asap knalpot dan tawa Mpok Leha.

​"Adrian," panggil Zeva pelan.

​"Ya?"

​"Lu nggak capek ya pura-pura terus? Sama kakek lu pura-pura, sama rekan bisnis pura-pura... apa ada momen di mana lu bener-bener jadi Adrian?"

​Adrian terdiam cukup lama. Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras daripada yang ia duga. Sepanjang hidupnya, ia adalah produk dari ekspektasi keluarga Alfarezel. Ia adalah CEO yang dingin karena itulah yang dibutuhkan perusahaan. Ia adalah cucu yang patuh karena itulah yang dibutuhkan warisannya.

​"Saya hampir lupa bagaimana rasanya menjadi diri sendiri, Zevanya," jawab Adrian jujur, suaranya tertelan angin. "Mungkin itu sebabnya saya membutuhkanmu. Kau adalah satu-satunya hal yang tidak 'pura-pura' dalam hidup saya saat ini, meskipun hubungan kita adalah sebuah kepura-puraan."

​Zeva menoleh, menatap mata Adrian yang terlihat sangat rapuh di bawah sinar matahari terbenam. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan dorongan untuk mengejek pria itu. Ia merasa kasihan, namun juga merasakan koneksi aneh.

​"Yah... kalau gitu, gue bakal jadi guru 'anti-pura-pura' lu selama tiga bulan ini," kata Zeva sambil menepuk bahu Adrian dengan keras, gaya khasnya. "Gue bakal bikin lu tahu rasanya makan mie instan di mangkok plastik sambil nonton sinetron."

​Adrian meringis merasakan tepukan keras Zeva, tapi ia tidak menjauh. "Saya rasa itu akan menjadi pengalaman yang sangat mengerikan."

​"Atau pengalaman paling asyik yang pernah lu punya," balas Zeva dengan seringai lebar.

​Malam itu, saat Zeva merebahkan tubuhnya di kasur king-size kamar tamu yang sangat empuk, ia menatap langit-langit kamar yang tinggi. Hidupnya benar-benar berubah dalam semalam. Dari pengantar katering menjadi tunangan pura-pura seorang miliarder.

​Di luar kamar, Adrian berdiri di ruang tengah, menatap pintu kamar Zeva. Apartemen yang biasanya sunyi dan dingin itu kini terasa berbeda. Ada energi yang bergejolak, ada aroma yang lebih hidup. Benih permusuhan itu belum sepenuhnya hilang, tapi kini tertutup oleh lapisan ketertarikan yang membingungkan.

​Adrian mengambil helm bogo pink Zeva yang tertinggal di atas meja marmer. Ia menatap lecet di permukaan helm itu, lalu tersenyum tipis. Mungkin, kekacauan ini memang benar-benar yang ia butuhkan.

​"Besok akan menjadi hari yang sangat panjang, Zevanya," gumamnya pelan sebelum mematikan lampu.

​Persiapan untuk babak baru dalam sandiwara mereka telah selesai. Namun, mereka berdua tidak menyadari bahwa semakin sering mereka berpura-pura, garis antara akting dan kenyataan akan semakin kabur, seperti residu hujan di atas kaca yang perlahan-lahan menghilang, meninggalkan pandangan yang lebih jernih—namun lebih berbahaya.

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!