"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1:Sekat
Lampu-lampu gedung di kawasan SCBD Jakarta terlihat seperti taburan berlian yang berserakan di atas beludru hitam. Dari lantai lima belas, hiruk-pikuk klakson dan kemacetan Sudirman hanya tampak sebagai aliran cahaya merah dan putih yang membisu, teredam oleh kaca ganda yang tebal. Di dalam ruangan divisi riset, hanya ada satu lampu meja yang menyala, menciptakan lingkaran cahaya kekuningan yang hangat di tengah kegelapan ruangan yang luas.
Aku menyandarkan kepalaku di bahu Kaivan. Wangi parfumnya—campuran antara aroma kayu cendana yang maskulin dan sisa kafein dari kopi yang sudah mendingin—terasa begitu akrab, begitu menyesakkan. Kami baru saja menyelesaikan draf presentasi untuk proyek Adhitama, sebuah laporan setebal seratus halaman yang menguras seluruh energi kami sejak matahari masih berada di ufuk timur.
"Lima menit lagi, Rel. Setelah ini kita pulang," bisik Kaivan. Suaranya rendah, serak karena kelelahan, dan bergetar tepat di samping telingaku.
Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam momen ini. Tangan Kaivan bergerak pelan, mengusap punggung tanganku yang masih memegang mouse. Gestur itu begitu alami, begitu intim, seolah-olah kami memang diciptakan untuk saling bersinggungan di tengah dunia yang egois ini. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku tahu ada sebuah sekat transparan yang selalu ada di antara kami—sebuah garis tak kasat mata yang tidak pernah ia seberangi selama tujuh tahun terakhir.
“Kita terlalu dekat untuk disebut teman, tapi tak pernah cukup untuk jadi cinta.”
Kalimat yang tercetak di sudut pikiranku itu sering bergema seperti kaset rusak. Kami adalah "kita" di mata rekan kantor yang selalu menggoda kami setiap makan siang. Kami adalah "kita" di mata pelayan kafe langganan yang sudah hafal pesanan kopi kami tanpa perlu bertanya. Tapi di mata hukum, di mata komitmen, kami tetaplah dua orang asing yang hanya kebetulan saling membutuhkan untuk bertahan hidup di rimba ibu kota.
"Van," panggilku lirih. Suaraku nyaris hilang ditelan dengung AC ruangan.
"Hmm?" Ia tidak menjauhkan wajahnya. Malah, aku bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa keningku saat ia sedikit menunduk.
"Kamu ingat nggak, waktu kita masih kuliah di Depok dulu? Waktu kita harus begadang di perpustakaan sampai diusir satpam karena sudah jam sepuluh malam?"
Kaivan terkekeh, suara tawa yang selalu berhasil membuat jantungku berkhianat. "Ingatlah. Waktu itu kamu menangis karena takut nggak lulus ujian Ekonometrika, padahal kamu yang akhirnya dapat nilai A tertinggi seangkatan."
"Aku menangis bukan karena takut gagal ujian, Van," jawabku jujur, sebuah kejujuran yang biasanya aku sembunyikan rapat-rapat di balik senyum profesional. "Aku menangis karena aku takut setelah lulus nanti, kamu nggak akan ada lagi di sampingku."
Kaivan terdiam. Tangannya yang mengusap punggung tanganku tiba-tiba berhenti. Ia menegakkan tubuhnya, membuat kepalaku kehilangan sandarannya secara mendadak. Perasaan kosong itu langsung menghantamku, jauh lebih dingin daripada udara AC yang menusuk tulang.
"Aku selalu ada di sini, Rel. Kamu tahu itu," ucapnya, namun matanya kini sudah tidak lagi menatapku. Matanya tertuju pada layar ponsel yang menyala di atas meja, menampilkan sebuah notifikasi yang baru saja masuk.
Sebuah pesan singkat dari nomor tanpa nama. Namun, aku mengenali foto profilnya dengan sangat baik. Seorang wanita dengan rambut panjang yang terurai indah, berdiri dengan latar belakang Menara Eiffel yang bercahaya. Foto yang tidak pernah berubah selama sepuluh tahun, foto yang selalu menghantui mimpi-mimpi burukku.
“Aku sudah di Jakarta. Kamu di mana?”
Wajah Kaivan berubah seketika. Ketenangan yang tadi menyelimuti kami menguap dalam sekejap, digantikan oleh kegelisahan yang ia coba tutupi dengan senyum kaku yang terlihat menyakitkan. Ia segera menyambar ponselnya, memasukkannya ke saku celana dengan gerakan terburu-buru, seolah-olah pesan itu adalah rahasia negara yang sangat rahasia.
"Rel, sepertinya aku nggak bisa antar kamu pulang malam ini," ucapnya tanpa berani menatap mataku. Ia sibuk merapikan tasnya, mencari kunci mobil dengan tangan yang sedikit gemetar. "Ada urusan mendesak. Kakakku... ya, kakakku minta jemput di bandara karena supirnya sedang izin."
Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibirnya, sebuah koreografi kebohongan yang sudah hafal di luar kepala. Aku tahu kakaknya tinggal di Singapura dan baru saja berkunjung bulan lalu. Aku tahu urusan mendesak itu memiliki nama yang sangat spesifik, sebuah nama yang selama tujuh tahun ini kuharap sudah terkubur di masa lalu: Nadine.
"Oh, begitu. Nggak apa-apa, Van. Aku bisa naik taksi online," kataku, berusaha menjaga suaraku agar tetap stabil, meskipun hatiku rasanya baru saja dijatuhkan dari lantai lima belas ke aspal jalan raya.
"Maaf ya, Rel. Besok aku ganti, kita makan siang di tempat favoritmu yang di daerah Senopati itu," ia berdiri, meraih jasnya yang tergantung di sandaran kursi, dan sempat mengacak rambutku sejenak sebelum pergi—sebuah gestur kasih sayang yang kini terasa seperti penghinaan paling kasar yang pernah kuterima.
Aku hanya bisa terdiam, terpaku di kursi kerjaku. Aku menatap punggungnya yang menjauh dengan langkah tergesa-gesa menuju pintu lift. Begitu pintu lift tertutup dengan suara denting yang nyaring, ruangan divisi riset ini terasa sangat luas, sangat sunyi, dan sangat menakutkan.
Aku berjalan perlahan menuju jendela besar, menempelkan telapak tanganku pada kaca yang dingin. Beberapa menit kemudian, aku melihat mobil sedan hitam milik Kaivan keluar dari parkiran basement dengan kecepatan yang tidak biasa, membelah kemacetan Jakarta demi menuju sebuah tujuan yang bukan aku.
Ia sedang terburu-buru menemui tujuannya. Sementara aku? Aku hanyalah tempat ia pulang saat ia sedang lelah mencari tujuan itu. Aku adalah persinggahan sementara, pelabuhan cadangan yang selalu ia datangi ketika samuderanya sedang mengamuk. Namun begitu badai reda dan matahari muncul, ia akan kembali berlayar sejauh mungkin, meninggalkanku sendirian menjaga pantai.
Aku meraih ponselku dengan tangan bergetar, membuka aplikasi Instagram dengan sisa-sisa keberanian yang kumiliki. Di sana, di bagian cerita seorang teman lama yang masih berteman dengan "dia", aku melihatnya. Sebuah foto Nadine yang sedang tersenyum lebar di Bandara Soekarno-Hatta, dikelilingi oleh koper-koper bermerek. Di bawah foto itu, ada sebuah tulisan yang membuat napasku tercekat: “Home is where the heart is. Akhirnya kembali ke tempat yang paling mengerti aku.”
Duniaku serasa berputar. Tujuh tahun aku menjaga "rumah" ini agar tetap hangat untuk Kaivan. Tujuh tahun aku memastikan lampunya tetap menyala setiap kali ia tersesat di tengah kegagalan kerjanya atau masalah keluarganya. Aku yang merapikan laporannya, aku yang mendengarkan keluh kesahnya hingga dini hari, aku yang membelanya di depan Pak Dimas. Namun ternyata, pemilik asli rumah itu sudah kembali. Dan aku hanyalah penyewa sementara yang kini harus segera berkemas karena masa kontraknya sudah habis.
Aku kembali duduk di kursi kerjaku yang kini terasa asing. Cahaya lampu meja yang kekuningan kini terasa menyakitkan di mataku, memantulkan bayangan diriku yang terlihat begitu menyedihkan di layar monitor yang gelap. Aku menatap ikon file proyek Adhitama—proyek yang kami bangun bersama dengan penuh tawa dan harapan, namun kini terasa seperti monumen kegagalanku sendiri.
Namaku Arelia. Dan malam ini, di bawah langit Jakarta yang acuh tak acuh, aku akhirnya menyadari satu hal yang paling pahit. 'Nyaris' adalah kata paling kejam yang pernah diciptakan manusia dalam bahasa apa pun.
'Nyaris' berarti kamu sudah cukup dekat untuk mencium aroma kebahagiaan, tapi tetap tidak pernah cukup dekat untuk merasakannya. 'Nyaris' berarti kamu sudah memegang kunci pintunya, tapi pemiliknya tidak pernah mengizinkanmu masuk ke dalam ruangan utamanya.
Aku mengambil tasku, mematikan lampu meja dengan satu sentakan kecil, dan membiarkan kegelapan menelan seluruh ruangan riset ini. Sama seperti kegelapan yang kini mulai menelan sisa-sisa harapanku tentang Kaivan.
Besok adalah hari baru. Dan besok, aku harus mulai belajar satu hal yang paling sulit: bagaimana caranya berjalan di atas kakiku sendiri, tanpa harus bersandar pada bahu pria yang ternyata tidak pernah menjadikanku tujuannya.
Kisah "Nyaris Jadi Kita" ini tidak akan berakhir sebagai komedi romantis seperti yang sering kutonton di layar perak. Ini adalah awal dari sebuah tragedi, atau mungkin... awal dari sebuah pembebasan yang menyakitkan. Aku belum tahu. Yang kutahu pasti adalah: rumah ini bukan lagi milikku. Dan aku harus segera pergi sebelum sang pemilik asli mengusirku dengan cara yang lebih menyakitkan.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain