NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Dinding Penyangkalan

​Pukul enam pagi di Nusa Dua seharusnya menjadi simfoni kedamaian yang meluluhkan jiwa. Suara ombak yang menyapu pasir putih dengan ritme lembut, kicauan burung-burung tropis di dahan pohon kamboja yang rimbun, dan semburat warna jingga yang perlahan menyapu cakrawala adalah definisi dari sebuah awal yang baru bagi siapa pun.

​Namun, bagi Kanaya Larasati, udara pagi itu terasa beracun, seolah-olah setiap oksigen yang ia hirup mengandung partikel kaca yang mengiris paru-parunya.

​Ia berdiri di lobi resor, mengapit ransel laptopnya seolah-olah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah laut lepas yang siap menenggelamkannya. Matanya terasa luar biasa berat, namun kelopaknya menolak untuk tertutup barang sedetik pun. Sisa air mata semalam telah mengering, meninggalkan jejak kaku di pipinya yang sudah ia samarkan dengan lapisan bedak ekstra tebal dan concealer tingkat tinggi.

​'Jangan diingat. Jangan pernah berani memutar kembali rekaman itu, Kanaya,' Naya merapal mantra penyangkalan di dalam kepalanya berulang kali, suaranya di dalam batin terdengar hampir seperti isakan yang tertahan. 'Anggap saja itu tidak pernah terjadi. Itu hanyalah kecelakaan kerja. Sebuah malfungsi sistem saraf akibat paparan oksigen Bali yang terlalu pekat dan tekanan pekerjaan yang tidak masuk akal. Kau tidak boleh hancur sekarang.'

​Pikirannya secara masokis terus berusaha memutar fragmen semalam: panas bibir Juna yang menekan miliknya, aroma vetiver yang memabukkan yang seolah meresap ke dalam sumsum tulang, dan bagaimana seluruh dunianya runtuh hanya dalam satu sentuhan yang ia sangkal namun ia dambakan. Setiap kali memori itu muncul, Naya merasa ingin berteriak dan menenggelamkan dirinya ke kolam renang hotel. Ia merasa dikhianati oleh tubuhnya sendiri. Ia membenci fakta bahwa di bawah lapisan kemarahannya yang tebal, ada bagian dari jiwanya yang justru memberikan respons pada pria itu.

​Sebuah SUV hitam dengan kaca film gelap berhenti tepat di depan karpet merah lobi. Pintu belakang terbuka dengan suara desis hidrolik yang halus, dan Arjuna Dirgantara melangkah keluar.

​Naya menahan napasnya secara refleks. Jantungnya berdegup begitu kencang, menghantam tulang rusuknya dengan kekuatan yang membuat dadanya terasa nyeri. Ia merasa seolah-olah seluruh staf hotel di sana bisa mendengar guncangan di dalam dirinya.

​Juna mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat kaku, lengkap dengan dasi yang diikat dengan simpul yang sangat erat—sebuah pernyataan visual bahwa ia sedang bersiap untuk perang, bukan untuk penerbangan pagi yang santai. Kacamata hitam menutupi matanya sepenuhnya, menyembunyikan segala jenis emosi atau kerentanan yang mungkin tersisa dari ciuman di dek pantai semalam.

​Pria itu berjalan melewati Naya tanpa menoleh satu milimeter pun. Tidak ada sapaan profesional. Tidak ada anggukan kepala yang biasa ia berikan. Bahkan tidak ada lirikan sekecil apa pun melalui sudut matanya yang tajam. Juna melangkah masuk ke dalam kabin mobil dengan aura kaku yang jauh lebih mematikan dan lebih dingin daripada saat mereka pertama kali bertemu di ruang rapat Jakarta.

​'Dia menganggapku tidak ada. Dia sedang menghapus eksistensiku dari memorinya,' batin Naya, meskipun ia merasakan sebuah sengatan perih yang luar biasa tajam menghantam ulu hatinya. 'Dia kembali menjadi robot. Dia ingin membuang kejadian semalam seolah-olah itu adalah noda tinta hitam di atas cetak biru mewahnya yang harganya miliaran. Ternyata, baginya, aku benar-benar hanya sebuah kesalahan teknis.'

​Riko, yang tampak sangat cemas dan kelelahan di sebelah kursi pengemudi, memberikan isyarat pada Naya untuk segera masuk. Naya mengambil tempat di kursi paling belakang, membiarkan Juna duduk sendirian di baris tengah yang luas. Jarak di antara mereka hanya terpaut beberapa meter secara fisik, namun secara psikologis, mereka baru saja membangun Tembok Besar China yang tak tertembus di tengah kabin mobil itu.

​Perjalanan menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai ditempuh dalam keheningan yang mencekik. Tidak ada suara radio. Tidak ada suara ketikan dari tablet Juna. Bahkan suara napas pun terdengar seperti sebuah gangguan yang menyinggung kesunyian.

​Juna menatap lurus ke jendela yang menampilkan sawah-sawah Bali yang mulai terbangun, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol dengan jelas. Di balik kacamata hitamnya, ia sedang bertarung habis-habisan dengan iblis di dalam kepalanya sendiri.

​'Kau telah melanggar aturan emasmu sendiri, Arjuna. Kau telah meruntuhkan seluruh fondasi integritas yang kau bangun selama bertahun-tahun hanya untuk sebuah impuls biologis rendahan,' Juna merutuk di dalam sanubarinya dengan kebencian yang mendalam pada dirinya sendiri. 'Kau menyentuhnya. Kau menciumnya. Kau membiarkan emosi primitif merusak ketajaman logikamu. Kau tidak lebih baik dari para manajer rendahan yang kau hina karena mereka lemah pada urusan pribadi. Kau adalah sebuah kegagalan.'

​Juna mengepalkan tangannya di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih dan kulitnya meregang kaku. Bagi Juna, ciuman semalam bukanlah sebuah awal dari romansa yang indah. Itu adalah bukti nyata dari kegagalannya dalam mengontrol diri sendiri. Itu adalah aib yang harus dimusnahkan dari sejarah hidupnya. Dan cara terbaik untuk memusnahkannya adalah dengan menekan Kanaya Larasati kembali ke tempatnya semula: sebagai seorang bawahan yang tidak berarti, sebagai roda gigi kecil yang tidak berhak memiliki suara dalam sistemnya.

​Di dalam kabin kelas bisnis pesawat Airbus A330 menuju Jakarta, suasananya jauh lebih buruk daripada di dalam mobil.

​Naya duduk di kursi 2A, sementara Juna berada tepat di kursi 2B. Mereka duduk berdampingan, hanya dipisahkan oleh sandaran tangan yang terasa seperti jurang pemisah tanpa dasar. Atmosfer di sekitar mereka begitu dingin hingga sistem pendingin kabin pesawat seolah-olah membeku menjadi es. Juna sama sekali tidak membuka pembicaraan sedikit pun. Ia langsung membuka laptopnya begitu lampu tanda sabuk pengaman dimatikan, dan mulai bekerja dengan intensitas yang menakutkan, seolah-olah ia sedang mencoba menenggelamkan dirinya ke dalam deretan angka agar tidak perlu menyadari kehadiran Naya.

​Setiap kali pramugari menawarkan minuman atau pilihan menu sarapan, Juna menjawab dengan nada yang begitu tajam, pendek, dan sangat kaku hingga pramugari tersebut tampak gemetar dan tidak berani menawarkan apa pun lagi.

​Naya mencoba berpura-pura membaca majalah penerbangan, namun matanya sama sekali tidak bisa memproses satu kata pun yang tertulis di sana. Melalui pantulan samar dari layar monitor yang mati di depannya, ia bisa melihat profil samping wajah Juna. Pria itu sama sekali tidak melirik ke arahnya. Ia bekerja dengan dedikasi seorang martir, seolah-olah Naya adalah kursi kosong yang tidak berpenghuni.

​'Dia benar-benar ahli dalam hal ini. Dia adalah ahli bedah untuk perasaannya sendiri,' batin Naya getir, merasakan kepahitan yang nyata di pangkal lidahnya. 'Dia menciumku semalam seolah-olah aku adalah satu-satunya hal yang ia inginkan di dunia ini, dan pagi ini dia memperlakukanku seperti sampah kantor yang lupa dibuang oleh petugas kebersihan. Aku harus berhenti berharap ada setitik nurani di dalam tubuh pria tanpa jiwa ini.'

​Naya memejamkan matanya rapat-rapat, menyandarkan kepalanya ke jendela pesawat yang dingin. Turbulensi kecil sesekali menggoyang tabung logam raksasa itu, namun kali ini Naya sama sekali tidak merasa takut. Ketakutan akan jatuh dari ketinggian tiga puluh ribu kaki terasa sangat sepele dibandingkan ketakutan akan hancurnya sisa-sisa harga dirinya di depan Arjuna Dirgantara.

​Setelah dua jam penerbangan yang terasa seperti ribuan tahun penyiksaan, roda pesawat akhirnya menyentuh aspal Bandara Soekarno-Hatta dengan guncangan yang kasar. Jakarta menyambut mereka dengan langit abu-abu yang suram, awan polusi yang pekat, dan kebisingan yang menyesakkan—sebuah pengingat yang sangat kejam bahwa libur singkat dan anomali magis di Bali telah resmi berakhir.

​"Riko," suara Juna akhirnya pecah saat mereka berjalan di koridor bandara yang sibuk. Suaranya terdengar sangat kering, kasar, dan tanpa intonasi manusiawi.

​"Ya, Pak?" Riko segera mendekat, wajahnya menunjukkan ketegangan yang nyata.

​"Antar Nona Kanaya langsung ke kantor pusat. Saya ingin dia menyelesaikan draf operasional pencahayaan untuk lobi Grand Azure sebelum pukul lima sore ini. Tidak ada alasan kelelahan atau jetlag. Jika dia merasa tidak sanggup, suruh dia menyerahkan seluruh laporannya di meja saya dan dia bisa menganggap hari ini sebagai hari terakhirnya bekerja di Dirgantara Group," perintah Juna tanpa menghentikan langkah kakinya yang cepat, dan yang paling menyakitkan bagi Naya, ia mengatakannya tanpa menatap Naya sedikit pun, seolah-olah ia sedang berbicara tentang inventaris kantor yang rusak.

​Naya berhenti melangkah secara mendadak. Ransel laptop di bahunya terasa seberat batu kali yang siap menyeretnya ke dasar bumi.

​'Dia kembali menyerangku dengan tumpukan pekerjaan. Dia sedang mencoba menindasku secara mental agar aku tidak punya waktu barang semenit pun untuk memikirkan kejadian semalam,' batin Naya, amarahnya mulai bangkit perlahan, menggantikan rasa sedih yang sempat melumpuhkannya. 'Baik. Kau ingin bermain seperti ini, Arjuna? Aku akan menunjukkan padamu bahwa ciumanmu yang menyedihkan semalam tidak membuatku menjadi lemah. Aku akan menjadi jauh lebih profesional, lebih dingin, dan lebih keras darimu.'

​"Saya tidak butuh diantar oleh siapa pun, Mas Riko," ucap Naya dengan suara yang lantang, tegas, dan sangat jernih, membuat beberapa penumpang lain di bandara menoleh ke arahnya. "Saya akan naik taksi sendiri ke kantor. Dan sampaikan pada Pak CEO yang terhormat, draf itu akan ada di mejanya pukul empat sore, bukan pukul lima. Saya tidak suka bekerja di bawah standar yang rendah."

​Naya memutar tubuhnya dengan gerakan yang elegan namun tajam, menyeret kopernya menjauh dari rombongan Juna tanpa menoleh sedikit pun. Ia tidak melihat bagaimana Juna sempat menghentikan langkah kakinya selama satu detik, dan bagaimana tangan pria itu sedikit gemetar saat menggenggam gagang tas kerjanya yang mahal.

​Suasana di kantor lantai dua puluh lima Gedung Dirgantara kembali seperti semula: kaku, cepat, dan penuh dengan tekanan yang mencekik. Namun bagi Kanaya Larasati, ada lapisan tambahan yang membuatnya merasa seperti sedang berjalan di dalam tangki air tanpa oksigen.

​Setiap kali ia berjalan melewati ruangan CEO yang berpintu mahoni besar, ia merasa seolah-olah ada sepasang mata elang yang terus mengawasinya dari balik dinding kayu tersebut, padahal pintu itu tertutup rapat. Siska dan rekan-rekan desainer senior lainnya mulai melemparkan tatapan penuh selidik dan bisikan-bisikan kecil di pantry, mungkin mereka menyadari perubahan atmosfer yang sangat ekstrem antara Naya dan Juna yang kini jauh lebih dingin dan lebih bermusuhan dari biasanya.

​Naya bekerja seperti orang kesurupan. Ia tidak pergi makan siang. Ia hanya meminum tiga gelas kopi hitam pahit tanpa gula, membiarkan kafein dan amarah yang murni menjadi satu-satunya bahan bakar bagi otaknya yang kelelahan. Ia membedah ulang setiap jalur kabel, setiap perhitungan lumens cahaya, dan setiap sudut bayangan di lobi Grand Azure dengan presisi yang gila. Ia menuangkan seluruh rasa frustrasinya ke dalam garis-garis digital yang menari di layar monitornya.

​Tepat pukul 15:55 WIB, Naya berdiri di depan meja sekretaris Juna dengan napas yang teratur namun tatapan yang sangat tajam.

​"Ini laporan operasional pencahayaan yang diminta oleh Pak Arjuna," ucap Naya, meletakkan map biru tebal itu ke atas meja Riko dengan bunyi plak yang cukup keras dan definitif. "Saya sudah menyelesaikannya satu jam lebih awal dari tenggat waktu yang ia berikan secara paksa."

​Riko menatap Naya dengan tatapan iba yang sangat dalam. "Mbak Naya... Bapak sedang dalam mood yang sangat buruk sejak kita mendarat tadi. Mungkin Mbak ingin beristirahat sejenak atau pulang lebih awal?"

​"Saya tidak butuh istirahat dari pekerjaan ini, Mas Riko. Saya hanya butuh pria di dalam ruangan itu tahu bahwa budak korporatnya sudah menyelesaikan tugasnya," sahut Naya dingin, suaranya terdengar sangat datar.

​Tiba-tiba, pintu ruangan CEO terbuka secara otomatis dengan bunyi klik yang tajam. Juna berdiri di ambang pintu. Ia sudah menanggalkan jasnya, hanya mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, dengan lengan yang digulung kasar hingga ke siku. Matanya terlihat merah dan sangat lelah, menunjukkan bahwa ia juga tidak tidur sedikit pun sejak kembali dari Bali.

​"Masuk ke dalam, Kanaya," perintah Juna dengan nada yang absolut.

​Naya melangkah masuk dengan dagu yang terangkat tinggi, menjaga postur tubuhnya agar tetap tegak sempurna. Begitu pintu mahoni tertutup dan terkunci secara otomatis, Juna tidak langsung memeriksa laporan tersebut. Ia berjalan menuju meja kerjanya yang luas, menyalakan sebatang rokok—sebuah kebiasaan yang sangat jarang ia lakukan di dalam ruangan kantornya.

​"Duduk," ucap Juna singkat, menghembuskan asap rokoknya ke udara yang sunyi.

​"Saya lebih suka berdiri, Pak. Saya masih memiliki banyak pekerjaan lain yang jauh lebih penting untuk kemajuan perusahaan ini," jawab Naya tenang, menatap lurus ke arah tumpukan dokumen di meja Juna.

​Juna menatap Naya melalui kepulan asap rokok yang tipis. Tatapannya kini kembali tajam, mencari celah sekecil apa pun pada pertahanan mental Naya yang terlihat begitu kokoh.

​"Soal kejadian di Bali semalam..." Juna memulai pembicaraan, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya.

​Jantung Naya seolah-olah berhenti berdetak saat itu juga. Ia sudah mempersiapkan mentalnya untuk mendengar permintaan maaf yang kaku, atau mungkin sebuah penjelasan romantis yang klise.

​"...anggap itu sebagai sebuah kesalahan teknis yang sangat disayangkan akibat faktor kelelahan luar biasa," lanjut Juna, tanpa ada sedikit pun jejak emosi manusiawi di suaranya. "Saya sedang tidak berada dalam kondisi mental yang stabil karena tekanan proyek, dan Anda secara kebetulan berada di sana di saat yang salah. Itu adalah sebuah anomali biologis yang tidak berarti apa-apa bagi saya secara personal. Saya harap Anda cukup dewasa secara profesional untuk tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar gangguan. Di perusahaan ini, Anda tetaplah staf biasa yang mudah digantikan, dan saya tetaplah atasan Anda yang tidak bisa disentuh."

​Setiap kata yang meluncur dari bibir Juna terasa seperti siraman air raksa panas yang membakar seluruh pori-pori kulit Naya. Sakit. Luar biasa sakit. Naya merasa seolah-olah ia baru saja ditelanjangi secara paksa dan dipermalukan di depan umum.

​'Kesalahan teknis? Anomali biologis? Dia baru saja menyebut momen yang menghancurkan seluruh sistem pertahanan jiwaku sebagai sebuah kecelakaan mesin?' batin Naya meradang, bibirnya gemetar hebat menahan amarah yang siap meledak menjadi air mata.

​Naya menarik napas sedalam-dalamnya, mengepalkan tangannya di samping tubuh hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri sampai berdarah. Ia memaksakan sebuah senyum sinis yang paling menyakitkan dan paling dingin yang pernah ia buat dalam hidupnya.

​"Tentu saja, Pak Arjuna," sahut Naya, suaranya terdengar sangat jernih namun penuh dengan racun yang mematikan. "Saya bahkan sudah sepenuhnya melupakan kejadian menjijikkan itu sejak saya menginjakkan kaki di tangga pesawat pagi tadi. Bagi saya pribadi, itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan yang sangat saya sesali karena telah mencemari integritas bibir saya. Saya senang kita berada di frekuensi penyangkalan yang sama. Saya tidak akan pernah membiarkan bibir saya bersentuhan dengan robot tanpa nurani yang cacat emosional seperti Anda lagi, bahkan jika dunia ini akan kiamat dan Anda adalah pria terakhir yang tersisa."

​Juna tertegun di tempatnya berdiri. Ia sama sekali tidak menyangka Naya akan membalas dengan kata-kata sekejam itu. Ia melihat ada luka yang sangat mendalam dan pedih di mata cokelat Naya, namun gadis itu berhasil menutupinya dengan kemarahan yang luar biasa besar dan gengsi yang membara.

​"Bagus," desis Juna, matanya berkilat marah yang liar. "Sekarang segera keluar dari ruangan saya sebelum saya kehilangan kesabaran saya. Dan jangan pernah berani lagi menatap mata saya dengan cara yang lancang seperti itu, Kanaya."

​"Dengan senang hati, Pak CEO yang terhormat," Naya membungkuk sedikit, sebuah gestur penghinaan yang sangat halus namun menyakitkan, lalu ia berbalik dan melangkah keluar dengan kepala tegak dan punggung yang sangat lurus.

​Begitu pintu mahoni tertutup rapat, Juna menghantamkan tinjunya ke meja marmer hitamnya dengan kekuatan penuh. Gelas kristal berisi air di atas mejanya bergetar hebat hingga airnya tumpah. Ia mematikan rokoknya dengan cara menekan kuat-kuat ke asbak peraknya.

​'Kau berhasil, Arjuna. Kau telah membangun kembali dinding itu. Kau telah menyelamatkan otoritasmu sebagai penguasa Dirgantara,' batin Juna, matanya menatap pintu yang kosong itu dengan rasa hampa yang mengerikan dan menyiksa. 'Kau telah menyelamatkan diri dari kelemahan. Tapi kenapa rasanya... kenapa rasanya kau baru saja membunuh satu-satunya bagian di dalam dirimu yang sempat merasa hidup?'

​Di meja kerjanya yang terbuka, Kanaya duduk dan menatap layar monitornya tanpa benar-benar melihat apa pun. Ia tidak menangis. Ia sudah bersumpah semalam di Bali bahwa air matanya hanya milik pulau itu, bukan milik Jakarta yang kejam.

​'Dia ingin perang? Aku akan memberinya perang yang sesungguhnya,' gumam Naya di dalam hatinya yang terluka. 'Aku akan menunjukkan padanya bahwa seorang Kanaya Larasati tidak akan pernah hancur oleh seorang pria pengecut yang menganggap cinta sebagai sebuah kesalahan teknis.'

​Fase 4 resmi dimulai. Penyangkalan kini telah menjadi baju zirah yang menutupi luka mereka masing-masing. Dan di balik dinding-dinding kaca pencakar langit Gedung Dirgantara, sebuah persaingan yang jauh lebih kejam, lebih dingin, dan penuh dengan kebencian baru saja lahir—sebuah paradoks di mana dua hati yang saling mendambakan justru sedang saling menghunuskan pedang kata-kata paling tajam hanya untuk melindungi ego masing-masing agar tidak terlihat hancur.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak dengan sangat lambat menyusuri sebuah rumah petak kecil di pinggiran Jakarta yang sangat kumuh. Bau asap knalpot kendaraan yang pekat dan bau sampah yang membusuk masuk melalui jendela yang hanya ditutupi kawat nyamuk yang sudah berlubang besar.

​Tujuh tahun yang lalu.

​Kanaya remaja, baru berusia delapan belas tahun, berdiri di depan sebuah meja makan kayu yang sudah reyot dan bergoyang. Di atas meja tersebut, ada setumpuk kertas tagihan rumah sakit ibunya yang sudah lewat jatuh tempo dan dicap merah dengan peringatan keras. Ibunya sedang terbaring sangat lemah di kamar sebelah yang sempit, terdengar suara batuk yang sesak menahan sakit paru-paru yang didapatkan dari bekerja sebagai buruh cuci selama puluhan tahun tanpa perlindungan.

​Tiba-tiba, pintu depan yang rapuh diketuk dengan sangat kasar. Seorang pria berpakaian necis dan sombong—seorang asisten dari pemilik pabrik kaya yang dulu mempekerjakan ibu Naya—berdiri di sana dengan tatapan yang sangat merendahkan.

​"Ini uang pesangon terakhir untuk ibumu," ucap pria itu dengan nada bosan, melempar sebuah amplop cokelat tipis ke atas meja yang penuh debu. "Tuan besar tidak mau lagi mengurusi masalah kesehatan ibumu. Dia sudah dianggap tidak berguna bagi produktivitas pabrik. Jadi, jangan pernah berani datang lagi ke gerbang rumah Tuan untuk mengemis bantuan kesehatan tambahan."

​Naya menatap amplop itu dengan tangan yang gemetar, lalu ia menatap pria tersebut dengan mata cokelat yang membara oleh api kemarahan. "Ibu saya jatuh sakit karena bekerja di pabrik Tuanmu selama lima belas tahun tanpa masker pelindung yang layak! Uang ini bahkan tidak cukup untuk membeli tabung oksigen selama satu minggu!"

​Pria itu tertawa sangat meremehkan, memandang rendah seluruh ruangan rumah Naya yang sempit dan berbau lembap. "Nona kecil, orang-orang miskin seperti kalian harusnya tahu diri. Uang ini sudah jauh lebih dari cukup untuk ukuran orang-orang yang tinggal di dalam lubang tikus yang menjijikkan seperti ini. Bersyukurlah Tuan masih mau memberikan 'recehan' ini kepada sampah masyarakat seperti kalian."

​Pria itu berbalik dengan angkuh dan masuk ke dalam mobil sedan mewahnya yang mengkilap, meninggalkan debu hitam yang mengepul tepat ke arah wajah Naya.

​Naya meremas amplop cokelat itu hingga hancur di tangannya. Ia melihat ibunya yang keluar dari kamar dengan tertatih-tatih sambil memegang dinding, mencoba menenangkan Naya dengan tangannya yang kasar, pecah-pecah, dan penuh luka bekas deterjen.

​"Sabar, Naya... orang kaya memang memiliki dunianya sendiri yang terbuat dari emas. Kita tidak pernah dianggap ada di sana," bisik ibunya dengan suara yang nyaris hilang.

​Naya menatap tangan ibunya yang hancur, lalu menatap ke arah mobil mewah yang semakin menjauh di ujung gang sempit. Di detik itu juga, di tengah kemiskinan yang mencekik, ia bersumpah.

​'Aku tidak akan pernah lagi membiarkan diriku berada di bawah belas kasihan mereka,' batin Naya remaja, suaranya bergetar hebat karena resolusi yang mendalam dan dendam pada nasib. 'Aku akan masuk ke dalam dunia mereka yang dingin. Aku akan membangun gedung-gedung yang jauh lebih besar dan lebih megah dari rumah mereka. Dan aku tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menganggapku sebagai "recehan" yang bisa dibuang begitu saja ke tempat sampah.'

​Kamera melakukan close-up ekstrim pada wajah Naya remaja yang kini terlihat sangat keras, mata cokelatnya kehilangan seluruh binar masa kecilnya dan digantikan oleh baja penyangkalan yang dingin—perisai yang sama yang kini ia gunakan dengan sekuat tenaga untuk melawan pria bernama Arjuna Dirgantara.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!