Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Belajar bahasa Korea
Sore itu, cahaya matahari menembus tirai jendela apartemen yang disediakan oleh LYNX Entertainment. Langit Seoul berwarna jingga lembut, memantul di dinding putih bersih ruangan tempat Nala duduk dengan buku catatan terbuka, pena hitam di tangan. Di hadapannya, seorang wanita berwajah lembut menyiapkan beberapa lembar worksheet yang telah dicetak rapi.
Namanya Park Eunsoo, tutor bahasa Korea yang ditunjuk langsung oleh pihak agency. Wanita itu sudah dua kali datang ke apartemen Nala minggu ini, dan setiap kali pertemuan berakhir, ia selalu pulang dengan tatapan takjub—seolah tak percaya bahwa murid asingnya bisa menyerap pelajaran secepat itu.
“Kita mulai ya, Nala-ssi. Hari ini kita belajar tentang bentuk formal dalam percakapan sehari-hari. Misalnya… Annyeonghaseyo (안녕하세요) berarti halo, bentuk sopan. Tapi kalau kamu bicara pada seseorang yang lebih muda, kamu bisa bilang annyeong (안녕).”
Nala mencatat cepat, lalu mengulang dengan pengucapan yang nyaris sempurna, hanya dengan sedikit aksen asing yang justru terdengar lucu di telinga Eunsoo.
“Annyeonghaseyo,” tutur nya sedikit terbata meskipun jelas membuat Eunsoo tersenyum, logat Nala jelas terdengar lucu di telinga orang Korea seperti nya.
“Bagus sekali! Kamu tahu? Murid-murid Korea saja kadang masih salah menempatkan tingkat kesopanan. Tapi kamu sepertinya sudah memahami intinya,” ucap nya yang membuat Nala tersipu kecil.
“Aku hanya mencoba meniru ritmenya. Bahasa Korea seperti punya musik tersendiri, kan? Nada dan tempo-nya… terasa indah kalau diucapkan dengan benar,” kata nala yang membuat Eunsoo terdiam sejenak, kagum dengan cara Nala memandang bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tapi juga bentuk seni.
“Kamu mendengarnya seperti seorang penulis, bukan murid biasa. Itu sebabnya kamu cepat mengerti. Ayo lanjutkan lagi, sekarang kita bahas tentang bagaimana cara memesan makanan,” ujar nya yang membuat Nala mengangguk, mereka melanjutkan pelajaran.
Hari itu fokusnya pada pola kalimat dasar—subjek, objek, dan kata kerja—namun Eunsook sesekali menguji kemampuan spontan Nala dengan percakapan ringan.
“Kamu pernah coba pesan makanan sendiri?” tanya nya yang membuat Nala menggeleng pelan.
“Belum, tapi aku hafal beberapa kalimat. Misalnya… ‘Ige juseyo (이거 주세요)’—tolong berikan ini,” ujar Nala yang membuat Eunsoo kembali terkekeh kagum mendengar nada bicara Nala, tapi dia tetap mengangguk.
“Wah! Kamu bukan hanya hafal, tapi juga mengucapkannya dengan sangat natural. Kamu pasti punya telinga yang peka terhadap bahasa,” balas nya yang membuat Nala tersenyum.
Tapi dalam hatinya ia tahu alasan sebenarnya: setiap kali mendengar orang orang di kantor berbicara cepat di ruang rapat, ia selalu mencoba memahami pola di balik kata-katanya. Tanpa sadar, otaknya mulai meniru ritme ucapan pria itu—intonasinya, bahkan cara dia menekankan suku kata tertentu.
"Terimakasih..." Kata Nala dan Eunsoo mulai melanjutkan.
"Sekarang saya ingin dengar hapalan dari kamu yang kemarin sempat saya perintahkan tentang kata kerja," ujar nya yang membuat Nala terdiam gugup.
Tapi akhirnya menghela nafas panjang dan mulai bicara meskipun ragu.
"Aku tidak yakin benar mengucapkan nya, tapi aku akan mencobanya," ujar Nala yang membuat Eunsoo mengangguk memberikan semangat, dia mengambil buku catatan Nala.
"Hada (하다), mukda (먹다), dan gada (가다), kan?” ujarnya pelan, berusaha mengingat. Eunsoo mengangguk.
“Benar. Sekarang coba ubah ke bentuk sopan—bentuk yo-ending,” balas nya yang membuat Nala terdiam sebentar menatap Eunsoo yang menunggu nya bicara, hingga akhirnya Nala menarik napas, lalu dengan yakin melafalkan.
“Haeyo (해요), meogeoyo (먹어요), gaeyo (가요)...” Nada suaranya lembut, tapi penuh konsentrasi.
Meskipun dia benar-benar ragu apakah pelafalan nya benar atau tidak, Eunsoo menatapnya sejenak, lalu tersenyum lebar.
“Luar biasa, Nala-ssi. Pengucapanmu semakin alami. Tidak seperti kebanyakan orang asing, kamu tidak terburu-buru meniru nada orang Korea. Kamu memahaminya dulu, lalu mengucapkannya,” puji nya lagi hal itu membuat Nala terkekeh kecil.
Dalam hati dia bersyukur karena punya guru yang begitu lemah lembut, Eunsoo tidak pernah menghakimi kesalahan nya. Ketika dia salah baik menulis atau mengucapkan maka dia akan menegur nya dengan baik, seperti : seharusnya seperti ini Nala-ssi. Tidak pernah dia dengar Eunsoo mengeluh kesal.
“Aku takut salah nada. Aku tahu di Korea, nada atau ekspresi bisa mengubah makna, kan?” tanya nya yang membuat Eunsoo mengangguk tenang.
“Betul sekali, Sepertinya kamu bukan hanya cepat belajar, tapi juga punya kepekaan bahasa yang baik. Apakah kamu memang suka belajar bahasa?” tanya nya yang membuat Nala terdiam sejenak lalu mengangguk.
“Aku... suka. Karena setiap bahasa punya caranya sendiri untuk menunjukkan rasa hormat. Di Korea, sopan santun bahkan terdengar dalam tata bahasa. Itu menarik sekali menurutku,” ujar nya yang membuat tutor itu terdiam sejenak, lalu tertawa kecil.
“Kamu berbicara seperti seorang penulis. Bagus sekali Nala-ssi,” ujar nya yang membuat Nala tersenyum samar.
“Mungkin karena aku memang penulis, seumur hidupku hidup di antara kata-kata.”
Ucapan itu membuat suasana di ruangan sejenak hening—tapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti jeda yang hangat, di mana sinar matahari sore menyentuh sisi wajah Nala yang lelah namun bersemangat. Eunsoo kemudian melanjutkan dengan nada ringan.
“Baiklah, karena kamu sudah memahami bentuk dasar dan formal, kita lanjutkan ke percakapan sederhana. Misalnya—kalimat tadi:
우리는 오늘 일상 대화에서 사용하는 존댓말을 배울 거예요 (Urineun oneul ilsang daehwa-eseo sayonghaneun jondaetmareul baeul geoyeyo)” Ia menatap Nala lembut.
“Kalimat ini artinya: Hari ini, kita akan belajar bentuk sopan yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Coba ulangi, ” pinta nya yang membuat Nala mengangguk.
Dia melihat papan tulis kecil di samping Eunsoo dan mulai membaca sedikit demi sedikit tulisan Eunsoo wajah nya jelas serius walaupun benar benar ragu. Nala mengulanginya pelan, mencoba menangkap irama kalimatnya.
“Urineun oneul... ilsang daehwa-eseo... sayonghaneun jondaetmareul baeul geoyeyo...”
Nada ucapannya lembut tapi penuh usaha, dia menatap Eunsoo penuh harap, berharap kalimat yang dia ucapkan tidak seburuk itu. Eunsoo mengangguk puas.
“Sempurna. Kamu hanya perlu sedikit membiasakan lidahmu untuk mengalir lebih cepat. Tapi untuk murid yang baru dua minggu di sini? Ini menakjubkan. Saya ingin setelah ini kamu lebih sering membaca ya, itu bisa mempercepat pelafalan mu,” ujar nya yang membuat Nala menutup catatan dan tersenyum kecil.
“Tentu... Aku hanya ingin bisa bicara lebih baik saat berinteraksi di kantor. Aku tidak ingin mereka repot karena aku belum fasih,” Ucap nya yang membuat Eunsoo menatapnya, lalu menunduk sambil berkata pelan.
“Kamu tidak perlu terburu-buru, Nala-ssi. Bahasa adalah soal kebiasaan, bukan kecepatan.” Ia menatap jam tangannya, lalu menutup buku panduan.
“Baiklah, untuk malam ini cukup. Istirahatlah. Kamu sudah bekerja seharian dan masih sempat belajar. Saya salut. Dan untuk tugas pertemuan selanjutnya adalah membaca teks yang cukup panjang dan kompleks.”
Ia mengambil satu buku. Buku itu terlihat seperti buku latihan membaca kalimat panjang seperti yang biasa digunakan untuk pembelajaran bahasa di Indonesia. Namun jelas semua tulisannya adalah bahasa Korea.
“Seonsaengnim, sepertinya itu sangat sulit. Aku belum bisa jika harus membaca kalimat panjang dalam tulisan Hangul. Jujur saja, terkadang aku masih bingung untuk mengeja teks yang panjang,” ujar Nala dengan nada khawatir.
“Jangan jadikan rasa sulit sebagai beban. Coba tanamkan mindset: aku coba, aku bisa. Otak manusia lebih cepat menangkap hal yang sering dipikirkan. Semakin positif pikiranmu, semakin positif hasilnya. Eja setiap kata satu per satu. Jangan takut salah, tapi takutlah karena tidak pernah mencoba. Tidak ada orang yang berhasil pada percobaan pertama, tapi mereka berhasil setelah ribuan kali gagal. Mengerti?” tanya nya sembari tersenyum tipis.
Nala mengangguk perlahan. Meskipun masih ragu, ia menerima buku tersebut.
“Terima kasih, seonsaengnim. Sampai pertemuan berikutnya, saya akan berusaha,” ujarnya.
Eunsoo mengangguk bangga. Ia membereskan barang-barangnya sebelum akhirnya berpamitan kepada Nala.
Saat pintu apartemen menutup, Nala menatap sejenak ke arah catatannya yang kini penuh coretan huruf Hangul. Ia menyandarkan dagu di lengannya, senyum kecil terselip di bibirnya.
Di balik semua kesibukan, pelan-pelan ia mulai membangun dunianya sendiri di Seoul — satu kata, satu kalimat, satu makna pada satu waktu.
“Semoga bisa,” ujarnya.
Ia mulai membuka buku tersebut. Buku yang benar-benar penuh dengan tulisan Hangul itu membuat kepalanya berdenyut pelan hanya dengan melihatnya. Namun ucapan Eunsoo kembali terngiang di kepalanya.
Akhirnya Nala mulai mencoba mengeja. Sesekali ia menuliskannya kembali dan mencari tahu di internet cara membaca kalimat itu dengan benar. Ia berulang kali mengikuti arahan dari internet, yang justru membuatnya sedikit frustrasi karena sumber yang berbeda-beda.
Nala mengembuskan napas berat. Buku di depannya kini terbuka di halaman yang penuh dengan barisan huruf Hangul yang tampak seperti simbol-simbol asing yang saling berdempetan. Ia menatapnya lekat, mencoba menangkap makna dari bentuk-bentuk melengkung itu. Namun semakin lama menatap, kepalanya justru makin pusing.
“Kenapa banyak sekali... konsonan seperti ini?” gumamnya pelan.
Ujung pensilnya menekan lembut di antara huruf-huruf yang tampak mirip tetapi terdengar berbeda saat diucapkan. Ia menghela napas lagi, memijat pelipisnya sebentar, lalu mencoba menyalin satu kalimat pendek.
“안녕하세요...” ia membaca dengan terbata. “Annyeo... ha... seyo?”
Suara kecilnya terdengar ragu, seperti anak kecil yang baru belajar bicara. Setelah itu, ia mencoba lagi, tetapi kalimat berikutnya jauh lebih panjang. Hurufnya berbaris tanpa jeda yang jelas, membuatnya bingung di mana harus berhenti.
“이건... 뭐... 지... 어... 지—”
Ia berhenti, frustasi.
“Aish... kenapa susah sekali sih!” keluhnya sambil menutup buku dengan satu tepukan kecil.
Ia menunduk, kedua tangannya menopang pipinya, sementara matanya menatap kosong pada laptop yang masih menampilkan hasil pencarian: cara cepat membaca tulisan Hangul tanpa bingung. Namun setiap situs memberikan penjelasan berbeda. Ada yang menyuruh fokus pada bentuk huruf, ada yang menyarankan menghafal pengucapan dasar.
“Harusnya dari tadi aku tonton video saja...” gumamnya kesal.
Ia mengklik salah satu video tutorial, dan suara lembut seorang guru Korea mulai terdengar, menjelaskan satu per satu huruf dengan lambat.
“가, 나, 다...”
Nala menirukan pelan, menulis ulang di buku catatannya.
“Ga... na... da...”
Ia mulai tersenyum tipis.
“Oke... ini masih masuk akal,” lanjutnya.
Namun beberapa menit kemudian, layar video berubah ke suku kata lain. Ritme cepat pengajar membuat Nala kembali kehilangan fokus. Ia menghela napas panjang dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Aku tidak akan bisa jika selalu seperti ini... Ya Allah, bagaimana ini,” bisiknya sambil menatap buku yang kini terbuka di pangkuannya.
Namun ia lalu teringat kalimat Eunsoo: Takutlah karena tidak mencoba.
Diam-diam, Nala menegakkan tubuhnya lagi.
“Baiklah, Nala... coba lagi. Pelan-pelan saja. Aku coba, aku bisa,” ucapnya pada diri sendiri sambil mengambil pensilnya kembali.
Ia mulai menulis satu baris, lalu mengejanya perlahan-lahan. Meski salah beberapa kali, ia terus mengulang sampai nadanya terdengar lebih alami.
Satu jam berlalu tanpa ia sadari.
Ketika akhirnya ia berhenti, halaman bukunya penuh dengan tulisan tangan kecil—tanda-tanda perjuangan. Di antara rasa lelah, ada secuil kebanggaan.
Ia menatap hasil kerjanya dan tersenyum kecil.
“Belum sempurna, tapi... aku belajar sesuatu hari ini.”
Nala membereskan buku-bukunya dan berniat mandi. Ia tidak bisa terlalu menghabiskan waktunya untuk belajar. Besok ia harus bekerja, dan ia juga perlu tidur cukup agar otaknya bisa beristirahat.