Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13.Malu yang Tak Terbendung
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Belum sempat Aisyah membalas ucapan Zea, terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Zea... kok kamu malah ngilang ke sini? Tadi dicariin buat absensi lho," suara berat dan lembut itu terdengar sangat akrab di telinga Aisyah.
Aisyah dan Zea serentak menoleh. Di sana berdiri Gus Aqlan dengan tampilan yang selalu rapi dan wibawa, sorban dan bajunya putih bersih. Namun tatapan Gus Aqlan langsung tertuju pada wajah Aisyah yang terlihat aneh.
Wajah Aisyah merah padam seperti kepiting rebus! Matanya berkaca-kaca karena malu, dan begitu melihat Gus Aqlan datang, dia langsung menunduk dalam-dalam, memalingkan wajah ke samping seolah sedang memperhatikan rumput dengan sangat serius.
"Eh Mas Aqlan! Iya nih lagi istirahat kan, jadi saya ajak Kak Aisyah ngobrol bentar," jawab Zea dengan senyum jahil mengembang di bibirnya.
Gus Aqlan mendekat dan duduk di bangku kosong tepat di seberang mereka. Matanya meneliti wajah Aisyah yang tertutup rapat.
" Aisyah kenapa? Kok wajahmu merah sekali? kamu Sakit demam ya?" tanya Gus Aqlan dengan nada khawatir yang tulus. Dia bahkan mengulurkan tangannya ingin mengecek dahi Aisyah.
"Eh! Enggak! Enggak apa-apa!" Aisyah tersentak kaget dan mundur sedikit, tangannya refleks menahan tangan Gus Aqlan. Suaranya melengking sedikit karena panik. "Cuma... cuma kepanasan aja tadi jalan ke sini! Iya kepanasan!"
Melihat tingkah Aisyah yang kaku dan terbata-bata, Zea tidak bisa menahan tawa lagi. "Hahaha! Mas tahu nggak? Kak Aisyah ini lucu deh!"
"Zea! Jangan!" Aisyah membelalakkan mata meminta adiknya itu diam, tapi terlambat.
"Tadi tuh Mas, Kak Aisyah salah sangka lho sama kita!" celetuk Zea tanpa ampun. "Dia kira saya ini pacarnya Mas! Dia kira kita berdua itu pacaran! Makanya dari kemarin dia sedih dan murung, terus tadi pas ketemu dia jutek gitu lho!"
PRANG!
Seperti ada gelas yang pecah di kepala Aisyah. Rasa malunya meledak sampai ke ubun-ubun. Dia ingin sekali menenggelamkan diri ke tanah saat itu juga.
Gus Aqlan tertegun sejenak, matanya membelalak mendengar penjelasan adiknya. Dia menatap Aisyah yang sekarang sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar menahan isak tangis malu.
"Oalah... jadi gitu ceritanya," ucap Gus Aqlan pelan. Tiba-tiba, senyum lebar mengembang di wajahnya yang tampan. Dia tertawa kecil, suara tawanya renyah dan menenangkan.
"Ya Allah... ternyata kamu cemburu ya?" tanya Gus Aqlan lembut, suaranya terdengar sangat manja dan menggoda.
Aisyah menggeleng kuat-kuat tanpa membuka tangan. "Enggak! Enggak! Aku enggak cemburu! Aku cuma... cuma salah paham doang! Maaf ya! Aku bego banget ya!"
"Enggak bego kok," jawab Gus Aqlan lembut. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Aisyah. "Justru... Mas malah seneng dengarnya. Berarti hati kamu ada rasa sama aku ya? Sampai-sampai liat Mas sama cewek lain langsung sedih?"
Pertanyaan itu membuat wajah Aisyah makin panas. Dia perlahan menurunkan tangannya, menatap Gus Aqlan dengan tatapan memohon sekaligus kesal.
"pak... jangan ngejek dong... aku malu banget tau," cicit Aisyah pelan, matanya berkilat indah dipadu pipi yang merona.
"Mas nggak mengejek. Mas bersyukur," jawab Gus Aqlan tulus, matanya menatap Aisyah dalam-dalam. "Syukurlah kalau begitu. Jadi Kakak nggak perlu sedih lagi ya. Yang kemarin itu Zea, adik kandung Mas. Jadi... Mas masih sendiri kok. Nungguin yang tepat."
Zea yang melihat interaksi kakaknya dan Aisyah jadi salah tingkah sendiri, dia langsung berdiri sambil mengangkat tangan.
"Yaudah deh! Saya ngalah aja! Saya pergi ke kantin beli minum dulu! Biar kalian berdua yang ngobrol! Hihihi!" Zea lari terbirit-birit meninggalkan mereka berdua di taman.
Kini tinggal Aisyah dan Gus Aqlan. Suasana menjadi hening, namun penuh dengan getaran cinta yang tak terbantahkan. Aisyah masih menunduk malu, sementara Gus Aqlan terus menatapnya dengan senyum bahagia. Kesalahpahaman itu ternyata menjadi jalan terbukanya perasaan mereka satu sama lain.
BERSAMBUNG...