Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.
Satu minggu berlalu begitu saja, rumahnya kini terasa jauh berbeda. Suara langkah, percakapan ringan, dan aktivitas sehari-hari perlahan menghapus kesan sunyi yang dulu menyelimuti setiap sudutnya. Tanam dibelakang mulai menunjukkan kehidupan, tanah yang dulu kosong kini dihiasi barisan bunga muda dan beberapa tanaman buah yang baru di taman.
Gudang yang berdiri kokoh, rumah kecil penutup sumur tampak rapi. Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, rumah Zee tidak lagi terasa suram.
Menjelang sore, setelah Bu Maya dan Pak Ali pulang seperti biasa, rumah kembali tenang. Langit mulai meredup, dan di saat itulah pikiran yang selama ini Dia tekan kembali muncul.
Zee berdiri di kamarnya, menatap kamera analog yang tergeletak di meja kamarnya. Di sampingnya, beberapa foto yang Dia ambil sebelumnya masih tersusun rapi.
"Sudah seminggu, aku tidak pernah lagi melihat sumur itu" gumamnya pelan
Dan sudah seminggu ini tidak ada perubahan dari luar, ataupun kejadian aneh. Justru karena itu, rasa penasarannya semakin besar.
Lalu Zee mencoba menutup matanya sejenak, setelah itu membuka kembali dengan tatapan yang lebih tegas. "Aku harus tau, apa sebenarnya yang ada di dalam sumur itu."
Beberapa menit kemudian, Zee sudah bersiap. Dia mengenakan pakaian yang nyaman dan tidak mudah tersangkut. Sebuah ransel kecil Dia gantung di punggungnya.
Di dalam ransel terdapat senter, pisau kecil, air minum dan beberapa barang sederhana lain yang mungkin akan Dia butuhkan.
Setelah persiapannya sudah selesai, Zee mulai melangkah keluar dengan membawa tangga besi lipat yang sebelumnya sudah Dia siapkan.
Langkahnya terasa berat, namun tekadnya lebih kuat. Halaman belakang rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, angin hampir tidak ada.
Zee berdiri tepat di depan pintu rumah penutup sumur. Menatap pintu kayu itu beberapa detik, lalu membukanya perlahan.
CEKRE****EEK...
Pintu terbuka dengan perlahan, sama seperti sebelumnya masih kosong tidak ada apa-apa. Tapi kali ini, Zee tidak lagi ragu. Dia melangkah masuk, di dalamnya udara terasa dingin dan sejuk, seolah terpisah dari dunia luar.
Zee meletakkan tangga besi itu perlahan ke dalam sumur. Suara logam bersentuhan dengan dinding sumur terdengar pelan.
Tangganya cukup panjang, untuk membawanya turun ke bawah. Zee menyalahkan senter, cahaya kecil senter menembus kegelapan di bawah sumur.
Dan anehnya cahaya senternya tidak menembus jauh, seolah kegelapan di dalam sumur itu menelan cahaya. Seketika tangannya sedikit gemetar, namun dia tetap melangkah perlahan turun dengan hati-hati, walaupun langkahnya terasa berat.
Udara di bawahnya terasa semakin dingin, tidak ada suara dari atas atau dari bawah. Hanya nafasnya sendiri yang terdengar dan detak jantungnya yang semakin berdegup kencang.
Saat tersisa dua langkah tangga, Zee berhenti dan senter di tangannya di arahkan ke bawah. Di situlah Dia melihat pintu itu nyata, berdiri di dasar sumur yang seharusnya kosong.
Pintu transparan itu kini terlihat lebih jelas dari sebelumnya, dan terbuka lebar dari yang pernah Dia lihat di foto. Celahnya cukup besar untuk di lewati.
"Ini... benar-benar nyata." bisiknya
Tangannya mencengkram tangga lebih erat, Zee seharusnya naik kembali ke atas. Namun kakinya terus bergerak turun, hingga akhirnya Dia sampai di dasar sumur.
Kakinya menyentuh tanah, Dia berdiri tepat di depan pintu itu. Jaraknya hanya satu langkah saja. Pintu itu berkilau samar seperti kaca, tapi tidak memantulkan bayangan Zee di baliknya. Hanya ada kegelapan dalam tanpa ujungnya.
Tangan Zee perlahan terangkat hingga ujung jarinya hampir menyentuh permukaan pintu. Udara di sekitarnya terasa berhenti, sunyi total. Dan tepat sebelum Dia benar-benar menyentuhnya, dari dalam kegelapan di balik pintu itu, terdengar sesuatu.
Seketika Zee membeku, dengan tangannya yang masih menggantung di udara. Hanya beberapa sentimeter dari permukaan pintu itu. Namun suara yang Dia dengar itu seperti suara air dengan gemercik halus, mengalir pelan.
Seperti aliran sungai kecil, atau air yang jatuh dari ketinggian. Zee mengernyit dengan nafas yang tertahan. "Air...?" gumamnya pelan. Pada hal Dia berada di dalam sumur yang sudah kering bertahun-tahun.
Tidak mungkin ada air di sini, tapi suara itu nyata. Semakin jelas dan dekat, seolah berada tepat di balik pintu itu.
Dengan rasa takut bercampur penasaran, Zee akhirnya menyentuh permukaan pintu itu, yang terasa dingin tapi bukan dingin biasa. Lalu tanpa memberi waktu pada dirinya untuk ragu, Zee melangkah maju dan seketika segalanya berubah.
Dunia di sekitarnya lenyap, di gantikan dengan suasana yang berbeda dan indah. Zee terdiam dengan mata membelalak, Udara yang Dia hirup terasa segar, lembap, harum dan sejuk.
Di hadapannya, air terjun mengalir deras dari tebing tinggi. Airnya jatuh dengan suara gemuruh lembut, mengalir ke sebuah kolam luas yang menyerupai danau kecil.
Airnya biru dan sangat jernih, hingga Zee bisa melihat dasar danau itu dengan jelas. Batu-batu halus di bawahnya berkilau terkena cahaya, seolah memantulkan langit.
Zee tanpa sadar melangkah mendekat, Dia berlutut di tepi air menatap pantulannya sendiri. Wajahnya terlihat jelas di permukaan danau.
Tangannya perlahan menyentuh air yang terasa nyata dan dingin. Setelah itu Zee mencoba meminum air itu, sehingga menyegarkan tenggorokannya dan membuat tubuhnya terasa ringan.
Zee juga mencuci wajahnya Dia bisa merasakan manfaat air yang menyentuh pori-pori dan seakan menghilangkan bekas kusam pada wajahnya.
Setelah itu, Zee kembali berdiri. Matanya menyapu sekelilingnya, di sekitar danau itu terdapat taman yang bunga-bunganya bermekaran. Berwarna-warni dengan teratur, seolah di tanam dengan sengaja dan dirawat dengan baik.
Angin lembut berhembus, membawa aroma segar yang tidak pernah Dia rasakan sebelumnya. Tempat ini terlalu indah dan justru karena itu terasa tak wajar.
Dengan langkah pelan, Zee mulai berjalan dengan beraninya menyusuri area sekitarnya. Rumput di bawah kakinya terasa lembut.
Hingga kemudian, langkah Zee terhenti. Di kejauhan sebuah bangunan besar empat lantai yang besar dan mewah. Dia mengusap matanya mencoba melihat lebih jelas. Dan saat Dia melangkah mendekat, bentuknya semakin terlihat.
Bangunan itu, seperti mall. Berdiri kokoh dengan struktur yang modern, dengan dinding besar dan jendela-jendela lebar. Sangat kontras dengan alam di sekitarnya.
Di tengah tempat seindah ini, bangunan itu terasa asing. Namun juga seperti sesuatu yang memang seharusnya ada di sana.
Langkah Zee perlahan mendekat, jantungnya kembali berdegup kencang. Dia tidak tau, apa yang akan Dia temukan di dalam sana. tapi satu hal yang pasti, tempat ini bukan tempat yang Dia kenal.
Sumur dan pintu itu yang telah membawanya ke tempat yang jauh lebih indah, dari yang pernah Dia bayangan kan.
Zee semakin melangkah kakinya mendekat, saat tepat di depan bangunan mirip Mall itu. Zee melihat dari atas bangunan itu sampai ke bawah dengan mata yang berbinar, seakan tidak percaya dengan apa yang di lihat.