NovelToon NovelToon
Tergoda Paman Tunanganku

Tergoda Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Cinta Terlarang
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.

------------- 💫

‎Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.

‎Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.

‎"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.

‎Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 : Saat hati mulai tergoda.

Setelah mengunjungi divisi keuangan, pemasaran, dan operasional, Sinta mengantarkan Viona dan Dinda ke lantai dua puluh satu, tempat kantor divisi strategi bisnis berada. Di depan meja resepsionis kecil yang ada di area tersebut, seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun sudah berdiri dengan senyum ramah.

‎‎Sinta tersenyum pada Viona dan Dinda. "Beliau ini adalah Pak Bobby Setiawan, Kepala Divisi Strategi Bisnis yang nantinya akan menjadi atasan langsung kalian berdua jika penempatan ini disetujui."

‎‎Pak Bobby mengangguk kecil, tangannya siap untuk berjabat tangan. "Selamat datang, Viona dan Dinda kan? Saya sudah melihat data pendidikan kalian yang diberikan oleh Sekretaris pak Arsen ini. Lulusan ekonomi dan manajemen bisnis, sangat cocok untuk divisi kami."

‎‎Viona dan Dinda saling melihat sebelum masing-masing menjabat tangan Pak Bobby. "Terima kasih, Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin," ucap Viona dengan suara yang tegas.

‎‎"Pak Bobby, tolong bimbing Dinda langsung ya, saya akan mengajak Viona ke ruangan pak Arsen sebentar. Ini adalah instruksi dari pak Arsen sendiri." ucap Sinta.

‎‎Pak Bobby mengangguk dengan senyum ramah. "Tentu saja, silakan. Dinda, mari saya perkenalkan kamu pada tim analis yang sedang menangani proyek baru perusahaan kita."

‎‎Dinda mengikuti Pak Bobby ke arah bagian dalam divisi. Sementara itu, Sinta mengajak Viona kembali menuju lift dan menekan tombol lantai dua puluh lima. Pintu lift segera tertutup dan mereka mulai naik perlahan.

‎‎Lift bergerak naik dengan lancar, suasana di dalamnya cukup sunyi hingga mereka tiba di lantai tertinggi. Koridor yang mereka lalui jauh lebih tenang, dengan dekorasi yang lebih mewah dibandingkan lantai lain. Sinta mengantarkan Viona hingga di depan pintu besar ruangan Direktur Utama, lalu mengetuk pintu tiga kali.

‎‎"Masuk," suara tegas Arsen terdengar dari dalam.

‎‎Sinta membuka pintu dan mempersilahkan Viona masuk sebelum menutup pintunya kembali dengan hati-hati. Viona terpaku, menatap ruangan Arsen yang begitu luas dengan dinding kaca yang menghadap pemandangan kota.

‎‎Arsen mengangkat kepalanya dari berkas yang sedang dia teliti dan menatap Viona yang sedang berdiri dengan canggung. "Kemarilah,"

‎‎Viona melangkah perlahan mendekati meja kerja Arsen. Udara di ruangan tampak semakin berat, membuatnya terpaksa menahan napas sejenak.

‎‎"Kenapa Paman menyuruhku untuk datang kemari?" tanya Viona sedikit bingung.

‎‎Arsen mengangguk kecil, kemudian berdiri dan berjalan keluar dari meja kerjanya. Tatapan datarnya kini terfokus pada wajah gadis muda yang sedang berdiri di ruangannya.

‎‎"Aku ingin kamu perlu memahami satu hal," mulai Arsen, nada suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya namun tetap tegas. "Aku memperkerjakan kamu disini bukan karena kamu adalah tunangannya Farel atau karena aku harus menuruti keinginan ayahku. Jadi tidak ada perlakuan istimewa disini."

‎‎Dia mendekatkan kembali langkahnya, membuat jantung Viona berdetak lebih kencang. "Kamu punya hak untuk memilih jalanmu sendiri. Jika kapan saja kamu merasa tidak nyaman atau ingin keluar dari perusahaan ini untuk mencari kesempatan lain, aku tidak akan menghalangi."

‎‎Viona hanya berdiri diam tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Arsen. "Kenapa dia terlihat lebih tampan dan mempesona saat sedang bersikap profesional seperti ini,"

‎‎Viona terkesiap saat tiba-tiba Arsen meraih tangannya dan membawanya ke arah meja yang ada di sudut ruangan, "Aku lihat kamu tidak fokus mendengarkan aku bicara, jadi lebih baik kamu makan dulu saja."

‎‎"Aku akan berada di ruang rapat lantai dua puluh empat. Selesaikan makanmu dengan pelan dan tidak perlu terburu-buru. Jika ada yang kamu butuhkan, kamu bisa menghubungi Sinta melalui telepon di mejaku." beritahunya kemudian.

‎Viona menatap berbagai menu makanan yang sudah tersaji di atas meja, lalu mengangkat pandangannya ke arah Arsen. "Barusan Paman bilang tidak ada perlakuan istimewa, tapi kenapa sekarang malah menyuruhku untuk makan diruangan Paman?"

‎‎Arsen tersenyum tipis, "Kamu pikir kamu bisa bekerja dengan perut kosong? Aku tidak ingin pekerjaan di kantorku berantakan hanya gara-gara satu karyawan yang kelaparan."

‎‎Arsen kembali ke meja kerjanya untuk mengambil jas kerjanya yang ada di sandaran kursi dan mengenakannya. Dia berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak dan menoleh.

‎‎"Makanan ini tidak gratis, kamu akan membayarnya nanti begitu aku kembali. Jadi jangan pergi sebelum aku datang," ucap Arsen dengan senyuman penuh makna.

‎‎Pintu ruangan kembali ditutup begitu Arsen sudah keluar. Viona menghela napas panjang, lalu menatap makanan yang ada di atas meja.

‎‎"Bayaran apa yang dia maksud? Aku kan tidak meminta dia untuk membelikanku makanan," gumamnya pelan sebelum akhirnya duduk di atas sofa dan mulai menyantap makanannya.

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Pintu ruangan kerja Bima terbuka kasar dengan Farel yang masuk dengan wajah kesal. Bima yang sedang fokus pada layar laptopnya pun segera mengalihkan pandangannya pada sang putra.

‎‎"Farel, apa-apaan kamu?!" suara Bima yang keras memecah di ruangan yang tadinya sunyi, matanya menatap tajam pada sang putra yang kini sudah berdiri di depan meja kerjanya.

‎‎"Kenapa Papa mengijinkan Viona untuk bekerja di perusahaan paman Arsen? Kenapa tidak menolak permintaan kakek tadi?!" satu tangannya dia letakkan di pinggang, Farel mengusap wajahnya dengan kasar sebelum menghembuskan napas kasar.

‎‎Bima berdiri, "Kamu dengar sendiri tadi, Papa sudah coba untuk menghalangi tapi kakek kamu tetap kekeuh meminta Viona untuk bekerja disana."

‎‎"Sekarang kamu tidak perlu memikirkan Viona bekerja dimana, yang terpenting kamu rubah sikap dan perilakumu itu dulu. Jam berapa ini kamu baru tiba dikantor?" tanya Bima dengan geram. "Kamu sudah bertunangan dan mungkin akan segera menikah dalam waktu dekat. Jika kamu seperti ini terus, bisa-bisa Viona tidak mau meneruskan pertunangan ini lagi, Farel!"

‎‎"Tapi Pa---"

‎‎"Tidak ada tapi-tapian!" potong Bima dengan suara lantang dan tegas. "Sekarang kembali ke ruangan kamu dan selesaikan perkejaan kamu dengan benar. Mulai hari ini Papa akan buat aturan ketat khusus untuk kamu, tidak ada datang terlambat dan bolos-bolos kerja lagi. Jika tidak, Papa akan memberikan kamu hukuman dengan membekukan semua kartu-kartu kamu!"

‎‎Farel tidak berani membantah lagi saat melihat tatapan tegas Papanya yang seolah tidak ada kompromi. Dia membuka pintu kembali dan menutupnya dengan kasar. Bima kembali duduk di kursinya, menatap jauh ke arah jendela dan menghela napas panjang. Mata yang tadinya penuh kemarahan kini tertutupi rasa khawatir.

‎‎"Arsen..." gumamnya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan. "Jangan coba-coba untuk mengambil kesempatan apapun dariku,"

-

-

-

‎Viona baru saja berdiri ketika pintu ruangan terbuka kembali dengan suara yang tidak terlalu keras namun cukup membuatnya terkejut. Arsen masuk dengan jasnya yang sudah dilepas dan digantung di lengannya. Wajahnya tetap menunjukkan ekspresi tenang, namun ada sedikit makna yang tersembunyi di matanya.

‎‎"Mau kemana gadis kecil, jangan coba-coba pergi dari ruangan ini sebelum kamu membayar apa yang sudah kamu makan."

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
drama perpisahan di depan mata noh paman Bima🤧🤧
Zuri
mna bisa begitu... cobranya udah dapet sarang yg enak mana mau dilepas.. ehh/Silent//Silent/
Zuri
jujur lebih baik ya Vio
Zuri
mana bisa bgituu... yg jebol gawang Arsen loh/Slight//Slight/
Zuri
Farel itu ngamuknya gegara gagal unboxing🤣🤣
Zuri
disidang🤧🤧
zee
wah tambah seru nih
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak masih setia menyimak 🙏😁
total 1 replies
Zuri
salah sendiri punya pikiran kotor🤧🤧
🔥Violetta🔥: Nggak kotor nggak anuuun🤣🤣
total 1 replies
Zuri
sadar kali kak, bukan dasar/Silent/
🔥Violetta🔥: Efek mabok tulisan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zuri
tenang saja vio.. pamanmu akan melindungimu🤭🤭
🔥Violetta🔥: Melindungi sampai kedalam-dalam 😅😅
total 1 replies
Mita Paramita
Arsen dan viona udh ga bisa dipisahkan ini🤣 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Sudah menyatu seakar-akarnya, Kak🤭🤣🤣
total 1 replies
Zuri
mereka lagi main bareng🤣
🔥Violetta🔥: Main bola /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
sedia payung sebelum hujan🤣🤣
🔥Violetta🔥: Udah nahan dia dari lama 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
jebol juga akhirnya kalo godaannya gini
🔥Violetta🔥: Mana tahan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
mau nerkam apa gimana dirimu Arsen😏😏
🔥Violetta🔥: Sudah tidak tahan dia 🤭🤭🤭
total 1 replies
Zuri
dirimu kn emang gak bisa jaga Vio. mau ngrusak iya/Smug/
Zuri
udah di bawa kabur🤣🤣
Zuri
rencanamu mau unboxing gagal total rell🤣
Zuri
mendadak jadi maling/Facepalm//Facepalm/
🔥Violetta🔥: Maling cinta 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
bukannya eemang itu ya yang kamu harapkan? hayoo ngakuu😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!