"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
Alisya mengetuk pintu kamar abangnya, Raymond. Ingin tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Tapi saat hendak membuka pintu, ternyata terkunci dari dalam.
Alisya mengetuk pintu beberapa kali. "Bang bukain pintunya bentar. Alisya mau ngomong."
Terdengar langkah diseret lalu anak kunci diputar. "Mau ngomong apa kamu?" Alisya mendorong pintu yang terbuka sedikit. Bergegas masuk.
"Apa-apaan sih, Bang. Berani mukul Kak Ribka, saat ada Mirza!" seru Alisya dengan lirih. Takut ada yang mendengar.
"Kakak iparmu minta cerai. Dia pasti sudah menghasut Mirza. Sikap Mirza sangat tidak sopan, membuat Abang kesal." dengus Raymond.
"Apa? Kak Ribka minta cerai? Apa kakak ipar sudah tau tentang Khaty? Abang sih nekad sekali ngajak Kak Khaty di ultah Ibu. Trus apa kakak mau menceraikan kakak ipar?" cecar Alisya dan ingin tahu keputusan abangnya.
"Àbang yakin Ribka cuma menggertak. Tapi ucapan Mirza yang mendukung ibunya, itu yang membuat abang geram. Dia pasti sudah mengadu ke Mirza. Karena dia tahu hanya Mirza yang membelanya."
"Salah abang juga sih. Kalau mau selingkuh ya mbok dijaga biar gak ketahuan. Ini malah nekad bawa selingkuhan ke rumah. Kan ngaco!" seru Alisya menyalahkan. "Kalau Kak Ribka ngotot terus minta cerai gimana? Yang susah itu kita juga Bang. Siapa yang akan merawat Ibu?"
"Ah, sudah! Bukannya cari solusi malah membuat pusing saja kamu ini. Lagi pula Abang tidak percaya Ribka serius mau cerai. Dunia dia cuma keluarga kita. Dia tidak punya sahabat, atau keluarga yang bisa dia andalkan. Uang? Bahkan pekerjaan juga tidak punya. Mau tinggal dimana dia? Mau makan apa diluar sana? Mana sudah tua pula. Harusnya dia bersyukur, karena sudah tinggal di rumah ini." ucap Raymond sombong. Meremehkan Ribka istrinya.
"Jadi menurut Abang, Kak Ribka cuma menggertak, gitu? Abang jangan terlalu pede ah. Beberapa hari ini aku lihat Kak Ribka berubah. Abang tau, kalau seseorang itu sudah nekad biasanya tidak memikirkan resiko. Makanya Kak Ribka jangan sampai tau kalau abang selingkuh!"
"Tapi Ribka sudah tau." ucap Raymond datar.
"Apa? Kak Ribka sudah tau kalau abang sudah menikahi Khaty! Gila! Trus, gimana reaksi Kak Ribka.
"Makanya dia meminta cerai! Sombong banget. Apa salahnya aku menikah lagi. Dia sendiri yang gak bisa merawat diri. Berdandan juga gak pandai."
"Abang kok egois banget sih. Gimana Kak Ribka bisa merawat diri kalau sudah lima tahun ini selalu merawat ibu. Mana uang yang Abang kasih cuma cukup buat belanja dapur. Kalau ingin istrinya cantik, dimodalin. Ini malah selingkuh!" gerutu Alisya kesal.
"Eh, kamu ini belain siapa sih. Ribka atau abang, gak jelas. Kamu pikir uang kuliahmu itu turun dari langit. Beraninya ngomong begitu?" hardik Raymond kesal.
"Iya, Alisya minta maaf, Bang. Tapi kalau Kak Ribka pergi dari rumah ini semua akan berantakan."
"Ya, sudah. Kamu tenang saja. Ribka cuma menggertak. Ribka tidak bakalan berani pergi dari rumah ini."
"Ma, kalau Mama memang mau bercerai, Mirza mendukung Mama. Mama tidak usah khawatir, Mirza akan cari pekerjaan buat kebutuhan Mama." ucap Mirza saat mereka di kamarnya.
"Mirza, maafkan Mama ya sayang. Kamu harus menghadapi kenyataan seperti ini. Mama akan mencari pekerjaan. Mama masih kuat kok. Selagi kita masih mau berusaha, pasti ada jalan menuju sukses. Kamu pikirkan saja kuliahmu ya Nak. Papamu tidak akan menelantarkan kamu. Asal kamu tidak membuatnya marah."
"Tapi, kalau Mama bercerai aku akan ikut Mama juga!"
"Jangan! Kamu harus tetap tinggal di rumah ini. Karena kamu berhak tinggal disini. Setidaknya sampai kuliahmu selesai. Mama percaya, Papamu tidak akan mengusirmu dan mengabaikan tanggung jawabnya padamu." Ribka menatap Mirza dalam.
Dalam hatinya dia menjerit. Hendak menyuarakan kalau Mirza adalah anak angkatnya. Bukan darah dagingnya. Ayah dan ibu kandungnya adalah Khaty. Perempuan yang diam-diam telah dinikahi papanya.
"Bukankah Mirza adalah anak adopsi, Ma."
"Apa? Ka-kamu tau dari siapa?" seru Ribka kaget. Selama ini dia merahasiakan hal itu dari Mirza.
"Tidak penting Ma. Mirza sudah lama mengetahuinya. Yang Mirza inginkan hanya kasih sayang Mama. Selama ini Mamalah yang menyayangiku dengan tulus. Jadi aku akan memilih Mama dan mengikut Mama kemana saja pergi." Ribka terkejut mendengar ucapan Mirza.
"Anak bodoh! Kamu harus memikirkan masa depanmu. Bahkan kalau papamu mengusir kamu dari rumah ini jangan pergi. Kasih sayang Mama tidak akan putus kepada kamu. Tapi jangan keluar dari rumah ini! Kamu berhak tinggal disini." Sentak Ribka dengan tatapan tajam.
"Tapi buat apa Mirza tinggal disini, kalau Mama sudah pergi?"
"Selama ini Mama bertahan karena kamu Nak. Hanya untuk sementara. Tunggu sampai kuliahmu selesai, Nak. Mama siapkan dulu rumah dan uang untuk kita tinggali. Baru kamu boleh bersama Mama."
"Tidak Ma. Persetan dengan kuliah Mirza. Mirza akan bekerja. Mirza lah yang akan mencari uang untuk Mama!"
Plak!"
Tanpa sadar Ribka menampar Mirza saat mendengar ucapannya itu. Ribka memandang lengannya yang gemetar usai menampar Mirza. Terlebih, Mirza. Dia tidak menyangka mamanya tega menamparnya.
"Maafkan Mama, Mir. Mama tidak bermaksud menamparmu. Maafkan Mama ...." Ribka mengusap wajah Mirza yang memerah bekas tamparannya.
"Mama tidak perlu minta maaf. Mirza mengerti maksud Mama. Mama lakukan itu untuk masa depanku. Baiklah Ma, Mirza akan nurut apa kata Mama. Asal Mama jangan pernah menyuruh Mirza pergi dari kehidupan Mama." Ribka meraih tubuh Mirza. Memeluknya dengan sesal karena telah melukai perasaannya.
Ternyata Mirza lebih memilihnya. Walaupun tidak ada setetes pun darahnya mengalir ditubuhnya. Ribka tidak sanggup membayangkan kalau Mirza tau siapa sesungguhnya dirinya. Siapa ibu dan ayah kandungnya.
"Bagi Mama, kamulah nafas Mama. Bahkan jika kamu meminta biar Mama tidak pergi. Mama akan bertahan demi kamu."
"Tidak Ma, Mama jangan bicara seperti itu. Jangan jadikan Mirza sebagai alasan mama untuk tidak bahagia. Mamaku masih cantik. Mama pasti akan dapatkan jodoh dan pasangan yang menerima Mama apa adanya."
"Dasar anak nakal! Mama ini sudah tua, jangan bicara soal jodoh lagi." Ribka mengacak rambut Mirza.
"Pasti, Ma. Mama pasti masih punya jodoh di luar sana. Bila perlu Mirza akan carikan." ucap Mirza konyol. Keduanya tersenyum meskipun air mata masih mengenang dipipi Ribka.
"Bila saat itu tiba, Ma. Papa akan menyesal telah menyia-nyiakan Mama selama ini. Mirza yakin, semesta akan memberi restu kepada Mama. Sebagai karma baik karena perlakuan buruk yang Mama terima selama ini."
"Astaga, anak lajang Mama ngomong apaan sih."
Malamnya Raymond berbincang dengan Mirza. Raymond memutuskan membahas masalah rumah tangganya kepada putranya itu. Raymond tidak ingin istrinya menghasut Mirza untuk membencinya.***