Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Reynanda menghembuskan napas panjang. Matanya menyapu semua wajah yang ada di teras itu, ibu Carisa yang menahan lengan suaminya, ibu Yuda yang menunggu dengan alis berkerut, Yuda yang berdiri dengan rahang mengeras, ayah Carisa yang matanya belum selesai, dan Humaira, istrinya yang berdiri paling depan dengan tatapan yang sudah tidak bisa ia hindari lagi.
"Aku dan Carisa pernah bersama." Suaranya keluar rendah. Tapi cukup keras untuk didengar semua orang. "Sebelum aku menikah denganmu, Maira."
Suasana itu penuh dengan napas yang ditahan, dengan mata yang bergerak, dengan sesuatu yang baru saja jatuh dan tidak bisa dipungut kembali.
Humaira tidak bergerak. Ia sudah tahu kalau suaminya memang pernah menjalin hubungan dengan Carisa. Hanya dia penasaran kenapa sampai Ayah Carisa marah seperti itu.
Carisamenghembuskan napasnya, pasrah dengan apa yang terjadi. Mungkin dengan terunhkapnya masa lalunya akan lebih meringankan hatinya.
"Waktu kuliah." Reynanda melanjutkan. Matanya pada istrinya, tidak menghindar, tidak berkedip. "Lima tahun lalu. Saat itu Lalu ibuku sakit. Aku pulang mendadak. Tidak sempat memberitahu Carisa." Jeda sebentar. "Tak lama setelah kepulanganku Ibu meninggal. Dan sebelum pergi, ibu minta aku menikah denganmu."
"Jadi meninggalkan Carisa demi menikahiku..." suara Humaira keluar, pelan, "karena permintaan ibumu."
"Ya."
Ibu Yuda meletakkan tangannya di dada. Ibu Carisa memalingkan wajah ke arah lain, ke mana saja yang bukan ke tengah teras itu.
Reynanda diam sebentar. Semua mata beralih ke Carisa.
Carisa tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Tapi mengalihkan pandangannya saat semua mata menatapnya.
"Carisa." Suara Reynanda rendah. "Boleh aku teruskan?"
Carisa tidak menjawab. Tidak mengangguk. Tidak menggeleng.
Reynanda membacanya sebagai izin.
“Setelah aku pergi…” lanjutnya, suaranya turun, lebih berat dari tadi. “Ternyata Carisa mengandung anakku.” Ia menarik napas pelan, lalu melepasnya perlahan. “Aku benar-benar tidak tahu soal itu.”
Ibu Yuda menutup mulutnya dengan tangan, saking terkejutnya. Menantu yang ia banggakan selama ini ternyata pernah hamil.
Begitupun, Humaira dia sangat terkejut ternyata suaminya adalah seorang pendosa.
Ayah Carisa yang tadi masih berdiri dengan mata merah duduk kembali di kursinya. Pelan. Seperti seseorang yang tiba-tiba kehabisan tenaga.
"Anak itu..." Reynanda melanjutkan, matanya kembali ke Carisa, "tidak keguguran. Bukan itu yang terjadi, kan?"
Carisa masih menatap taman.
"Carisa." Suara Reynanda lebih mendesak. "Tolong. Jawab aku satu kali saja."
Hening yang panjang. Lalu sangat pelan Carisa mengangguk. Satu anggukan kecil yang mengubah segalanya.
"Anak itu masih hidup?" Suara Reynanda berubah ada sesuatu di dalamnya yang pecah, sangat pelan, seperti sesuatu yang retak dari dalam. "Lalu dimana dia?"
Ibu Yuda menghela napas keras. Ibu Carisa mulai menangis tanpa suara, bahunya bergerak naik turun pelan di belakang suaminya.
Yuda tidak bergerak. Ia berdiri di tempat yang sama sejak tadi tangan di sisi tubuh, rahang yang tidak berubah, mata yang menyapu dari Carisa ke Reynanda dan kembali ke Carisa dengan cara seseorang yang sedang menyusun sesuatu di dalam kepalanya dengan sangat hati-hati.
"Dua tahun." Suara Yuda keluar akhirnya. Rendah. Datar. "Aku menikahimu dua tahun. Dan kamu tidak pernah—"
"Yuda." Carisa akhirnya menoleh ke suaminya.
Mata mereka bertemu. Dan di dalam tatapan itu ada sesuatu yang Carisa tidak tahu bagaimana menjelaskannya, permintaan maaf, ketakutan, dan sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
Yuda memalingkan wajah ke Reynanda. "Brengsek!" Suaranya sangat pelan. Lebih berbahaya dari teriakan.
"Aku perlu tahu di mana anakku?" tanya Reynanda pada Carisa.
“Dasar bajingan.” Yuda memotong, nadanya tajam. Tangannya langsung meraih kerah kemeja Reynanda, menariknya sedikit ke depan. “Nggak tahu malu. Kalau kamu tahu di mana anak itu, kamu mau apa?”
“Aku cuma ingin menebus kesalahan.” Reynanda menahan tatapannya, lalu bergeser sebentar ke arah Carisa.
Carisa diam. Tidak membalas.
Cengkeraman Yuda mengendur, lalu lepas.
“Pergi dari sini.” suaranya tetap rendah, tapi tegas. “Dan ingat baik-baik, jangan pernah lagi ganggu istriku.”
Reynanda berbalik. Melangkah masuk ke dalam rumah zlmelewati Humaira yang masih berdiri di ambang pintu dengan tubuh yang tidak bergerak, dengan tangan yang tidak lagi terlipat rapi di pangkuan tapi menggantung di sisinya.
Reynanda berhenti di depan istrinya.
“Humaira...”
“Jangan sekarang,” kata Humaira pelan, namun tegas. Nada suaranya terdengar asing bagi Reynanda, berbeda dari biasanya. “Jangan bicara dulu. Aku butuh waktu.”
Reynanda menatapnya sesaat, lalu masuk ke dalam tanpa berkata apa-apa.
Humaira tetap berdiri di ambang pintu. Ia tidak menyusul, hanya diam, mencoba menerima kenyataan yang baru saja terbuka di hadapannya.
Kini ia sadar, ada hal-hal yang tidak bisa lagi disembunyikan, dan tidak semua yang retak bisa kembali utuh.
Setelah beberapa saat, Humaira melangkah masuk. Pintu teras dibiarkan terbuka.
Di teras, yang tersisa hanya keluarga Carisa dan ibu Yuda.
Ibu Carisa duduk di samping suaminya tangannya di lengan lelaki tua itu, tidak berkata apa-ap. Ayah Carisa menatap lututnya sendiri.
"Ayo kita pulang sekarang." kata Ayah Carisa pada istrinya.
Ibu Carisa mengangguk pelan. Tangannya tetap di lengan suaminya saat ia membantu lelaki itu berdiri.
Mereka tidak berpamitan. Tidak juga menoleh ke belakang. Langkah mereka pelan, tapi pasti, meninggalkan rumah itu dalam diam.
Ibunya Yuda lalu menyusul masuk ke dalam.
Yuda masih berdiri. Matanya pada Carisa yang duduk kembali di kursinya, yang menatap taman yang tidak berubah.
"Carisa." Suaranya rendah.
Ia menoleh.
"Kita juga pulang sekarang."
Carisa berdiri, lalu mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah, melewati pintu yang masih terbuka. Cahaya di dalam terasa lebih terang, terlalu terang seperti menuntut semuanya dibicarakan sekarang juga. Percakapan yang sudah terlambat berbulan-bulan, dan tidak bisa lagi ditunda bahkan satu malam.
Di belakang mereka, teras kembali sunyi. Udara Bandung tetap dingin. Langit sudah benar-benar gelap.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak