NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 32

Kali ini benar-benar berat. Leo tidak bergerak, tapi ada sesuatu yang berubah di wajahnya, bukan kaget, tapi seperti seseorang yang baru saja melihat potongan terakhir dari sesuatu yang selama ini ia curigai. “Kamu punya bukti?” tanyanya akhirnya. Nada itu masih profesional. Masih jaksa.

Ella menggeleng pelan. “Belum lengkap.”

“Lalu kamu yakin?” tanya Leo lagi, lebih tajam.

Ella tidak ragu. “Aku lihat sebagian.”

“Sebagian itu bisa menipu.”

“Dan menutup mata juga bisa lebih berbahaya,” potong Ella cepat.

Leo terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung punya bantahan. Sebab ini diluar perkiraannya.

Ella melangkah sedikit lebih dekat sekarang, menurunkan suaranya. “Sepatu kaca itu bukan sekadar tempat simpan data,” katanya. “Itu kunci. Kunci untuk sesuatu yang lebih besar dari satu kasus. Di dalamnya ada program yang bisa mendeteksi smeuanya.”

Leo menatapnya tajam. “Seberapa besar?”

Ella menelan ludah pelan. Lalu menjawab, “Cukup besar untuk bikin negara ini goyang.”

Kalimat itu jatuh tanpa dramatisasi. Tapi dampaknya langsung terasa. Leo mengalihkan pandangannya sejenak, seolah butuh waktu sepersekian detik untuk mencerna atau mungkin menahan reaksi yang tidak boleh ia tunjukkan. “Itu tuduhan besar, Ella.”

“Itu kenyataan,” balasnya.

“Kamu sadar nggak,” lanjut Leo pelan, “kalau ini benar… kamu bukan cuma melawan penjahat?”

Ella mengangguk kecil. “Aku tahu.”

“Kamu melawan sistem.”

“Aku tahu.”

“Kamu bisa dihancurkan.”

“Aku tahu.” Setiap jawaban Ella tidak goyah.

Dan justru itu yang membuat Leo diam lebih lama. Karena ia melihat ini bukan lagi gadis yang kebingungan. Ini seseorang yang sudah memilih. “Kenapa kamu tetap lanjut?” tanya Leo akhirnya, lebih rendah dari sebelumnya. Pertanyaan itu bukan lagi sebagai jaksa. Tapi sebagai seseorang yang benar-benar ingin tahu.

Ella menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai emosinya benar-benar terlihat. “Karena kalau aku berhenti,” katanya pelan, “berarti aku membiarkan mereka benar.”

Tidak ada yang bisa langsung membantah itu. Leo menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya sebentar sesuatu yang jarang ia lakukan. Ia terlihat berpikir. Benar-benar berpikir. Dan itu berbahaya. “Kalau ini benar…” katanya akhirnya, “…aku nggak bisa proses ini dengan cara biasa.”

Ella tidak menjawab. Karena ia tahu itu baru awal dari sesuatu yang lebih besar.

Leo kembali menatapnya, kali ini dengan tatapan yang berbeda. “Kalau aku bantu kamu,” lanjutnya, “aku nggak cuma ambil risiko karier.” Ia berhenti sejenak. “Ini bisa jadi akhir semuanya buat aku.” Kalimat itu tidak dilebih-lebihkan. Itu fakta. Dan mereka berdua tahu itu.

Ella tidak memaksa. Tidak mendesak. Ia hanya berkata pelan, “Aku nggak minta kamu hancur.”

Leo menatapnya lama. Lalu menjawab, “Masalahnya…” Suaranya lebih rendah sekarang. “…aku nggak yakin bisa tetap utuh kalau aku pura-pura nggak tahu.”

Di titik itu tidak ada lagi ruang untuk netral. Tidak ada lagi jalan tengah. Hanya dua arah. Dan tanpa perlu diucapkan mereka berdua tahu, apapun pilihan berikutnya akan mengubah segalanya.

Keputusan itu tidak datang dengan suara keras, tidak juga dengan sumpah yang dramatis, tapi justru karena diucapkan dengan tenang, ia terasa jauh lebih berat. Leo berdiri di hadapan Ella dengan sikap yang tidak lagi sepenuhnya sebagai jaksa, tapi juga belum sepenuhnya lepas dari perannya. Ada sesuatu yang bergeser, sesuatu yang tidak bisa ia tarik kembali.

“Aku akan masuk,” katanya akhirnya. Ia hanya menatap Leo, mencoba memastikan bahwa yang ia dengar bukan sekadar emosi sesaat.

“Aku akan bantu kamu,” lanjut Leo, kali ini lebih jelas. “Kita cari kebenaran itu. Dan kalau memang jaringan ini sebesar yang kamu bilang… kita hentikan.” Tidak ada keraguan dalam suaranya. Tidak ada setengah hati.

Dan justru itu yang membuat Ella merasa sedikit gentar.

“Dengan segala yang aku punya,” tambah Leo pelan.

Angin kembali berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di sekitar mereka, tapi tidak cukup untuk meredakan ketegangan yang berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang hampir seperti ikatan.

Ella menelan pelan. “Kenapa?” tanyanya akhirnya. Bukan menolak. Bukan juga tidak percaya. Tapi benar-benar ingin tahu.

Leo tidak langsung menjawab. Ia menatap Ella beberapa detik, seolah menimbang apakah jawaban yang akan ia berikan akan memperjelas… atau justru memperumit. “Menurut kamu?” balasnya pelan.

Ella menggeleng kecil. “Karier jelas bukan. Ini terlalu berbahaya.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Leo lebih dalam. “Lalu apa?”

Leo menghela napas pelan, lalu menurunkan sedikit jarak di antara mereka, bukan untuk mengintimidasi, tapi untuk memastikan setiap kata yang ia ucapkan sampai dengan jelas. “Terkadang,” katanya perlahan, “seseorang rela mengorbankan apapun…” Ia berhenti sejenak. Tatapannya tidak berpaling. “…demi orang yang dia sayangi.”

Kalimat itu tidak dipaksakan. Tapi justru karena itu ia terasa lebih nyata.

Ella tidak langsung bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap Leo dengan sesuatu yang tidak bisa ia definisikan dengan mudah, antara terkejut, ragu, dan sesuatu yang lebih dalam yang berusaha ia tahan. Karena ini tidak ada dalam rencananya. Tidak ada dalam strategi. Dan justru itu yang membuatnya berbahaya. “Jangan bilang seperti itu,” kata Ella pelan, hampir seperti refleks.

Leo mengernyit sedikit. “Kenapa?”

Ella menggeleng, mencoba mengumpulkan kembali kendali yang mulai goyah. “Karena ini bukan tentang itu.”

“Buat kamu mungkin,” balas Leo. Nada suaranya tidak memaksa. Tapi jelas. “Buat aku,” lanjutnya, “ini tentang memastikan kamu nggak hancur sendirian di tengah semua ini.”

Ella menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya. Lebih tenang. Lebih terkendali. “Kamu tahu ini bisa berakhir buruk, kan?” tanyanya.

Leo mengangguk kecil. “Aku tahu.”

“Kamu bisa kehilangan semuanya.”

“Aku tahu.”

“Aku mungkin bukan orang yang layak kamu pertaruhkan sejauh itu.” Kalimat itu keluar lebih pelan. Dan mungkin lebih menyakitkan. "Aku sudah mencari tahu lewat media sosialmu, bagaimana perjuanganmu menjadi Jaksa hingga mendapatkan gelar terbaik selama lima tahun berturut-turut ini. Aku tak mau semuanya hilang begitu saja karena ..." Ella tak sanggup melanjutkan. Sebab ia pun tak bisa menampik, ada sesuatu yang dirasakan pada Leo, hanya saja, Tante Rosa sudah mengingatkan agar tak melibatkan hati dulu, setidaknya hingga kasus ini selesai.

Leo terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, bukan karena meremehkan, tapi karena ia sudah memikirkan semua kemungkinan itu. “Kamu bukan sesuatu yang aku ‘pertaruhkan’,” katanya pelan. “Kamu alasan kenapa aku memilih.” Kali ini lebih dalam. Lebih sulit diabaikan.

Ella menarik napas panjang, berusaha menenangkan sesuatu di dalam dirinya yang mulai bergerak ke arah yang tidak aman. Karena ia tahu semakin dekat mereka, semakin besar yang bisa hancur.

“Tapi jangan salah,” tambah Leo kemudian, suaranya kembali sedikit berubah lebih tegas, lebih profesional, seolah mengingatkan dirinya sendiri. “Ini bukan cuma tentang kamu.” Ia menatap Ella lurus. “Ini juga tentang kebenaran itu.” Dan di titik itu, keseimbangan kembali muncul.

Ella mengangguk pelan. Bukan karena semuanya sudah jelas. Tapi karena untuk pertama kalinya ia tidak sendirian menghadapi sesuatu yang terlalu besar untuk dipikul sendiri. Namun jauh di dalam dirinya, ia juga tahu satu hal yang tidak bisa ia abaikan semakin banyak orang yang masuk ke dalam permainan ini, semakin besar risiko kehilangan mereka. Dan kali ini, kehilangan itu tidak lagi sekadar kemungkinan.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!