NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Sambutan Hangat

Perjalanan pulang menuju kediaman keluarga Dewantara terasa begitu berbeda bagi Liana dan Leonardo. Di kursi belakang, duduklah gadis yang selama 17 tahun lamanya mereka rindukan tanpa mereka sadari , Dinda.

Liana tidak pernah melepaskan genggaman tangan Dinda sedetik pun. Jari-jarinya saling bertaut erat, seolah ia ingin menyalurkan seluruh kasih sayang, kerinduan, dan rasa bersalahnya melalui sentuhan itu. Matanya tak lepas dari wajah Dinda, menatapnya lekat-lekat seakan tak percaya bahwa anaknya kini benar-benar ada di sampingnya, tidak lagi sekadar bayangan atau mimpi.

Liana Bergumam pelan sambil mengusap punggung tangan Dinda "Syukur Alhamdulillah... Akhirnya Mama bisa pegang tangan anak Mama sendiri. Jangan pergi lagi ya, Nak? Jangan tinggalkan Mama lagi."

Dinda menatap wanita di sampingnya itu, lalu tersenyum tipis meski matanya masih basah.

"Dinda tidak akan ke mana-mana, Ma. Sekarang Dinda akan selalu bersama kalian ." ucap Dinda lembut .

Leonardo yang menyetir pun sesekali melirik ke kaca spion, melihat wajah Dinda yang begitu damai. Hatinya yang tadinya penuh amarah terhadap Sari, kini perlahan tergantikan oleh rasa bahagia yang luar biasa karena telah menemukan kembali harta yang paling berharga.

 Di Kediaman Dewantara...

Suasana di ruang keluarga terasa mencekam namun penuh penantian. Kakek, Nenek, dan seluruh keluarga besar sudah berkumpul sejak tadi. Mereka mondar-mandir, sesekali melirik jam dinding, menunggu kabar dari anak dan menantu mereka.

 "Ya Allah... kenapa lama sekali? Apa yang terjadi di sana? Apakah Dinda mau pulang bersama mereka?" gumam Bu Rosa dengan gelisah .

 "Sabar, Bu Rosa . Pasti mereka sedang menghadapi situasi yang sulit di sana. Yang penting kita berdoa semoga semuanya berjalan lancar." seru ayah Bram mertua Liana .

Tiba-tiba, suara mobil memasuki halaman terdengar jelas. Seorang asisten rumah tangga berteriak dengan gembira.

 "Tuan dan Nyonya sudah pulang! Mereka sudah pulang, Bu!" ucap Bu Marni asisten rumah tangganya .

Seketika semua orang berhamburan keluar ruangan menuju teras dan halaman depan. Jantung mereka berdegup kencang.

Pintu mobil belakang terbuka. Pertama kali yang keluar adalah tangan Liana yang menarik seseorang keluar. Saat sosok gadis itu melangkah turun, seluruh orang yang menunggu terdiam sejenak.

Mata mereka terbelalak. Wajah gadis itu... sungguh sangat mirip dengan Liana saat muda. Tatapannya, senyumnya, bahkan caranya berdiri sangat identik. Tidak ada keraguan lagi. Ini benar-benar cucu dan anak mereka yang sebenarnya.

Ibu rosa langsung menutup mulut, air mata langsung tumpah "Ya Ampun... Lihatlah... Dia benar-benar mirip Liana sekali... Itu cucuku... Itu cucuku yang sebenarnya..."

Bu Ajeng langsung berlari mendekat, lalu memeluk Dinda dengan erat.

"Selamat datang, Nak... Selamat datang pulang. Maafkan kami yang baru bisa menjemputmu sekarang. Kamu hebat sekali bisa bertahan hidup sejauh ini." ucap Bu Ajeng dengan air mata yang mengalir dipipinya .

Dinda sedikit kaget namun merasa hangat. Ia bisa merasakan kasih sayang yang tulus memancar dari orang-orang di sekelilingnya ini. Leonardo dan Liana berdiri di belakang, menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang bahagia.

 "Kenalkan, ini Dinda. Anak kita." seru Leonardo.

Satu per satu keluarga menyapa Dinda dengan penuh haru. Mereka menyesal, mereka sedih, tapi di saat yang sama mereka sangat bahagia karena keluarga mereka kini utuh kembali.

"Ayo masuk, Nak. Ini rumahmu. Mulai hari ini, kamu akan hidup bahagia bersama kami semua." ajak Liana dengan menautkan jarinya Ke jari dinda dengan erat .

Dinda melangkah masuk ke dalam rumah megah itu, dia mengikuti langkah ibunya. Ia tahu, hidupnya telah berubah total mulai detik ini. Namun , langkahnya terasa canggung .

 Suasana haru dan bahagia di ruang tengah keluarga Dewantara sedang memuncak. Dinda duduk di antara Liana dan Leonardo, disambut hangat oleh kakek dan neneknya. Semua mata tertuju padanya, penuh kekaguman dan kasih sayang.

Tiba-tiba...

Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu depan. Semua orang menoleh. Terlihat Adrian berjalan masuk, dan di belakangnya, dengan kepala tertunduk dalam dan langkah yang sangat berat, berjalanlah Nayla.

Seketika suasana ruangan yang tadinya hangat dan ramai, menjadi hening seketika. Suasana berubah menjadi canggung dan tegang.

Nayla mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang sembab dan merah menatap ke arah sofa utama. Di sana, ia melihat gadis yang selama ini ia anggap sebagai gadis rendahan. Dinda sedang duduk dengan nyaman, digandeng tangan oleh Mama dan Papa yang selama ini hanya miliknya sendiri.

Mata Nayla berkaca-kaca melihat pemandangan itu.

"Lihatlah... mereka terlihat begitu serasi. Wajah Dinda sama persis dengan Mama. Mereka satu darah. Dan aku... aku hanyalah orang asing yang kebetulan tinggal di sini."

Rasa sakit, malu, dan iri hati bercampur menjadi satu di dada Nayla. Ia melihat betapa semua perhatian, semua kasih sayang, dan semua kemewahan yang selama ini ia nikmati, kini seolah akan berpindah tangan begitu saja kepada Dinda.

Liana Melihat Nayla, hatinya terasa perih "Nayla... kamu sudah pulang, Nak. Kemari sini."

Liana ingin mendekat, tapi langkahnya terhenti karena Nayla mundur selangkah, menatap mereka dengan tatapan yang campur aduk antara marah dan sedih.

Nayla Suaranya terdengar parau dan dingin . "Jadi... ini yang namanya Dinda ya? Anak kandung kalian yang sebenarnya? Yang wajahnya mirip banget sama Mama?"

Nayla menatap Dinda dengan tatapan tajam, penuh rasa iri dan cemburu.

 "Selamat ya... akhirnya kamu mendapatkan apa yang selama ini jadi hak kamu. Kamu dapat semuanya sekarang. Rumah mewah ini, orang tua kaya raya, dan semua perhatian mereka. Aku tahu... mulai sekarang aku akan tersisihkan. Aku tidak ada artinya lagi di sini."

Dinda Terlihat bingung dan sedih melihat reaksi Nayla "Nayla... aku tidak bermaksud mengambil apa pun darimu. Aku..."

Nayla Memotong ucapan Dinda dengan suara meninggi "Diam kamu! Jangan sok baik di depanku! Kamu pikir aku senang dengan semua ini? Selama 17 tahun aku hidup bahagia, berpikir aku putri satu-satunya, tapi ternyata aku cuma anak pembantu! Dan kamu... kamu yang berhak ada di posisiku!"

Air mata Nayla jatuh lagi. Ia menoleh ke arah Leonardo dan Liana.

 "Papa... Mama... Maafkan aku ya karena sudah menempati posisi Dinda selama ini. Maafkan aku karena sudah memakan uang kalian, memakai baju mahal, dan merebut kasih sayang kalian selama ini. Sekarang Dinda sudah ada di sini... aku tahu aku harus pergi kan? Aku harus kembali ke orang tuaku yang asli kan? Ke Sari dan Pak Agus?" ucap nayla dengan suara ya bergetar .

"Nayla, jangan bicara seperti itu! Kamu tidak perlu pergi ke mana-mana. Kamu tetap anak kami, anak yang kami besarkan selama 17 tahun. Perasaan kami padamu tidak berubah."

Nayla Tertawa miris "Masa sih, Pa? Lihatlah Mama! Mama tidak pernah lepasin tangan Dinda! Mama memandang Dinda dengan mata yang berbinar-binar! Selama ini apa Mama pernah menatap aku seperti itu? Tidak pernah! Karena aku bukan darah dagingnya!" teriak Nayla meluapkan amarahnya .

Nayla benar. Liana memang sulit menyembunyikan keterikatannya dengan Dinda. Namun bukan berarti ia tidak sayang Nayla, hanya saja situasinya memang berbeda.

: "Nayla, dengar Mama... Mama sayang kamu. Kamu tetap Nayla kesayangan Mama. Tapi Dinda juga anak Mama. Kita bisa berbagi, Sayang. Kita bisa jadi keluarga besar yang bahagia."

 "Tidak akan bisa! Semuanya sudah berubah! Aku tidak mau! Aku merasa seperti orang bodoh di sini!"

Nayla menunjuk Dinda.

"Kamu puas sekarang? Kamu menang. Kamu dapat semuanya. Tapi ingat ya, meskipun aku anak pembantu, aku yang selama ini bersama mereka dan membuat mereka bahagia selama 17 tahun ini, bukan kamu!"

Setelah melontarkan kata-kata yang menyakitkan itu, Nayla tidak sanggup lagi berada di sana. Ia merasa sesak, ia merasa iri, dan ia merasa tidak pantas berada di sana. Ia berbalik dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya, lalu mengunci pintu dengan keras.

DUG!!

Suara pintu yang dibanting menggema di seluruh ruangan.

Suasana kembali hening. Dinda menundukkan wajahnya, merasa bersalah meski ia tidak melakukan kesalahan apa pun.

"Maaf... Maafkan Dinda, Ma, Pa... Dinda tidak bermaksud membuat suasana jadi begini. Dinda tidak mau Nayla benci sama Dinda."

Liana memeluk bahu Dinda, menenangkannya.

"Bukan salahmu, Nak. Nayla hanya sedang syok dan butuh waktu untuk menerima semua ini. Dia cemburu karena takut kehilangan tempatnya. Kita harus sabar menghadapinya. Perlahan-lahan dia pasti akan mengerti."

Leonardo menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang terasa pening. Masalah ini jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Memperbaiki hubungan mereka berdua tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!