Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
Di padang rumput yang luas dan sunyi, Raden dan Gista berdiri berdampingan, menatap ke arah langit malam yang penuh bintang. Suasana begitu tenang, hanya suara jangkrik dan angin yang berhembus lembut. Mereka berdua kalut dalam lamunan masing-masing, tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan, hanya keheningan yang nyaman.
Raden, dengan mata terpejam, membiarkan dirinya tenggelam dalam keindahan alam. Dia merasa damai, jauh dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Gista, di sampingnya, juga menikmati pemandangan itu, wajahnya yang lembut disinari cahaya bulan.
Tidak ada yang mengganggu keheningan itu, hanya napas mereka yang teratur, dan detak jantung yang berirama. Mereka berdua menikmati momen itu, tanpa perlu kata-kata, tanpa perlu apa-apa lagi. Hanya ada mereka, dan keindahan alam yang tak terhingga.
Jederr!
Suara guntur terdengar sangat keras di langit di iringi dengan petir yang mengkilat membuat Gista refleks memeluk Raden.
Mata Raden yang tadinya memejam seketika terbuka, ia terkejut saat Gista memeluknya secara tiba-tiba.
"Gista.."
"G-gue takut den, gue takut." Gista membenamkan wajahnya di dada bidang Raden, dapat Raden rasakan getaran dari tubuh Gista.
"Kita cari tempat berteduh." ucap Raden
Gista menurut, ia mengikuti langkah Raden menuju motor.
"Sudah?" tanya Raden untuk memastikan jika Gista sudah benar-benar siap.
"Sudah."
Mendapatkan jawaban tersebut membuat Raden mulai menjalankan motornya, Raden menambah kecepatan motornya saat hujan mulai deras mengguyur tubuh mereka. Raden membawa Gista ke sebuah restoran untuk makan malam bersama, seperti yang ia janjikan.
"Nih pake, baju lo basa pasti dingin." Raden memberikan jaketnya pada Gista
Gista menggeleng. "Lo aja yang pakai,"
"Lo yang lebih butuh sta,"
"Lo aja Rad—" ucapan Gista terhenti saat mendengar bisikan Raden
"Baju lo tembus pandang, cepet pakai."
Tanpa penolakan lagi Gista langsung mengambil jaket Raden dan langsung memakainya.
"Mau pesen makanan apa?" Raden memberikan buku menu pada Gista
Gista meneguk ludah saat melihat menu makan-makanan yang ada di dalam buku tersebut, terlihat enak semua.
"Sama'in aja," ucap Gista, ia tak memiliki keberanian untuk memilih biasanya juga ia makan hanya dengan nasi putih.
Kenzo mengambil alih menu makanannya dan memilih beberapa makanan yang menurutnya enak, tak lama dari itu makanannya datang.
"Ayo Gista di makan jangan liatin aja, kalo diliatin aja gak akan habis makanannya."
Gista awalnya masih malu-malu, memegang sendok dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia memasukkan sedikit makanan ke dalam mulut, dan tiba-tiba mata terbuka lebar saat merasakan kelezatan makanannya.
"Enak, kan?" tanya Raden sembari mulai menyantap makanannya juga
Gista hanya mengangguk, masih menikmati rasa makanan yang meledak di lidahnya. Ia melepaskan sendoknya dan makan dengan tangan secara langsung.
"Haha, lo makan seperti anak kecil sta."
"Mmm... enak banget!" ucap Gista dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Enak sih enak tapi makannya pelan-pelan dong, sampai belepotan gini." ucap Raden sembari membersihkan sudut bibir Gista dengan jarinya, kejadian tiba-tiba tersebut tentunya membuat Gista terkejut.
"Makannya pelan-pelan sampai belepotan kayak gini,"
"Sorry, gue malu-maluin ya?" Gista mengedarkan pandangannya, ternyata ia dan Raden menjadi pusat perhatian.
"Gapapa, gue seneng liat cewek makan gak jaim-jaim." ucap Raden. "Tapi makannya pelan-pelan nanti keselek gimana?"
"Iya gue gak jaim-jaim tapi malu-maluin lo.." lirih Gista, ia makan tak selahap tadi. "Mereka liatin kita terus den."
"Biarin, orang iri itu. Udah sekarang lo makan aja lagi, makanannya masih banyak."
"Iya juga ya, paling mereka pengen liat ayam goreng ini." Gista menggigit ayam goreng di tangannya
'Biasanya gue cuma bisa liatin Adara makan ayam goreng dan makan sisa-sisa tulangnya, tapi malam ini gue makan ayam goreng utuh tanpa sisa siapapun.' batin Gista, tanpa terasa air matanya menetes.
Sudut bibir Raden terangkat, ia tersenyum saat melihat Gista makan dengan sangat lahap hingga keningnya mengerut saat melihat air mata mengalir di pipi Gista.
"Gista, lo kenapa nangis?"
Mendengar ucapan Raden membuat Gista segera menghapus air matanya.
"E-enggak, gue gapapa."
"Kalo gapapa kenapa nangis? Apa, cerita sama gue."
Gista menggeleng. "Beneran gapapa, itu gue cuma gak nyangkah aja bisa makan seenak ini."
Kening Raden mengerut. "Gak pernah makan enak kayak gini? Bukannya mama lo suka masak? Adara sering loh bawa makan siang masakan mama lo, sumpah enak banget."
Gista tersenyum kecut.
'Ya masakan mama emang enak tapi berlaku hanya buat Adara, enggak buat gue.'
"Haha iya, enak banget. Gue baru tau ternyata ada ya masakan yang sama enaknye dengan masakan mama."
Raden terkekeh. "Iya adalah sta, lo belum aja cicipin masakan mamaku gak kalah enaknya sama masakan mamamu."
"Oiya?"
"Iya, lo gak percaya? Nanti kapan-kapan gue ajak lo kerumah deh, rasain masakan mamaku."
Keduanya melanjutkan makan malamnya sementara Adara dan mamanya sudah tiba di rumah.
Ceklek
"Gis--" Adara mengedarkan pandangannya, ia mencari keberadaan saudari kembarnya dk dalam kamar. "Kok gak ada? Gista kemana ya? Apa jangan-jangan dia dapat bisikan itu lagi ya?"
"Dara!" suara mamanya terdengar sangat keras membuat Adara segera menemui mamanya
"Kenapa ma kok teriak-terik?"
"Panggil Gista, suruh dia angkut belanjaan di mobil."
"A-dara aja ya ma yang angkutnya? Dara pengen angkut-angkut gitu itung-itung olahraga 'kan habis makan yang berat-berat."
"Kamu baru sembuh dari sakit dara, udah kamu panggil anak itu saja."
"Tapi—"
"Kamu gak lagi mau lindungi dia 'kan?"
"Maksud mama?"
"Anak sialan itu ada di kamar atau keluyuran??"
Mendengar ucapan mamanya membuat Adara meneguk salivanya dengan susah paya.
"A-ada kok,"
"Kalo ada panggil sekarang, atau mama yang datang ke kamarnya terus mama tarik paksa dia?" ucap Arabella namun tak mendapatkan respon dari putrinya. "Dara??"
"G-gista gak ada ma, Gista gak ada di kamar.."