Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Di dalam kabin mobil yang sunyi, Abraham menarik Prita ke dalam pelukannya.
Ia membiarkan gadis itu menumpahkan sisa tangisnya di dadanya yang bidang.
Tangan Abraham yang kasar mengusap lembut rambut Prita, memberikan ketenangan yang selama ini tidak pernah Prita dapatkan dari rumahnya sendiri.
"Tenang, Prit. Selama ada aku, tidak akan ada yang bisa memaksamu lagi," bisik Abraham mantap.
Setelah Prita mulai tenang, Abraham melepaskan pelukannya, menatap mata sembab itu sejenak, lalu menyalakan mesin mobil.
Ia melajukan double cabin putih itu kembali menuju rumah Prita.
Kali ini bukan sebagai pengantar, tapi sebagai laki-laki yang siap bertarung demi masa depannya.
Sesampainya di sana, suasana rumah masih tegang.
Papa Prita berdiri di ruang tamu dengan wajah kaku saat melihat Prita kembali bersama pria yang tadi sore mengantarnya.
"Pak, saya ingin bicara," ujar Abraham dengan suara bariton yang berat dan tenang, berdiri tegak di hadapan Papa Prita.
Papa Prita menatap Abraham dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan.
"Siapa kamu dan mau apa datang lagi ke sini malam-malam?"
"Saya Abraham. Saya kekasih Prita, dan saya datang untuk melamarnya malam ini," jawab Abraham tanpa ada sedikit pun keraguan dalam nada bicaranya.
Papa Prita tertawa sinis, tawa yang penuh dengan penghinaan.
"Kekasih? Melamar? Kamu kira kamu siapa, hah?" Ia melangkah maju, menunjuk dada Abraham dengan telunjuknya.
"Kamu tidak pantas dengan anakku! Prita itu lulusan terbaik, dia cocok dengan Imran, seorang CEO perusahaan besar. Bukan kamu yang cuma seorang teknisi lapangan yang bajunya bau matahari!"
Prita terlonjak, hendak membela, namun Abraham menahan lengan Prita, memintanya tetap di belakangnya.
Abraham tetap bergeming, matanya menatap lurus ke mata Papa Prita tanpa rasa takut sedikit pun.
"Benar, Pak. Saya memang hanya seorang teknisi. Saya bekerja dengan otot dan keringat saya sendiri," ucap Abraham, suaranya tetap rendah namun penuh penekanan.
"Tapi saya tidak akan pernah menjual kebahagiaan Prita demi sebuah jabatan atau relasi bisnis. Saya bisa menjamin, tangan saya yang kotor ini akan bekerja lebih keras untuk memuliakannya, daripada tangan seorang CEO yang bahkan tidak tahu cara menghargai perasaan putrinya sendiri."
Suasana di ruang tamu itu mendadak beku. Pramesti dan Mama yang mengintip dari balik pintu dapur hanya bisa menutup mulut, tak percaya ada pria yang berani bicara setegas itu di depan Papa.
"Kamu berani menggurui saya?!" bentak Papa Prita, wajahnya memerah padam karena murka.
Ruang tamu itu seakan meledak oleh amarah Papa.
Napasnya memburu, wajahnya merah padam menahan murka karena harga dirinya merasa diinjak-ujung oleh seorang pria yang ia anggap remeh.
"Gaji kamu tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup Prita!" bentak Papa dengan suara menggelegar.
"Prita butuh fasilitas, butuh masa depan yang jelas, bukan sekadar janji manis dari seorang teknisi lapangan. Papa tidak akan pernah memberikan restu sampai kapan pun. Keluar kamu dari rumah ini! Sekarang!"
Pramesti yang mencoba mendekat untuk menenangkan suasana langsung terkena imbasnya. Papa menunjuk ke arah kamar dengan kasar.
"Prames, masuk! Atau kamu juga ingin Papa usir dari rumah ini?!" teriak Papa tanpa kompromi.
Pramesti tersentak, ia menatap Prita dengan mata berkaca-kaca sebelum akhirnya terpaksa melangkah mundur.
Prita gemetar hebat. Ia merasa dunianya runtuh, namun di saat yang sama, genggaman tangan Abraham di jemarinya terasa begitu kokoh.
Abraham tidak membalas bentakan itu dengan teriakan.
Ia justru menarik napas panjang, menatap Papa Prita untuk terakhir kalinya malam itu dengan tatapan yang tenang namun tajam.
"Baik, Pak. Jika restu tidak bisa saya dapatkan malam ini dengan cara baik-baik, saya tidak akan memaksa," ucap Abraham rendah.
"Tapi saya tidak akan membiarkan Prita hancur karena ambisi yang tidak dia inginkan."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Abraham menggandeng tangan Prita dengan mantap.
Ia membawa Prita keluar dari rumah itu, melewati pagar yang kini terasa seperti garis pembatas antara masa lalu yang menyesakkan dan masa depan yang penuh ketidakpastian.
Mereka kembali masuk ke dalam mobil double cabin putih itu.
Suasana kabin mendadak sunyi, hanya terdengar suara isak tangis Prita yang kembali pecah. Abraham tidak langsung menyalakan mesin.
Ia menatap lurus ke depan, ke arah rumah yang lampunya masih menyala terang namun terasa begitu dingin.
"Prit," panggil Abraham lembut sambil tetap menggenggam tangan Prita.
"Mulai detik ini, kamu tidak sendirian. Kita cari jalan keluar sama-sama. Aku punya tabungan, aku punya pekerjaan, dan aku punya nyali untuk menjagamu. Kamu percaya padaku?"
Prita menoleh, menatap wajah Abraham yang diterangi lampu jalanan.
Di tengah badai ini, ia melihat pelabuhan yang sesungguhnya.
Ia mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Abraham yang kokoh.
Malam semakin larut saat mobil double cabin itu kembali memasuki gerbang mess teknisi.
Suasana sunyi senyap, hanya deru mesin mobil yang terdengar rendah.
Abraham mematikan mesin, lalu menoleh ke samping untuk membangunkan Prita.
Namun, ia mendapati wajah Prita sudah sepucat kertas.
Bibirnya membiru dan keringat dingin membanjiri keningnya.
"Prit? Prita, kita sudah sampai," panggil Abraham sambil menyentuh pipi Prita.
Begitu pintu mobil dibuka dan Prita mencoba melangkah turun, kakinya lemas tak bertulang. Tubuhnya limbung.
Sebelum sempat menyentuh tanah, Prita jatuh pingsan di pelukan Abraham.
Tekanan batin yang luar biasa, rasa sakit maag yang belum pulih total, dan kelelahan fisik akhirnya meruntuhkan pertahanan gadis itu.
"Prita!" seru Abraham panik.
Tanpa membuang waktu, Abraham segera membopong tubuh mungil Prita dengan kedua tangannya yang kuat.
Ia membawa Prita masuk ke dalam kamarnya yang sederhana, membaringkannya dengan sangat hati-hati di atas ranjang.
Ia melepaskan sepatu Prita dan menyelimutinya hingga sebatas dada.
Abraham duduk di tepian tempat tidur, memandangi wajah Prita yang tampak begitu rapuh dalam tidurnya yang tak sadarkan diri.
Ia mengambil waslap basah dan perlahan mengompres dahi Prita untuk menurunkan suhu tubuhnya yang mulai menghangat karena stres.
"Maafkan aku, Prit. Aku menyeretmu ke dalam situasi sesulit ini," bisik Abraham parau.
Ia menggenggam tangan Prita yang dingin, lalu mengecupnya lembut.
Rasa tanggung jawab yang besar kini terpikul di pundaknya.
Ia bukan lagi sekadar pria yang sedang jatuh cinta, tapi pria yang telah berjanji untuk menjadi pelindung bagi wanita ini.
"Tidurlah di sini. Malam ini kamu aman," gumam Abraham pelan sambil terus mengusap rambut Prita.
"Besok, setelah keadaanmu membaik, kita akan ke rumah orang tuaku. Ibuku pasti akan menerimamu dengan tangan terbuka. Kita akan mulai semuanya dari awal di sana."
Malam itu, Abraham tidak tidur. Ia duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, menjaga setiap hembusan napas Prita, siap menjadi benteng pertama bagi siapa pun yang berani menyakiti gadis itu lagi.