Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debaran
Tatapan itu terlalu lama untuk disebut kebetulan.
Serra baru menyadarinya setelah Ethan memalingkan wajah lebih dulu. Detik yang menggantung di udara itu terasa aneh, seperti sesuatu yang seharusnya tidak terjadi tapi terlanjur tercipta. Ia menelan ludah, memaksa dirinya bergerak mundur setengah langkah. Degup di dadanya terasa tidak wajar.
"Sudah," Ethan kembali menutup krim tersebut, lalu memberikannya pada Serra, "maaf, lain kali aku akan lebih berhati-hati. Dan tentang uangnya, pasti ku kembalikan secepatnya."
"Ah.. t-tidak usah dipikirkan, tapi ngomong-ngomong.. terimakasih," balas Serra seraya memperlihatkan krim yang dipegangnya.
Gadis itu berbalik menuju kamar mandi, lalu menciprat wajahnya dengan air dingin. Cermin memantulkan sosoknya yang masih sama, namun ada sesuatu yang terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, ia merasa gugup. Hanya kagum, tidak lebih, batinnya.
Sementara itu Ethan kembali sibuk dengan bibit-bibit tanaman langka miliknya. Tangan pemuda itu mulai menyentuh tanah, merapikan pot-pot kecil yang kini memenuhi sudut dekat jendela. Ia bergerak dengan pelan dan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.
Lalu bagaimana dengan degup jantungnya? apakah aman?. Ooh.. tentu saja tidak. Hal itu terasa sama seperti waktu sebelumnya, saat ia mulai mengenal sosok Serra di rumah kayu miliknya. Namun, untuk saat ini ia mengabaikannya. Jujur saja, pemuda itu belum siap memberi nama pada sesuatu yang bahkan belum ia pahami dengan benar.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang aneh tapi stabil. Serra sengaja berangkat lebih pagi untuk berolahraga terlebih dahulu. Ia harus menggerakkan tubuh agar pikirannya tetap fokus. Sedangkan Ethan tetap tinggal di rumah, kini ia memiliki kesibukan baru di dalam apartemen kecil tersebut.
...----------------...
Brukkk!
"Huwaaaaaa!"
"Oh Astaga!."
Sore itu terdengar suara riuh tetangga di apartemen lantai dasar. Ethan yang baru saja kembali dari toko tanaman melihat beberapa orang di dekat tangga. Sesaat pemuda itu ragu untuk mendekat, namun seseorang terlanjur memanggilnya.
"Hey kau! bisa bantu kami?."
Pada akhirnya, Ethan membantu tanpa banyak bicara. Tampak seorang anak laki-laki yang masih menangis karena banyak luka lecet di bagian lengan dan kakinya.
"Dia jatuh dari tangga, ibunya sedang tidak ada di rumah," jelas seseorang.
"Tunggu sebentar."
Dengan langkah tergesa, Ethan menaiki tangga menuju apartemen lantai dua, tempat tinggalnya bersama Serra. Ia mengambil sesuatu di dalam laci kamar, kemudian kembali turun ke lantai dasar.
"Apa itu?," tanya seseorang.
"Ini pasta herbal."
Ethan mulai mengoleskannya dengan perlahan pada tangan dan kaki anak tersebut. Tak ada jeritan ataupun tangisan yang terdengar. Anak itu hanya meringis, merasakan sensasi dingin diarea luka-lukanya.
"Sakit tidak?," Ethan bertanya dengan lembut.
Anak itu hanya menggeleng pelan seraya mengusap sisa air disudut matanya. Sementara beberapa orang tetangga yang ikut membantu, semakin penasaran dengan sosok pemuda tersebut.
"Kau tinggal di lantai dua ya? siapa namamu?."
Ethan terdiam, ia sedikit berpikir, "Aku E..," belum sempat ia melanjutkan perkataannya, suara Serra terdengar dari belakang.
"Sayang, sedang apa?", tegur Serra tersenyum tipis, berdiri tepat dibelakangnya membawa tas latihan.
Ethan menoleh bingung, sedangkan beberapa tetangga lain mulai memahami situasi.
"Halo nona June, jadi ini suami anda?."
Serra hanya mengangguk sambil tersenyum. Salah satu tangannya sudah mengait di lengan Ethan.
"Karena jarang terlihat, kami jadi belum menyapa. Halo tuan Lucas," sapa seorang tetangga mengulurkan tangan. Ethan menjabatnya sebentar sambil tersenyum canggung.
"Dia sibuk bekerja dari rumah, jadi jarang terlihat," jelas Serra.
Beberapa orang tetangga tersebut memaklumi dan menganggap jika suami nona June berjualan online, atau seorang admin suatu perusahaan. Mereka tidak lagi melontarkan banyak pertanyaan.
Setelah menunggu ibu dari anak yang terjatuh tadi, mereka pun bubar, kembali masuk ke dalam pintu apartemen masing-masing.
"Maaf, kita harus sedikit bersandiwara, agar tidak dicurigai," jelas Serra.
Ethan menggeleng pelan, walau sempat merasa bingung, ia cukup mengerti, "Tidak apa-apa," jawabnya singkat.
Ia benar-benar tidak keberatan. Tapi sesuatu dalam dirinya mencatat bahwa betapa cepat Serra bergerak untuk melindunginya.
...----------------...
TV menyala sejak lima belas menit lalu, tapi tidak ada yang benar-benar menonton. Serial di layar menampilkan adegan kejar-kejaran yang cukup berisik, namun di dalam ruang tamu apartemen kecil itu justru terasa sunyi.
Serra duduk di ujung sofa sambil menyilang kan kaki, pura-pura fokus pada layar. Sedangkan Ethan duduk di sisi lain, punggungnya sedikit kaku dengan tangan bertaut di pangkuan, jarak mereka hanya dibatasi oleh satu bantal sofa.
Serra melirik sekilas, tepat di sampingnya Ethan menatap lurus ke arah TV dengan ekspresi yang datar. Tapi Serra bisa melihat, jika rahang pemuda itu beberapa kali menekan, pertanda jika seseorang sedang merasa tegang. Ayolah, dia hanya menonton film, ujarnya dalam hati.
Di layar TV, sedang diputar sebuah film dimana sang tokoh utama perempuan tiba-tiba meraih tangan pasangannya.
"Ehm.." Serra reflek berdehem, suasana di ruangan itu mendadak canggung.
"Filmnya seru," kata Serra asal.
Ethan mengangguk, "iya, banyak aksi," sahutnya.
Padahal sudah sangat jelas jika yang saat ini mereka tonton adalah drama romantis. Serra mulai mengganti posisi duduk, tanpa sadar bahunya jadi sedikit lebih dekat ke lengan Ethan. Belum sampai menyentuh, namun cukup untuk membuat panas tubuh masing-masing terasa samar.
Keduanya sadar jika jarak mereka berubah. Namun anehnya tidak ada yang mencoba menjaga jarak, ataupun menjauh.
Di layar TV, adegan berganti menjadi lebih intens musik mengalun perlahan, seiring dengan kedua pemeran utama yang mulai berciuman. Sesaat kedua penonton membeku, suasana menjadi semakin canggung tatkala jari mereka saling bersentuhan ketika ingin mengambil remote TV, untuk mengganti channel.
Seketika Serra beranjak dari posisi duduknya, gadis itu berlalu begitu saja ke arah dapur, sembari menenangkan jantungnya yang riuh. Sementara itu, Ethan membuka jendela lalu menghirup napas dalam-dalam.