“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP12
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Edwin.
Suaranya setenang permukaan air yang menghanyutkan—tenang di luar, mematikan di dalam. Mimiknya tak berekspresi, emosinya benar-benar tak bisa diprediksi.
“Kukira, kau benar-benar sudah mati.” Bibir sang ketua merekah lebar. Jemari yang sedari tadi menunggu untuk dijabat akhirnya ia turunkan. “Namun siapa sangka, saat aku sedang melakukan perjalanan bisnis ke Amerika — aku justru melihat idolaku sedang memesan Dirty Matcha dengan seragam putih yang dulu sangat ia benci, WOW FANTASTIC!”
Lidah sang ketua menekan dalaman pipi hingga kulit wajahnya menonjol.
“Kau tau ... pfft ... ah maaf!” Ia menutup bibirnya sejenak dengan punggung tangan, lalu melanjutkan, “awalnya kukira aku salah orang — sebab warna mata serta suaramu sangat berbeda dari yang kulihat di berbagai media belasan tahun silam. Namun, setelah aku mengutus seseorang untuk memata-mataimu ... ternyata kau memang si legendaris bengis, yang sudah memiliki putra-putri yang manis.”
Edwin mendengus kasar, gejolak emosi mulai menyeruak keluar.
“Sayang sekali,” lanjut sang ketua santai, “aku tak mendapatkan sedikit pun informasi tentang siapa istrimu.” Ia memiringkan kepala. “Apa kau seorang duda? Atau memang sengaja menutup semua jalan informasi tentang perempuan itu?”
Sang ketua tersenyum miring, ia berhasil menangkap deru napas Edwin yang mulai tak beraturan.
“Atau ... haruskah aku menggali lebih dalam lagi?” ujarnya ringan, sengaja menguji. “Aku benar-benar penasaran—perempuan macam apa yang mampu merusak pola pikir idolaku. Perempuan yang bisa membuat seorang pembunuh keji ... belajar menahan tangannya sendiri.”
BRAK!
Edwin menggebrak meja dengan sangat kuat, sang ketua bahkan sampai terlonjak dari kursi sanking terkejutnya.
HAHAHA!
Edwin mendadak tertawa melengking sambil memutar-mutar kursi yang didudukinya. Bulu kuduk dua pria yang berjaga tak jauh di belakangnya sampai meremang.
Pria berkulit pucat itu tiba-tiba berdiri, lalu membuka kaos putih polos kesukaan Bella yang membalut tubuhnya — menggantungkannya di sandaran kursi. Kemudian, ia mendadak berbalik badan, berjalan cepat ke arah dua pria yang berjaga. Lalu...
Khhhgghhhhkkk!
Jari-jari Edwin melesak brutal ke kerongkongan salah satu penjaga, menembus sampai menyentuh uvula (anak tekak). Dengan tawa yang masih mengguncang bahunya, ia menarik anak tekak pria itu hingga putus.
Arrrggghhh!
Darah segar bercampur liur, bertakung di rongga mulut. Tubuh sang penjaga menegang hebat, sementara teman di sampingnya langsung mundur selangkah — takut menjadi korban selanjutnya.
Edwin melempar anak tekak penjaga tepat mengenai dada sang ketua.
“Jangan bawa dia ke dalam urusan ini,” ujarnya santai. “Atau kau sendiri yang akan kerepotan mencari kacung-kacung baru.”
Apa sang ketua gusar? Tentu tidak. Ia justru menatap takjub, bertepuk-tepuk tangan dan memberi pujian. “Indah! Sungguh indah! Inilah Edwin yang selama ini kupuja!”
Edwin memutar mata dan kembali duduk.
“Jadi, apa maumu? Kau ingin uang?” tanyanya. “Sebutkan saja nominalnya. Akan kuberikan sebanyak yang kau mau.”
Sang ketua tersenyum dan turut duduk.
“Uang? Tentu,” sahutnya sambil melipat tangan di depan dada. “Tapi bukan itu saja yang kuinginkan.”
Edwin menyibak rambutnya malas. “Langsung saja. Jangan buang waktuku.”
Sang ketua terbahak sejenak, lalu bertopang dengan kedua siku di atas meja. Tatapannya berubah serius. Di belakangnya, layar besar mendadak menyala.
Di layar itu, menampilkan beberapa ruangan sempit mirip penjara. Ada yang berisi perempuan, ada laki-laki, ada pula anak-anak, masing-masing di ruang berbeda, terkunci dan diawasi kamera.
Gambar berikutnya berpindah ke ruangan lain yang lebih terang, kamar-kamar privat milik para anggota VIP. Di sana, beberapa aksi keji sedang dijalankan. Ada yang sedang menghancurkan tulang belulang dengan godam, ada yang menggergaji jari manis karena terobsesi dengan cicin perkawinan, ada pula yang mengupas telapak kaki korban hanya karena penasaran.
Sang ketua memiringkan kepala, senyuman puas mengembang. “Inilah bisnis kami,” katanya bangga. “Dan aku ingin kau menjadi bagian dari organisasi ini.”
Edwin menanggapi dengan kekehan pelan. Dirinya memang gila jika berurusan dengan mencabut nyawa, tapi tempat ini — jauh lebih gila, menurutnya.
Layar lebar kembali menunjukkan cuplikan baru, manik Edwin kembali fokus.
“Lihatlah ... menakjubkan, bukan?” ujar sang ketua. “Ini mahakarya para anggota yang kami sebut tamu elit. Di sini, kalian bebas bereksperimen. Bebas mengeksekusi dengan cara kalian sendiri.”
Di layar, beberapa ruangan berganti-ganti, menunjukkan mahakarya dari para tamu elit. Ada kulit wajah korban yang dilepas dan diikat rapih dibingkai, ada juga tubuh manusia yang melekat di dinding — terinfeksi oleh jamur parasit Cordyceps yang mencari inang.
“Menyenangkan, bukan?” ujar sang ketua santai. “Di tempat ini, aku menyediakan beragam layanan. Arena bagi para elit untuk berburu dan memangsa. Laboratorium bagi ilmuwan jenius untuk bereksperimen. Dan—”
Ia tersenyum tipis. “Aku juga menyediakan senjata mematikan untuk menghancurkan negeri ini. Akan sangat menyenangkan jika kau ikut berkontribusi.”
“Aku tak berminat tentang senjata yang akan menghancurkan negeri ini. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa lekas keluar dari pulau ini?” tanya Edwin serius.
Sang ketua tertawa pelan. “Keluar?”
Ia bersiul girang.
“Kau tau, Edwin?” ujarnya. “Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat, kecuali dengan syarat.”
“Ya apa syaratnya, Sialan?!” maki Edwin tak sabar.
“Kau bisa keluar dari pulau ini, jika kau sudah bergabung dengan organisasi. Terserah, kau mau memilih yang mana, berburu dan memangsa, bereksperimen dengan para ilmuwan ... atau berkontribusi menghancurkan negeri ini. Tapi, sepertinya, aku tau apa yang akan kau pilih.”
“Aku mempunyai banyak persediaan. Kau ingin perempuan? Laki-laki? Atau anak-anak? Kau bebas memilih,” sambungnya.
“Aku tak membunuh sembarangan orang, kau tau itu ‘kan?” gumam Edwin ketus.
“Tentu aku tau, kau memang tak akan memilih sembarangan orang. Maka dari itu, aku sudah memilih seseorang yang cocok untuk jadi mainanmu.”
Sang ketua meraih remot dan menekan tombol, tampilan layar pun berganti. Menunjukkan satu ruangan khusus dengan seorang pria duduk terikat di kursi dengan tubuh meronta-ronta.
“Namanya Syahroni. Seorang pebisnis muda yang sedang naik daun di negeri ini. Namun, seminggu belakangan ini, ia terkena skandal besar. Dirinya diduga telah memper-kosa lima belas lelaki remaja. Tak hanya melalui kelaminnnya, ia juga menusuk lubang anuss para remaja menggunakan jempol kakinya.”
Ia melirik Edwin. “Bagaimana? Kau menginginkannya?”
“Tentu.” Edwin mengangguk cepat dan lekas berdiri. “Segera siapkan tempat untuk aku bersenang-senang. Sekarang, aku ingin mencari udara segar. Dan ... tolong simpan dulu bajuku di sini.”
Sang ketua tersenyum lebar dan menunduk hormat. “Dengan senang hati.”
Edwin melangkah pergi. Tepat di ambang pintu, ia berhenti tanpa menoleh.
“Siapa namamu?” tanyanya singkat.
Sang ketua mengangkat kepala, ia menjawab dengan bangga.
“Andika. Panggil aku Andika.”
*
*
*
k dehwa lekas sembuh 😩