Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Agnes van der Linden
"Arjo."
Suara Kang Guru Harjo membuatnya tersentak. Ia nyaris menjatuhkan foto itu.
"Nggih, Guru?"
"Kau melamun lagi." Sang guru memandangnya dengan tatapan kesal. "Apa yang kau temukan?"
"Tidak, Guru. Hanya—"
"Perempuan lagi?"
Arjo mengangkat wajah. "Guru?"
Kang Guru Harjo menghela napas panjang.
"Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, Arjo. Kalau kau terus-terusan mudah tergoda hanya karena melihat wajah cantik di foto, bagaimana nanti kalau berhadapan langsung?"
"Guru, saya tidak—"
"Dengarkan aku." Kang Guru Harjo mengangkat tangan, memotong protes Arjo. "Kau nanti akan lebih sering menggantikan Ndoro Gusti Bupati, godaan yang kau hadapi bukan main-main. Bukan sekadar foto hitam putih."
Arjo menutup mulut.
"Perempuan cantik," Kang Guru Harjo melanjutkan dengan nada yang lebih serius, "sering digunakan sebagai alat politik untuk tawar menawar kolusi, nepotisme, suap. Para pejabat korup menawarkan perempuan-perempuan pilihan kepada bupati yang bisa diajak kerja sama. Gadis-gadis muda yang sengaja dilatih khusus untuk memuaskan pria. Kalau kau mudah terpancing, kau akan jatuh ke dalam jebakan mereka. Satu malam penuh kesenangan, lalu selamanya menjadi wayang yang mudah dikendalikan. Begitu salah satu cara mereka menjerat pejabat-pejabat bodoh."
"Saya mengerti, Guru, tapi—"
"Seorang bupati harus bisa mengendalikan syahwatnya." Kang Guru Harjo tidak membiarkan Arjo menyela. "Tidak boleh mudah terpancing. Tidak boleh lemah di hadapan godaan. Aku akan meminta Nyi Seger memberimu latihan lagi, untuk mengendalikan diri; semedi, puasa, mandi air dingin tengah malam kalau perlu."
Arjo meringis dalam hati.
"Guru—"
"Jangan membantah. Ini demi kebaikanmu sendiri. Kalau kau tidak bisa menahan diri melihat foto gadis cantik, bagaimana kalau gadis itu berdiri di depanmu—"
"Guru!"
Arjo akhirnya berhasil menyela, suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan.
Kang Guru Harjo terdiam, alis terangkat.
"Saya tidak sedang... tergoda. Bukan begitu maksud saya."
"Lalu?"
Arjo memandang foto di tangannya. Wajah galak Agnes van der Linden balas menatap.
"Tadi siang, saat kereta diserang, ada seorang perempuan yang masuk ke kereta. Wajahnya tertutup kain hitam, tapi matanya … tidak biasa, Guru. Bentuknya unik. Agak runcing di ujung, seperti mata kucing liar. Dan warnanya ...."
Arjo mengetuk foto di tangannya. "Seperti yang tertulis di keterangan foto ini. Amber—cokelat terang dengan bintik keemasan. Seperti madu yang terkena cahaya matahari."
Kang Guru Harjo terdiam. Arjo mengangkat wajah, dan terkejut melihat perubahan ekspresi gurunya.
Wajah yang tadi penuh omelan kini menegang. "Kau yakin?" Suara Kang Guru Harjo berubah, tidak lagi seperti guru yang menasihati murid, tapi seperti prajurit yang menerima laporan intelijen.
"Yakin, Guru. Saya melihatnya dari jarak sangat dekat. Bahkan bisa melihat bintik keemasan itu."
‘Terlalu dekat, malah,’ tambah Arjo dalam hati dengan menahan senyum, mengingat insiden "pemeriksaan" yang sangat tidak pantas
Kang Guru Harjo mengulurkan tangan. "Berikan foto itu."
Arjo menyerahkan foto Agnes. Sang guru memandangnya lama, dahi berkerut dalam.
"Guru kenal perempuan ini?"
Tidak ada jawaban.
Kang Guru Harjo membalik foto, membaca catatan di belakangnya. Lalu membalik lagi, memandang wajah galak itu dengan ekspresi yang semakin keruh.
"Guru?"
"Sariyem." Nama itu keluar seperti bisikan.
"Siapa Sariyem?" Alis tebal Arjo berkerut dalam.
Kang Guru Harjo meletakkan foto di meja, lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan, tampak bingung, raut wajah yang jarang Arjo lihat dari gurunya yang selalu cerdas terkendali.
"Ibu dari gadis ini." Sang guru menunjuk foto Agnes. "Sariyem bukan nyai biasa. Dia bagian dari kelompok pemberontak, menjadi nyai van der Linden untuk menyusup, mencuri informasi, dokumen rahasia, rencana militer. Semuanya dikirim ke jaringan perlawanan. Waktu itu van der Linden belum menjadi pejabat sipil seperti sekarang. Dia masih di bagian militer."
Arjo mencerna informasi itu. "Lalu bagaimana dia ketahuan?"
"Tidak pernah ketahuan." Kang Guru Harjo menggeleng. "Sariyem terlalu pintar untuk tertangkap. Dia pergi sendiri, menghilang suatu malam. Entah dipaksa keadaan, entah memang sengaja."
Kang Guru Harjo menggeleng pelan. "Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, setelah Sariyem menghilang, jaringan pemberontak yang menaunginya juga hancur, digerebek Belanda. Pemimpinnya ditangkap, sebagian ditembak mati, sebagian dibuang ke Digoel."
"Tapi gadis ini," Arjo menunjuk foto Agnes, "masih ada. Masih tinggal dengan ayahnya."
"Ceritanya panjang dan rumit." Kang Guru Harjo memandang foto itu lagi. "van der Linden sebenarnya mengakui gadis ini sebagai anaknya, memberinya nama keluarga. Agnes van der Linden—lengkap dengan marga."
"Lalu kenapa di catatan tertulis dia tidak mau memakai nama ayahnya?"
"Karena gadis kecil itu pernah hilang. Setelah Sariyem menghilang, Agnes juga lenyap dari kediaman Residen. Diculik? Dibawa seseorang? Tidak ada yang tahu."
Kang Guru Harjo mengetuk foto dengan jari.
"van der Linden tidak pernah berhenti mencari, mengerahkan polisi, tentara, mata-mata pribadi, bertahun-tahun. Dan akhirnya, entah bagaimana, gadis itu ditemukan. Atau lebih tepatnya, gadis itu muncul kembali."
"Muncul?" Arjo tampak semakin bingung.
"Datang sendiri ke kediaman van der Linden. Sudah remaja. Sudah berubah." Sang guru menggeleng pelan. "Tapi dia menolak tinggal di rumah utama, tidak mau memakai nama van der Linden, tidak sudi bergaul dengan keluarga totok ayahnya. Dia lebih memilih tinggal di sayap belakang, bersama babu tua yang merawatnya sejak kecil. Itu dari cerita yang beredar, aku tidak tahu cerita aslinya seperti apa. Yang jelas, van der Linden sangat melindungi putrinya, bisa saja cerita itu hanya rekaan. Dan sekarang kau bilang …."
Kang Guru Harjo memandang Arjo tajam. "Perempuan dengan mata seperti ini yang menyerangmu di kereta?"
"Saya yakin, Guru. Bentuk matanya sama persis. Warna matanya, sama dengan keterangan di foto ini. Tapi … bagaimana seorang putri pejabat tinggi Belanda bisa bertarung seperti orang yang terlatih? Kalau perempuan pribumi seperti Nyi Seger, tidak sedikit yang punya kemampuan kanuragan."
Kang Guru Harjo terdiam lama. Di sekitar pendopo, suara jangkrik memenuhi keheningan malam.
"Kalau dugaanmu benar…," Sang guru berbicara pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Berarti kelompok yang dulu menaungi Sariyem tidak benar-benar hancur seperti yang dikabarkan."
"Maksud Guru?"
"Mereka masih ada. Bergerak dalam diam, merekrut anggota baru, termasuk mungkin anak dari agen mereka yang dulu." Kang Guru Harjo bangkit dari duduknya, wajahnya serius. "Dan sekarang mereka menyerang bupati. Pertanyaannya, kenapa? Apa tujuan mereka?"
Arjo ikut bangkit. "Mungkin karena Ndoro Gusti Bupati dianggap antek Belanda?"
"Mungkin. Atau ada alasan lain yang belum kita ketahui." Kang Guru Harjo mengambil foto Agnes, menyelipkannya ke dalam kantung beskap-nya. "Aku harus melapor ke Ki Among Telik."
Ki Among Telik. Kepala telik sandi padepokan. Orang yang mengurus semua urusan mata-mata dan intelijen untuk kadipaten. Pria tua yang lebih misterius bahkan dari Nyi Seger.
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo