🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak yang tak terkendali
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Yura dan pria itu berhenti di area parkir karyawan. Mesin vespa dimatikan, menyisakan dengung pendek sebelum sunyi kembali menguasai pagi.
Yura turun lebih dulu. Ia membuka helm, rambutnya sedikit berantakan, lalu tersenyum kecil.
"Oh ya, terima kasih atas tumpangannya."
Pria itu ikut turun sambil menerima helm dari tangan Yura. Gerakannya santai, wajahnya terbuka dan ramah. "Aku juga berterima kasih karena kau mau membantuku sampai sini." ia mengulurkan tangan. "Perkenalkan, namaku Leordinal. Panggil saja Leo."
Tanpa ragu, Yura menyambut uluran itu.
"Kenalkan, namaku Yura Elowen."
Belum sempat mereka menarik tangan masing-masing, sebuah deheman terdengar jelas di udara.
Yura dan Leo menoleh hampir bersamaan.
Alexa berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya dingin seperti biasa, sikapnya tegak, dan tatapannya jatuh tepat pada tangan Yura yang masih bersentuhan dengan tangan Leo.
Hanya sepersekian detik, namun cukup lama untuk membuat keduanya refleks melepaskan pegangan.
"Selamat pagi, Pak," ucap Yura cepat. Ia membungkuk sedikit, lalu menoleh ke Leo yang tampak semakin bingung.
"Oh, ini, Pak. Dia karyawan baru kita."
Alexa melirik Leo sekilas, lalu kembali menatap Yura. "Apa kau lupa," ucapnya datar, "Sepasang kekasih, terlebih yang memiliki ikatan pernikahan, dilarang bekerja bersama di sini. Salah satu dari kalian harus memilih. Kita bicarakan nanti. Pagi ini aku sangat sibuk."
Tanpa menunggu reaksi, Alexa melangkah melewati mereka.
Ada sesuatu dalam langkahnya yang kaku, seolah perasaannya tertahan rapi di balik kontrol yang dipaksakan.
Yura terdiam sesaat, lalu panik. "Bukan Pak, tunggu sebentar!" ia bergegas mengejar, meninggalkan Leo yang masih berdiri dengan ekspresi tak paham.
Alexa menghentikan langkahnya ketika Yura berdiri di hadapannya, kedua tangannya terbentang refleks, seolah takut bosnya pergi sebelum mendengar penjelasan.
"Pak, saya dengannya tidak memiliki ikatan apa pun. Apalagi kekasih. Tapi—"
"Saya tidak peduli," potong Alexa dingin, hendak melangkah lagi.
Yura kembali menghalangi, kali ini dengan napas sedikit tersengal. "Pak, tadi saya di halte ketinggalan bus. Lalu Leo datang dan bertanya soal alamat karena dia tidak tahu jalan. Kebetulan tujuan kami sama. Kami juga baru saja berkenalan. Anda salah sangka."
Mata Alexa melebar tipis. Ada sesuatu yang mengendur dadanya, cepat namun nyata. Kelegaan itu muncul tanpa izin, dan sama cepatnya ia menekannya kembali, menutupinya rapat agar tak terbaca.
Yura melirik ke arah Leo, memberi isyarat dengan tatapan agar pria itu mendekat.
Leo pun menghampiri, sedikit canggung, lalu menunduk sopan. "Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak mengenal siapa pun di sini. Saya orang baru dan salah alamat. Benar seperti kata Nona ini, kami bertemu di halte. Semuanya hanya kebetulan."
Alexa menatapnya beberapa detik.
Lalu sebuah senyum sangat tipis muncul di sudut bibirnya. Hampir tak terlihat, namun cukup tajam untuk membuat Leo menyadarinya.
Berbeda dengan Yura, yang justru semakin tegang melihat ekspresi itu.
"Silakan temui HRD," ucap Alexa akhirnya. Pandangan itu lalu beralih ke Yura.
"Dan kau… menghalangi jalanku."
Yura langsung menyingkir. "Maaf, Pak."
Alexa melanjutkan langkahnya, meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi. Namun garis bibirnya tetap sedikit terangkat, senyum kecil yang tidak sepenuhnya ia pahami, dan terus ia lawan.
Yura menghembuskan napas panjang.
"Selamat…," gumamnya lirih, entah ditujukan pada dirinya sendiri atau situasi yang nyaris menjatuhkannya.
Leo menoleh Yura, alisnya berkerut.
"Itu barusan… bos besar, kan?"
Yura mengangguk pelan.
Leo kembali menatap ke arah punggung Alexa yang menjauh, rasa penasaran jelas tertinggal di wajahnya.
Ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak sekadar salah paham biasa.
Dan entah mengapa, perasaan itu membuatnya tertarik.
Yura mengusap wajahnya singkat, seolah ingin memastikan dirinya benar-benar sudah selamat dari bencana pagi ini. Ia lalu menoleh ke Leo. "Mari, aku bawa kau ke ruangan HRD," ucapnya.
Leo tersenyum, mengangguk ringan. "Baik. Terima kasih."
Mereka berjalan berdampingan. Langkah Yura masih sedikit terburu-buru, sementara Leo justru tampak santai, matanya sesekali menyapu sekeliling dengan rasa ingin tahu khas orang baru.
"Apa Pak Bos memang selalu setegas itu?" Leo membuka suara pelan.
Yura terkekeh kering. "Itu malah versi paling ramahnya."
Leo tertawa kecil, tak yakin apakah Yura bercanda atau justru serius. "Aku hampir berpikir aku langsung melakukan kesalahan besar di hari pertama."
"Kau tidak salah apa-apa," jawab Yura cepat. "Dia cuma… tidak suka hal-hal yang terasa ambigu."
Leo meliriknya sekilas. "Termasuk kebetulan?"
Yura terdiam sejenak, lalu mengangkat bahu. "Terutama kebetulan."
Mereka berhenti di depan lift khusus karyawan. Pintu logamnya masih tertutup, lampu indikator menyala redup. Yura menekan tombol, lalu berdiri dengan tangan terlipat di depan tubuhnya, berusaha menenangkan diri.
Pintu lift terbuka dengan bunyi dengung pelan. Mereka masuk. Ruangannya sempit, dindingnya dilapisi baja kusam yang memantulkan bayangan samar. Hanya ada mereka berdua.
Keheningan jatuh singkat.
Leo melirik pantulan mereka di dinding lift. "Kalau boleh jujur," katanya pelan, "Aku merasa sepertinya dia tidak hanya salah paham."
Jantung Yura berdegup sedikit lebih cepat. "Maksudmu?"
Leo menggeleng kecil. "Entahlah. Tatapannya ke arahmu… berbeda."
Lift berhenti. Pintu terbuka sebelum Yura sempat menjawab.
Mereka melangkah keluar menuju koridor karyawan yang lebih sepi. Di ujung lorong, sebuah ruangan dengan papan nama kaca buram bertuliskan HRD terlihat jelas.
"Itu," kata Yura sambil menunjuk. "HRD."
Leo berhenti sejenak sebelum masuk. Ia menoleh kembali pada Yura, senyumnya lebih tulus kali ini. "Apa pun yang terjadi nanti, terima kasih sudah menolongku."
Yura membalas dengan senyum tipis. "Sama-sama. Semoga hari pertamamu tidak seburuk yang kau bayangkan."
Leo mengangguk, lalu melangkah masuk ke ruangan itu.
Yura tetap berdiri di luar beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Pikirannya kembali pada ekspresi Alexa tadi.
"Kenapa aku harus menjelaskannya sejauh itu…" gumamnya pelan.
Sedangkan di lantai atas, di balik dinding kaca ruang kerjanya, Alexa berdiri memandang ke luar. Kota tetap bergerak seperti biasa, rapi, dingin, dan berjalan sesuai aturan yang selalu ia pahami.
Namun dirinya tidak.
Ada sesuatu di dadanya yang sulit ia kendalikan. Irama jantungnya berantakan, berdetak terlalu cepat, terlalu keras, seolah menolak tunduk pada logika yang selama ini ia banggakan.
Alexa mengerutkan kening, napasnya tertahan sesaat, lalu terlepas perlahan, mencoba menenangkan diri dengan cara yang biasa ia lakukan.
Gagal.
Tangannya mengepal pelan di sisi tubuh. Ia menyadari satu hal yang membuatnya semakin gelisah, ia tidak sepenuhnya mampu mengontrol sikapnya sendiri.
Reaksinya tadi, tatapannya, bahkan keputusan yang ia ambil, semuanya terasa… melenceng.
Alexa menutup mata sejenak.
Ia tidak tahu harus melakukan apa dengan jantung yang berdetak tak beraturan ini.
Tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan kendali yang biasanya selalu berada dalam genggamannya.
Satu nama yang terus melintas, datang tanpa ia undang, namun menetap dengan keras kepala.
Yura.
Kesadaran itu membuat Alexa membuka matanya kembali. Tatapannya menajam, bukan pada kota di luar sana, melainkan pada dirinya sendiri.
Dan ia menyadari, kebingungan ini jauh lebih berbahaya daripada kebetulan apa pun.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺