Pangeran Gautier de Valois.
Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.
"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."
"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"
"Ini bukan permintaan, Countess,"
"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 (Pertemuan Rahasia dan Jaringan Informasi)
Dengan hati-hati, Amélie mundur dari jendela. Ia tidak bisa menghadapi mereka. Misi awalnya hanya untuk mengkonfirmasi keberadaan dan hubungan mereka dan itu sudah lebih dari cukup. Ia harus memanfaatkan pengetahuan ini, bukan emosi.
Amélie berjalan cepat dari pemukiman penari, menuju biara Sœur Céleste.
Perjalanan itu panjang dan berbahaya, tetapi bukti di buku catatannya membakar semangatnya.
Ketika ia tiba di biara, malam sudah larut. Céleste menunggunya di kapel yang sunyi, di bawah sinar bulan yang masuk melalui kaca patri.
"Aku tahu kau akan datang," kata Céleste, matanya bijaksana dan sedih. "Perjalananmu ke Paris dan apa yang kau lihat... itu menyakitkan, tetapi itu sesuatu hal yang kau perlu ketahui."
Amélie segera mengeluarkan buku catatannya dan menceritakan semua yang ia temukan, pembayaran besar oleh Tahta kepada Éloi pada tahun kematian ayahnya, surat Kanselir yang terpotong dan kenyataan bahwa Gautier melunasi utang keluarga hanya untuk tujuan kontrol cepat. Ia juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Seraphine, kekasih rahasia Gautier.
"Éloi tidak hanya memeras saya, Céleste. Dia terlibat dalam pengkhianatan yang lebih besar. Ayah saya mungkin dibunuh karena mengetahui rahasia 'Pembelian Aset Strategis' ini," kata Amélie, suaranya gemetar karena amarah.
Céleste mengambil buku catatan itu dan membaca entri tentang tanggal dan jumlah.
"Aku tahu soal uang itu," bisik Céleste, menatap api lilin. "Itu bukan utang. Itu adalah dana yang disiapkan untuk Tahta—dana yang digunakan untuk membeli Tambang Besi Lorraine dari Ayahmu. Ayahmu menolak menjualnya, karena dia tahu Tahta akan menggunakannya untuk mendanai perang rahasia yang tidak adil."
Amélie terkesiap. "Tambang Besi Lorraine? Itu salah satu aset terbesar kami!"
"Benar. Ayahmu dibunuh di jalan, Amélie. Dia tidak kecelakaan. Kanselir dan Éloi merencanakan pembunuhan itu agar Éloi bisa mengambil alih kendali tambang tersebut, menggunakan dana Tahta dan kemudian memerasmu dengan utang palsu yang kemudian diserahkan kepada Gautier."
"Gautier tahu?" tanya Amélie, hatinya sakit.
"Gautier tahu tentang utang palsu itu dan dia melunasinya untuk memaksamu menikah. Tapi dia tidak tahu tentang pembunuhan Ayahmu. Dia tidak tahu sejauh mana kejahatan Éloi yang sebenarnya."
"Saya harus membongkar ini. Tapi saya terkunci di Versailles," kata Amélie, frustrasi.
"Tidak sepenuhnya. Sekarang kau Duchess Valois. Kau punya jaringan. Dan kau punya kunci perak dariku."
Céleste meraih liontin bunga iris yang Amélie pakai.
"Ada seorang pria di Versailles. Namanya Henri de Montaigne. Dia adalah Kapten Pasukan Khusus Valois. Dia adalah teman lama Gautier, tapi dia juga sangat setia pada mendiang Raja Tua dan adil. Dia tidak menyukai intrik Gautier dan Éloi. Dia adalah tangan di dalam kegelapan. Dia bisa membantumu," kata Céleste.
"Bagaimana cara saya menghubunginya?"
"Berikan ini," Céleste mengeluarkan cincin perak kecil yang terukir dengan simbol burung merpati. "Jika kau butuh bantuan, selipkan ini ke saku jubahnya saat kalian bertemu di acara publik. Dia akan tahu itu dari jaringanku dan dia akan menghubungimu. Tapi hati-hati, Amélie. Henri adalah pria yang berbahaya. Jangan mempercayainya, tetapi gunakan dia."
Amélie menyimpan cincin itu. Dia kini memiliki target baru. Kapten Henri de Montaigne.
...*****...
Amélie kembali ke Versailles sebelum fajar, tubuhnya lelah tetapi pikirannya berputar cepat. Dia adalah Duchess, istri, penyelidik dan sekarang, konspirator.
Amélie tidak tahu, perjalanannya ke Paris telah meninggalkan jejak. Gautier, yang selalu mencurigai gerak-gerik Amélie, menemukan bahwa kereta kudanya telah disiapkan pada malam yang sama ketika Amélie menghilang.
Dua hari kemudian, Gautier kembali. Ia tampak marah.
"Kau pergi lagi," katanya, memasuki ruang kerjanya yang terhubung ke kamar Amélie.
"Saya pergi ke biara," balas Amélie, menjaga ketenangan. "Saya berkonsultasi tentang bagaimana menghadapi nasib baru saya."
"Jangan berbohong, Amélie," desis Gautier. "Aku tahu kau meninggalkan Versailles. Dan aku tahu kau pergi ke Paris. Apa yang kau cari di sana?"
Amélie menatapnya, memutuskan untuk setengah jujur. "Saya mencari ketenangan, Pangeran. Dan saya menemukan kekasih Anda. Dia cantik. Dan dia sangat mencintai Anda. Saya juga mendengar janji Anda padanya, bahwa pernikahan ini hanya sementara. Itu meyakinkan. Jadi, tidak ada yang perlu Anda khawatirkan."
Gautier terdiam. Ia tidak menyangka Amélie akan begitu blak-blakan.
"Kalau begitu, biarkan itu menjadi pengingatmu. Jaga jarak kita," katanya, suaranya lebih tenang, tetapi penuh ancaman.
"Saya menghormati jarak itu," balas Amélie. "Saya hanya memanfaatkan waktu luang saya. Selama Anda menepati janji untuk hidup terpisah, saya akan menepati janji untuk menjadi permaisuri yang sempurna."
Saat itu, Dubois mengetuk pintu. "Yang Mulia, ada tamu yang tidak terduga. Nona Seraphine."
Gautier dan Amélie terkejut.
"Apa?!" desis Gautier, wajahnya memucat. "Bagaimana dia bisa—"
Seraphine masuk ke ruangan itu, dipimpin oleh seorang pelayan yang bingung. Dia mengenakan pakaian jalan yang mewah, tetapi jelas gelisah. Dia tidak melihat Amélie, matanya hanya tertuju pada Gautier.
"Aku minta maaf, Gautier," katanya, suaranya putus asa. "Aku harus datang. Isabelle de Sévigny mencariku. Dia mengirim orang suruhan ke teaterku. Dia tahu tentang kita. Dia mengancam akan membocorkannya kepada Raja Tua jika kau tidak menikahinya dan menceraikan istrimu."
Gautier mengutuk dengan suara rendah, dalam bahasa Latin yang fasih. "Sialan! Isabelle."
Gautier dengan cepat menoleh ke Amélie. "Amélie, kau harus—"
"Tidak perlu, Pangeran," potong Amélie, mengambil langkah maju. Dia tersenyum, senyum Duchess yang menenangkan. "Selamat datang di Valois, Nona Seraphine. Suami saya sudah menceritakan banyak hal tentang Anda. Senang akhirnya bertemu dengan wanita yang bertanggung jawab atas semua lagu indah di opera."
Amélie berjalan ke Seraphine, mengambil tangannya yang gemetar.
"Saya mengerti Anda ketakutan. Versailles adalah tempat yang kejam," kata Amélie. "Namun, jangan khawatir. Isabelle tidak akan pernah menyerang di kastil Valois. Saya adalah Duchess di sini. Anda aman. Dubois, siapkan kamar di sayap timur. Nona Seraphine adalah tamu pribadi Pangeran Gautier."
Gautier menatap Amélie, matanya penuh kebingungan, amarah dan sedikit rasa ingin tahu.
Amélie mendekat ke Gautier dan berbisik, hanya cukup keras agar Seraphine tidak mendengarnya.
"Saya melindunginya, Pangeran. Melindunginya dari Isabelle. Dan melindunginya dari gosip istana. Dia akan aman di sini. Di bawah perlindungan Duchess yang sah. Anda berutang pada saya."
Gautier mengangguk, terpaksa. "Aku berutang padamu."
Amélie tahu, membawa Seraphine ke dalam kastil adalah risiko besar, tetapi itu juga memberinya kartu truf tak ternilai harganya, ia sekarang mengendalikan kelemahan terbesar Gautier.
...*****...