NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir

Senyum tipis yang mengerikan itu adalah sebuah deklarasi perang tanpa suara. Di permukaan kaca lift yang dingin, Raras melihat pengakuan di mata Bayu, sebuah pemahaman mutlak yang menembus penyamarannya yang paling rapuh. Ia ketahuan. Predator itu tahu ada penyusup di wilayahnya.

Darah serasa surut dari wajah Raras, meninggalkan sensasi dingin dan kebas. Ia memaksakan tubuhnya untuk tidak gemetar, tangannya mencengkeram kain lap basah seolah itu adalah satu-satunya jangkar di dunia yang tiba-tiba miring. Ia tidak boleh lari. Ia tidak boleh menunjukkan rasa takut. Ia adalah Rara, si office girl yang lugu.

Bayu tidak lagi menatap pantulan itu. Ia berbalik perlahan, langkahnya yang mantap dan tak bersuara kini mengarah lurus kepadanya. Setiap langkahnya memakan jarak di koridor yang sunyi, suaranya seolah ditelan oleh karpet tebal. Ia berhenti tepat di depan Raras, menjulang tinggi, bayangannya menelan Raras dalam kegelapan. Aroma koloninya yang tajam dan maskulin terasa menusuk hidung.

“Sudah selesai bersih-bersihnya?” tanyanya, suaranya tenang dan ramah, kontras yang mengerikan dengan sorot matanya yang sedingin es.

“Se-sedikit lagi, Pak,” jawab Raras, menundukkan kepala, memfokuskan pandangannya pada ujung sepatu kulit Bayu yang mengilap.

“Bagus.” Bayu diam sejenak, membiarkan keheningan meregang hingga nyaris putus.

“Kamu harus teliti, ya. Di perusahaan ini, banyak sudut-sudut tersembunyi. Kadang, kotoran yang paling berbahaya justru ada di tempat yang paling tidak terduga.”

Ancaman itu begitu jelas, terbungkus dalam nasihat seorang atasan kepada bawahan. Raras merasakan bulu kuduknya meremang.

“Baik, Pak. Akan saya pastikan semuanya bersih,” bisiknya.

“Saya yakin kamu akan melakukannya.” Bayu menepuk bahunya pelan, sentuhan yang terasa seperti sengatan listrik.

“Kamu punya mata yang jeli. Jarang ada office girl yang punya pengamatan setajam itu.”

Setelah menjatuhkan bom terakhirnya, ia berbalik dan berjalan pergi dengan tenang, seolah percakapan itu tidak pernah lebih dari sekadar basa-basi. Raras tetap membeku di tempatnya selama beberapa detik, napasnya tertahan di dada. Permainan kucing dan tikus telah dimulai, dan ia baru saja menyadari bahwa ia bukan lagi kucingnya.

***

Sisa hari itu Raras lalui dalam kewaspadaan tingkat tinggi. Setiap derap langkah di koridor membuatnya tegang, setiap tatapan dari karyawan lain terasa seperti interogasi. Ia menyelesaikan tugasnya dengan efisiensi mekanis, otaknya terus berputar, menganalisis ulang setiap kemungkinan. Bayu tidak akan membongkarnya sekarang. Itu terlalu gegabah. Pria itu akan mengamatinya, menunggu saat yang tepat untuk menjadikannya pion dalam permainannya yang lebih besar.

Menjelang sore, ia ditugaskan untuk membersihkan ruang rapat utama di lantai dua puluh lima, tempat dewan direksi baru saja menyelesaikan pertemuan maraton yang tampaknya sangat alot. Aroma kopi basi, kertas, dan ketegangan masih menggantung pekat di udara. Cangkir-cangkir porselen berlogo ‘CG’ tergeletak di atas meja mahoni yang panjang, beberapa masih terisi setengah. Papan tulis digital masih menampilkan sisa-sisa grafik yang rumit.

Raras bekerja dengan cepat, mengumpulkan cangkir, mengelap meja, dan merapikan kursi. Tugas terakhirnya adalah mengosongkan keranjang-keranjang sampah yang diletakkan di setiap sudut ruangan. Saat ia mengangkat kantong plastik dari keranjang di bawah meja utama, tempat Radya biasa duduk, ia merasakan ada gumpalan kertas yang lebih berat dari biasanya.

Rasa penasaran mengalahkan kehati-hatiannya. Di pantry OB yang sepi, sebelum membuang semuanya ke tempat sampah besar, ia mengeluarkan gumpalan itu. Itu adalah beberapa lembar kertas A4 yang diremas dengan kasar, seolah dalam luapan frustrasi. Raras membukanya perlahan.

Itu adalah draf proposal. Di bagian atas tertera kop surat resmi Cokrodinoto Group dengan stempel “DRAF SANGAT RAHASIA”. Judulnya: “Proposal Final Akuisisi dan Pengembangan Jalur Logistik Terpadu Koridor Sumatra.”

Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang. Ini adalah proyek raksasa yang sering ia dengar selintas dalam percakapan para manajer. Proyek yang akan menentukan nasib perusahaan untuk lima tahun ke depan. Mengapa draf sepenting ini dibuang begitu saja?

Ia mulai membaca. Halaman pertama berisi ringkasan eksekutif, lalu analisis pasar, proyeksi keuangan, strategi implementasi. Semua ditulis dengan bahasa bisnis yang padat dan meyakinkan. Otaknya yang terbiasa melahap informasi dengan cepat langsung menyerap setiap detail. Ia bahkan mengenali beberapa data dari buku-buku catatan bisnis yang ia temukan di perpustakaan Eyang.

Lalu, di halaman terakhir, di bagian lampiran rincian anggaran, matanya terpaku pada satu baris. “Biaya Asuransi Kargo dan Fluktuasi Nilai Tukar (USD ke IDR)—Estimasi 5% dari Total Nilai Proyek.”

Raras mengerutkan kening. Sesuatu terasa salah. Ia membalik kembali ke halaman proyeksi keuangan di depan. Di sana, total nilai proyek tertera dalam angka yang sangat besar. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kalkulator, dan mulai menghitung dengan cepat.

Lima persen. Angka yang muncul di layarnya jauh lebih kecil dari angka yang tercantum di lampiran anggaran. Seseorang telah melakukan kesalahan ketik yang fatal. Bukan, ini bukan salah ketik biasa. Titik desimalnya bergeser. Seharusnya tertulis 0.5%, bukan 5%.

Kesalahan sepele itu, satu titik desimal telah menggelembungkan anggaran biaya hingga triliunan rupiah. Jika proposal ini dikirimkan, investor akan lari tunggang langgang, menganggap Cokrodinoto Group tidak kompeten atau lebih buruk lagi, mencoba melakukan mark-up gila-gilaan. Proyek ini akan hancur bahkan sebelum dimulai. Reputasi Radya akan tamat.

Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia melihat jam di dinding pantry. Pukul empat sore. Ia ingat mendengar asisten Radya, Mbak Sinta, berkata bahwa proposal final harus sudah dikirim melalui surel kepada konsorsium investor sebelum pukul lima.

Apa yang harus ia lakukan?

Berlari ke ruangan Radya dan menyerahkan kertas lecek ini? Pria itu akan menatapnya dengan jijik dan menyuruh keamanan mengusirnya. Memberitahu Bayu? Itu sama saja dengan menyerahkan lehernya untuk dipenggal. Ia sendirian.

Ia harus berpikir. Cerdik. Tidak terlihat.

Otaknya memutar ulang denah lantai direksi. Ruangan Radya ada di ujung. Di sebelahnya adalah ruangan asisten pribadinya, Sinta. Di seberang lorong adalah kubikel Sarah, asisten kepala divisi perencanaan, wanita yang selalu terlihat stres dan kewalahan. Sarah. Itu kuncinya.

Raras merapikan kembali lembaran proposal itu, melipatnya dengan hati-hati, lalu bergegas keluar dari pantry. Ia berjalan dengan langkah cepat namun tidak terburu-buru menuju area kubikel divisi perencanaan. Dari kejauhan, ia melihat Sarah sedang berbicara di telepon dengan nada panik, satu tangannya memijat pelipisnya. Sempurna.

Raras mendekati meja Sarah, pura-pura hendak mengambil cangkir kotor di meja sebelahnya yang kosong. Ia menunggu hingga Sarah menutup telepon dengan helaan napas panjang.

“Permisi, Mbak Sarah,” panggil Raras dengan suara pelan dan sedikit ragu.

Sarah mengangkat kepalanya, matanya yang lelah menatap Raras tanpa minat.

“Ya? Ada apa?”

“Maaf mengganggu, Mbak. Tadi… waktu saya bersihkan ruang rapat, saya nemu ini di lantai, di dekat keranjang sampah. Saya nggak berani buang, kelihatannya penting,” kata Raras sambil menyodorkan kertas proposal yang sudah ia lipat rapi. Ia sengaja tidak mengatakan menemukannya di dalam keranjang sampah.

Sarah mengambil kertas itu dengan kening berkerut. “Proposal Sumatra? Bukannya ini sudah final? Draf lama kali.”

“Mungkin, Mbak. Tapi tadi saya lihat sekilas di halaman terakhir, kok, ada angka yang dilingkari pakai pulpen merah, ya? Saya kira mungkin ada revisi yang kelewat,” tambah Raras, sebuah kebohongan kecil yang brilian. Tidak ada lingkaran merah di sana, tapi itu akan memaksa Sarah untuk memeriksa halaman terakhir.

Rasa penasaran mengalahkan rasa lelah Sarah. Ia membuka lipatan kertas itu, langsung menuju halaman terakhir seperti yang disarankan Raras. Matanya menyapu deretan angka. Awalnya biasa saja. Lalu, matanya membelalak. Ia meraih kalkulator di mejanya, jari-jarinya menekan tombol dengan panik. Wajahnya berubah pucat pasi.

“Ya Tuhan…” desisnya, suaranya bergetar. Ia menatap Raras dengan tatapan antara ngeri dan berterima kasih.

“Kamu… kamu nemu ini di mana tadi?”

“Di lantai, Mbak. Dekat kaki meja utama,” ulang Raras dengan wajah sepolos mungkin.

Sarah tidak bertanya lagi. Ia melesat dari kursinya, membawa kertas itu, dan berlari kecil menuju ruangan Sinta, asisten Radya. Raras bisa mendengar suara mereka yang panik dari kejauhan.

“Sin! Cek proposal yang mau kamu kirim! Cepat! Anggaran asuransinya salah! Salah besar!”

Raras tidak menunggu untuk melihat kelanjutannya. Ia segera mengambil beberapa cangkir kotor dan berjalan kembali ke pantry, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Ia telah melempar batu ke dalam kolam. Sekarang ia hanya bisa berharap riaknya akan menyelamatkan kapal yang hampir karam itu.

***

Radya membanting gagang telepon ke tempatnya dengan kasar, lalu menyandarkan punggungnya di kursi kulitnya yang mewah. Napasnya terengah, seolah ia baru saja lari maraton. Di seberang sana, Dirga, kepala divisi perencanaannya, baru saja selesai menjelaskan bagaimana mereka nyaris mengirimkan proposal yang akan menghancurkan perusahaan. Sebuah kesalahan titik desimal. Kecerobohan yang memalukan dan tidak bisa dimaafkan.

“Hampir saja, Pak. Untung Mbak Sarah menyadarinya dua menit sebelum surelnya terkirim,” kata Dirga di ujung telepon tadi.

Radya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Ia sudah terlalu banyak bekerja. Timnya juga. Tapi kesalahan seperti ini tidak bisa ditoleransi. Ia menekan tombol interkom di mejanya, menghubungkannya langsung ke kubikel Sarah.

“Sarah,” sapanya, suaranya tajam dan dingin.

“I-iya, Pak Radya?” terdengar suara gugup dari seberang.

“Bagaimana bisa kamu menemukan kesalahan itu di menit-menit terakhir?” tanyanya langsung ke inti masalah.

Terdengar jeda sejenak. Radya bisa membayangkan wanita itu menelan ludah.

“Anu, Pak… Tadi… draf kasarnya tercecer. Ditemukan sama… sama anak OB yang baru, Pak.”

Radya mengerutkan kening. “OB? Maksudmu Office Girl?”

“Iya, Pak. Dia yang kasih drafnya ke saya. Katanya dia lihat ada yang aneh di halaman belakang.”

Radya terdiam. Logikanya menolak kemungkinan itu. Seorang petugas kebersihan menemukan kesalahan fatal yang dilewatkan oleh seluruh tim perencananya yang bergaji ratusan juta? Ini terdengar seperti lelucon. Atau sebuah kebetulan yang sangat, sangat aneh.

“Siapa namanya?” tanya Radya, nadanya masih penuh selidik.

“Rara, Pak. Namanya Rara.”

Rara. Nama itu terasa familier sekaligus asing di telinganya. Seperti gema dari mimpi yang terlupakan. Rasa curiga yang dingin mulai merayap di benaknya, mengalahkan rasa leganya.

“Suruh dia menghadap saya,” perintahnya datar.

“Sekarang, Pak?”

“Sekarang.”

Radya menutup jalur interkom. Ia menatap kosong ke arah pintu kantornya, otaknya berputar cepat. Rara. Penyelamat misterius. Ia tidak percaya pada kebetulan. Tidak di dalam bisnisnya. Tidak di dalam hidupnya.

Ia mengangkat gagang telepon lagi, menekan nomor ekstensi asisten pribadinya.

“Sinta,” ucapnya, suaranya kini tanpa emosi, dingin seperti baja.

“Ada office girl baru bernama Rara. Sebentar lagi dia akan naik ke lantai ini.”

“Baik, Pak. Saya suruh langsung masuk ke ruangan Bapak?”

“Jangan,” potong Radya cepat.

“Tahan dia di luar ruanganmu. Jangan biarkan dia masuk sampai aku menyuruhmu.”

“Baik, Pak. Ada lagi?”

Radya mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit menatap layar monitor keamanan di sudut mejanya.

“Tarik semua rekaman CCTV dari lobi utama dan seluruh koridor lantai dua empat selama tiga hari terakhir. Aku mau setiap detik pergerakan perempuan bernama Rara itu. Fokus pada semua interaksinya. Letakkan hasilnya di tabletku. Aku beri kamu waktu lima belas menit. Kerjakan sekarang.”

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!