"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
Di sepanjang perjalanan menuju perusahaan Sonia terus kepikiran dengan sikap Tomi. Setelah apa yang terjadi diantara mereka semalam, pria itu justru bersikap seolah tidak terjadi apapun. Sikap Tomi memang tidak dingin terhadapnya, namun di dalam hati tentunya Sonia berharap Tomi bisa bersikap sedikit lebih hangat dari sebelumnya, mengingat semalam mereka telah melewati malam pertama. Saking tidak fokus, beberapa kali mobil yang dikemudikan oleh Sonia nyaris menyerempet pengendara yang lain, jika tidak dengan cepat wanita itu menguasai diri.
Sonia memutuskan menepikan mobilnya sejenak di tepi jalanan yang tak terlalu ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang.
"Tenanglah, Sonia! Semua pasti akan baik-baik saja!." Sonia menghela napas panjang dan menghembusnya perlahan, sebelum sesaat kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju perusahaan. Ya, Sama seperti hari kemarin, pagi ini Sonia kembali mengemudikan mobil sendiri untuk berangkat kerja. Tadi, Sonia memutuskan segera berangkat ke kantor saat Tomi masih berada di kamar mandi.
Tanpa diketahui oleh Sonia, rupanya kini Tomi sedang mencari keberadaannya setelah selesai bersiap hendak berangkat kerja. Karena tidak menemukan keberadaan mobil Sonia di garasi, Tomi memutuskan menghubungi asisten Azam yang pastinya kini telah berada di perusahaan.
"Apa istriku sudah tiba di kantor?." Baru saja panggilannya tersambung, Tomi langsung melontarkan pertanyaan yang sedikit mengejutkan asisten Azam. Pasalnya, baru kali ini asisten Azam mendengar tuannya itu memanggil istrinya dengan sebutan istriku. Asisten Azam yang nampak standby menunggu Tomi di depan pintu utama gedung perusahaan Andrean Group lantas menjawab.
"Kebetulan mobil nona Sonia baru saja tiba di perusahaan, tuan." Jawab Asisten Azam. Pria itu kembali mengeryit bingung saat Tomi tiba-tiba memutuskan sambungan telepon begitu saja setelah mendapat jawaban dari pertanyaannya.
"Tumben anda membuang waktu demi menanyakan hal tentang istri anda, tuan." Batin Asisten Azam sambil menatap layar ponselnya yang kini telah berubah menghitam setelah panggilan terputus. Meski bingung dengan sikap Tomi pagi ini, akan tetapi Asisten Azam ikut senang jika kenyataannya hubungan antara tuannya tersebut dan sang istri semakin membaik.
Menyaksikan Sonia berjalan semakin mendekat ke arah pintu utama gedung, Asisten Azam lantas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya lalu menyapa Sonia.
"Selamat pagi, Nona Sonia." Sapa Asisten Azam, dan diikuti oleh kedua petugas keamanan yang bertugas jaga di depan pintu utama gedung. "Selamat pagi, Nona Sonia.
"Selamat pagi, semua." Seperti biasa, sekalipun saat ini suasana hatinya sedang kurang baik, Sonia tetap menyematkan senyum ramahnya. Sonia memasuki pintu utama gedung kemudian berlalu melintasi lobby hendak menuju ke arah lift yang akan mengantarkannya ke lantai enam.
"Selamat Pagi, Sonia." Setibanya di lantai atas kedatangan Sonia di sambut oleh salah seorang rekan kerja yang kebetulan juga sangat akrab dengannya. Mungkin karena Desi juga bertugas di lantai yang sama dengannya, sehingga Sonia lebih sering berinteraksi dengan wanita itu dan terjalin lah persahabatan diantara mereka sejak setahun yang lalu.
"Pagi, Bu Desi." Balas Sonia.
"Are you okey?." Pertanyaan itu dilontarkan Desi saat menyadari wajah Sonia terlihat sedikit pucat meskipun telah menggunakan make-up tipis di wajah cantiknya.
"Aku baik-baik saja." Meskipun faktanya ia memang kurang fit karena kurang tidur semalam, Sonia tetap menampilkan senyum senatural mungkin agar terlihat baik-baik saja dihadapan sahabatnya itu.
"Syukurlah kalau begitu, tadinya aku pikir kamu lagi kurang enak badan, Sonia." Desi lega mendengar Sonia baik-baik saja, tidak seperti dugaannya.
Detik selanjutnya, Sonia pamit ke meja kerjanya dan Desi pun melanjutkan langkahnya menuju pantry untuk meminta OB menyiapkan meeting room, mengingat pukul sepuluh nanti akan ada meeting penting bersama beberapa kepala divisi serta model baru Andrean Group.
Kurang lebih dua puluh menit setelah kedatangan Sonia di kantor, mobil milik Tomi terlihat memasuki area pelataran gedung perusahaan. Menyaksikan kedatangan tuannya, asisten Azam sontak saja beranjak, menghampiri mobil Tomi.
"Selamat pagi, tuan."
"Selamat pagi."
"Kontrak kerjasama kita dengan model terbaru Andrean Group sudah mulai berjalan hari ini dan rencananya pukul sepuluh nanti akan diadakan meeting bersama dengan beliau." Asisten Azam melaporkan.
Tomi mengangguk paham. Tomi dan asisten Azam terlihat memasuki gedung, melintas di area lobby hendak menuju ke arah lift khusus petinggi perusahaan, yang akan mengantarkan mereka ke lantai di mana ruangan Tomi berada.
"Selamat pagi, tuan." Menyadari kedatangan Tomi, Sonia lantas berdiri dari duduknya, menundukkan kepala sebagai pertanda hormat pada bosnya itu.
Tomi melirik sejenak pada Sonia. " Selamat pagi." balas Tomi.
Sonia kembali menempati kursinya setelah menyaksikan Tomi memasuki ruangannya, dengan didampingi oleh asisten pribadinya.
"Apa kejadian di antara kami semalam tidak ada artinya bagi mas Tomi? Ataukah aku yang tidak berarti apa-apa di mata mas Tomi?." Batin Sonia seraya memandang ke arah pintu ruangan Tomi yang telah tertutup dengan sempurna.
Tepat pukul sepuluh pagi.
Sebagai sekretaris Tomi tentunya Sonia diminta ikut bersama bosnya tersebut ke ruang meeting, begitu pula dengan asisten Azam.
Setibanya di ruang meeting, Tomi menempati kursi yang telah disediakan untuknya, sedangkan Sonia menempati kursi yang berada tepat disebelah kanan Tomi. Sementara asisten Azam nampak berdiri tegap beberapa langkah di belakang kursi Tomi. Pria itu selalu siaga di sisi tuannya.
Sembari menunggu kedatangan model terbaru Andrean Group, Tomi memilih membuka map yang berisi kontrak kerjasama yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Tomi mengeryit menyaksikan nama model yang tercantum pada kontrak kerjasama mereka.
"Pricillia Marda." Gumam Tomi.
"Selamat pagi, maaf saya sedikit terlambat, tuan Tomi Andrean." Suara sapaan tersebut sontak mengalihkan perhatian Tomi ke sumber suara.
Deg
Sejenak Tomi terpaku menyaksikan kedatangan seseorang yang kini berdiri di ambang pintu sambil tersenyum kepadanya.
Bukan hanya Tomi yang terkejut dengan keberadaan wanita itu namun beberapa pegawai yang sudah bekerja lebih dari lima tahun di perusahaan Andrean Group pun ikut terkejut menyaksikan keberadaan wanita bertubuh langsing serta berambut pirang tersebut.
Asisten Azam yang masih berdiri pada posisinya, dibuat bingung dengan perubahan pada ekspresi wajah tuannya. Sedangkan Sonia, wanita itu masih terlihat diam di tempat duduknya, tak paham dengan situasi yang terjadi saat ini.
Tomi bangkit dari duduknya.
"Azam, ikut denganku!." Tomi berlalu meninggalkan ruang meeting, melewati tubuh wanita itu begitu saja.
"Baik, tuan." Asisten Azam menyusul Tomi, setelah mempersilahkan wanita bernama Pricilia Marda tersebut menempati kursi yang telah disediakan untuknya di ruangan itu. Mengingat Tomi sama sekali tidak menyebut namanya, maka Sonia memilih tetap berada di tempat duduknya, tidak ikut bersama dengan asisten Azam.
Sepuluh menit kemudian, asisten Azam kembali dan meminta wanita itu untuk ikut bersamanya ke ruangan bosnya.
"Bagaimana mungkin wanita itu bisa berada gedung ini, setelah apa yang dilakukannya pada tuan Tomi?."
"Rupanya nyalinya besar juga."
"Bukan nyalinya yang besar, tapi sepertinya wanita itu memang sudah tidak punya malu."
Sepeninggal asisten Azam, para pegawai yang hadir di ruang meeting di pagi menjelang siang hari itu terdengar membahas sesuatu yang mampu membuat kedua alis mata Sonia mengeryit bingung mendengarnya.
"Nampaknya, besarnya rasa cinta tuan Tomi terhadapnya menyebabkan wanita itu berpikir tuan Tomi sanggup memaafkan semua kesalahannya dan bersedia menerimanya kembali, setelah meninggalkan tuan Tomi di hari pernikahan mereka lima tahun lalu." Desi yang geram melihat keberadaan mantan tunangan bosnya tersebut lantas ikut berkomentar.
Deg.
Jantung Sonia rasanya seperti dihantam batu besar saat mendengar fakta itu. Rupanya model cantik tersebut adalah wanita dari masa lalu suaminya.