NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Jejak yang tersembunyi

Malam merambat pelan di ruang ICU.

Lampu-lampu putih menggantung redup, memantulkan bayangan tipis di lantai yang dingin. Suara mesin berdetak teratur—monoton, menenangkan sekaligus melelahkan. Raina duduk di kursi kecil di samping ranjang pasien, punggungnya bersandar setengah sadar, mata berat namun tak pernah benar-benar terpejam.

Ia sudah terlalu lama terjaga.

Hampir seminggu penuh hidupnya berpindah antara warung, kosan, dan rumah sakit. Tubuhnya hafal rasa letih ini, tapi hatinya belum terbiasa dengan ketakutan yang diam-diam menggerogoti.

Di hadapannya, lelaki itu masih terbaring tak bergerak. Wajahnya pucat, rahangnya tegas meski terdiam, napasnya dibantu alat. Raina tidak tahu siapa dia. Tidak tahu namanya. Tidak tahu dari dunia seperti apa ia berasal.

Yang Raina tahu hanya satu: ia tidak tega meninggalkannya sendirian.

Jam dinding berdetak pelan. Satu menit terasa seperti sepuluh.

Raina mengusap wajahnya, lalu berdiri pelan, berniat meregangkan tubuh. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang nyaris luput.

Ada perubahan.

Napas lelaki itu… berbeda.

Tidak sekaku sebelumnya. Lebih teratur. Dada yang naik-turun itu tampak berusaha menemukan ritmenya sendiri.

Raina mendekat, jantungnya berdegup lebih cepat.

“Mas…” bisiknya tanpa sadar, suaranya nyaris tak terdengar.

Jari lelaki itu bergerak.

Sangat kecil. Sangat samar. Tapi nyata.

Raina terpaku beberapa detik, antara takut dan berharap. Lalu kelopak mata itu—yang selama ini tertutup—bergerak pelan. Terbuka setipis garis cahaya.

Raina menahan napas.

“Dokter!”

Suaranya bergetar saat ia menekan tombol panggil, tangannya gemetar. Ia tidak berani menyentuh, hanya berdiri terlalu dekat, seolah takut jika jarak sedikit saja bisa membuat momen itu menghilang.

Langkah kaki cepat terdengar. Perawat dan dokter masuk, sigap namun tenang. Raina mundur setapak, memberi ruang, matanya tak lepas dari ranjang itu.

“Pasien menunjukkan respon kesadaran,” ucap salah satu perawat.

Dokter memeriksa dengan cermat, lampu kecil diarahkan ke mata pasien, instruksi singkat terlontar. Semuanya terjadi cepat, terukur.

Raina berdiri memeluk dirinya sendiri.

Lega.

Takut.

Dan entah kenapa… ingin menangis.

“Kesadarannya mulai kembali,” ujar dokter akhirnya. “Masih sangat lemah, tapi ini tanda baik.”

Raina mengangguk berulang kali, seolah takut kata-kata itu akan hilang jika tidak segera ia simpan dalam tubuhnya.

Setelah semuanya kembali tenang, ruangan itu lagi-lagi sunyi. Mesin tetap berdetak. Lampu tetap sama. Tapi sesuatu telah berubah.

Lelaki itu… hidup.

Raina kembali duduk. Ia tidak mencoba berbicara. Tidak bertanya. Ia hanya memastikan napas itu tetap ada.

Di lorong ICU yang sepi, Daniel berdiri tanpa menarik perhatian.

Ia datang setelah Julian koma—namun sejak itu, hampir semua keputusan penting terjadi di bawah pengamatannya.

Setelan jasnya rapi, wajahnya tenang, sorot matanya tajam mengamati setiap detail. Ia tidak masuk ke ruangan. Tidak mendekat. Tidak mencuri perhatian.

Ia melihat perempuan itu—Raina—dari kejauhan. Gadis yang berjaga tanpa tahu siapa yang ia jaga. Tidak meminta apa-apa. Tidak tahu bahwa ada sistem besar yang diam-diam bekerja di belakangnya.

Ia mengangguk kecil pada dokter yang baru keluar.

“Pantau terus,” ucapnya singkat.

Tidak ada drama. Tidak ada rasa haru.

Hanya tugas.

Jejaknya rapi. Sunyi. Nyaris tak terlihat.

Ada satu hal yang bahkan ia sendiri tidak perlihatkan—kelegaan tipis yang melonggarkan napasnya sesaat. Bukan sebagai asisten. Bukan sebagai tangan kanan.

Melainkan sebagai seseorang yang nyaris kehilangan sahabatnya.

Menjelang dini hari, tubuh Raina akhirnya menyerah.

Lelaki itu masih terbaring lemah, tapi stabil. Napasnya terjaga. Kesadarannya sudah kembali, meski belum sepenuhnya hadir.

Raina berdiri lama di sisi ranjang.

Ia menatap wajah itu sekali lagi.

“Setidaknya… kamu sudah sadar,” bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban.

Raina meraih tasnya. Ia memutuskan pulang.

Bukan karena disuruh.

Bukan karena diizinkan.

Tapi karena ia percaya—malam paling gelap sudah dilewati.

Dengan langkah pelan, Raina meninggalkan ruang ICU, membawa kelelahan dan sedikit kelegaan di dadanya.

Ia tidak tahu bahwa ketika ia pergi…

Seseorang tetap tinggal.

Menjaga.

Dalam diam.

Dan begitulah, di antara yang terlihat dan yang tersembunyi, takdir Julian Jae Hartmann mulai bergerak perlahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!