Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL MULAI TIRAKAT
Singkat cerita, beberapa hari setelah kejadian pagi itu di mana Bu Inah memberikan bunga kantil tersebut, aku seperti biasa lagi. Menjalani aktifitas sehari-hari dengan lancar. Bahkan aku tak mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Keanehan Bu Inah yang tiba-tiba memberikanku bunga kantil dari seorang kakek-kakek di pasar, dan juga kejadian aku yang makan bunga kantil itu dengan mudahnya.
Yang terus dipikirkan olehku justru mimpi bertemu dengan almarhum kakek juga pesannya untuk menjalankan tirakat itu. Tapi di sini aku masih belum berani menceritakan mimpi itu ke Bapak.
Sampai di satu malam, aku seperti biasa menemani Bapak menikmati secangkir kopi di teras rumah. Bapak mengatakan sesuatu yang akhirnya membuatku bercerita tentang mimpi itu.
"Nisa, Bapak kemarin malam mimpi ketemu sama ibu." sambil menghembuskan asap rokok kretek dari mulutnya.
"Ibu bilang kalo kamu udah waktunya buat tirakat puasa mutih." lanjut Bapak menceritakan pertemuannya dengan ibu dalam mimpinya.
"Iya kah Pak? Ibu bilang begitu?" tanyaku.
"Iya... Menurutmu gimana?" bapak balik bertanya padaku.
Aku diam sejenak, sambil berpikir tentang tirakat itu. Aku sebenarnya semakin yakin, karena beberapa hari ini juga aku banyak bertanya kepada beberapa orang tentang puasa mutih, seperti ke Ustadz Furqon, Bu Fatimah, juga beberapa temanku yang punya pemahaman tentang itu. Ditambah lagi dengan mimpiku yang bertemu dengan almarhum kakek waktu itu.
"Ya udah Pak, kalau emang itu takdirku, kalau emang itu tugasku, aku siap Pak." jawabku dengan mantap sambil menatap Bapak.
Bapak pun menatapku dengan senyuman, kemudian ia menghisap lagi rokoknya, sambil menyeruput kopinya. Dan Bapak bilang, "Kalau kamu udah mantap, sekarang bapak mau tanya dulu... Apa niatmu mau jalankan tirakat puasa mutih?"
Aku menatap ke arah halaman rumah yang disinari lampu berwarna kuning, diam sejenak, lalu menjawab, "Niatku tulus Pak, mau melanjutkan tirakat yang emang udah diamanatkan sama almarhum kakek, dan juga perintah almarhumah ibu dalam mimpi bapak. Lagian juga, aku udah banyak tanya sama Ustadz Furqon tentang tirakat puasa mutih itu. Dan beliau juga menjelaskan, boleh dilaksanakan selama niatnya untuk ibadah."
"Hmm... Berarti batinmu udah beneran siap?" tanya bapak sekali lagi.
"Iya Pak, Nisa siap." jawabanku semakin mantap.
"Ya udah, emang semuanya udah diatur sama Yang Maha Kuasa, kebetulan kan dua hari lagi itu hari kelahiranmu. Sabtu Wage wetonmu. Kamu bisa mulai tirakat, nanti bapak siapkan apa aja yang dibutuhkan." jelas bapak.
"Loh, emang butuh apa Pak? Kan tinggal puasa aja..." balasku dengan polosnya.
"Ya gak gitu, tirakat puasa mutih itu ada aturannya. Gak sembarangan. Puasa mutih itu kan kamu udah tau kayak gimana, tapi buat mulai hari pertama ada aturannya." jawab bapak.
"Apa tuh Pak?" tanyaku lagi.
"Pertama, waktu sore sebelum maghrib, kamu harus mandi besar dulu. Airnya juga sebaiknya dicampur bunga tujuh rupa. Nanti Bapak siapkan. Kedua, kamu harus kirim do'a buat almarhumah Ibumu. Ya kayak tawasulan biasa aja." jelas bapak.
"Oh... Iya Pak." jawabku.
--------------------
Singkat waktu, tibalah hari kelahiranku, besok adalah hari Sabtu dengan weton pasaran Wage. Dan hari ini, sore di hari Jum'at ini, bapak sudah menyiapkan air campur kembang tujuh rupa, plus dengan kain jarik dua helai.
Bapak memintaku untuk melepas semua baju, dan hanya mengenakan kain jarik itu. Satu helai untuk menutupi bagian atas, dan satu helai lagi untuk menutupi bagian bawah.
Bapak memintaku untuk duduk di atas lantai kamar mandi, dengan posisi kaki seperti bersimpuh seperti posisi duduk di antara dua sujud sholat.
Dan bapak memintaku untuk membaca do'a, disusul bapak juga membaca do'a-do'a... Lalu menyiramkan air kembang tujuh rupa itu ke atas kepalaku...