Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pengkhianatan Terungkap dan Kekuatan Baru
Pukul 09:00 Pagi: Perang Terbuka
Beberapa jam setelah momen intim di penthouse, Natalie kembali ke kantornya. Panggilan telepon pribadi sudah diselesaikan, tetapi pekerjaan profesional segera mengambil alih. Ares telah meluncurkan serangan balasan yang terencana dengan sempurna terhadap Tuan Sastrawan.
Tugas Natalie: memastikan keruntuhan itu terlihat seperti kecelakaan pasar.
"Semua arus kas yang berkaitan dengan Grup Sastrawan yang dicurigai sebagai dana talangan untuk hutang judi Claudia harus dibekukan. Panggil pengacara keuangan jam 10, pastikan dokumen pembatalan aliansi disiapkan," perintah Ares, nadanya tenang seperti biasanya, seolah-olah dia sedang memesan kopi, bukan menghancurkan sebuah konglomerat.
"Ayah Claudia harus runtuh sebelum siang, Natalie. Buat dia terlihat seperti pengelola dana yang gagal, bukan pengkhianat," tegas Ares, duduk di mejanya, matanya terfokus pada beberapa monitor.
Natalie bekerja cepat. Rasa panas dari sentuhan dan ciuman Ares masih melekat, tetapi ia menyalurkannya menjadi energi yang tajam dan fokus. Ia tahu bahwa Ares membutuhkan efisiensi Natalie, bukan kegugupannya.
Dampak Publik dan Badai Media
Menjelang tengah hari, efek serangan Ares mulai terasa.
Natalie menerima serangkaian alert dari media keuangan. Saham Grup Sastrawan anjlok tajam. Kemudian, berita utama meledak:
"ALIANSI JATUH: Ares Batalkan Pertunangan dengan Claudia Sastrawan, Klaim Gagal Investasi!"
"KONGLOMERAT SASTRAWAN DITERPA SKANDAL: Dugaan Penyelewengan Dana Keluarga Terkait Hutang Rahasia!"
Publik hanya melihat gambaran luar: Ares yang kaya raya dan berhati-hati membatalkan aliansi karena Tuan Sastrawan dianggap tidak kompeten secara finansial. Tidak ada yang tahu bahwa alasannya adalah pengkhianatan dan perdagangan rahasia.
Saat badai media berlangsung, Claudia Sastrawan tiba.
Natalie tahu Claudia akan datang. Ada kemarahan yang berbeda di mata Claudia sekarang—kemarahan yang didorong oleh kehilangan status dan kehinaan publik.
Natalie menyambutnya di lobi penthouse.
"Nyonya Sastrawan, Tuan Ares sedang rapat darurat. Anda tidak bisa masuk," kata Natalie dengan tenang.
Claudia, mengenakan pakaian desainer tetapi dengan rambut acak-acakan dan mata merah, tampak seperti ratu yang baru saja kehilangan takhtanya.
"Minggir, Natalie. Atau siapapun nama palsumu itu. Aku tahu kau yang melakukannya! Kau yang membisikkan racun ke telinganya!" teriak Claudia, mencoba menerobos.
"Saya hanya melakukan tugas saya, Nyonya Sastrawan. Dan tugas saya saat ini adalah memastikan Anda tidak mengganggu Tuan Ares," jawab Natalie, berdiri tegak, menghalangi pintu.
Claudia menyeringai kejam. "Tugas? Atau layanan? Jangan pura-pura suci, jalang! Aku tahu kau sudah tidur dengannya! Aku lihat bagaimana dia memegangmu di pesta itu. Kau pikir itu cinta? Dia menggunakanmu, sama seperti dia menggunakan cincin dan berlianku untuk tujuannya!"
Natalie menatap Claudia. Kata-kata Claudia menyakitkan karena mengandung kebenaran. Ya, Ares menggunakan Natalie, tetapi dia juga melindunginya, dan yang paling penting, dia percaya padanya.
"Tuan Ares tidak pernah mencintai Anda. Dia hanya membeli warisan Anda. Dan Ayah Anda mencoba menjualnya dua kali," kata Natalie, suaranya pelan tapi menusuk. "Sekarang, aliansi itu selesai. Dan urusan kami juga selesai. Saya harus minta Anda pergi, Nyonya Sastrawan."
Claudia tertegun sesaat. Kebenaran yang dingin itu membuatnya membeku.
Tepat pada saat itu, pintu kantor Ares terbuka. Ares keluar, mengenakan kemeja yang baru diganti, rapi dan berkuasa.
"Ada apa, Natalie?" tanya Ares, nadanya tegas, tetapi matanya bertemu dengan Natalie sejenak, sebuah isyarat kepastian yang hanya mereka berdua yang pahami.
Claudia berbalik, wajahnya penuh air mata dan amarah. "Ares! Bagaimana kau tega?! Ayahku menghabiskan hidupnya membangun kerajaan ini! Kau menghancurkannya dalam semalam! Dan untuk wanita rendahan ini?!"
Ares berjalan ke Claudia. Ia tidak menunjukkan amarah, hanya kekecewaan yang mutlak.
"Ayahmu menandatangani kesepakatan denganku, Claudia. Kesepakatan itu adalah loyalitas. Dia melanggarnya. Aku mengambil kembali semua yang kuberikan. Termasuk janji pernikahanku," kata Ares.
Ia melirik Natalie. "Natalie adalah asetku. Loyal. Cerdas. Dan yang paling penting," Ares meraih tangan Natalie, memimpinnya maju sehingga Natalie berdiri di sisinya, "Dia tidak pernah berbohong padaku. Pergilah, Claudia. Urus sisa warisan Ayahmu. Pernikahan ini batal. Dan kau tidak punya tempat lagi di hidupku."
Claudia menjerit, air matanya membanjiri riasan mahalnya. Dia adalah pemenang yang berubah menjadi pecundang di mata dunia.
"Aku akan kembali, Ares! Aku tidak akan melupakanmu dan pelayan-mu!" ancam Claudia, sebelum berbalik dan melarikan diri, didampingi oleh keamanan.
Garis Baru Ditarik
Setelah Claudia pergi, keheningan menyelimuti penthouse. Natalie merasakan tangannya yang dipegang Ares, yang kini terasa seperti jangkar.
Ares melepaskan tangan Natalie, berbalik, dan berjalan ke jendela, menatap kota yang kini tunduk padanya.
"Misi berhasil. Ancaman internal sudah dieliminasi. Kerajaanku aman," kata Ares.
Natalie tahu ini adalah saatnya. Momen di mana mereka kembali ke batas profesional, atau melanggarnya sepenuhnya.
"Saya akan menyiapkan laporan keuangan untuk Anda tandatangani, Tuan," kata Natalie, kembali ke nada asistennya.
Ares tidak berbalik. "Tidak ada laporan, Natalie. Hanya aku dan kau sekarang."
"Tuan Ares," Natalie memulai.
"Kita sudah melewati garis itu, Natalie," potong Ares. "Di pesta, di dermaga, di kantor ini. Aku melihatmu sebagai sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih dari sekadar asisten. Kau melihatku tanpa topeng, dan kau masih tetap di sini."
Ares berbalik, matanya memancarkan ketertarikan yang tak terbantahkan dan rasa kepemilikan.
"Aku menginginkanmu, Natalie. Tidak hanya di kantor, tetapi di mana pun. Dan mulai sekarang, kita akan mendefinisikan ulang aturan main ini."
Ares tidak memberinya waktu untuk menjawab. Ia melangkah ke Natalie, mengambil wajahnya di antara kedua telapak tangannya.
"Kau adalah rahasia terbesarku. Dan aku tidak akan pernah berbagi rahasia itu dengan siapa pun. Termasuk dunia yang melihatmu sebagai mantan pelayan. Kau milikku," bisik Ares, sebelum menciumnya lagi.
Kali ini, ciuman itu lebih dalam dan lebih penuh gairah, sebuah janji bahwa ia tidak akan pernah melepaskannya.
Natalie membalas ciuman itu, menerima status barunya. Ia tidak lagi mencari kebebasan, ia telah menjadi Ratu di kerajaan bayangan yang dikuasai oleh pria yang penuh kekuasaan dan rahasia.