NovelToon NovelToon
1 JANUARY - Cinta Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

1 JANUARY - Cinta Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Sad ending / Menikah dengan Musuhku / Selingkuh
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: sea.night~

Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tenang

Mobil melaju pelan di jalan yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berpendar di kaca depan, membuat bayangan wajah Winda terlihat semakin pucat. Winda duduk diam, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Keheningan di antara mereka terasa tebal, tapi bukan kosong.

Beberapa detik berlalu sebelum Tristan bicara,

"Kamu melanggar keputusanku hari ini."

ucap Tristan tanpa mengalihkan pandangan nya sedikit pun dari jalanan di depan nya

"Iya, Pak," jawab Winda lirih.

"Tidak usah panggil saya 'Pak' kalau diluar jam kerja" perintah Tristan dingin.

Winda menoleh sedikit ke arah Trisan sebelum kembali menunduk.

"Iya, kak.."

"Kenapa?"

tanya Tristan singkat. Namun Winda hanya diam menatap kebawah. Membuat Tristan sedikit melirik ke arah Winda.

"Kenapa kau melanggar keputusan ku?"

ulang Tristan nada suaranya sedikit meninggi.

Winda tersadar dari lamunan nya dan spontan menjawab "Ah iya, pak. eh, Kak"

"Ada apa dengan mu, Winda. Kau tak ingin pulang kerumah lebih awal.. tidak seperti biasanya"

ucap Tristan perlahan, sesekali melirik ke arah Winda.

Pertanyaan itu singkat. Tidak menghakimi. Tapi cukup untuk membuat napas Winda tersangkut di tenggorokan.

Winda terdiam untuk beberapa detik.

"Ayah maksa aku nikah, Kak.. " ucap Winda akhirnya pelan.

"Keluarga pria datang kerumah hari ini," lanjut Winda pelan. Suaranya hampir tidak terdengar.

Tangan Tristan mengencang di setir. Ia tidak menoleh, tapi rahangnya menegang.

"Aku nggak mau," lanjut Winda cepat, seolah takut kalimat itu ditarik kembali. "Tapi ayah mau aku nurut."

Tristan menurunkan kecepatan mobil.

"Dan kamu memilih lembur supaya nggak pulang."

Winda mengangguk. "Aku nggak tahu harus ke mana lagi."

Tristan terdiam lama. Terlalu lama untuk sebuah jawaban basa-basi.

"Kamu sudah coba nolak?" tanyanya kemudian.

"Sudah, Kak" jawab Winda. "Tapi nggak ada yang mau dengar."

Lampu merah menyala. Mobil berhenti.

"Kamu tahu," ujar Tristan akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya, "menolak itu bukan hal yang salah."

Winda menatapnya sekilas, terkejut.

"Kamu bisa ke rumahku dulu," lanjut Tristan.

"Tapi aku cuma bisa mengantar. Aku harus kembali ke restoran. Sekitar jam sepuluh malam baru aku balik."

Ada jeda sejenak sebelum ia melanjutkan,

"Atau dirumah bunda.. bunda juga pernah bilang kangen sama kamu"

"Gak usah, Kak." Winda menolak dengan lembut. "Tapi.. boleh nggak.. eum.." ia ragu sejenak, "antar aku ke taman kota aja, Kak. aku mau disana aja"

Tristan tidak langsung menjawab.

Matanya menatap lurus ke depan, lalu sekilas ke jam di dashboard.

"Sudah malam," ucapnya akhirnya.

"Taman kota bukan tempat yang aman buat wanita sendirian."

Winda menunduk lebih dalam.

"Aku cuma mau sebentar aja kok, Kak"

"Tidak." balas Tristan tenang, tapi tegas.

"Apalagi dengan kondisi kamu sekarang."

Mobil kembali melaju. Suasana di dalamnya hening, hanya suara mesin yang menemani.

Winda mengepalkan jemarinya di atas pangkuan.

"Aku janji," ucapnya pelan, tapi jelas.

"Jam sembilan aku langsung pulang."

Tristan meliriknya singkat.

"Jam sembilan?"

"Iya, Kak" Winda mengangguk cepat.

"Aku nggak akan lama kok."

Tristan kembali diam.

Beberapa detik berlalu. Lampu jalan memantul di kaca depan.

"Oke, aku antar," ucapnya akhirnya.

"Tapi jam sembilan tepat, kamu pulang."

Winda menoleh cepat.

"Beneran?"

"Jangan bikin aku ulang dua kali," jawab Tristan dingin.

"Kalau jam sembilan kamu belum bergerak pulang, aku jemput sendiri."

Winda mengangguk cepat.

"Iya, Kak. Makasih…"

Tristan tidak menjawab.

Tapi tangannya sedikit mengendur di setir saat mobil berbelok ke arah taman kota.

Winda tersenyum lembut sebelum kembali melihat keluar jendela mobil.

Di sampingnya bukan hanya atasannya—melainkan sepupunya sendiri. Tristan.

Tidak banyak yang tahu, termasuk orang-orang di restoran itu, bahwa Tristan dan Winda terikat hubungan keluarga. Sepupu.

Mobil berhenti di pinggir taman kota.

Lampu-lampu taman berwarna kuning pucat berjajar rapi, memantulkan cahaya redup di atas paving yang sedikit lembap. Tidak ramai. Hanya beberapa bangku kosong dan pepohonan yang berdiri diam.

Tristan mematikan mesin.

"Kamu yakin?" tanyanya singkat.

Winda mengangguk.

"Iya, Kak. Makasih."

Winda membuka pintu.

"Jam sembilan,"ucap Tristan mengingatkan.

"Iya."

Pintu tertutup.

Mobil itu perlahan menjauh, menyisakan Winda seorang diri di bawah cahaya lampu taman.

Winda berdiri beberapa detik, menatap punggung mobil yang makin kecil hingga akhirnya menghilang di tikungan.

Baru setelah itu ia menarik napas panjang—napas yang sejak tadi terasa tertahan.

Ia melangkah masuk ke taman.

Sepi.

Angin malam berembus pelan, menggerakkan daun-daun kering di tanah. Sesekali terdengar suara jangkrik, samar tapi konstan.

Lampu taman memancarkan cahaya kuning hangat yang justru membuat sekeliling terasa lebih sunyi.

Winda duduk di salah satu bangku kayu.

Dingin menembus kain pakaiannya, tapi ia tidak bergeser.

Tangannya mencengkeram tas di pangkuan.

Matanya menatap kosong ke jalan di depannya.

Kenapa selalu begini?

Ia tidak benar-benar mencari jawaban.

Pertanyaan itu hanya berputar, tanpa arah.

Bayangan rumah muncul di kepalanya.

Suara ayahnya. Tatapan yang menuntut. Kata harus yang tak memberi ruang untuk menolak.

Dada Winda terasa sesak.

Ia mengusap wajahnya cepat, menahan sesuatu yang hampir jatuh.

Bukan karena lemah—hanya lelah.

Lampu taman di depannya berkedip sekali, lalu kembali stabil.

Winda mendongak sebentar, lalu tersenyum kecil.

Jam di ponselnya menyala.

20.41.

Masih ada waktu.

Winda menyandarkan punggung ke bangku, memejamkan mata.

Malam terasa panjang.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia membiarkan dirinya diam—tanpa tuntutan, tanpa suara, hanya hening.

Ia membuka mata.

Layar ponsel menyala.

20.58.

Winda menelan ludah.

"Dua menit lagi." gumamnya pelan.

Ia menegakkan punggung, lalu melirik ke arah pintu keluar taman. Jalanan masih lengang, lampu-lampu kuning berdiri diam seperti saksi bisu.

"Sebentar lagi," batinnya.

Getaran kedua menyusul.

Pesan masuk.

Tristan: Jam berapa sekarang?

Winda buru-buru mengetik.

Lagi siap-siap pulang, Kak.

Ia berdiri, meraih tasnya. Namun langkahnya terhenti saat matanya kembali tertuju ke layar.

20.59.

Ia menghembuskan napas pendek, lalu melangkah cepat ke arah jalan setapak. Tumit sepatunya beradu dengan paving, suaranya terdengar terlalu jelas di tengah sepi.

Lampu merah di ujung taman menyala.

Winda berhenti di trotoar, menunggu.

Detik berjalan terasa lambat.

Ponselnya kembali bergetar.

Pesan baru masuk.

Tristan: Kamu janji jam sembilan.

Winda mengepalkan jemari.

Ia mengetik cepat.

Aku sudah jalan keluar taman, Kak.

Menunggu taxi.

Tidak sampai lima detik, balasan masuk.

Tristan: Di mana kamu sekarang?

Winda menoleh ke sekeliling.

Pintu selatan taman.

Ia baru hendak melangkah ketika suara mesin mobil berhenti di belakangnya.

Winda menoleh.

sebuah mobil berwarna hitam...

Ia seperti mengenal mobil itu... Ia mencoba mengingat , alis nya sedikit terangkat karena bingung.

Kaca jendela diturunkan perlahan, dan terlihat seorang pria dengan wajah yang familiar.....

" Reyhan.."

1
partini
kalau kata" mah biasa mau ini itu Ampe penghuni kebon binatang pun masih ok busettt ini Ampe nampar gara" muak lihat muka
dalem bnggt sehhh
partini: nanti muka muak Widia jadi ngangenin 🤭
total 2 replies
partini
Kaka ipar yg
sea.night~: yess kakak ifar
total 1 replies
partini
hati yg kosong dari kecil,
sea.night~: huhu iyaa , tapi sama juga kayak Winda nya jadi anak tuntutan keluarga
total 1 replies
partini
aku baca sinopsisnya langsung loncat bab ini ma"af ya Thor
Winda muka tembok ga sih ini
sea.night~: Sudah up ya, kak
Selamat membaca🙏😁
total 11 replies
si kecil nikkey
kayanya si Winda tipe cwe menye2, bkin hati sejati para cwe mencelid TDK senang thor....masa mau aja JD bucin KY gtu lagian d lahirin GK nyadar klo kita ada bukan buat orang lain tp untuk kebaikan diri sndiri, payah Winda dahlah thor..
sea.night~: Setuju sih kak, tapi setiap orang punya waktunya sendiri buat sadar. Winda juga lagi berjuang kok, cuma caranya masih salah.😁🙏
total 1 replies
BiruLotus
Halo kak, aku mampir. Mau kasih saran aja, tanda bacanya masih ada yg keliru. Misalnya setelah tanda petik 2, langsung saja kalimat, jangan pake spasi. Semangat!
sea.night~: okaayy kakak , makasih banyak ya kak saran nyaa 🙏🙏😁
total 1 replies
BiruLotus
lanjut
BiruLotus
Gak punya otak!
BiruLotus
Ayahnya minta di slebew!
BiruLotus
Wah jangan berkecil hati Winda
BiruLotus
Dari Dirga kok berubah Dimas, kak?
sea.night~: 😭makasih koreksi nya kak, awal nya mau di kasih nama dimas kian🙏
total 1 replies
Gohan
Penuh makna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!