Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersedia
Willie terdiam lama. Kata-kata Tisha yang bersedia menikah dengannya demi Alia menembus sisi hatinya yang selama ini terkunci rapat oleh rasa bersalah dan kesepian. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan emosi yang mulai membanjir di matanya.
“Terima kasih...” bisiknya parau. “Saya tidak tahu harus berkata apa.”
“Kita sama-sama ingin yang terbaik untuk Alia, Pak. Setidaknya, saya bisa menjadi seseorang yang bisa menemaninya.” ucap Tisha.
Willie menatap Tisha lagi. Ada rasa kagum dan semacam ketenangan yang perlahan meresap. Ia mendekat, “Kalau begitu, setelah Alia pulih, mari kita bicarakan semuanya.”
“Baik, Pak Willie.” ucap Tisha. Lalu ia kembali duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan kecil Alia.
Entah mengapa semenjak kepergian Vira, pikiran Tisha terus terngiang-ngiang dengan perkataan Vira setiap pagi sehabis mengantarkan Alia dulu, "Titip Alia ya Bu."
"Ya Allah semoga ini adalah pilihan terbaik." Batin Tisha
Willie berdiri di belakangnya, memandangi dua perempuan yang kini menjadi bagian isi hidupnya. Willie merasa sedikit lega, dibalik semua kejdian menyakitkan, mungkin Tuhan sedang memberinya kesempatan kedua menjalani rumah tangganya.
***
Beberapa hari kemudian, kondisi Alia mulai membaik. Ia sudah bisa tersenyum dan bercanda lagi dengan Tisha. Sore itu, dokter menyatakan Alia boleh pulang tapi tetap menjalani kontrol rutin.
Di perjalanan pulang, Alia duduk di kursi belakang sambil bersandar di bahu Tisha. Willie yang menyetir sesekali melirik lewat kaca spion, melihat pemandangan itu dengan senyum samar di wajahnya.
Sesampainya di rumah, Alia langsung berlari kecil menuju ruang tengah, memeluk boneka beruang kesayangannya.
Willie memperhatikan dari kejauhan, lalu menatap Tisha yang sedang membereskan tas kecil berisi obat-obatan Alia. Ada rasa lega karena beban besar yang perlahan terangkat dari dadanya.
Saat Alia sudah tidur, Willie duduk di teras. Ia menatap ponselnya, lalu menghubungi orangtuanya.
“Pa, Ma...” Willie menyapa.
Dari seberang, terdengar suara ibunya. “Iya, Nak. Bagaimana keadaan Alia?”
“Sudah membaik, Ma,” jawab Willie. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Willie ingin memberi kabar. Bu Tisha, bersedia menikah dengan Willie."
Beberapa detik hening, lalu suara tangis kecil terdengar dari ibunya di telepon. “Syukurlah, Nak... syukurlah. Akhirnya.”
Sementara suara ayahnya ikut terdengar, “Kau sudah membuat keputusan yang baik, Willie. Ayah dan ibu akan segera ke sana. Kami ingin melamarnya dengan layak”
Willie tersenyum kecil. “Terima kasih, Pa, Ma. Nanti saya bicarakan lagi dengannya.”
Namun ibunya langsung menyahut lembut, “Iya Nak. Tisha sudah seperti bagian dari keluarga kita. Kami hanya ingin menunjukkan rasa hormat kami padanya.”
“Baik, Ma.” ucap Willie akhirnya. Setelah panggilan berakhir, ia duduk termenung sejenak. Perasaannya campur aduk antara bahagia, cemas, dan tidak percaya semuanya terjadi begitu cepat.
Tisha baru keluar dari kamar Alia dan tak sengaja memperhatikan Willie di teras.
“Anda kelihatan gelisah. Apa ada yang salah?” tanyanya Tisha.
Willie menatapnya, lalu menjawab tenang. “Tidak ada yang salah. Hanya saja, orangtua saya akan datang. Mereka ingin melamar Anda secara resmi.”
Tisha terdiam, ia terpaku untuk sesaat dan berbisik, “Oh... secepat itu?”
Willie mengangguk. “Mereka terlalu bahagia mendengarnya. Dan saya berharap Anda tidak keberatan.”
Tisha menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. “Kalau itu memang sudah niat baik, saya tidak akan menghalangi.” Jawabnya.
***
Di hari yang sudah disepakati, Willie dan Tisha duduk berhadapan di ruang kerjanya. Di depan mereka tergeletak beberapa lembar kertas draf pernikahan kontrak yang telah disusun oleh pengacara pihak Willie.
Tisha membaca setiap kalimat yang tercetak di atas kertas itu. Matanya menelusuri poin demi poin dengan raut serius.
Pernikahan ini berlangsung selama satu tahun, dengan opsi perpanjangan bila kedua pihak menyetujui. Tidak ada tuntutan emosional atau fisik, hubungan mereka hanya sebatas formalitas di hadapan publik dan keluarga.
Tisha akan tinggal di rumah keluarga Willie untuk mendampingi dan mengasuh Alia selama masa pernikahan. Willie akan bertanggung jawab penuh atas biaya hidup, kebutuhan pribadi, serta keamanan Tisha.
Jika salah satu pihak ingin mengakhiri perjanjian lebih cepat, maka harus dilakukan dengan pemberitahuan tertulis satu bulan sebelumnya.
Dan Poin terakhir adalah perjanjian kontrak ini hanya mereka saja yang tahu, tidak boleh dibocorkan pada siapapun.
Tisha menatap lembaran kontrak di hadapannya dengan wajah bingung, lalu tanpa sadar terkekeh kecil.
“Ini seperti perjanjian sewa rumah ya,” ujarnya sambil melirik Willie, “ada masa berlaku, tanggung jawab, bahkan klausul kalau salah satu pihak mau keluar lebih cepat.”
Willie menatapnya tanpa ekspresi sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat samar. “Kalau begitu, semoga penghuninya betah,” balasnya tenang.
Tisha tersenyum geli. “Selama tidak bocor atapnya dan tidak ada biaya tambahan di luar kesepakatan, mungkin saya akan bertahan,” selorohnya.
Suasana yang semula tegang perlahan mencair, meninggalkan sisa tawa tipis di antara dua orang dewasa yang sedang mencoba berdamai dengan jalan hidup yang tak biasa.
Willie memperhatikan ekspresi Tisha. “Saya tahu ini tidak mudah,” katanya pelan, “tapi saya ingin semuanya jelas sejak awal. Saya tidak mau ada salah paham di antara kita.”
Tanda tangan mereka pun akhirnya tergores di atas kertas perjanjian itu dengan tinta yang akan mengikat mereka dalam hubungan yang tidak dimulai oleh cinta, tapi oleh tanggung jawab dan kasih pada seorang anak.
Langit sore tampak redup, setelah menandatangani kontrak tadi. Tisha melangkah ke area pemakaman dengan seikat bunga di tangannya. Angin kecil berhembus menyibakkan ujung kerudungnya.
“Assalamualaikum, Bu Vira…” ucapnya pelan.
Tisha berlutut, meletakkan bunga di atas pusara yang bersih terawat. Ia melirihkan doa, lalu terdiam lama. Pandangannya jatuh pada nama di batu nisan, dan seolah di sanalah ia sedang berbicara dengan seseorang yang hidup.
Sementara itu, dari kejauhan, langkah seorang pria terhenti. Willie yang hampir setiap hari datang ke tempat itu, mendapati seorang perempuan berdiri di makam istrinya.
“Tisha…?” gumamnya.
Ia tak beranjak mendekat, memilih bersembunyi di balik batang pohon besar. Entah mengapa, ia tidak ingin mengganggu.
Tisha menghaturkan ucapan doa. Setelah beberapa saat ia hanya terdiam. Saat merasa siap, Tisha menarik napas dalam-dalam, “Bu Vira, saya minta maaf. Saya sudah lancang mengambil keputusan besar ini.” ucapnya.
Butir air mata jatuh perlahan, membasahi pipinya. “Saya hanya ingin yang terbaik untuk Alia. Saya tidak bermaksud merebut Pak Willie, tidak ada perasaan apa pun di hati saya untuknya.”
Ia terisak. “Ini hanya sementara, saya mohon ridhonya, Bu.”
Dari tempatnya berdiri, Willie memejamkan mata. Suara tangis itu menembus hatinya lebih dalam dari yang ia duga. Ada sesak yang tak bisa ia jelaskan.
“Sekali lagi maafkan saya,” lanjut Tisha lirih. “Saya akan berusaha menjaga Alia dengan baik.”
Ia lalu berdiri perlahan, mengusap air mata di pipinya, menatap pusara itu sekali lagi sebelum melangkah pergi.
Begitu langkah Tisha menjauh, pria itu menatap kosong ke arah kuburan istrinya. Angin sore kembali berhembus, membawa aroma bunga yang tadi diletakkan Tisha.
Willie menatap langit yang mulai berwarna jingga. “Gadis itu selalu satu langkah lebih dulu dariku.” gumamnya.