Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Cincin Berlian dan Tatapan Tajam
Pengaturan Pertunangan: Tiga Hari Sebelum Acara
Tugas mengurus acara pertunangan Ares dan Claudia membawa Natalie ke dalam dunia kemewahan yang gila. Dana yang dikeluarkan tidak terbatas; yang dituntut hanyalah kesempurnaan dan kecepatan. Natalie harus berkoordinasi dengan event organizer terbaik kota, desainer bunga dari Eropa, dan katering bintang Michelin.
Natalie mendapati bahwa mengurus bisnis ilegal Ares jauh lebih mudah daripada mengurus ego Claudia Sastrawan.
Pertemuan pertama mereka diadakan di penthouse pribadi Claudia di kawasan elit. Natalie datang tepat waktu, mengenakan setelan jas abu-abu yang sopan dan profesional—ia telah belajar dari peringatan Ares untuk tidak menarik perhatian berlebihan.
Claudia Sastrawan adalah definisi dari keindahan yang mahal. Dia duduk di sofa beludru, mengenakan gaun sutra berwarna champagne, dengan rambut pirang ikal yang mengalir sempurna. Di jarinya, sebuah cincin berlian sebesar kenari bersinar, pertunangan yang belum diresmikan secara publik.
Natalie menghampirinya, membawa tablet berisi jadwal, denah, dan rincian bunga.
"Selamat siang, Nyonya Sastrawan. Saya Natalie, asisten Tuan Ares. Saya di sini untuk memfinalisasi detail pertunangan atas instruksi beliau."
Claudia tidak langsung menyambut. Ia menyesap teh dari cangkir porselen halus, mengamati Natalie dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan lambat dan menghakimi. Tatapan itu menembus setelan Natalie, mencari kekurangan.
"Asisten baru? Saya tidak ingat pernah melihatmu," kata Claudia, suaranya halus, namun terdapat nada superioritas yang tajam. "Ares selalu punya selera yang... simpel dalam memilih staf. Kau terlihat berbeda."
Natalie mengabaikan nada sindiran itu, menjaga ekspresinya datar. "Saya mulai bekerja minggu lalu, Nyonya. Saya bertanggung jawab atas logistik dan jadwal pribadi Tuan Ares. Mari kita bahas soal tata letak panggung untuk hari Sabtu."
Natalie membalik tabletnya, menampilkan denah ruangan. "Tuan Ares meminta agar meja Anda diletakkan menghadap langsung ke taman, dengan penerangan minimalis untuk efek dramatis saat Anda berdua berpidato."
Claudia meletakkan cangkirnya dengan bunyi klik yang keras.
"Tidak. Itu tidak mungkin," potong Claudia. "Aku sudah beritahu tim event organizer untuk menempatkan meja tepat di bawah lampu kristal terbesar. Aku ingin semua orang melihat cahaya yang tepat pada cincinku. Lagipula," Claudia menyeringai dingin, "Ares tidak akan peduli di mana meja itu diletakkan. Dia hanya peduli apakah deal ayahnya sudah diamankan."
Claudia menegaskan apa yang sudah Natalie dengar dari Ares—ini murni bisnis. Namun, Natalie menyadari bahwa Claudia sama sekali tidak sedih dengan kenyataan itu; ia tampaknya menikmati permainan kekuasaan ini.
"Tentu, Nyonya. Saya akan menginstruksikan perubahan tata letak," kata Natalie tanpa perlawanan. "Apakah ada preferensi bunga? Kami memiliki mawar merah muda 'Black Baccara' dari Ekuador dan Tulip 'Queen of Night' Belanda."
"Black Baccara," jawab Claudia dengan cepat. "Dan pastikan tingginya tidak melebihi bahuku. Aku tidak ingin ada yang mengganggu sorotan di atas kepala, terutama," Claudia berhenti, matanya kembali menyapu Natalie, "di dekat Ares."
Claudia tiba-tiba bangkit, berjalan ke Natalie, dan berhenti begitu dekat hingga Natalie bisa mencium aroma parfum mahal yang menyesakkan.
"Dengar, Natalie," bisik Claudia, suaranya menjadi sangat tajam. "Aku tahu dirimu. Kau pelayan, kan? Dari klub menjijikkan itu. Eclipse."
Darah Natalie terasa dingin. Bagaimana dia tahu? Ares pasti bocor atau Claudia punya intelijen sendiri.
"Saya memiliki catatan pekerjaan yang luas, Nyonya," jawab Natalie, berusaha keras untuk tidak mundur.
"Ya, tentu saja. Dan Ares tiba-tiba mempekerjakanmu sebagai asisten pribadinya setelah kau melayani dia di sana? Sangat menarik." Claudia menyentuh dagu Natalie dengan ujung jari yang dingin. "Kau harus tahu tempatmu. Ares mungkin melihatmu sebagai 'staf yang kompeten' sekarang. Tapi kau tetaplah barang bekas dari klub malam."
Claudia tertawa kecil. "Aku adalah tunangannya. Aku adalah masa depannya. Aku adalah pemegang saham berikutnya di Kerajaan Ares. Sedangkan kau, kau hanyalah bayangan yang akan dia buang setelah dia menemukan seseorang yang lebih efisien."
Ia mundur, mengambil napas dalam-dalam, dan menunjuk ke laptop Natalie.
"Sekarang, catat. Aku tidak ingin melihat single mawar putih pun. Mawar putih adalah simbol kepolosan. Dan dalam pernikahan ini," Claudia tersenyum lebar, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya, "Tidak ada yang namanya kepolosan."
Kembali ke Bayangan
Natalie kembali ke kantornya, tubuhnya dipenuhi rasa lelah yang berbeda. Bukan lelah fisik dari shift 12 jam di klub, melainkan lelah mental karena harus bersikap profesional di hadapan kebencian terang-terangan.
Ares sudah kembali. Ia sedang berbicara di telepon dalam bahasa yang cepat dan dingin—tentu saja tentang bisnis. Setelah menutup telepon, ia melihat Natalie.
"Bagaimana pertemuannya dengan Claudia?" tanya Ares, suaranya tenang.
"Berhasil. Semua detail telah dikonfirmasi," jawab Natalie, menahan diri untuk tidak menceritakan penghinaan yang ia terima. "Dia ingin perubahan tata letak meja utama, dan hanya mawar merah muda. Dia juga meminta Anda untuk tiba sepuluh menit lebih awal untuk pemotretan pribadi."
Ares mengangguk perlahan. "Tentu saja dia melakukannya. Dia suka mengendalikan alur cerita."
Ares melihat ekspresi Natalie, yang mungkin sedikit lebih tegang dari biasanya.
"Apa yang dia katakan padamu, Natalie?" tanya Ares, nadanya tidak bertanya, melainkan memerintah.
Natalie ragu sejenak. Jika ia melaporkan Claudia, ia akan terlihat lemah atau pengadu. Jika ia menyembunyikannya, ia melanggar aturan kepercayaan.
"Dia... dia hanya menegaskan bahwa ini adalah aliansi bisnis yang penting bagi keluarga Sastrawan dan Anda, Tuan. Dan dia meminta saya untuk memastikan semuanya berjalan sempurna, seperti yang ia inginkan," jawab Natalie diplomatis.
Ares diam. Ia adalah pria yang bisa membaca bahasa tubuh. Ia bangkit, berjalan ke Natalie, dan berdiri di depannya. Aroma cedarwood dan kekuatan yang dingin menyelimuti Natalie.
"Dia tahu kau dari Eclipse," kata Ares, bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
Natalie mendongak, terkejut. "Bagaimana Anda tahu?"
"Aku tahu Claudia," jawab Ares, nadanya muak. "Dia suka mengintimidasi orang yang dianggapnya ancaman atau—lebih buruk lagi—underling. Jika dia tahu kau pelayan koktail, dia akan memastikan kau mengingatnya."
Ares meletakkan tangannya di bahu Natalie—sentuhan yang singkat, tetapi cukup untuk mengirimkan kejutan. Bukan sentuhan romantis, melainkan sentuhan pengakuan.
"Claudia adalah pengantin yang akan menjamin kekuasaanku. Kau adalah asisten yang akan menjaga kerahasiaan kekuasaanku," kata Ares. "Jangan biarkan dia membuatmu merasa kecil. Di mata Claudia, semua orang adalah mainan yang bisa ia singkirkan. Tapi di mataku, kau adalah aset yang sangat berharga, Natalie. Jauh lebih berharga daripada semua mawar merah muda di Ekuador."
Natalie menatapnya. Kali ini, ia tidak melihat bos yang dingin. Ia melihat seorang pria yang terikat oleh kewajiban, yang secara halus menunjukkan bahwa ia menghargai Natalie lebih dari tunangannya sendiri, dalam konteks profesional.
"Saya mengerti, Tuan," kata Natalie, bahunya terasa lebih ringan di bawah tangan Ares.
Ares menarik tangannya. "Bagus. Sekarang, aku butuh kau mengurus masalah logistik lain yang lebih sensitif. Aku punya hadiah untuk Claudia—sebuah kalung yang sangat, sangat mahal. Aku ingin kau pribadi yang mengambilnya dari brankas di rumahku dan membawanya ke lokasi acara. Hanya kau dan Rook yang boleh tahu ini."
"Kalung apa, Tuan?"
"Kalung berlian Sastrawan," jawab Ares, tatapannya kini gelap. "Itu adalah kalung pusaka yang menjamin loyalitas keluarga mereka kepadaku. Itu tidak boleh hilang, dan aku tidak percaya pada kurir berarmor."
Ares menyerahkan kunci kecil dan kartu akses keamanan kepada Natalie. "Tunjukkan pada Claudia bahwa kau adalah tangan kananku yang mutlak. Dan kau akan mendapatkan rasa hormat yang pantas kau dapatkan."
Natalie mengambil kunci itu. Tugas ini bukan lagi logistik; ini adalah tes kepercayaan dan simbol kekuasaan. Ia baru saja diangkat menjadi orang paling berharga kedua dalam hidup Ares, setelah tunangannya, Claudia, yang jelas-jelas tidak ia cintai.
Apakah Anda ingin saya melanjutkan cerita ini, mungkin ke adegan pertunangan di mana Natalie harus mengawasi aset berharga dan menyaksikan drama antara Ares dan tunangannya?