Gimana ya rasanya punya empat kakak yang bad boy? Ditambah satu sahabat dari kecil yang sama bad boy nya?
Itu yang Clarissa rasakan. Awalnya gadis itu merasa senang, karena ia merasa terlindungi dengan adanya cowok-cowok itu. Tapi lama kelamaan ia merasa terkekang karena sifat protektif kakak dan sahabatnya itu. Apalagi saat Clarissa jatuh hati kepada seorang laki-laki yang awalnya adalah musuh bebuyutannya.
Akankah Clarissa diijinkan untuk merasakan manisnya jatuh cinta di masa putih abu-abu ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kdk_pingetania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zombie vs Russa
Darrel Pov
"Ayo masuk."
"Ngapain sih?"
"Cepet!"
"Awas aja lo macem-macem!”
"Baik bos,” balas gue sambil nutup pintu rumah gue.
Rissa langsung duduk di sofa depan tv yang ada di ruang tamu. Gue berjalan menuju tempat pemutaran DVD.
"Nonton?" tanya Rissa.
"Iya,” jawab gue.
"Mau nonton apa?" tanya Rissa.
"Rahasia," jawab gue. Setelah gue masukin kaset film ke DVD gue, gue jalan ke arah Rissa buat duduk di samping dia.
"Play dong,” pinta Rissa yang keliatan udah ga sabar.
"Tapi ada syaratnya.” Gue tersenyum licik.
"Nonton doang pake syarat segala,” gerutu Rissa kesal.
“Mau nonton ga?”
“Ya udah apa?"
"Lo nggak boleh tutup mata pas nonton, nggak boleh pergi sebelum film selesai, awas kalau ngelanggar!"
"Oke siapa takut,” ucap Rissa setuju. Gue pun akhirnya mencet tombol buat ngeplay filmnya.
"Jangan bilang kalau ini film horror?" Busa gue lihat muka Rissa jadi ketakutan.
"Iya, film horror thailand.” Muka dia langsung panik dan ketakutan.
"Aaaa!” teriak Rissa saat hantu muncul di awal film, baru juga opening.
Selama film berlangsung dia meluk gue dari samping, sambil jejeritan kayak orang kesetanan. Gue bukannya fokus nonton, jadi malah ngakak ngeliat tingkah Rissa.
"Penakut!" ejek gue pas filmnya selesai.
"Biarin.” Dia melet ke arah gue.
"Dasar Russa penakut, bilang aja kan mau nyari kesempatan," gida gue. Refleks dia ngelepasin pelukkannya, ah dilepas!
"Apa lo bilang? Dasar zombie, mana ada zombie takut sama temen sejenisnya.”
Lah, sejak kapan gue jadi zombie?
"Zombie? Pulang sana!" usir gue.
"Emang gue mau pulang, DARI TADI malah!" Rissa bangkit dari duduknya.
"Ya udah sono!"
"Ya udah.” Dia jalan menuju pintu keluar rumah gue. Eh, inikan udah jam delapan malem, kalau dia kenapa-napa gimana? Gue yang khawatir sama keselamatannya Rissa pun akhirnya mutusin buat nganterin ni cewek.
"Mau apa lagi ha?" tanyanya dengan nada nyolot.
"Biasain aja kali, nggak usah nyolot," ujar gue kesal.
"Biarin!"
"Siapa yang nyuruh pulang?"
"Lo!"
"Oh iya."
"Oon."
"Pea."
"Gila."
Dih nantangin ni bocah.
"Sarap."
"Aneh."
"Sedeng."
"Zombie."
"Russa."
"Songong."
"Sombong."
“Ih, ngapain ngikutin gue sih?” protes Rissa. “Dasar nyebelin!”
"Lu yang ngeselin."
"Jelek lo."
"Cantik lo,” bales gue.
Pipi Rissa langsung blushing, imut banget sih.
"Jadi gimana?"
"Gimana apanya?" tanya Rissa bingung.
"Lola lu."
"Dih, lo yang lemot."
"Bodo."
"Tol*l!”
"Kunti lu.”
"Pocong."
"Mama."
"Kakek."
"Anj*r."
"Anj*ng."
"Crazy."
"Freak."
"Cantik."
"Jelek."
"Udah dipuji juga!" protes gue kesal.
"Siapa yang minta?" tanya Rissa.
"Nggak usah diminta juga gue pasti muji lo kok!"
Gombal bat gue.
"Ngegombal."
"Ngerayu."
"Udah ah capek gue debatnya!” ujar Rissa.
"Gimana? Pulang bareng gue?"
"Iya.”
"Ayo!" ajak gue.
"Iya, iya.”
"Rissa!"
"Apa?"
"What?"
"Gila."
"Crazy."
"Au ah."
***
Clarissa Pov
Setelah masuk rumah segera gue ambil air putih. Haus man, abis adu bacot sama Zombie. Gue masuk kamar dan langsung tidur.
02:18
Gue kebangun dan gak bisa tidur, karena takut kebayang film tadi. Biasanya kalau gue habis nonton film horror, gue tidur bareng Kak Verrel. Tapi karena gue lagi kesel sama dia jadi gue males banget buat tidur bareng dia. Gue akhirnya mutusin buat ke kamar Kak Ryan.
"Kak," panggil gue pas buka pintu kamar Kak Ryan.
"Belum tidur?" tanya Kak Ryan yang lagi ngerjain tugas sambil nonton tv.
"Udah,” jawab gue sambil nyelonong masuk ke kamar Kak Ryan.
"Terus ini siapa?"
"Hantu."
"Kalau hantu kenapa kakinya gak melayang?" Aduh kakak gue yang satu ini rada bloon, maafkan dia sobat.
"Ya nggak lah! Kalau gue udah tidur, mana mungkin gue ada disini! Bloon banget sih lo!" Gue duduk di samping Kak Ryan yang lagi asyik nonton bola.
"Kenapa gak tidur?"
"Nggak bisa."
"Abis nonton film horror?" tebak Kak Ryan.
"Hmm.” Gue bergumam pelan.
"Tumben ga ngajak gue, biasanya cuma berani nonton bareng gue."
"Tau tuh si Darrel main tarik-tarik aja, dikata gue tambang kali," ucap gue kesel.
"Kan kalau lo nonton film horror, pasti meluk gue, berarti ... cie ...” goda Kak Ryan. Pipi gue lagi-lagi memanas.
"Apaan sih?" tanya gue salting.
"Cielah blushing," goda Kak Ryna.
"Au ah, tidur yuk!"
"Males."
"Ayo!"
"Kenapa gak sama Verrel?" tanya Kak Ryan.
"Kan kakak tau kenapa.” Gue masang muka cemberut.
"Baru ada masalah aja nyari gue. Waktu nggak ada masalah, gue ampe mohon-mohon minta tidur bareng lo."
"Ayo kak, gue ngantuk!"
"Ya udah tidur sono! Gue lagi nonton nih!"
"Takut," kata gue manja.
"Penakut,” ejeknya.
"Ayolah!"
"Nggak."
"Please!” Gue memasang puppy eyes andalan gue.
"Oke.” Kak Ryan langsung matiin tv terus langsung tidur di tempat tidur. Gue pun ngikut tidur di sebalah Kak Ryan. Kak Ryan tidur dengan posisi ngebelakangin gue.
"Kak Ryan," panggil gue.
"Apa lagi?” tanya Kak Ryan sambil ngebalikin badannya biar ngehadap ke arah gue.
"Peluk,” pinta gue.
"Enak aja."
"Takut,” cicit gue.
"Dasar manja!” Kak Ryan pun langsung memeluk gue sambil ngelus-ngelus rambut gue. “Udah gausah takut, ada gue di sini,” ucapnya.