NovelToon NovelToon
Era Berdarah Manusia

Era Berdarah Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TimeTravel / Horor / Supernatural / Contest / Romansa Fantasi
Popularitas:59.1k
Nilai: 5
Nama Author: I Firmo

SETIAP HARI UP UNTUKMU🤩
Kedatangan lelaki-lelaki muda Eropa yang ganteng-ganteng telah menuai pusat perhatian. Disaat yang bersamaan, lelaki-lelaki dan wanita-wanita muda pun ikut menghilang satu demi satu secara misterius.

Holsi dan teman-temannya menyadari hal itu dan tahu rahasia dibalik itu semua. Namun, mereka semua berhasil dibungkam oleh dua tokoh yang menawan namun iblis. Holsi dan teman-teman nya berhasil di usir dan di hina kan banyak orang.

Dua tokoh menawan itu semakin dipuja-puji bak dewa-dewi. Peminatnya dari kalangan remaja yang begitu tergila-gila pada dua tokoh itu.

Lalu, jelas nya seperti apa? Baca Sekarang!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Firmo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Halaman 12

Holsi dan Erik berhasil kembali ke kota Bogor dengan selamat.

Di hari yang sama, pada malam harinya. Holsi dan Erik datang ke rumah Agil, sahabat dekatnya Nuel.

Rumah Agil terletak di sebelah Utara hutan Huner, dan semua teman-teman Holsi dan Erik tinggal di dekat hutan Huner.

Rumah Agil begitu sederhana, di bagian Utara dari hutan Huner, adalah pedesaan yang cukup sepi penduduk. Namun pemandangan indah di desa ini, mampu menarik perhatian banyak wisatawan dari luar kota Bogor, terutama Sukabumi dan Jakarta.

Holsi dan Erik duduk di dalam kamar Agil. Mereka berdua menunggu kedatangan Agil yang sedang mengambil minuman dari dapur.

Lalu Holsi yang berdiri didepan jendela, berkata. "Ternyata, lebih seram daerah ini. Dibanding daerah tempat kita tinggal."

"Iyalah, lho kan nggak pernah kesini." Kata Erik yang kemudian menaruh Smartphone nya di kasur.

Tidak lama kemudian, datanglah Agil sembari membawa dua gelas.

"Guys... ini dia kopi nikmat nya." Seru Agil, ia lalu menaruh kedua gelas itu di meja belajar nya.

Berjalan lah Holsi ke kasur. "Bro, gue kesini mau nanya sesuatu."

Agil yang duduk di kursi, mulai menunduk sedih. "Iya, gue tahu. Pasti tentang Nuel yang hilang itu."

Kemudian, Erik berdiri dari kasur. "Gue dan Holsi jauh-jauh dari Bandung balik lagi ke Bogor, hanya demi nemuin lho. Jadi please, berikan kesaksian yang jelas tentang hilang nya Nuel..."

Holsi pun menatap Erik dan Agil. "Tapi udah di laporin ke polisi kan?"

"Semoga ajja belum." Kata Erik sembari menoleh kembali ke Holsi.

Nafas berat, Agil hembuskan. "Haaa... semuanya, belum di laporin kok. Sebenarnya sih mau dilaporin, cuman bukti nya sedikit dan aneh!"

Ekspresi Erik mengerucut. "Aneh?"

Lalu Agil mengangguk penuh. "Iya aneh banget! Malahan aku baru tahu kalau Nuel itu nggak pernah niatan mau pindah. Malahan dia bilang, itu prank."

Spontan, Holsi mulai kembali ingat dengan ingatannya beberapa hari lalu tentang ucapan Nuel. "Oh iya Rik, si Nuel itu cuman prank. Kan dia, maaf-maaf nih. Dari keluarga miskin, jadi janggal banget nggak sih?"

Dagu nya, Erik usap. "Ehm, iya juga ya... gue baru ngeh. Dia kan tukang prank."

Lalu, ucapan Agil berikutnya. Membuat Erik dan Holsi seakan-akan terbelalak. "Udah itu... si Nuel sebelum dinyatakan hilang, dia jadi deket gitu sama Halzet."

"What?!?" Seru Erik yang terkejut.

Agil pun terus berusaha meyakinkan. "Iya, dan itu semua berawal ketika...

*Agil mulai menceritakan tentang apa yang ia saksikan.*

"Ketika Nuel di dekati oleh Halzet beberapa hari lalu. Dalam dua hari, mereka menjadi akrab layaknya sahabat. Dan apalagi si Nuel ganteng, si Halzet apalagi. Makin meleleh dah hati-hati cewek di sekolah, ketika duo tampan saling dekat satu sama lain. Gue ajja bingung sendiri, tapi gue berusaha mencari tahu tanpa sepengetahuan kalian dan semuanya. Hingga pada akhirnya, Nuel hilang tanpa jejak. Ayah nya baru sadar, ketika tadi pagi. Kalau Nuel tak ada dikamar nya, dan ayah nya berkata bahwa, kemarin siang nya. Nuel dan teman bule nya pergi bermain entah kemana. Namun pakaian Nuel pada saat itu, terasa mencolok keanehannya. Ia memakai pakaian keren ala Eropa, padahal ayah nya tahu jika Nuel tak pernah memiliki pakaian mahal jenis seperti itu. Dan setelah itu, tak ada lagi jejak Nuel. Warga setempat pun berusaha mencari keberadaan Nuel, mulai dari menyebarkan nya lewat sosmed, lalu ketika bukti sudah jelas, dilaporkan ke polisi lah selanjutnya." Jelas Agil pada kedua teman nya itu.

"Masalah yang rumit dan begitu serius." Kata Erik yang sembari mengangguk-angguk tanda mengerti.

Lalu Holsi, mengeluarkan nada dingin. "Kenapa akhir-akhir ini, serasa semua tentang Halzet, Halzet, dan si bule Halzet. Apa dia penjahat nya?"

Namun Agil tak sedikit pun menaruh rasa curiga. "Entahlah."

Tiba-tiba, Erik memukul dinding dengan kasarnya.

Dek...!

"Sialan! Kita nggak bisa diem ajja. Si Halzet kurang ajar!" Kata Erik yang semakin penuh dengan amarah.

Holsi lalu menghampiri Agil. "Bagaimana dengan Tommi dan Eli? Bukannya mereka dekat dengan Halzet?"

Gelas yang Agil taruh, diberikan ke Holsi. "Entahlah, aku tak pernah dekat dengan manusia dingin itu. Yang ku tahu dan ku lihat bahwa Nuel begitu dekat dengan Halzet, akhir-akhir ini."

Setelah itu, Holsi minum kopi hangat nya.

Erik yang masih penuh kekesalan, menoleh. "Mulai besok pagi juga, kita bertiga harus pergi ke hutan Huner!"

Gelas masih dipegang erat oleh Holsi, lalu ia mengangkat kedua tangannya. "Gue angkat tangan. Lho sama Agil ajja yang pergi."

"Ayolah Osi..." Kata Erik yang sedikit mengeluh.

Kemudian, Holsi menaruh gelas nya itu di meja. "Tapi kan penyelidikan lho itu gila banget! Masa ia kita harus ke hutan yang bisa menghilangkan diri kita dari dunia ini? Lho harus tarik ulur ucapan lho itu."

Seketika itu, Erik yang sebenarnya sedang frustasi. Menjatuhkan Holsi ke kasur.

Brak...!

"Kalau lho nggak mau ikut untuk menyelidiki ini semua, gue tumbalin lho ke iblis, demi menemukan titik terang dari teman gue si Nuel itu!" Jelas Erik, yang semakin penuh dengan kekesalan.

Hal ini pun, membuat Agil terkejut. "Wow, wow, wow guys... ada apa ini?"

Kerah baju Holsi, masih di pegang erat oleh Erik. Holsi lalu berkata. "Tapi darimana lho tahu kalau hutan Huner adalah bukti hilang nya si Nuel?"

Dengan kasarnya, Erik lepaskan pegangan kasarnya dari Holsi. Ia lalu kembali menghampiri jendela. "Dari Halz."

"Oke semuanya." Seru Agil yang seakan-akan mengerti semua keadaan ini.

Dengan tertatih-tatih, Holsi bangun dari kasur. "Gue tetap nggak mau ikut! Dan gue nggak mau lagi melanjutkan penyelidikan ini."

Seketika itu, smartphone Erik ia lempar ke dada Holsi. "Brengsek! Nggak usah lho temenan lagi sama gue! Gue males sama temen yang nggak ada rasa peduli nya antar sesama."

"Silahkan ajja." Jawab Holsi dengan tenangnya.

Telunjuk Erik, menunjuk dadanya sendiri. "Gue ajja yang ke hutan Huner sendiri!"

Kedua alis nya, Holsi angkat. "Kalau lho nggak sayang sama diri lho, silahkan ajja."

Dan Erik langsung membuang muka dari Holsi.

Agil yang menyaksikan suasana penuh konflik ini, hanya bisa celingak-celinguk kebingungan. "Guys... gue ngerti, ngerti kok."

Kemudian, Holsi berdiri dari kasurnya. Ia mulai merapihkan pakaian nya. "Sorry sebelum nya, gue mau pulang malam ini juga."

Erik lalu melihat jam dinding. "Udah jam 9 malem sekarang tuh. Gue ragu lho bakal berani keluar dari rumah Agil."

Smartphone Erik, Holsi Ambil. Ia lalu menyerahkan nya pada Erik. "Nih ambil smartphone lho. Dan nggak usah usik hidup gue lagi, kan seperti yang lho bilang. Gue bukan teman lho lagi, dan makasih banyak..."

Di pedesaan, menjelang malam saja suasana sudah sangat sepi, apalagi sudah larut malam seperti ini. Hal ini pun, membuat Agil khawatir pada Holsi yang akan pulang seorang diri tanpa membawa kendaraan apapun.

"Bro... yakin lho mau pulang? Mendingan nginep ajja dulu, besok pagi baru pulang. Gue khawatir, kan satu-satu nya keluar dari desa ini adalah lho harus masuk ke jalanan kecil di tengah-tengah pepohonan hutan Huner. Ayolah bro," Kata Agil yang berusaha membujuk rayu Holsi agar tidak jadi pulang seorang diri dimalam yang dingin ini.

Jaket Hoodie nya, Holsi pakai. "Terima kasih, Gil. Gue mau pesan ojek online ajja."

Setelah berkata demikian, Holsi pamit untuk pulang.

Dan didalam kamar Agil, hanya ada Agil dan Erik. Lalu, Agil menoleh ke Erik. "Bro... biar gue yang nemenin lho ke hutan Huner untuk mencari bukti hilangnya si Nuel."

Lalu Erik mengangguk. "Makasih bro..."

Sambil berjalan ke kasurnya, Agil terlihat mengeluh. "Aduh... si Holsi gimana tuh nasibnya? Malem-malem kaya gini, malah pulang."

1
Dhina ♑
ternyata tidak lanjut juga 🤔🤔
Dhina ♑
Bagaimana kisah selanjutnya 🤔🤔🤔
tunggu ya
Adinda ♋
sungguh apes nih Holsi
Adinda ♋
itu pasti hutan yang mengerikan
Nina ♋
mungkin Dia tersesat tak tahu arah
Nina ♋
dia punya pengalaman yang mengerikan
Nina ♋
libur sekolah Sabtu Minggu ya
Jazz ♋
Come back
Zelyn ⭕
mereka tidak boleh mati

Author.....lanjut, tuntaskan ceritanya
Zelyn ⭕
kalian para pemuda aneh, mengapa selalu menuju hutan Hunner
ALONE ⭕
apa dia jalan sambil tidur
ALONE ⭕
kox di kamar 🤔🤔
ALONE ⭕
huaaaaa ada Halzet
ALONE ⭕
apa Erick berhalusinasi 🙄🙄
ALONE ⭕
loh mengapa ke Utara 🤔🤔🤔
Adinda ♋
huwaaaaaa NT tidak ada 👍 nya buat like
Adinda ♋
menghitung
cling gitu
Adinda ♋
Wahhh sekelompok anak muda yang cuek
Adinda ♋
bule 🤔🤔
Apakah dia murid baru
Adinda ♋
kayax dukun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!