Selamat Datang Di Novel Pertama Saya.
Cerita ini adalah cerita kehidupan Celyn mulai dari dia kecil saat ditinggal orangtuanya sampai dia menjadi istri seorang yang bernama Dimas.
Siapa Celyn itu?
Apa yang terjadi padanya?
Bagaimana kehidupan pernikahannya?
Mari kita baca bersama-sama.
Dimohon bagi yang tidak suka dengan cerita ini, tolong jangan di beri komentar atau rate jelek. Di skip saja. Hargai Author sebagai penulis yang sudah capek memikirkan alur ceritanya.
Bagi teman-teman authors boleh promosi di karya ini.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih dan selamat membaca.
God Bless You All..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Jenius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Kedatangan Tamu Yang Tak Dikenal..
Kematian Pak Handoko dan Bu Tasya menjadi Tranding Topic di Medsos dan menjadi berita yang sangat panas atau Hot News. Hal itu dikarenakan Pak Handoko dan Bu Tasya adalah salah satu konglomerat yang sangat dihargai dan dihormati. Mereka juga dikenal baik hati dan dermawan.
Mereka selalu menolong orang tanpa membeda-bedakan status, agama dan suku. Semua yang meminta tolong kepadanya dengan tangan terbuka Pak Handoko akan merangkul dan menolongnya. Pak Handoko melakukan itu karena dia pernah merasakan menjadi seorang yang susah hidupnya. Pernah juga Pak Handoko hanya untuk memperoleh makan 3 hari sekali dia bekerja dari matahari terbit sampai matahari terbenam.
Dia pernah merasakan kerasnya hidup di Ibukota Indonesia ini tanpa bantuan dari siapapun. Karena itulah dia bertekad bahwa dia tidak akan membiarkan siapapun hidup susah. Apabila dia bisa membantu dia selalu berusaha membantu orang yang membutuhkan bantuannya sebisanya.
Di suatu tempat di suatu desa di Depok ada seorang nenek yang sedang duduk menonton tv. Saat berita kematian Pak Handoko disiarkan dia seperti sangat terkejut melihatnya. Tanpa terasa air mata jatuh di pipinya yang sekarang sudah mulai keriput di makan usia..
"Astaga.. Pak Handoko!!!. Apa yang terjadi? Kenapa orang sebaik dirimu bisa pergi secepat ini?" Gumamnya dalam hati. Dia teringat akan kebaikan Pak Handoko dan istrinya terhadap almarhum suaminya.
#Flashback On#
Suatu hari kira kira 2 tahun lalu di salah satu RS di Depok ada seorang nenek yang duduk di sudut koridor RS sambil menangis. Dia merasa sangat sedih karena dia tidak bisa membayar pengobatan suaminya yang telah lama sakit.
Selama ini memang dia membawa suaminya berobat jalan untuk cuci darah. Benar saja suaminya dalam 1 minggu wajib menjalani cuci darah 2 kali. Hal itu membuat nenek itu kehabisan uang. Semua hartanya telah dijual untuk membiayai pengobatan suaminya. Saat ini saat ingin cuci darah kembali dia memohon kepada RS untuk boleh duluan melakukan tindakan cuci darah kepada suaminya baru nanti dia akan memcari uang untuk mrmbayarnya. Pihak RS tidak menyetujui permintaan nenek tersebut. Mereka tetap pada aturan bayar dulu baru bisa melakukan cuci darah yang harganya terbilang mahal.
Tanpa sengaja Pak Handoko dan istrinya yang baru menjenguk koleganya yang sedang sakit di Rumah Sakit tersebut melihat ada seorang nenek menangis di ujung koridor Rumah Sakit tersebut. Mereka berdua saling berpandangan. Akhirnya Bu Tasya berjalan ke arahnya dan bertanya kepadanya.
"Maaf Bu, perkenalkan saya Tasya. Saya melihat dari tadi Ibu menangis di sini. Apa ada masalah? Apa ada yang bisa saya bantu?".Tanya Bu Tasya bertubi tubi kepada nenek itu.
"Suami saya, Nak.. Suami saya.." Ucapya terbata bata tak dapat melanjutkan kata katanya.
"Kenapa dengan suami ibu?" Tanya Bu Tasya sambil memberikan air mineral yang baru dibelinya kepada nenek itu untuk menenangkannya dan bisa bercerita. Nenek itu pun meminum air itu dan menarik nafas panjang lalu membuangnya. Itu dilakukan beberapa kali dan akhirnya dia bisa tenang.
" Suami saya terkena gagal ginjal. Satu ginjalnya tidak berfungsi lagi dan sudah diangkat. Jadi untuk menyambung hidupnya dia harus cangkok ginjal. Sebelum ada ginjal yang cocok dia harus melakukan cuci darah 2 kali dalam seminggu. Akan tetapi sudah hampir setahun tidak ada ginjal yang cocok untuknya. Walaupun cuci darah suami saya tetap tidak bisa sembuh. Semua harta saya sudah saya jual untuk pengobatan suami saya. Saat ini saya sudah tidak punya uang sepeserpun. Namun saya harus membayar dulu uang untuk cuci darah. Saya sudah meminta keringanan kepada Pihak Rumah Sakit tapi mereka menolaknya dengan alasan sudah peraturan di sini seperti itu yakni harus bayar dulu baru tindakan di ambil" Jelas nenek panjang lebar. Bu Tasya dan Pak Handoko yang berada tak jauh dari mereka mendengarnya dengan perasaan sedih dan prihatin.
Akhirnya Pak Handoko melangkah ke arah mereka dan berkata kepada nenek tersebut.
"Di mana suami Ibu di rawat saya ingin melihatnya". Kata Pak Handoko tegas.
"Anda siapa?" Jawab nenek heran.
"Oh.. maaf bu. Dia suami saya. Namanya Handoko". Jelas Bu Tasya kepada nenek yang dirasa kebingungan ditanya seperti itu oleh suaminya.
"Di sana Nak.. ayo ikut dengan saya." Nenek itu mengajak Pak Handoko dan istrinya ke ruangan suaminya. Mereka melihat suami Nenek tersebut sangat kurus dan pucat. Mereka tidak tega melihatnya.
" Siapa nama suami Ibu?". Tanya Pak Handoko.
"Namanya Ujang Pak". Jawab Nenek
Dengan langkah cepat dia menuju ke ruangan kasir untuk membayar pengobatan suami nenek itu. Dia mengeluarkan cek yang bertuliskan seratus juga kepada kasir rumah sakit untuk membayar biaya pengobatan Pak Ujang. Lalu memberi kartu nama kepadanya.
" Ini saya bayar pengobatan Pak Ujang yang memiliki penyakit ginjal di ruangan ujung sana. Tolong lakukan pengobatan terbaik padanya. Ini kartu nama saya, jika biaya nya masih kurang silahkan hubungi saya." Pak Handoko menyerahkan selembar cek dan kartu nama.
"Baik Pak. Saya akan mengurus semuanya." Setelah itu pengobatan untuk Pak Ujang pun di mulai. Pihak Rumah sakit langsung menangani pak Ujang.
Nenek yang kebingungan kenapa pihak rumah sakit bertindak seperti.
"Ada apa suster? ".Tanya Nenek
"Kami mau melakukan cuci darah pada suami ibu." Jawab suster sekaligus bergerak menuju sebuah ruangan steril untuk melakukan cuci darah.
" Tapi saya kan belum bayar suster?" Tanya nenek lagi
" Semua sudah di bayar oleh Bapak itu". Seraya menunjuk ke arah Pak Handoko.
" Terima Kasih Pak." Kata nenek dengan mata nanar terharu.
" Jangan sungkan Bu. Saya hanya sedikit membantu." Jawabnya merendah.
" Oh Iya.. Nama ibu siapa? Sekarang tinggal di mana?". Tanya Pak Handoko
" Nama saya Halimah. Biasa dipanggil Nek Imah. Saya hanya tinggal berdua dengan suami saya karena kita tidak punya anak. Akan tetapi semenjak Bapak sakit dan semua harta saya termasuk rumah saya satu satunya dijual saya tinggal di rumah sakit ini." Jelas nenek.
" Oke.. sehabis bapak cuci darah. saya ingin ibu ikut dengan saya." Ucap Pak Handoko
" Mau kemana Pak?". Tanya Nek Imah
" Ke salah satu rumah saya di kota ini. dekat dari rumah sakit ini. Ibu bisa tinggal di situ selamanya. Ibu hanya fokus kepada pengobatan Bapak. Tidak perlu bayar. Saya sudah bayar semuanya." Jawab Pak Handoko.
" Kenapa Nak Handoko baik pada saya? Kita kan baru saja kenal." Tanya Nek Imah heran.
" Saya dan istri anak yatim piatu bu. Dulu kita juga pernah susah. Jadi saya bertekad untuk membantu orang yang membutuhkan". Jawab Pak Handoko.
"Anggap saja saya dan istri saya anak ibu." Lanjutnya.
Setelah cuci darah selesai Pak Handoko mengajak Nek Imah ke rumah yang dia bilang tadi. dan memberikannya kunci rumah itu. Setelah itu pamit pulang ke Jakarta untuk menemui anak anaknya.
Pak Handoko menolong pengobatan suaminya hampir setahun hingga suatu hari suaminya meninggal karena sudah tidak kuat lagi. Pak Handoko dan istrinya pun datang melayat dan mengurus semua kepeeluan penguburan. Nek Imah berjanji dalam hati apabila suatu saat nanti dia dapat membantu keluarga tersebut nek Imah tidak akan meolaknya
#Flashback Off#.
Tak berapa lama kemudian Nek Imah mencatat alamat rumah duka yang ada di televisi dan bergegas mengambil barang-barangnya dan pergi kesana.
Beberapa saat setelah itu Nek Imah sampai di rumah duka. Dia melihat ketiga anak Pak Handoko sedang menangis. Dia sudah menetahui wajah anak anak Pak Handoko dari foto yang ditunjukkan Bu Tasya saat bu Tasya berkunjung ke rumah nenek sesekali.
Nek Imah mendekati ketiga anak itu dan membujuknya. Celyn yang sangat nyaman dengan pelukan nenek itu pun heran.
"Nenek siapa?" Tanya Celyn.
" Nenek adalah keluarga jauh dari Papamu.". Jawab Nenek lembut.
"Tidurlah Nak.. Nenek akan tetap di sini menemani kalian dan merawat kalian sampai kalian dewasa. tidak perlu takut. Nenek sudah berjanji kepada orangtua kalian." Jawab nenek. Akhirnya Celyn dan kedu adiknya tidur dengan tenang di pangkuan nenek itu.
semangat