Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu
Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. mayat di lantai
Rahma berusaha untuk memejamkan mata ketika jam tidur telah tiba dan saat ini sekitar jam dua pagi, padahal sejak tadi dia sudah beristirahat dan hanya bisa rebahan di dalam kamar tanpa melakukan aktivitas lain Karena Rahma ingin istirahat terlebih dahulu dan besok bisa melanjutkan pekerjaan tanpa ada hambatan seperti tadi siang.
Namun mata ini malah tidak bisa untuk diajak kompromi sehingga dia hanya gelisah di dalam kamar itu, bermain ponsel juga sudah dia lakukan namun hanya membuat kepala bertambah sakit sehingga dia memutuskan untuk memejamkan mata walau agak terpaksa, kalau terus menuruti diri untuk bermain ponsel maka nanti yang ada Rahma tidak akan pernah bisa tidur dan besok dia akan kesiangan.
Blaaaap.
''Hahhhh!'' Rahma tersentak bangun dan dia menatap ke sana kemari untuk memperhatikan ruangan.
''Ya allah apa itu tadi kok terasa sangat seram sekali?'' Rahma memegang dada dia yang berdebar kencang.
''Ini Pasti karena aku banyak pikiran jadi malah memikirkan hal yang tidak jelas.'' Rahma kembali meringkuk.
Tapi untuk memejamkan mata gadis ini masih belum berani karena tadi apa yang telah dia lihat sungguh sangat menyeramkan, tangan Rahmat terulur untuk meraba pipi dia yang sepertinya tadi terkena tetesan darah Namun ternyata tidak ada apa-apa di wajah gadis cantik itu.
Meski tidak ada tetesan darah namun tetap saja Rahma merasa berdebar dan dia beranggapan bahwa rumah ini pasti telah menyimpan sesuatu yang sangat mengerikan, sejak awal datang tadi dia sudah bisa merasakan namun gadis ini berusaha untuk tetap rileks dan berpikir positif saja karena niat dia datang ke rumah ini adalah untuk bekerja.
''Ini pasti karena malam pertama jadi terasa begitu.'' Rahma berkata sendirian untuk menenangkan diri.
''Aku ambil minum saja dulu lah kalau begitu.'' gadis ini bangkit dari tempat tidur untuk mencari minum.
Krieeeeet.
''Pasti semua sudah tertidur lelap dan hanya aku yang belum bisa tertidur seperti ini.'' keluh Rahma dan menuang air ke dalam gelas.
''Hahaaaaa pokoknya aku sangat yakin bahwa nanti bisa mendapat yang lebih baik Kalau aku pergi ke sana.'' suara Susanto tertawa kencang.
''Oh sepertinya juragan rumah ini juga belum tidur ya.'' Rahma mendengar suara itu dan dia mengintip dari jendela dapur untuk memastikan.
Terlihat pada halaman belakang sana memang seorang pria sedang bersantai dan berbincang dengan seorang wanita, Rahma menduga bahwa itu adalah pemilik rumah dan mereka sedang membicarakan sesuatu sehingga terlihat begitu bahagia sekali, Rahma hanya tersenyum karena dia beranggapan bahwa ini adalah keluarga yang harmonis sehingga akan terus bahagia seperti yang telah dia lihat.
Nanti Setelah dia tahu sendiri maka pasti dirinya akan sangat syok karena tidak menyangka bahwa rumah tangga sang majikan begitu dingin dan juga hambar, tambah lagi sikap Dina yang begitu kaku sehingga pasti membuat semua orang tidak nyaman ketika berbicara dengan wanita pemilik rumah megah tempat Rahma bekerja.
''Heh kau sedang apa?'' tegur Helen ketika Rahma masih mengintip.
'' Allahu Akbar!" Rahma kaget sekali karena Helen mendadak datang seperti itu.
''Jangan kepo dengan urusan majikan karena mereka pasti sedang membicarakan masalah pribadi.'' Helen berkata sambil menatap Rahma.
''Iya, tadi aku hanya tidak sengaja mendengar percakapan mereka dan melihat siapa yang sedang berbicara itu.'' Rahma Berusaha menjelaskan kepada Helen.
''Dia adalah pemilik rumah ini alias majikan kita semua.'' jelas Helen kepada Rahma.
''Oh pantas saja mereka terlihat seperti keluarga bahagia yang sedang berbincang.'' Rahmat tersenyum manis agar Helen bisa sedikit mencair juga kepada dia dan tidak terus-terusan bersikap kaku seperti itu.
Namun sungguh di luar dugaan sikap gadis tersebut karena sekarang Helen justru tertawa setelah mendengar ucapan Rahma, Entah dengan maksud apa namun yang jelas Helen tertawa sehingga membuat Rahma penasaran kenapa dia tertawa seperti itu seolah menyepelekan ucapan yang keluar dari mulut Rahma tadi tentang keharmonisan rumah tangga majikan mereka.
''Ya.'' Helen mengedipkan mata kepada Rahma dan dia segera masuk ke dalam kamar.
''Dia kenapa sih kok sangat aneh seperti itu?'' Rahma menjadi bingung dengan sikap Helen.
Helen sendiri tidak mau menjelaskan tentang rumah tangga yang telah dimiliki oleh Dina dan juga Susanto, sebab menurut dia itu bukan hal yang rahasia lagi ketika nanti Rahma berada lama di dalam rumah ini. cepat atau lambat Rahma pasti akan paham kenapa rumah tangga majikan Mereka terlihat begitu harmonis bila sedang diperhatikan, namun bila yang sudah tahu maka mereka akan sangat bingung karena Dina dan Susanto seolah memiliki jarak tersendiri.
...****************...
''Eh kok banyak sekali lipan dalam kamar ini sih.'' Vera tertegun ketika membuka kamar milik Matteo.
''Ini kena gigit satu saja sudah bisa pingsan karena sangat besar sekali, Apa yang membuat mereka berkumpul di dalam kamar ini?'' gumam Vera sendirian dan dia segera mengambil pemukul.
Namun Entah mengapa pandangan wanita ini malah mengikuti arah lipan itu berjalan, hingga dia tidak jadi mengambil sapu terlebih dahulu dan mengikuti untuk melihat lebih lanjut mereka ini berombongan untuk mengerumuni apa dan kenapa rumah sebesar ini menyimpan begitu banyak lipan di dalam kamar, padahal itu adalah hewan yang sangat berbahaya dan bila sekali saja menggigit maka bisa membuat orang pingsan.
''Apa itu?!'' Vera mendekat untuk memperhatikan lebih lanjut.
''Allahu akbar!''
Vera menjerit keras ketika dia melihat lipan itu mengerubungi sebujur mayat di dalam kamar, Bagaimana bisa rumah megah milik Mateo tersebut justru telah tersimpan mayat dengan sangat mengerikan sehingga Vera merasa marah kepada sang suami dan menimbulkan tanda tanya begitu besar di dalam hati dia.
Apa yang telah terjadi kepada rumah ini dan Apa mungkin Mateo juga ada sangkut paut dengan mayat tersebut, Vera gemetar karena dia semakin ke sini maka semakin menyadari bahwa kemungkinan mereka akan mengalami banyak masalah, terutama ketika sudah mulai mendekat kepada Dina itu.
''Sayang!'' Matteo kaget karena melihat Vera sampai jatuh terjengkang seperti itu.
''Kenapa bisa ada mayat di dalam rumah kamu ini Matteo?!'' Vera bertanya dengan nada tinggi.
''Mayat! mayat Apa yang sedang kau bicarakan ini?'' Matteo terlihat bingung dengan ucapan sang istri.
''Kau lihat itu mayat yang sedang dikerumuni oleh rombongan para lipan!'' Vera menunjuk ke atas lantai.
Alis mata Matteo sampai menyatu karena dia mengerutkan kening setelah melihat lantai yang begitu bersih namun menurut Vera di situ ada sebujur mayat, melihat ekspresi sang suami menjadi seperti itu maka Vera melihat kembali ke arah lantai dan kali ini dia menjadi semakin kaget karena mayat itu sudah tidak ada di sana lagi.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.
knp Bu Yuni asal tuduh aja padahal ga ada bukti😒 jln satu2nya datangkan purnama sang ratu ular👍