NovelToon NovelToon
Istri SAH Yang Disia-siakan

Istri SAH Yang Disia-siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irmayani Mursid

Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."

​Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing

Aroma menyengat cairan antiseptik dan suara dengung kipas angin tua menjadi hal pertama yang menyambut kesadaran Ardi. Kelopak matanya terasa seberat timah saat perlahan terbuka. Langit-langit putih yang mengelupas dan lampu tabung yang berkedip suram langsung menegaskan satu hal: dia tidak sedang berada di kamar penthouse mewahnya, melainkan di bangsal kelas tiga sebuah rumah sakit umum daerah.

"Ardi... kamu sudah sadar?"

Suara parau dan serak itu membuat Ardi menolehkan kepalanya yang terasa pening luar biasa. Di samping ranjang besinya, duduk Mama Widya dan Rika, kakak perempuannya. Penampilan keduanya membuat Ardi tersentak. Tidak ada lagi setelan baju sutra mahal atau riasan wajah tebal. Mama Widya tampak kuyu dengan rambut acak-acakan dan blus yang kusut, sementara Rika duduk melamun di lantai rumah sakit dengan mata sembap penuh sisa air mata. Di dekat mereka, hanya ada dua kantong plastik besar berisi pakaian seadanya—satu-satunya harta yang sempat mereka selamatkan sebelum pintu gerbang rumah mewah mereka dirantai besi oleh petugas sita.

"Ma... Mbak Rika... kenapa kalian ada di sini?" bisik Ardi, suaranya tercekat dan tenggorokannya terasa kering bak pasir.

"Kamu pingsan di jalan dekat rumah lama Sarah, Ardi," jawab Mama Widya, air matanya kembali luruh membasahi pipinya yang mulai keriput. "Ada warga sekitar yang menemukan kamu tergeletak di aspal. Mereka melihat ponselmu yang terus berdering, lalu mengangkat telepon dari Mama saat rumah kita digerebek orang-orang berbadan tegap itu. Warga yang baik itu yang membawa kamu ke rumah sakit ini dengan ambulans."

Ardi memejamkan matanya rapat-rapat. Ingatan sebelum dia pingsan kembali berputar. Pengusiran di kantor PT Reksa Tama, rumah masa kecil Sarah yang kosong, telepon histeris ibunya, dan pesan singkat dari Tyas yang memilih kabur saat tahu dia bangkrut. Semuanya nyata. Bukan mimpi buruk belaka.

"Lalu... rumah kita bagaimana, Ma?" tanya Ardi lagi, berharap ada mukjizat kecil tersisa.

Rika tiba-tiba berdiri dengan emosi yang meledak. Dia menatap adiknya dengan tatapan penuh kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. "Rumah kita sudah digembok, Ardi! Semua baju mewahku, tas, sepatu, dan perhiasan Mama ditahan di dalam! Petugas itu bilang kamu menjadikan sertifikat rumah sebagai agunan pribadi! Kita diusir kayak gelandangan di depan tetangga, Ardi! Aku malu!"

"Rika, cukup... adikmu baru sadar," tegur Mama Widya lemah, meskipun duka di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Mama Widya beralih menatap Ardi dengan tatapan memelas. "Ardi, sekarang kita harus bagaimana? Tabungan Mama dan Rika juga tidak bisa ditarik karena semua rekening atas namamu dibekukan. Malam ini kita bahkan tidak tahu harus tidur di mana... dan biaya administrasi rumah sakit ini saja kita belum tahu pakai uang apa."

Ardi menatap langit-langit bangsal dengan pandangan kosong.

Di tengah desakan kabut keputusasaan yang dibawa oleh Mama Widya dan Mbak Rika, sebersit ingatan tentang Sarah mendadak menyengat kepala Ardi. Nama wanita itu terlintas bak bensin yang menyiram sisa-sisa api di dadanya. Rasa bersalah yang sempat mengintai dalam hatinya seketika menguap, digantikan oleh gelombang amarah yang meluap-luap.

Ardi mencengkeram sprei ranjang rumah sakit yang kasar dengan kuku-kukunya hingga memutih. Napasnya memburu kencang, memicu bunyi tak beratur dari mesin pemantau jantung di dekatnya.

"Sarah... ini semua pasti gara-gara perempuan itu!" geram Ardi, suaranya naik beberapa oktav hingga membuat Mama Widya terlonjak kaget.

"Ardi, kamu ini bicara apa? Jangan bawa-bawa Sarah sekarang, kita harus mikirin tempat tinggal!" tegur Mbak Rika kesal, merasa adiknya mulai kehilangan akal sehat.

"Mbak gak tahu apa-apa!" bentak Ardi, matanya memerah penuh urat kemarahan. Dia mencoba bangkit duduk meskipun kepalanya berputar hebat akibat vertigo. "Perusahaan konsorsium yang menyita Reksa Tama itu punya keluarga Sarah! Rendra, pria yang bawa surat sita ke kantorku itu pengacaranya Sarah! Perempuan dasteran itu... dia yang merancang semua ini! Dia sengaja menjebakku!"

Mama Widya ternganga, tangannya spontan menutup mulut karena tidak percaya. "Sarah? Sarah yang penurut itu? Bagaimana bisa, Ardi? Dia kan tidak punya apa-apa!"

"Dia menipuku, Ma! Selama ini dia pura-pura miskin dan polos di depan kita!" teriak Ardi frustrasi. Jantungnya berdegub liar bukan lagi karena takut, melainkan karena ego narsistiknya terluka hebat. Dia tidak terima dikalahkan, apalagi oleh istri yang selama bertahun-tahun ini dia injak-injak harga dirinya. "Kurang ajar! Berani-beraninya dia memperlakukan aku seperti ini! Siapa dia pikir dirinya bisa menghancurkan hidupku?!"

Ardi mencabut paksa jarum infus di punggung tangannya dengan kasar hingga tetesan darah segar mengucur ke lantai bangsal.

"Ardi! Kamu mau ke mana?! Jangan gila!" jerit Mama Widya panik, mencoba menahan tubuh adiknya dibantu oleh Mbak Rika.

"Lepas, Ma! Lepas, Mbak! Aku harus cari Sarah sekarang juga! Aku mau seret dia ke sini!" Ardi mengamuk, menyentakkan tangan ibu dan kakaknya hingga mereka terdorong ke samping. "Dia harus batalkan penyitaan ini! Dia tidak punya hak merebut hartaku! Aku yang membesarkan Reksa Tama, bukan dia! Sialan kamu, Sarah! Keluar kamu!!"

Mendengar penuturan Ardi, atmosfer di dalam bangsal kelas tiga itu mendadak ikut berubah pekat. Rasa sedih yang semula menggelayuti Mama Widya dan Mbak Rika seketika menguap, berganti dengan luapan kedengkian yang selama ini mereka pendam rapat-rapat.

Sejak pernikahan Ardi, baik Mama Widya maupun Mbak Rika memang tidak pernah menyukai Sarah. Di mata mereka, Sarah hanyalah wanita yatim piatu miskin yang beruntung bisa dinikahi oleh Ardi yang tampan dan sukses. Mereka terbiasa memperlakukan Sarah layaknya pelayan di rumah mewah mereka sendiri. Mengetahui bahwa wanita yang selalu mereka injak itu kini menjadi dalang di balik status gembel mereka, ego kedua wanita itu bergejolak hebat.

"Kurang ajar! Jadi perempuan mandul itu yang bikin kita terusir seperti gelandangan?!" pekik Mama Widya, wajah keriputnya mendadak memerah padam karena murka. Dia berdiri dari kursi plastiknya, menudingkan jari ke udara seolah Sarah ada di hadapannya. "Benar-benar ular berkepala dua! Di depan kita sok suci pakai daster robek, ternyata di belakang dia menyusun rencana busuk untuk memiskinkan suaminya sendiri! Dasar anak yatim piatu tidak tahu diuntung!"

Ardi mencengkeram sprei kasurnya lagi, menyusun sebuah delusi baru di kepalanya. "Sarah pikir dia sudah menang? Dia ingin cerai supaya status hukumnya bersih dari aku. Tapi selama aku menolak, selama aku mempersulit sidangnya dan tidak memberikan tanda tangan, dia akan tetap terikat sebagai istriku. Pernikahan ini adalah penjara seumur hidup yang tidak akan pernah bisa dia buka kuncinya. Aku tidak akan pernah melepaskan nama Sarah Amelia dari hidupku!"

Mbak Rika ikut maju ke dekat ranjang Ardi, melipat kedua tangannya di dada dengan napas memburu. Matanya berkilat penuh dendam mengingat koleksi tas bermerek dan pakaian mahalnya yang kini dikunci di dalam rumah yang disita.

"Benar, Ardi! Jangan pernah kamu kasih dia cerai! Enak saja dia mau bebas setelah bikin kita melarat!" sahut Mbak Rika berapi-api, ikut terpancing oleh hasutan adiknya. "Perempuan tidak tahu diri! Dia harus tahu rasa akibat berani mengusik keluarga kita. Biar dia menyandang status istri gantung seumur hidupnya! Biar dia tidak bisa menikah lagi dengan laki-laki kaya mana pun!"

"Tidak..." desis Ardi, rahangnya mengeras rapat sementara sisa amarahnya bercampur dengan niat licik yang pekat. "Aku tidak akan pernah menceraikan dia, Mbak. Sampai mati pun, aku tidak akan pernah menandatangani surat cerai itu!"

"Mama bersumpah, demi apa pun, hidup Sarah tidak akan pernah tenang setelah menganiaya suaminya sendiri!" serapah Mama Widya dengan suara melengking. "Harta hasil merampas dari suami tidak akan berkah! Dia pasti akan kena azab yang lebih mengerikan dari ini!"

Di dalam ruangan beralas semen yang dingin itu, tiga orang yang telah kehilangan segalanya itu saling melempar sumpah serapah. Ardi, Mama Widya, dan Mbak Rika bersatu dalam delusi kebencian mereka. Mereka merasa menjadi korban yang teraniaya, sepenuhnya menutup mata dari fakta bahwa kehancuran ini bermula dari kecerobohan, kesombongan, dan pengkhianatan manis yang Ardi lakukan di menara The Grand Pinnacle beberapa minggu lalu.

Mereka bersumpah untuk mengunci Sarah dalam status pernikahan, tanpa menyadari bahwa singa yang sedang mereka tantang di luar sana memiliki kekuatan yang jauh lebih besar untuk meremukkan sisa-sisa kesombongan mereka hingga tak bersisa.

.

.

.

.

.

.Makin kompak ya keluarga toksik ini menyalahkan Sarah! 😡🔥 Yuk, klik LIKE dan berikan dukungan kalian untuk Sarah agar bisa meremukkan pertahanan terakhir mereka di sidang nanti! Tulis komentar kalian di bawah! 👇✨

1
stela aza
lanjut thor lagi nanggung tau bacanya 🤭
aku
lah dalaaaaahhh semaput dia 😂😂
Alodiee: Kebayang gak kalau kamu yang di posisi dia? Pasti ikut semaput juga kan? 😂
total 1 replies
stela aza
mantap kali kau dapat kejutan bertubi-tubi,,, untung g jantungan trs kena stroke 🤭
Alodiee: Wkwkwk bener banget! Makasih ya udah setia ngikutin petualangan mereka sampai bab ini. ❤️
total 1 replies
stela aza
lanjut thor dikit bgt up-nya
Alodiee
wkwkwk sabar yahh Kak..Komentar kakak bener-bener bikin aku makin semangat buat lanjut nulis bab berikutnya. Ditunggu kelanjutannya ya!" 🥰
stela aza
lanjut thor up-nya double y
stela aza
aduh Thor ceritamu bikin gregetan udh g sabar pingin liat s kutukupret Ardi jantungngan 🤭🙏
Alodiee: Sama dong! Rahasia plot ke depan bakal bikin si kutukupret makin pusing. Stay tuned ya! ❤️
total 1 replies
stela aza
lanjut thor
stela aza
keren bgt istrinya ❤️❤️❤️
Alodiee
Kalau suka dengan ketegasan istri sah kita, jangan lupa klik bintangnya ya! Sampai jumpa di bab besok!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!