"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 12
Aku cukup tenang karena Mbak Naura dan Mas Harsa yang tak muncul, juga Ibu yang mengizinkanku kembali bekerja di pabrik Mas Firman meski dengan catatan aku tak boleh melibatkan perasaan pada mantan iparku itu.
Lagi pula, aku sedang tak ingin pacaran setelah Mas Harsa ketauan main serong sama Mbak Naura.
Aku bergidik, seandainya membayangkan jikalau tak tahu kelakuan Mas Harsa dan kami sampai menikah, entah sesakit apa hatiku nantinya.
"Mbak Hanin!" Nadia melambaikan tangan saat aku baru turun dari ojek online.
"Hai, Nad!"
"Astaga, Mbak. Lama banget liburnya ihh, bete aku tuh nggak ada temen curhat!" seru Nadia, aku hanya meringis tipis. Perasaan baru dua hari kayaknya aku nggak masuk.
"Rasaan baru dua hari deh," ujarku.
"Tiga hari kali, Mbak nggak amnesia kan?" tanya Nadia memicing, aku mengingat-ingat lagi, dan benar tiga hari karena waktu itu aku pergi sama Mas Firman seharian, tanpa bekerja.
Seketika aku menepuk jidat pelan, "makhlum, Nad. Udah tua."
"Giliran masalah lupa aja, Mbak ngaku tua hehe..."
"Terus gimana, kerjaan beres kan?"
Nadia mengacungkan jempol, "aman, gak ada lagi Mbak Marsya, gak tau kenapa dia udah nggak nongol lagi di pabrik, kayaknya lagi menikmati fase nyidam deh! Gimana kabar Mas Haikal? Mbak nggak masuk jangan-jangan diam-diam tunangan!"
Lagi-lagi, aku hanya bisa menepuk jidat mendengar celotehan Nadia yang panjang.
"Haikal ponakanku," ujarku pelan.
"Hah? Terus? Lho..." Nadia tampak kebingungan sementara aku hanya meringis, pasti dia salah paham.
"Haikal anaknya Mbakku, mantan istri Mas Firman. Masih SD, kamu kira siapa?" Aku terkekeh pelan.
"Astaga, aku kira kekasihmu, Mbak! Ayo masuk," ajak Nadia langsung manarik tanganku. Saat tanpa sengaja berpapasan dengan Mas Firman, ia hanya mengerjap tanpa kata dan melewatiku begitu saja.
Nyatanya, ujian sebenarnya adalah saat pertama kali kakiku menginjak gedung bersama Nadia, orang-orang menatapku penuh cibiran.
Menghela napas panjang, aku hanya bisa masuk dengan wajah datar. Ah andai aku masih di Jakarta, betapa indahnya hidupku karena disana tak ada kaum julid macam di kampung, apalagi di pabrik seperti ini.
"Wah yang udah kelar nyingkirin Bu boss, baru nongol dia. Astagfirullah banget kelakuannya," sindir salah satu dari mereka terang-terangan.
"Hm, biasa lah! Si paling sok cantik," seru yang lain.
"Dipelet apa Pak Firman sampai mau melepasin Mbak Marsya, demi dia!"
"Biasa lah, batu kali masih keliatan berkilau soalnya dangkal. Beda sama mutiara yang mesti ke dasar lautan dulu, yess!"
Sial, aku mengepal. Sementara Nadia sudah maju lebih dulu dengan tatapan tajamnya.
"Bisa diem nggak kalian? Julid bener jadi orang, masalah yang nggak ada kait-kaitannya sama Mbak Hanin jangan disangkut pautin."
God! Nadia memang the best.
"Kita bicara kenyataan kali Nad, udahlah!"
"Lagi pula, kemarin ada yang lihat Mbak Hanin jalan sama Pak Firman kok ke dufan, nanti aku mintain fotonya deh!"
Deg...
Nadia menoleh ke arahku, membuatku menghela napas panjang.
"Memangnya kenapa kalau kami jalan bareng? Mas Firman mantan kakak iparku, jadi aku rasa nggak ada masalah kan? Kenapa harus bergosip?" Aku menaikkan alis, bagiku menghadapi orang-orang julid tak perlu ngoyo dan pakai otot, cukup dengan jawaban santai akan membuat mereka kelonjotan.
"What kakak ipar?" Mereka serempak melongo.
"Bener, Mbak?" tanya Nadia.
Aku berjalan melewati mereka menuju meja kerjaku, "bener, tapi kan nggak semua orang harus tau. Lagian, percuma jelasin semuanya sama orang yang benci kita, mereka tetap akan mencari segala kekurangan bukan?"
Nadia mengangguk, "iya, Mbak. Itu sih aku setuju banget."
"Tetep aja, kamu udah bikin Bu Marsya dan Pak Firman bercerai," sentak Anita mendekat.
Entah, aku merasa tak mengenal gadis itu, tapi kenapa saat gosip soalku dan Mas Firman, ia sangat emosi? Aku yang tadinya sudah duduk terpaksa kembali berdiri, wanita ngeyel bin julid emang harus dilawan biar gak jadi kuman.
"Duduk deh, nggak ada hubungannya sama kamu kan, Nit?" Nadia menimpali.
"Hm, dan gak perlu kamu se-emosi itu demi membela Bu Marsya, aku tahu batasanku sendiri!" Enak saja, aku sudah banyak masalah mau nambahin masalah lagi.
"Emang kamu tuh ya, pelakor nggak tau diri!" tanpa terduga, ia mendorongku kuat hingga tubuh ini membentur meja.
Detik berikutnya semua menggelap, pandanganku buram dan aku tak ingat apa-apa.
***
"Nin, Hanin bangun!" suara tegas itu samar ku dengar. Mataku perlahan terbuka seiring kesadaran yang mulai ku dapat.
"Mas?" Aku mengernyit lalu melihat sekeliling.
"Kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?" cercanya, wajah tegas itu entah kenapa terlihat tampan saat khawatir. Atau mungkin, sebenarnya otakku sudah geser karena sering bertemu dengannya.
"Ini dimana Mas Firman?" tanyaku kembali melihat sekeliling. Ruangan ini sangat asing, apa aku di rumah sakit? Tapi ini ranjang empuk segede gaban, masa iya?
"Kamarku."
Deg...
"Kamar?" aku terkejut.
Mas Firman mengangguk, "aku akan menghukum Anita. Menurutmu apa yang tepat? Memotong gaji atau memecatnya?"
"Eh!" seketika aku membulat.