Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKANDAL #1
Dodi duduk di ruang kerjanya, jemarinya bergerak cepat menekan tombol ponsel. Ia sibuk menghubungi seluruh anggota timnya, memerintahkan mereka untuk menelusuri lebih dalam mengenai jejak ban mobil yang ditemukan di lokasi kejadian. Setelah selesai memberi arahan, ia segera meminta rekaman CCTV dari sekeliling rumah Seto. Namun sayangnya, tidak ada satu pun kamera pengawas yang terpasang di daerah perkampungan itu — tempat yang sepi dan jauh dari jangkauan pengawasan umum.
Dodi tidak habis akal. Ia langsung mengirim pesan kepada bawahannya agar melacak setiap rekaman CCTV jalan raya yang mengarah ke perkampungan tersebut. Jika tidak ada di dalam, pasti ada jejak yang terekam saat mereka masuk atau keluar. Dengan begitu, pelaku tidak akan bisa lolos begitu saja.
Setelah menyampaikan semua perintahnya, Dodi berdiri, berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan, dan menuangkan minuman alkohol ke dalam gelas. Ia duduk kembali sambil memegang gelas itu, menunggu dengan sabar namun penuh kekhawatiran sampai laporan dari anak buahnya tiba.
Tak lama kemudian, ia menekan nomor telepon Jefry. Saat panggilan tersambung, suaranya terdengar tegas namun rendah.
"Jefry, aku menemukan petunjuk penting terkait kasus kematian Seto," kata Dodi langsung pada intinya. "Akan aku laporkan lagi jika ada perkembangan yang lebih baru."
Di ujung telepon, Jefry terdengar lega. "Terima kasih, Dodi. Tetap laporkan setiap perkembangan, sekecil apa pun itu. Aku ingin tahu segalanya."
"Baik," jawab Dodi singkat, lalu menutup teleponnya.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Jefry berdiri di ruangan yang remang-remang — ruang bawah tanah rumahnya yang luas dan dingin. Di hadapannya, seorang lelaki terikat di kursi, wajahnya babak belur penuh memar dan darah akibat dipukuli berkali-kali oleh dua orang berbadan besar yang berdiri di sampingnya. Jefry melangkah maju perlahan, menatap lelaki itu dengan tatapan dingin, lalu berkata dengan nada meremehkan.
"Bisnisku tidak akan bisa bertahan begitu lama kalau aku kesulitan hanya untuk mengurus masalah sekecil ini," ucapnya tajam.
Lelaki itu hanya menunduk lemah, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Jefry tertawa keras — tawa yang terdengar mengerikan di ruangan yang sunyi itu. Ia lalu mengangkat tangan dan memberi isyarat singkat kepada kedua bodyguardnya.
"Eksekusi dia," perintahnya tanpa ragu sedikit pun.
Setelah itu, Jefry berbalik dan berjalan keluar dari ruang bawah tanah itu dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menaiki tangga menuju lantai atas, lalu berjalan menuju taman luas di belakang rumahnya — tempat yang sejuk dan indah, jauh dari suara dan bau ruang bawah tanah yang baru saja ia tinggalkan.
Di tempat lain, di lantai paling atas Loyalty Hotel, ruangan VIP remang-remang terasa semakin panas. Cahaya lampu yang redup menyinari wajah mereka berdua yang duduk berdampingan tanpa jarak. Di meja masih tergelar minuman dan barang terlarang, namun tak satu pun dari mereka lagi memedulikannya. Udara di ruangan itu terasa berat, hangat, dan penuh ketegangan yang tak terucapkan.
Mama Billy menggeser tubuhnya hingga menempel sepenuhnya pada sisi tubuh Rey. Lengannya melingkar di lengan pemuda itu, meremas perlahan dengan lembut namun tegas sambil menatap wajah Rey dengan mata yang berbinar liar dan menyala penuh api keinginan. Wanita ini bukan sekadar cantik — ia adalah wanita yang liar, penuh gairah yang tak pernah padam, dan tahu persis apa yang ia inginkan. Bibirnya merah merona, selalu sedikit terbuka seakan siap mencium atau menggoda, dan setiap gerakannya lambat, penuh keyakinan, seakan sengaja menampilkan lekuk tubuhnya yang indah dan menggoda.
"Rey..." suaranya mendesah rendah, serak dan basah, bibirnya hampir menyentuh kulit pipi Rey. "Kau lihat Tante, kan? Tante bukan wanita yang sabar menunggu lama... bukan wanita yang malu-malu menyembunyikan apa yang Tante mau. Tante itu liar, Rey... dan gairah di dalam diri Tante tak pernah padam siang maupun malam. Kau tahu betapa beratnya menahan api yang terus membakar setiap inci tubuh Tante ini?"
Rey menelan ludah, napasnya mulai memburu, tak kuasa menahan tatapan mata wanita itu yang begitu tajam dan berani. "Tante... sebenarnya Ayah meminta tolong agar aku menyampaikan —"
Mama Billy mendengus pelan, lalu tiba-tiba meletakkan kedua telapak tangannya di dada Rey, meraba naik turun dengan tegas namun lembut, seolah sedang menelusuri setiap detak jantung pemuda itu yang kini berpacu kencang.
"Sudah... lupakan dulu pesan ayahmu itu," potongnya dengan nada manja namun penuh gairah yang meledak-ledak. "Tante bilang Tante itu wanita yang tak suka menunggu. Di sini, sekarang, hanya ada kau dan Tante. Dan kau... kau milikku malam ini, sepenuhnya. Tante akan memuaskan semuanya — api yang membakar dada, rindu yang menyiksa malam demi malam, semuanya pada kau. Mengerti?"
Ia mendekatkan bibirnya tepat ke telinga Rey, menghembuskan napas hangat dan basah yang membuat seluruh tubuh pemuda itu merinding seketika.
"Lihatlah Tante baik-baik..." bisiknya dengan suara yang bergetar penuh hawa, tangannya merambat turun ke lengan Rey, meremas pelan dengan kuat namun lembut. "Tante ini wanita yang penuh gairah, tak pernah puas, tak pernah cukup hanya sekali. Tangan Tante haus menyentuh, bibir Tante lapar mencium, tubuh Tante mendambakan kehangatanmu setiap detik. Kau siap melayani wanita yang liar seperti Tante, Rey? Atau kau terlalu lemah untuk menahan segala hasrat yang Tante miliki?"
Rey gemetar, tangannya perlahan bergerak ragu menyentuh pinggang wanita itu yang berbentuk indah dan tegap. "Aku... aku tidak akan keberatan, Tante."
Mama Billy tersenyum lebar — senyum yang liar, penuh kemenangan, dan penuh janji yang menggairahkan. Ia mencengkeram dagu Rey dengan kuat namun lembut, menatap matanya lekat-lekat seakan ingin menelan seluruh kesadaran pemuda itu.
"Bagus... karena Tante tak akan bersikap lembut padamu," bisiknya dengan napas yang semakin memburu dan hangat membasahi wajah Rey. "Tante akan liar, Rey... persis seperti yang Tante inginkan. Tante akan menciummu dengan lapar, memelukmu dengan erat, dan memintamu memberi Tante segala yang kau miliki. Tante tak akan berhenti sebelum Tante benar-benar puas, benar-benar lelah, dan benar-benar merasa kau milik Tante seutuhnya. Kau tak akan lari, kan? Sekalipun Tante memintamu terus dan terus tanpa henti?"
Rey mengangguk dengan napas berat. "Aku tidak akan lari, Tante. Aku siap menerima apa pun yang Tante lakukan."
Mendengar itu, mata Mama Billy menyala terang seakan api di dalam dirinya baru saja meledak tak terbendung. Tanpa menunggu lagi, ia menarik wajah Rey mendekat dan mencium bibirnya dengan liar dan lapar — ciuman yang panjang, basah, dan penuh hawa yang tak lagi dibendung. Lidahnya menyapa dengan berani dan mendesak, menuntut balasan yang makin dalam dan makin berani. Tangan-tangannya merambat naik turun di punggung Rey dengan gerakan yang liar dan penuh keinginan, menarik tubuh pemuda itu semakin menempel erat pada dirinya seolah tak ingin memberi ruang sedikit pun di antara mereka.
Saat berpisah sebentar untuk bernapas, wajah mereka masih saling berhadapan sangat dekat, napas mereka beradu hangat dan berat. Mama Billy mengusap bibir Rey dengan ibu jarinya yang basah, matanya menyala penuh kepuasan yang baru saja dimulai.
"Kau lihat?" bisiknya dengan senyum yang menggoda dan liar. "Tante bilang Tante itu wanita yang tak sabar. Dan malam ini masih sangat panjang, sayang... gairah Tante baru saja bangkit. Bersiaplah, karena Tante tak akan melepaskanmu sampai pagi tiba."
Ia kembali mencium bibir Rey, kali ini lebih lama, lebih dalam, dan lebih ganas dari sebelumnya — persis seperti wanita liar dan penuh gairah yang ia akui sendiri. Di ruangan yang remang dan tertutup rapat itu, udara semakin panas dan penuh hasrat yang meledak di antara mereka berdua.