NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Luka dan Sumpah

Keisha menerima telepon Surabaya sambil tetap menekan kasa di lengan Arya.

Petugas administrasi medis dari RS Permata menjelaskan bahwa mereka menerima berkas permintaan pemindahan Anindita Kusumo. Herman tercatat sebagai wali medis dan menyatakan kondisi pasien memburuk sehingga membutuhkan fasilitas lain. Rumah sakit meminta konfirmasi penjamin, ringkasan medis resmi, dan jadwal serah terima.

"Tidak ada persetujuan transfer dari tim dokter Bandung maupun keberatan keluarga yang sudah tercatat," kata Keisha. "Tolong jangan jadwalkan perpindahan sebelum berbicara langsung dengan rumah sakit asal. Kirim salinan berkas yang Anda terima ke bagian hukum dan alamat resmi saya."

Petugas menyetujui verifikasi ulang. Keisha lalu menelepon ruang perawatan Anindita. Perawat jaga memastikan Mama masih berada di kamar yang sama. Tanda vital stabil, tidak ada penurunan akut, dan seluruh layanan berjalan.

Salinan pertama tiba melalui surel resmi sebelum mereka berangkat. Berkas itu memakai ringkasan medis lama, tidak memuat tanda tangan dokter penanggung jawab saat ini, dan mencantumkan “penurunan kondisi” tanpa hasil pemeriksaan terbaru. Ada formulir jaminan pembayaran perusahaan, tetapi belum ada persetujuan fasilitas asal.

Keisha meneruskan berkas asli, bukan tangkapan layar, kepada pengacaranya dan bagian hukum RSUD. Ia meminta metadata serta jalur pengiriman dipertahankan. Dokumen tersebut mencurigakan, tetapi belum boleh disebut palsu sebelum dibandingkan dengan sumber dan pihak penandatangan.

"Jangan berikan pasien kepada transportasi mana pun tanpa instruksi dokter penanggung jawab dan verifikasi bagian hukum," kata Keisha.

"Sudah ada catatan khusus, Dokter. Kami akan menghubungi Anda kalau Pak Herman datang."

Baru setelah itu Keisha mengembuskan napas.

"Mama belum dipindahkan," katanya kepada Arya. "Berkas Surabaya memakai kata memburuk, tapi tim di sini tidak mencatat keadaan darurat."

"Simpan semua surel dan waktu telepon," jawab Arya. "Kita minta pengacaramu membandingkan berkas dengan rekam medis asli."

"Kita?"

"Iya. Kita."

Bu Yati kembali membawa handuk dan tas. Pengemudi sudah menunggu. Arya hendak berjalan sendiri, tetapi wajahnya memucat ketika berdiri.

Keisha memegang sisi tubuhnya yang tidak terluka. "Jangan sok kuat. Tekan kasanya."

"Baik, Dokter."

Mereka tiba di IGD RS Kartika kurang dari tiga puluh menit kemudian. Firdaus sudah diberi kabar. Ia memeriksa luka, fungsi jari, rasa sentuh, kekuatan gerak, dan aliran darah distal. Tidak ada tanda cedera tendon, saraf, atau pembuluh besar. Foto sederhana tidak menunjukkan serpihan kaca tertinggal.

"Luka ini perlu irigasi, anestesi lokal, dan penutupan," katanya. "Tetanus terakhir kapan?"

Arya menjawab, lalu menerima pembaruan sesuai penilaian tim.

Keisha berdiri di samping meja tindakan. "Saya ingin membantu."

Firdaus menatapnya. "Anda keluarga pasien dan proses credentialing belum selesai. Saya tetap dokter penanggung jawab. Kalau Anda terlibat, hanya di bawah supervisi langsung, dicatat, dan Anda boleh berhenti kapan saja."

"Saya mengerti."

Arya juga diberi pilihan ditangani penuh oleh tim jaga. "Aku setuju Keisha membantu kalau dia nyaman."

Setelah verifikasi izin profesi dan persetujuan dicatat, Firdaus mengawasi Keisha membersihkan area serta memasang jahitan sederhana. Perawat tetap membantu. Sembilan jahitan menutup luka di lengan bawah Arya.

Pada jahitan pertama, Arya tidak berkedip.

"Sakit?" tanya Keisha.

"Tidak."

"Saya bisa meminta tambah anestesi."

"Cukup."

"Jangan kembali menjadi pasien yang berbohong."

"Aku sedang berusaha terlihat berani di depan istriku."

Keisha menahan senyum. "Terlambat. Saya melihatmu memukul kaca dua kali. Itu bukan berani. Itu bodoh."

"Setuju."

Firdaus mengangkat alis mendengar Arya mengaku tanpa membantah.

Saat balutan akhir dipasang, Keisha berkata, "Kamu tidak boleh mengangkat beban, merendam luka, atau latihan sampai diperiksa kembali. Dan panel kaca diganti oleh teknisi, bukan kamu."

"Semua biaya dan perbaikan tanggung jawabku. Aku juga akan menambah lapisan pengaman yang bisa dibuka petugas darurat tanpa merusak privasi."

Keisha mengangguk. Itu bukan pengampunan, tetapi konsekuensi sudah mulai dijalankan.

Setelah Firdaus keluar untuk menyelesaikan catatan, ruangan menjadi sunyi.

"Ceritakan Vanya dari awal," kata Keisha.

Arya bersandar pada ranjang. "Kami berpacaran saat kuliah. Bunda menyukainya. Vanya ingin hidup yang bisa diatur dan terlihat sempurna. Ketika aku memilih jalur militer yang lebih berat, dia mulai membuat keputusan atas namaku dan memakai kedekatan dengan keluargaku agar aku mundur. Dia berbohong tentang beberapa hal. Aku mengakhiri hubungan dan memutus kontak pribadi."

"Lalu Tata?"

Arya menatap balutan barunya. "Seorang rekan gugur dalam tugas dan meninggalkan amanah tentang seorang anak. Bertahun-tahun kemudian, dokumen yang kuterima menyebut Tata sebagai anak yang terkait amanah itu dan berada dalam perawatan Vanya. Aku memastikan biaya dasarnya dibayar melalui jalur tercatat, bukan memberikan uang tunai kepada Vanya."

"Kamu percaya Tata adalah anak rekanmu?"

"Awalnya. Sekarang ada tanggal, asal dokumen, dan riwayat pengasuhan yang tidak cocok. Karena itu aku belum berani mengatakan siapa orang tuanya. Yang pasti, dia bukan anakku."

"Apakah penyelidikanmu akan mengambil sampel dari Tata diam-diam?"

"Tidak. Tidak ada pengambilan DNA atau pemeriksaan anak tanpa dasar hukum dan persetujuan yang sah. Bara mulai dari dokumen, aliran biaya, asal akta, serta orang dewasa yang terlibat."

Keisha mengangguk. "Bagus. Tata sudah cukup dipakai orang dewasa. Kalau nanti perlu pemeriksaan, kepentingan dan pendampingan anak harus lebih dulu."

"Setuju. Aku juga akan memberi laporan tahap pertama kepadamu, bukan hanya kesimpulan akhir."

Keisha mencerna penjelasan itu. "Kenapa Vanya yang merawat?"

"Itu bagian yang sedang diperiksa. Aku seharusnya memberitahumu bahwa aku sendiri ragu, bukan menutup semuanya."

"Iya."

"Aku minta maaf."

Keisha menarik kursi dan duduk lebih dekat. "Saya juga minta maaf karena membiarkan noda lipstik berbicara lebih keras daripada caramu menolak dia di depan umum. Tapi saya tidak menyesal meminta fakta."

"Kamu tidak perlu menyesal."

Ponsel Keisha berdering. Herman.

Ia menyalakan pengeras suara.

"Datang ke Surabaya besok," kata Herman. "Kondisi Anindita tidak bisa terus ditanggung. Ada pihak yang mau menyelesaikan biaya dan mengambil beberapa aset perusahaan. Kalau kamu tidak hadir, proses jalan tanpa kamu."

"Mama stabil di Bandung. RS Permata sudah saya minta memverifikasi dokumen Pak Herman. Semua rapat aset harus lewat undangan dan draf resmi."

"Kamu pikir suami tentaramu bisa melawan pemegang kuasa perusahaan?"

Arya mendekat ke ponsel. "Kami tidak perlu melawan di luar hukum. Kami hanya perlu membuat setiap tanda tangan dan aliran uang diperiksa."

Herman terdiam, lalu memutus sambungan.

Keisha menatap Arya. "Kamu tidak harus ikut."

"Masalahmu adalah masalahku. Bukan berarti aku mengambil keputusan darimu. Aku ikut sebagai suami, dan tim hukum bekerja atas izinmu."

"Kamu baru selesai dijahit."

"Aku masih bisa duduk di pesawat atau mobil."

"Kita belum memutuskan pergi."

"Baik. Kita putuskan setelah melihat dokumen."

Arya membungkuk mendekati telinga Keisha. Suaranya rendah, bukan ancaman, melainkan janji yang menyimpan sesuatu.

"Soal Herman dan perusahaan Mama-mu, percaya padaku. Kamu belum tahu siapa yang kamu nikahi."

Keisha membeku.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!