Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Persaingan di Ruang Perawatan
Lautan Grand Line membentang luas tanpa batas, menampilkan gradasi warna biru tua yang tenang di bawah sinar matahari pagi.
Kapal Bajak Laut Mugen meluncur dengan kecepatan stabil membelah ombak kecil. Tidak ada badai petir. Tidak ada armada Angkatan Laut yang mengepung. Selama tiga hari terakhir, pelayaran berjalan dengan sangat damai dan lambat, memberikan waktu bagi seluruh awak kapal untuk memulihkan diri dari ketegangan tingkat tinggi.
Di dalam kabin utama, keheningan menyelimuti ruangan yang luas itu.
Bau khas ramuan herbal bercampur dengan wangi salju tipis memenuhi udara. Jendela kayu kabin dibiarkan sedikit terbuka, membiarkan angin laut berhembus pelan membawa kesejukan ke dalam ruangan.
Uchiha Madara berbaring di atas ranjang kayunya.
Suhu tubuhnya yang sebelumnya sempat nyaris merebus air kini telah kembali normal sepenuhnya. Warna merah padam di wajahnya sudah menghilang, digantikan oleh warna kulit pucat khas seorang Uchiha. Napasnya teratur dan dalam, menandakan bahwa proses pemulihan biologis tubuhnya berjalan dengan sukses.
Di sisi ranjang dan sudut ruangan, pemandangan yang tidak biasa terlihat dengan jelas.
Ketiga wanita mematikan yang menjadi kru inti kapal ini tampak tertidur lelap dalam posisi yang sangat tidak nyaman. Kelelahan akibat berjaga selama tiga hari berturut-turut tanpa istirahat meruntuhkan pertahanan fisik mereka.
Vinsmoke Reiju tertidur di atas sebuah kursi kayu bergaya klasik. Kepala sang putri racun itu terkulai lemas ke samping, sementara koper medis peraknya terbuka di atas meja dengan deretan jarum suntik yang belum sempat dirapikan.
Di sudut sofa dekat jendela, Nico Robin meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Buku catatan sejarah yang biasa dibawanya terjatuh di lantai, terbuka pada halaman yang dipenuhi catatan kuno.
Sementara itu, Monet tertidur di lantai beralaskan permadani tepat di samping ranjang Madara. Gadis berambut hijau pucat itu memeluk erat jubah hitam milik sang kapten, seolah takut benda itu akan direbut oleh orang lain bahkan di dalam mimpinya.
Mereka bertiga menghabiskan waktu berhari-hari untuk saling mengawasi, bersaing secara diam-diam dalam hal siapa yang paling layak merawat kapten, hingga kelelahan total akhirnya menumbangkan mereka secara bersamaan.
Uchiha Madara membuka kelopak matanya perlahan.
Iris hitam kelamnya langsung menangkap pemandangan tiga wanita tertidur lelap di sekitarnya.
Madara menatap Reiju, beralih ke Robin, lalu menatap Monet yang tidur meringkuk di lantai dekat kakinya. Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya. Kenbunshoku Haki miliknya sudah memindai keberadaan mereka sejak kesadarannya mulai pulih beberapa jam lalu.
Madara mendengus pelan dari hidungnya. Suara dengusan itu terdengar sangat dingin namun dipenuhi oleh pengakuan yang jujur.
‘Loyalitas yang bodoh dan merepotkan,’ batin Madara mengevaluasi situasi tersebut.
Bagi seorang hantu Uchiha yang terbiasa dikhianati oleh sekutu dan dibuang oleh desanya sendiri, pemandangan orang-orang yang mempertaruhkan kesehatan mereka demi menjaganya adalah hal yang sangat asing. Dia tidak percaya pada rasa cinta atau ikatan emosional murahan.
Namun, dia adalah seorang ahli strategi yang sangat pragmatis.
Dia mengakui nilai dari kepatuhan absolut ini. Ketiga wanita ini memiliki kekuatan, kecerdasan, dan utilitas yang tinggi. Membiarkan mereka tetap hidup dan berada di sisinya adalah keputusan taktis yang sangat tepat untuk menaklukkan lautan ini.
Madara menggerakkan jari-jari tangannya.
Otot-otot di tubuhnya sudah merespons perintah otaknya dengan baik. Efek samping dari penggunaan Mangekyou Sharingan dan demam tinggi telah dibersihkan oleh metabolisme tubuhnya yang mulai stabil.
Dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Suara kayu ranjang yang berderit pelan membuat Monet terbangun seketika. Insting pengintaian gadis salju itu langsung aktif. Monet membuka mata emas kekuningannya, melompat berdiri dengan cepat, lalu berlutut di depan Madara.
“Tuan Madara! Anda sudah bangun!” seru Monet dengan suara serak karena kurang tidur. Wajahnya memancarkan kelegaan yang luar biasa besar.
Gerakan tiba-tiba itu juga membangunkan Reiju dan Robin.
Reiju menegakkan duduknya, merapikan rambut merah mudanya yang sedikit berantakan, sementara Robin memungut buku catatannya dari lantai dengan gerakan anggun. Ketiganya langsung siaga berdiri mengelilingi ranjang, melupakan rasa lelah mereka dalam sekejap begitu melihat kapten mereka telah pulih.
Madara mengabaikan tatapan khawatir dari ketiga bawahannya itu.
Dia mengangkat tangan kanannya, menyentuh dadanya yang baru saja sembuh dari sayatan pedang. Luka itu telah menutup sempurna, meninggalkan bekas garis tipis di balik kemeja hitamnya.
‘Pertarungan melawan Onigumo memberikan pelajaran yang sangat telanjang,’ batin Madara serius.
Evaluasi diri itu berputar di dalam kepalanya. Masalah utamanya bukanlah pada teknik atau pemahaman taktis. Masalah utamanya adalah wadah fisik.
Tubuh remaja ini adalah sebuah batasan yang rapuh. Kapasitas sirkulasi chakra, kepadatan tulang, dan daya tahan ototnya tidak sebanding dengan kekuatan monster-monster veteran Grand Line yang melatih fisik mereka selama puluhan tahun. Jika dia terus memaksa menggunakan jurus tingkat tinggi atau Susanoo tanpa penguatan fisik, tubuhnya akan hancur dari dalam sebelum musuh sempat menyentuhnya.
Madara membutuhkan peningkatan struktural pada sel-sel tubuhnya.
Dia menutup matanya sejenak, memusatkan kesadarannya untuk menyelam ke dalam sistem Sistem penaklukan yang terikat di dalam jiwanya.
Sebuah layar biru transparan muncul di hadapan batinnya.
[Pemberitahuan Sistem.]
[Status Penguasa Faksi: Stabil.]
[Total Poin Reputasi saat ini: 545.000 Poin.]
Angka setengah juta poin itu berkedip terang di sudut layar, hasil dari panen raya teror yang dia sebarkan ke seluruh dunia setelah insiden armada Angkatan Laut.
Madara mengarahkan kesadarannya ke menu toko peningkatan fisik di dalam Sistem.
Terdapat berbagai macam pilihan serum, teknik pernapasan purba, dan metode penguatan sel. Matanya langsung mengunci pada satu item spesifik yang dirancang khusus untuk melewati batas biologis manusia biasa.
[Item: Serum Peningkat Kepadatan Sel Fisik (Tingkat Lanjut)]
[Deskripsi: Memaksa struktur sel otot, tulang, dan jaringan organ dalam untuk menyerap energi spiritual secara permanen. Meningkatkan daya tahan fisik hingga lima ratus persen, mempercepat regenerasi alami, dan memperkuat kapasitas jalur tenketsu.]
[Harga: 150.000 Poin Reputasi.]
Tanpa sedikit pun keraguan, Madara memberikan perintah konfirmasi di dalam pikirannya.
[Konfirmasi pembelian item: Serum Peningkat Kepadatan Sel Fisik (Tingkat Lanjut).]
[Pengurangan Poin Reputasi: 150.000 Poin.]
[Sisa Poin Reputasi: 395.000 Poin.]
Tiba-tiba, sebuah tabung kaca kecil berisi cairan berwarna emas kemerahan muncul dari dalam ruang hampa sistem, mendarat dengan mulus di tangan kanan Madara yang terulur di atas ranjang. Tabung itu memancarkan kehangatan yang menembus kulit.
Reiju, yang berdiri paling dekat, melebarkan matanya saat melihat tabung kaca tersebut muncul secara instan dari udara kosong tanpa bantuan mesin atau trik sulap. Pengetahuan ilmiahnya sebagai putri Germa langsung berteriak protes pada hukum fisika yang baru saja dilanggar di depan matanya.
Madara membuka penutup tabung kaca itu. Dia tidak menjelaskan apa pun kepada bawahannya. Dia langsung meneguk seluruh cairan emas kemerahan itu dalam satu kali tegukan.
Cairan itu terasa sangat dingin saat melewati tenggorokannya, namun begitu masuk ke dalam perut, cairan itu berubah menjadi ledakan energi murni yang menyebar ke seluruh pembuluh darahnya.
Madara menutup matanya rapat-rapat.
Reaksi dari serum itu langsung bekerja secara brutal. Seluruh tulang di dalam tubuhnya mengeluarkan suara retakan kecil yang berirama. Jaringan ototnya merobek dan menyatu kembali dengan kepadatan yang jauh lebih masif. Aliran chakra di dalam jalur tenketsu-nya berputar dengan kecepatan tinggi, membersihkan setiap kotoran dan membuka sumbatan kecil yang selama ini membatasi staminanya.
Proses transformasi itu memakan waktu sekitar satu menit dalam keheningan total.
Saat Madara membuka kembali matanya, warna hitam kelam di iris matanya terlihat jauh lebih tajam dan jernih.
Dia mengepalkan tangan kanannya. Udara di sekitar kepalan tangannya bergetar akibat peningkatan kekuatan fisik murni yang baru saja menyatu dengan sel-sel tubuhnya. Wadah remaja ini kini memiliki ketahanan dasar yang setara dengan petarung veteran Grand Line, tanpa harus mengurangi keunggulan chakra aslinya.
‘Ini jauh lebih baik,’ batin Madara dengan seringai tipis di sudut bibirnya.
Masalah fisik telah diselesaikan. Kini, dia beralih ke masalah kedua yang tidak kalah krusial.
Senjata.
Sabit Kama miliknya telah hancur berkeping-keping di atas kapal perang Angkatan Laut akibat kelelahan material baja Germa. Bertarung tanpa senjata utama di lautan para monster adalah sebuah kerugian taktis yang besar. Dia membutuhkan senjata yang tidak akan pernah patah, senjata yang diciptakan khusus untuk menyerap chakra dan memantulkan serangan.
Madara kembali membuka menu utama sistem penaklukan.
Dia menggeser navigasinya menuju kategori perlengkapan legendaris dan senjata pusaka masa lalu. Dengan sisa poin reputasi sebanyak 395.000 poin, dia memiliki akses ke beberapa item tingkat tinggi yang tersimpan di dalam arsip sistem.
Di antara daftar senjata yang tersedia, sebuah ikon berbentuk kipas raksasa berwarna hitam dengan lambang pusaran merah menyala di tengahnya menarik perhatiannya.
[Item Pusaka: Gunbai Uchiwa (Kipas Perang Legendaris Uchiha)]
[Deskripsi: Senjata pusaka tradisional klan Uchiha. Terbuat dari kayu khusus dari Pohon Suci yang dilapisi material tahan hancur absolut. Mampu menyerap serangan berbasis energi atau jutsu musuh, mengubahnya menjadi elemen angin, dan memantulkannya kembali melalui teknik Uchiha Gaeshi (Pemantulan Uchiha). Dilengkapi dengan rantai baja penghubung.]
[Harga: 300.000 Poin Reputasi.]
Tiga ratus ribu poin. Harga yang sangat setimpal untuk sebuah senjata yang pernah menjadi simbol kekuatan mutlak Madara di medan perang dunia shinobi.
Tanpa ragu sedikit pun, Madara memberikan perintah pembelian.
[Konfirmasi pembelian item pusaka: Gunbai Uchiwa.]
[Pengurangan Poin Reputasi: 300.000 Poin.]
[Sisa Poin Reputasi: 95.000 Poin.]
Di dalam kabin utama yang sunyi itu, udara di depan Madara tiba-tiba mulai berdistorsi.
Sebuah pusaran ruang dan waktu kecil berputar perlahan, mengeluarkan suara dengungan frekuensi rendah yang membuat nyala lampu minyak berkedip tidak stabil. Pusaran hitam itu membesar hingga berukuran selebar tubuh manusia.
Dari dalam pusaran ruang tersebut, sebuah benda besar meluncur keluar.
Benda itu mendarat di lantai kayu kabin dengan suara dentuman berat yang membuat seluruh lantai bergetar.
Gunbai Uchiwa.
Kipas perang legendaris itu kini berada tepat di hadapan Madara. Bentuknya menyerupai labu raksasa dengan warna hitam legam pada bagian bilah utamanya. Tepian kipas itu dilapisi oleh besi hitam yang tajam dan tidak akan pernah tumpul. Di bagian tengah bilah tersebut, tergambar lambang pusaran api tradisional klan Uchiha berwarna merah terang.
Sebuah rantai baja tebal melilit erat di bagian gagang kayu dan terhubung ke pelindung tangan.
Hawa keberadaan dari senjata pusaka itu langsung memenuhi seluruh ruangan. Aura kuno yang dipancarkan oleh kayu Pohon Suci membuat Robin, Reiju, dan Monet merasakan tekanan spiritual yang cukup pekat, memaksa mereka mundur satu langkah ke belakang karena takjub.
Madara mengulurkan tangan kanannya.
Dia menggenggam erat gagang kayu Gunbai tersebut. Sentuhan tangan itu terasa sangat pas, seolah senjata ini dan dirinya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang terikat oleh sejarah darah dan pertempuran.
Dia mengangkat kipas raksasa itu dengan satu tangan dengan sangat mudah, merasakan peningkatan kekuatan otot dari serum penjas yang baru saja dia beli.
‘Selamat datang kembali, temanku,’ batin Madara, menatap lambang pusaran merah di permukaan kipas tersebut dengan senyuman kemenangan yang dingin.
Ketiga wanita di depannya menatap senjata baru itu dengan tatapan penuh kekaguman. Mereka menyadari bahwa kapten mereka yang kini telah pulih sepenuhnya, membawa tingkat ancaman yang jauh lebih mengerikan daripada saat dia menghancurkan armada Angkatan Laut beberapa hari lalu.
Puncak pemulihan telah tercapai. Uchiha Madara siap melangkah keluar dari kabinnya, membawa serta kipas legendaris dan tubuh fisik yang sempurna, untuk melanjutkan penaklukan tanpa batas di lautan Grand Line.