NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Aturan-Aturan Aneh Suamiku

Dua puluh menit kemudian, Jocelyn sudah berdiri sambil menyampirkan tas ke bahu.

“Kamu belum membalas pesan suamimu.”

Vivi menatap layar ponsel. Pesan dari Sebastian masih terbuka.

Kamu sudah makan?

Ia mengetik pelan.

Sudah. Aku bersama Joce di SCBD.

Tanda centang biru muncul hampir seketika.

Di mana tepatnya?

Vivi belum sempat menjawab ketika pesan kedua masuk.

Kirim lokasinya.

Jocelyn mengintip dari samping. “Nah, ini dia. Suami atau pusat komando pelacakan?”

“Dia memang selalu menyuruhku melapor.”

“Selalu?”

Vivi mengangguk sambil membagikan lokasi kafe. “Kalau keluar rumah, aku harus bilang pergi dengan siapa, ke mana, dan pulang jam berapa.”

“Red flag.”

“Katanya demi keamanan.”

“Red flag pakai jas mahal tetap red flag.”

Vivi memasukkan ponsel ke tas. Dulu ia menerima semua aturan itu karena merasa berutang pada Sebastian. Pernikahan mereka menyelamatkan PT Winata. Sebagai istri kontrak, mengirim lokasi terasa seperti harga kecil yang harus dibayar.

Setelah melihat caranya memandangi kantong berisi gaun tidur tadi malam, aturan-aturan itu tak lagi terasa sederhana.

Ia teringat sarapan pagi tadi.

Sebastian sudah pergi ke kantor sebelum Vivi turun. Namun, di samping piringnya ada sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan tegas.

Kalau pergi membeli pakaian, kirim fotonya.

Aturan itu muncul setahun lalu setelah Vivi pulang membawa tiga kantong belanja. Sebastian bilang ia harus mengetahui barang apa saja yang masuk ke rumah demi kebersihan. Vivi menurut. Setiap membeli gaun, sepatu, bahkan piyama, ia memotret barang tersebut dan mengirimkannya.

Pagi tadi, untuk pertama kalinya ia mempertanyakan alasan itu.

Jika yang ingin diperiksa adalah kebersihan barang, mengapa Sebastian beberapa kali meminta foto saat pakaian tersebut sudah dikenakan?

Pipi Vivi mendadak panas.

“Hei.” Jocelyn melambaikan tangan di depan wajahnya. “Kenapa melamun sambil merah begitu?”

“Tidak ada.”

“Kamu baru memikirkan aturan aneh yang ternyata mesum, ya?”

“Joce!”

Tawa Jocelyn mengikuti mereka keluar dari kafe.

***

Gunawan Group menempati salah satu menara kaca paling mencolok di jantung SCBD. Logo perak perusahaan membentang di belakang meja resepsionis, memantulkan langkah orang-orang yang bergerak cepat di lantai marmer hitam.

Vivi pernah datang dua kali untuk acara resmi. Selalu setelah namanya didaftarkan dan tim Sebastian menjemput di lobi.

Hari ini, ia datang tanpa janji.

“Kalau kita diusir, aku akan pura-pura salah gedung,” bisik Vivi.

Jocelyn menekan tombol kacamata hitamnya ke atas kepala. “Kamu istri pemilik gedung.”

“Itu tidak menjamin aku boleh masuk ke kantornya.”

“Kalau benar begitu, kita pindahkan rapat ke media sosial. Judulnya: Istri CEO Dilarang Naik ke Kantor Suami.”

“Tolong jangan membuat sesuatu viral hari ini.”

“Aku tidak berjanji.”

Mereka baru berjalan tiga langkah menuju meja depan ketika seorang resepsionis berdiri.

“Selamat siang, Bu Vivian.”

Vivi berhenti. “Anda mengenal saya?”

“Tentu, Bu.” Perempuan itu tersenyum profesional. “Pak Sebastian pernah meminta seluruh petugas keamanan dan staf front office menghafal foto Ibu serta keluarga inti Ibu. Jika Ibu datang, kami harus langsung memberikan akses prioritas.”

Jocelyn menoleh sangat pelan kepada Vivi.

Tatapannya berkata banyak hal. Sebagian besar tidak pantas diucapkan di lobi perusahaan.

“Keluarga inti saya juga?” tanya Vivi.

“Om Hendra dan Tante Lidya,” jawab resepsionis itu. “Kami diberi instruksi agar tidak pernah membuat keluarga Winata menunggu di lobi, apa pun keperluannya.”

Vivi tak segera menjawab.

Dalam kehidupan pertama, ia mengira Sebastian hanya menolong PT Winata karena kontrak. Ia tak pernah tahu bahwa foto Papa dan Mama beredar dalam pengarahan keamanan perusahaan, bukan untuk diawasi sebagai pihak bermasalah, melainkan agar mereka selalu diterima.

“Sejak kapan instruksi itu berlaku?”

Resepsionis tersebut memeriksa sesuatu di tabletnya. “Sejak sebelum pernikahan Ibu, kalau saya tidak salah.”

Sebelum pernikahan.

Jantung Vivi berdetak satu kali terlalu keras.

Jocelyn berdeham. “Ini perlindungan keluarga atau daftar pencarian orang?”

Resepsionis itu tampak tak yakin apakah boleh tertawa.

Vivi mencubit pelan lengan sahabatnya. “Jangan ganggu orang yang sedang bekerja.”

“Aku hanya kagum. Sebastian kelihatannya seperti manusia yang bahkan tidak hafal ulang tahun sendiri, tapi seluruh kantor wajib hafal wajah mertuanya.”

Vivi ingin membantah. Sebastian memang terlihat dingin, tetapi akhir-akhir ini terlalu banyak detail yang tak cocok dengan gambaran itu.

Gaun tidur yang hilang.

Aroma pada boneka beruang.

Pesan makan siang.

Sekarang foto keluarga Winata yang sudah disebarkan bahkan sebelum mereka menikah.

Satu per satu, permukaan suaminya mulai retak. Di bawahnya bukan jawaban, melainkan pertanyaan yang semakin banyak.

“Apakah Pak Sebastian sedang menerima tamu?” Vivi bertanya.

Resepsionis memeriksa jadwal di tablet. “Ada pertemuan dengan perwakilan Wijaya Group di lantai teratas.”

Celine.

Jemari Vivi mendingin.

Ia ingat nama itu, senyum manisnya, dan kekacauan yang selalu mengikuti setiap kali perempuan tersebut mendekati Sebastian. Ini salah satu simpul bahaya yang tidak boleh ia biarkan berjalan seperti kehidupan pertama.

“Kami akan naik,” kata Vivi.

Resepsionis mengambil kartu berwarna emas dari laci terkunci. “Ini akses lift pribadi Pak Sebastian. Silakan, Bu Vivian.”

Pintu lift terbuka tanpa bunyi.

Vivi menerima kartu itu dan melangkah masuk bersama Jocelyn. Saat pintu emas mulai merapat, Jocelyn menekan tombol lantai teratas dan tersenyum seperti orang yang baru menemukan hiburan terbaik hari ini.

“Ayo,” katanya. “Kita beri suamimu kejutan.”

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!