"Aku ingin mati saja, buat apa aku hidup toh semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang bisa dibanggakan lagi dari diriku. Semuanya telah hancur. Keluargaku akan hancur bila mengetahui ini semua, akulah kebanggaan mereka tapi kini leyaplah semua" ucapku dengan melempar buku-buku. Aku duduk terdiam dengan fikiran menerawang entah apa yang aku fikirkan. Aku gak punya semangat lagi, seakan semuanya musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 UJIAN AKHIR
Hari ini adalah ujian akhir semester. Para mahasiswa menjalani ujian, tak terkecuali mahasiswa jurusan Komunikasi. Najwa, panji dan lain-lain lagi fokus membaca soal-soal. Iwan yang anti dengan mata kuliah Filsafat hanya nolah noleh berharap teman-temannya mau ngasih jawaban.
"Ji..." panggil iwan, namun panji gak mendengar panggilan iwan, akhirnya iwan balik memanggil deden yang kebetulan duduk didepan iwan.
"Den" panggil iwan, namun sialnya bukan deden yang noleh tapi malah pak rahmad sang dosen yang melihat kearah iwan.
"Ada apa iwan kok manggil deden, kalau mau ngobrol nanti saja jangan sekarang"
"Eh.... Anu...anu...bolpen saya ngadat pak, mau pinjem bolpen deden yang lainnya"
"Den pinjem bolpen kamu" ucap iwan sambil ngedip mata. Deden yang paham maksud iwan membalas dengan kedioan juga. Tak lama deden melempar kertas ke depan iwan yang langsung ditangkap oleh iwan. Mereka memang selalu kompak dalam segala hal. Tanpa terasa mereka sudah bersahabat 4 tahun lebih. Suka duka mereka jalani bersama-sama. Mereka bukan hanya sekedar sahabat tapi sudah seperti saudara. Bahkan dikontrakan panji, mereka disediajan kamar kalau sewaktu-waktu mereka menginap disana.
"Alhamdulillah ujian udah selesai, tinggal ketahap selanjutnya yaitu skripsi, kita harus semangat yok tinggal dikit lagi kita lulus" ujar Najwa memberikan semangat pada oara sahabatnya.
"Aduhhhhh tambah mumet ini, bikin males aja" celetuk panji yang langsung mendapatkan
Pelototan dari Najwa.
"Ngomong apa barusan yank" tanya Najwa sambil mencubit lengan suaminya.
"Aduh maaf yank becanda" jawab panji sambil cengar cengir. Teman-teman yang lain ketawa melihat tingkah pasutri itu. Namun disela tawa mereka tiba-tiba handphone panji berbunyi, panji segera mengambilnya di dalam saku. Alisnya berkerut saat melihat siapa yang telfon. "Amel ngapain dia telfon" gumam panji. Panji heran aja kenapa tiba-tiba amel telfon, padahal selama dia pergi meninggalkan panji, hingga membuat panji stres dan mendekati minuman haram. Amel merupakan cinta pertamanya yang membuat panji gila. Entah kesalahan apa membuat amel meninggalkan panji disaat sayang-sayangnya. Kini disaat panji sudah menemukan pendamping yang benar-benar panji sayang, amel datang kembali, entah mau apa sebenarnya. Panji membiarkan telfon imel, membuat Najwa curiga.
"Kok gak diangkat yank?" tanya Najwa yang membuat kaget panji.
"Ehhhh itu.... Gak penting. Yaudah kita makan yok ufah laper nech" ajak panji pada teman-temannya. Akhirnya mereka sepakat untuk mencari makan diluar. Tapi disatu sisi Najwa pas belum puas dengan jawaban panji karena selama mereka menikah, panji belum pernah bersikap mencurigakan seperti ini. Fikiran Najwa menerka nerka sebenarnya apa yang disembunyikan oleh suaminya itu. Selama mereka makan, Najwa gak selera makan dan banyak diam, membuat panji merasa aneh dan takut kalau istrinya berfikiran yang macem-macem. Panji berniat kalau sudah nyampek dikontrakannya, dia akan menjelaskan semuanya. Panji melihat istrinya yang diam hanya bisa membiarkannya terlebih dahulu karena gak enak pada teman-temannya. Panji yakin Najwa akan marah tapi gak apa-apalah dari pada kami berantem dideoan teman-teman. Setelah kami selesai makan, kami memutuskan pulang kekontrakan kami masing-masing. Selama dijalan kami Najwa dan panji hanya diam. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing. Sesampainya dikontrakan handphone panji berbunyi lagi tapi panji masih membiarkannya, hingga beberapa kali tetap panji biarkan. Najwa yang merasa terganggu dan menahan gejolak keingintahuan alasan suaminya gak mau angkat telfin, akhirnya segera keluar dari kamar menghampiri panji yang lagi tiduran sambil nonton tv.
"Kenapa telfonnya dari tadi gak diangkat? Siapa yang telfon" tanya Najwa mulai emosi.
"Teman lama yank, males angkatnya" jawab panji masih dengan nada santai.
"Males apa karena ada aku?"
"Apaan sih yank, beneran lagi gak mood ngomong sama dia, lagian dia itu bukan siapa-siapa kok" panji berusaha tenang.
"Yaudah kalau gitu biar aku yang angkat"
"Kenapa sih yank kok jadi kamu emosi gini hmmm" panji melihat wajah Najwa yang sudah merah karena menahan marah. Panji sebenarnya tahu cuma dia berusaha tenang agar mereka gak sampai berantem.
"Aku curiga aja karena selama kita menikah, kamu gak pernah bersikap kayak gini, aku merasa ada yang kamu sembunyikan dari aku" Najwa berusaha mengeluarkan uneg uneg yang sedari tadi dia tahan. Najwa hanya takut ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya.
"Beneran yank gak ada yang aku sembunyikan, aku cuma males aja ngomong sama dia karena dia mantan aku dulu" panji berusaha jujur agar istrinya gak tambah ngamuk.
"Ngapain mantan kamu telfon lagi, apa dia gak tau kalau kamu udah nikah. Ato jangan-jangan dia mau ngajak balikan"
"Aku juga gak tau yank kenapa dia telfon lagi, lagian biarin aja lah. Aku mau kekamar mandi dulu" panji berdiri dan segera pergi kekamar mandi. Gak berapa lama panji pergi, handponenya berbunyi lagi. Najwa segera mengangkatnya.
"Hallo siapa ya" tanya Najwa dengan hati bergemuruh karena yang telfon bernama imel.
"Loh..justru aku yang nanyak kenapa kamu yang angkat telfon. Lagian kenapa handphone panji ada sama kamu" imel pura-pura tidak tahu kalau panji sudah menikah agar panji gak curiga kalau imel mengetahuin dari mamanya panji dan yang menyuruh imel mendekati panji ya mamanya juga karena mamanya panji gak suka pada Najwa yang orang miskin. Mamanya panji berniat memisahkan panji dan Najwa dengan menyuruh imel masuk lagi dalam kehidupan panji karena imel merupakan cinta pertama panji dan panji begitu tergila gila pada imel. Tapi itu dulu sebelum panji mengenal Najwa.
"Ya wajar saya yang angkat karena anda sudah mengganggu kami dengan anda menelfon suami orang. Apa anda tidak tau kalau panji saat ini sudah menikah?" Najwa masih dalam keadaan sabar.
"Owww ini istrinya toh..ok salam kenal dech dari aku. Aku imel mantan panji yang paling dia sayang, dulu panji tergila gila pada aku. Dan aku yakin Panji masih sayang sama aku secara aku cinta pertamanya" ucap imel dengan penuh percaya diri.
"Waaahh ternyata ada yang punya niat mau jadi pelakor toh, kasihan sekali anda. Apa anda sudah tidak laku sehingga masih mengharapkan suami orang. Kalau begitu mendingan anda membuat iklan diri anda saja di sosmed siapa tahu laku mahal" ucap Najwa tak kalah sadis dari imel.
"Kurang ajar...kamu pikir panji sayang sama kamu hah...dia itu nikahin kamu karena kasihan aja, panji banyak cerita sama aku. Sebenarnya dia itu nikahin kamu karena terpaksa" imel berusaha manas manasin hati Najwa agar Najwa marah dan berantem dengan panji.
"Satu hal lagi, panji bilang kamu itu gak level sama dia karena kamu hanya orang miskin yang hanya mau numpang hidup saja" imel langsung mematikan telfon secara sepihak. Najwa hanya bisa diam menahan marah dengan kata-kata imel. Najwa gak habis fikir kenapa imel bisa tau kalau dirinya orang gak punya. Apa imel hanya ngira-ngira saja. Ach masak begitu. Atau jangan-jangan panji nelfon dia dengan diam-diam. Benar-benar bikin emosi aja. Tak berselang lama, panji keluar sudah dalam keadaan segar karena habis mandi.