NovelToon NovelToon
Selingkuh Terindah

Selingkuh Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:36.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.

Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun ​di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.

Pilihan yang sulit, ​Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.

Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?

Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balada Popok Kotor

Tasya hanya bisa menatap Dicky dari balik kaca. Ia menangis dalam diam melihat malaikat kecilnya terbaring dengan banyak selang terhubung di tubuhnya. Monitor di samping tempat tidurnya sebagai penanda kalau Dicky masih ada di dunia ini.

"Kamu yang sabar ya, Sya. Kamu banyak berdoa saja. Aku yakin, di dalam sana, anakmu itu tahu kalau kamu sangat menyayanginya." Ucapan Radit membuat hati Tasya menghangat. Di tengah keputusasaannya melihat Dicky yang belum juga sadar, ucapan Radit mampu membuat semangat Tasya kembali tumbuh. "Kamu itu kuat, Sya. Aku bisa lihat betapa tegarnya kamu."

Tasya mengangguk lalu menghapus air matanya dengan sapu tangan harum milik Radit. "Terima kasih banyak, Pak. Kalau bukan karena Bapak, entah bagaimana aku mampu membayar semua biaya pengobatan Dicky."

"It's oke. Kamu juga tidak meminta padaku secara cuma-cuma." Radit mengusap kepala Tasya lalu keluar dari ruangan. "Ayo, kita kembali ke kantor!"

.

.

.

Hari pertama bekerja sebagai asisten pribadi Radit, Tasya pulang dengan tubuh yang sangat lelah. Ia baru saja sampai di rumah megah milik Ibu Welas, belum sempat duduk namun suara Ibu Welas yang menyebalkan dan otoriter sudah menyambutnya.

"Wah, hebat sekali karyawan kantoran ini, jam 09.00 malam baru pulang. Kerja apa kamu jam segini baru pulang? Lupa kalau punya suami yang harus diurus?" Ibu Welas melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Tasya dengan tatapan sinis.

"Maaf Bu, aku baru pindah bagian jadi masih harus beradaptasi ditambah jalanan sangat macet." Tasya mengulurkan tangannya untuk salim pada Ibu Welas namun mertuanya malah berjalan meninggalkannya sambil mengomel.

"Pindah bagian jadi apa sih? Kepala bagian? Manajer? Direktur? Kalau hanya jadi staff biasa saja sih tak usah sok pulang malam sampai suami tidak diurus. Tidak sepadan dengan gaji yang didapatkan!" Ibu Welas memberikan popok bersih pada Tasya dengan dilempar ke arahnya. "Ini! Bersihkan popok suamimu!"

Tasya menangkap popok yang Ibu Welas berikan, untung saja ia cekatan, kalau sampai jatuh bisa kena omel tambahan. "Iya, Bu." Tasya masuk ke dalam kamar suaminya. Aroma tak sedap langsung menusuk indra penciumannya. Tasya menahan dirinya agar tidak muntah. "Aku pulang, Mas."

"Malam sekali, Sya? Aku sudah tak nyaman memakai popok kotor ini!" Setyo menatap Tasya dengan sebal. Ia sudah buang air besar sejak tadi namun belum ada yang menggantikan popoknya, Ibu Welas terlalu lelah hari ini untuk mengurusnya sedangkan ia malu jika perawat yang menggantikan popoknya.

"Maaf, Mas. Aku ganti sekarang ya." Tasya menahan nafas saat mengganti popok kotor dengan yang baru. Ia melakukannya dengan sabar meski makanan yang ia makan rasanya mau keluar semua.

Selesai digantikan popok, Setyo kembali bertanya pada Tasya, "kamu belum jawab pertanyaan Mas tadi, Sya. Kenapa kamu pulang malam sekali?"

Tasya menyemprotkan pewangi ruangan ke seluruh kamar. Ia tak tahan dengan aroma tak sedap. "Aku pindah bagian, Mas. Pekerjaanku sekarang lebih baik namun jam pulang kerjanya tidak menentu."

"Sejak kapan? Kenapa kamu tidak cerita padaku sebelumnya?" Setyo menatap Tasya dengan tatapan penuh curiga. "Apa kamu menganggapku sudah tidak penting lagi?"

Tasya menghela nafas dalam. Ia lelah sekali hari ini, ingin rasanya merebahkan tubuhnya di atas kasur namun Setyo pasti tak akan berhenti bertanya sampai jawaban Tasya memuaskannya. "Bukankah kemarin aku sudah cerita sama Mas Setyo kalau aku akan pindah bagian? Mungkin Mas lupa."

Tasya hendak pergi ke kamarnya namun baru saja berdiri, Setyo kembali mengajukan pertanyaan padanya. "Mengenai uang operasi Dicky... Benar kamu dapatkan dari meminjam di kantor, Sya?"

"Benar, Mas. Sebelumnya aku pinjam dari Lilis namun yang kudapat tak banyak jadi aku mengajukan pinjaman ke kantor. Ada apa ya, Mas?" Tasya menatap Setyo dengan lekat.

"Oh... aku pikir kamu mengajukan pinjaman online. Syukurlah kalau kantormu mau meminjamkan." Setyo menghela nafas lega, semua yang Setyo lakukan tak luput dari pengamatan Tasya. "Sudah, kamu istirahat sana. Kamu pasti lelah. Jangan lupa, popok kotornya dibuang ya, Sya."

Tasya mengangguk pelan lalu keluar kamar Setyo dengan popok kotor di tangannya. Tasya menahan air mata yang ingin tumpah dengan sekuat tenaga sampai ia tiba di kamar sempitnya dan menumpahkan semuanya.

Tasya memukul dadanya yang terasa sesak. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, hatinya juga. Tasya mencoba menghibur dirinya sendiri. "Sabar, Sya. Mas Setyo sedang sakit. Kamu harus menjadi istri yang sabar dan kuat." Tasya mengusap dadanya sambil memejamkan mata.

"Kamu itu kuat, Sya. Aku bisa lihat betapa tegarnya kamu."

Ucapan Radit kembali terngiang di telinga Tasya, bahkan Tasya bisa merasakan kehangatan tangan Radit saat membelai lembut rambutnya.

Tasya menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Sadar, Sya. Sadar! Jangan terpedaya oleh kebaikan Pak Radit, tak ada yang gratis untuk semua yang ia berikan."

.

.

.

Seminggu kemudian....

Tasya sudah memandikan Setyo dan memakaikan pakaian yang rapi lalu mendorong kursi rodanya ke ruang makan. Dengan penuh kesabaran, Tasya menghidangkan dan menyuapi Setyo sarapan. Hari ini Setyo akan ke rumah sakit untuk check up dengan diantar Ibu Welas.

"Kamu tak bisa ijin untuk mengantarku ke rumah sakit, Sya?" rengek Setyo. "Aku mau kamu yang menemaniku."

"Maaf, Mas. Aku tak bisa ijin. Aku baru pindah bagian, tak enak kalau ambil cuti dadakan," tolak Tasya dengan tatapan menyesal karena tak bisa menemani suaminya.

"Untuk apa sih minta ditemani istrimu? Dia saja tidak mau membayar kekurangan biaya rumah sakitmu dan lebih mengutamakan anaknya. Nanti kalau ada tambahan biaya, mau bayar pakai apa dia? Sudah benar Ibu yang antar, mau bayar tinggal gesek kartu sakti Ibu, beres." Ibu Welas tersenyum sinis, puas jika bisa menghina Tasya.

"Bu, jangan begitu. Tasya-" Setyo berusaha membela Tasya, namun belum selesai ia berbicara, Ibu Welas sudah memotong ucapannya.

"Sudah siang, kamu jangan kebanyakan ceramahi Ibu. Ayo, kita berangkat." Ibu Welas mendorong kursi roda Setyo. Sebelum berangkat, ia menyuruh Tasya membereskan meja makan. "Jangan lupa bereskan dan cuci piring! Kasihan pembantu di rumah ini kalau kamu hanya diam saja tanpa membantu sama sekali!"

"Baik, Bu." Tasya tak jadi mengambil roti. Ia harus bergegas jika tak mau terlambat ke kantor. Cepat-cepat Tasya merapikan meja makan dan mencuci piring lalu berangkat kerja.

Jam 8 kurang 5 menit Tasya tiba di kantor. Hampir saja ia terlambat absen. Dengan nafas yang masih tersengal sehabis berlari, Tasya duduk di kursi kerjanya. Keringat membasahi kening Tasya, beberapa anak rambut miliknya nampak terkena keringat dan menempel di pipi.

Radit datang tak lama kemudian. Senyum lebar dan sapaan ramah terucap dari mulut lelaki tampan tersebut. "Pagi, Sya!"

"Pagi, Pak." Tasya kalah cepat dari Radit.

Radit menatap Tasya yang masih tersengal. "Kamu kenapa, Sya? Kok kayak dikejar setan?"

"Oh... tadi hampir saja aku telat, Pak. Aku habis berlari mengejar absen," jawab Tasya dengan jujur.

"Tak usah lari, nanti jatuh. Bilang saja padaku, nanti aku minta HRD tidak mencatatmu telat." Radit masuk ke dalam ruang kerjanya diikuti Tasya.

"Tidak usah, Pak, terima kasih. Besok aku akan datang lebih pagi agar tidak telat lagi." Tasya jadi tak enak hati. Siapa dia sampai bisa mendapat perlakuan istimewa dibanding karyawan lain?

Radit menaruh tas miliknya di atas meja. Ia mengeluarkan sesuatu lalu memberikan pada Tasya. "Ini, buat kamu!"

"Buatku?" Tasya menatap roti sandwich yang Radit berikan, nampak lezat dengan irisan sayuran dan keju serta daging ham tebal.

"Iya, buat kamu. Pasti kamu belum sarapan karena telat, makanlah. Aman kok, Mamaku yang buat. Bentuknya memang lebih besar dari porsi normal tapi rasanya dijamin enak." Radit mengeluarkan susu UHT dari dalam tas miliknya. "Ini, buat kamu juga. Kalau masih lapar, kita pesan makanan online saja ya. Kamu duduk saja di sofa, habiskan sarapanmu, aku mau mengerjakan pekerjaanku dulu."

"Terima kasih banyak, Pak." Tasya duduk di sofa seraya menikmati sandwich dan susu di tangannya. Lagi-lagi ada rasa yang berbeda menyelusup dalam dadanya.

"Sya!"

"Tasya!"

Tasya terkesiap. "Ah, iya, Pak."

"Itu, ponsel kamu berdering!" Radit menunjuk ponsel Tasya yang ada di saku blazer yang Tasya kenakan.

Tasya agak gelagapan. Ia merutuki dirinya yang melamun memikirkan Radit sambil sarapan, di depan orangnya pula. "I-ya, Pak."

Tasya menggulir tombol hijau di ponselnya lalu menjawab panggilan. Seseorang berbicara di seberang telepon sementara Tasya hanya diam saja dengan wajah tertunduk sedih sampai panggilan berakhir.

"Ada apa, Sya?" tanya Radit yang sejak tadi penasaran.

Tasya mengangkat wajahnya lalu menatap Radit dengan mata yang berkaca-kaca. "Pak, apa boleh aku meminjam uang Bapak lagi? Aku... bersedia tidur dengan Bapak untuk membayarnya. Bisa tolong aku lagi, Pak?"

****

1
Mawar Hitam
Untung sdh dapT jatah ehm jadi papi Richard gak marah..
yeni NurFitriah
Tasya bakalan banyak ketawa juga kalo jadi bagian keluarga Kusumadewa yg pada sengklek,Tasya bakal ikut sengklek apalagi kalo bergaul sama Maya🤭
Eka Marliyani
diawal nyesek diakhir lucu
yeni NurFitriah
🤣🤣ah Aq terhibur kalo udah nyeritain keluarga Kusumadewa,masih mending Radit nyuri Singkong goreng Pi...lah istri orang juga di curi Pi..😅hukum tuh anakmu Papi..
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ ¢ᖱ'D⃤ ̐
ibumu menolong pengobatanmu ya sudah kewajibannya sebagai orang tua dari pihak laki2 lah, apalagi kamu anaknya
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ ¢ᖱ'D⃤ ̐
dari sini udah tahu klo Setyo anak yg takut ma orang tua
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
benar sya,banyak halangan di hubungan rumah tangga mu,mertua yang toxic dan adanya pelakorrr.. lebih baik pergi menjauh
Mommy'ySnowy 💕
jngankn singkong org,, bini org aja radit ajak kabur..🤭🤣🤣🤣
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
Mertua Lucknut memang
Nanysetyarsi24 Nanyse24
gantian rebutin singkong goreng
Wanita Aries
gak ank gk bpk sama tengilnya🤣

huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
Dien Elvina
pasti ibunya s Setyo dan Siska bersorak gembira...pas Tasya pergi dari rmh nya 🤭
Dien Elvina
nah gitu Sya, pergilah dari rmh neraka itu ..carilah kebahagiaan mu ..tapi janganlah lupa ceraikan dulu s Setyo gendeng 🤣
Dien Elvina
wkwkwk rasain Lo Pi, singkong goreng nya d bawa kabur Radit 🤣
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣
tehNci
Hahaha....lucu banget Icad sama Radit. Keluarga yg sangat hangat. Konglomerat yg lagi rebutan singkong goreng🤣🤣🤣🤣
Irma
good job sya mingat dari rumah mertua yg seperti meraka ,urus surat ceraimu dan kembali kepelukan Radit pasti mendapatkan kebahagiaan mempunyai mertua yg baik hati dan suami penyayang seperti radit
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Apa kabar dengan keluarga Leo ya...kangen sama mereka
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
🤣🤣🤣🤣🤣
eka perwita
yess ayo cerai Tasya, mommy adel psti syok klo tau Radit jd pebinor 🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
baguslah kalau Tasya pergi buat apa tinggal di rumah ibunya Setyo..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!