Aku dinikahi orang yang baru kukenal, dan jarak usia kami 14 Tahun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Human, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran dan Berita
“Oh ya, aku… serius waktu bilang aku sayang sama kamu, Hann. Enggak peduli latar belakang kamu, agama kamu, atau apa pun, aku sayang sama kamu, Hanna. Ini bukan seperti aku bertanya ‘Maukah kamu jadi pacarku?’ aku cuma mau kamu mengerti perasaanku aja. Aku pamit pulang, assalamu’alaikum."
"Wa'alaikum"
Sepeninggal manusia itu, aku segera masuk ke dalam rumah. Perasaanku kembali campur aduk dibuatnya. Bimbang, bahagia, dan sedih menjadi satu menyerangku.
“Assalamu’alaikum.” Salamku sebelum memasuki rumah yang hening.
“Wa’alaikumsalam, udah pulang Hann? Gimana mamanya temen kamu tadi?”
“Udah baikan Kak, seenggaknya untuk sekarang. Kak Zahra di mana?”
“Baru aja naik, dia udah siapin kamu makan tuh di meja,” tunjuk Kak Ali.
“Iya, makasih Kak.” Aku berjalan menuju meja makan, dan memakan olahan sayuran itu dengan pikiran berputar-putar pada sosok Garrin.
Semalaman aku tak bisa tidur karena cowok itu mengatakan hal yang tak masuk akal. Padahal aku telah berusaha keras untuk mengabaikannya karena besok aku, Kak Zahra, dan Kak Ali harus pulang ke rumah Ayah-Bunda. Tapi Garrin justru mengucapkan kata-kata yang semakin memberatkan hati ini. Semakin parah lagi, keesokan harinya, aku justru sukses bangun kesiangan.
Setelah mengumpulkan keberanian menyentuh air yang terasa dingin di pagi hari, akhirnya aku turun dari kamarku. Pemandangan pagi di ruang tamu itu membuatku senam jantung seketika. Bagaimana mungkin aku bisa berpura-pura tak melihat saat disuguhkan pemandangan Kakakku dan suaminya bercumbu di sofa ruang tamu di rumahku sendiri.
Kalian ini kenapa nggak ke kamar aja kalau mau begituan? Ini rumah siapa woi! Teriakku kesal kepala.
Aku segera berjalan mundur seraya merapat pada dinding, dan kembali masuk ke dalam kamar. Aku menunda untuk turun selama beberapa saat, hingga Kak Zahra memanggilku turun. Jantungku masih berdebar setelah mata jombloku ini ternodai oleh pemandangan gamblang aktivitas pasutri di pagi hari.
Ayo fokus, Hanna! Kita mau pulang ke rumah Ayah-Bunda loh! Yuk lupain! Abis ini lanjut paking barang!
Pukul sembilan pagi, mobil yang membawaku, Kak Zahra, dan Kak Ali itu berangkat. Aku harus terima duduk di belakang sendirian, sementara dua manusia itu seperti sedang kasmaran justru memamerkan kemesraannya di depan sang adik yang jomblo ini. Aku melipat kedua tanganku di depan dada, seraya menoleh ke luar jendela agar tak teringat pada hal-hal berbau dewasa selayaknya kejadian pagi tadi.
Seperti itu yang kulakukan hingga akhirnya aku ketiduran, dan baru terbangun setelah sampai di pekarangan rumah Ayah-Bunda yang sepi. Begitu turun dan memasuki rumah itu lagi, hanya tersisa satu manusia di rumah itu. HAarun yang malang karena sedang ujian semester, terpaksa ditinggal sendirian Ayah-Bunda yang mengurus Kakek.
“Lama banget sih, Kakak-kakakku ini,” protes Harun menjadi ucapan selamat datang untuk kami bertiga yang lelah selama perjalanan.
“Assalamu’alaikum.” salam Kak Zahra ikut membawa tasku masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam.” Balas Harun tak bersemangat.
Kak Ali segera mengikuti Kak Zahra masuk ke dalam rumah. "Kamu nggak usah bawa yang berat-berat Mi, biar aku aja."
"Nggak apa, Bii, aku bantu dikit aja kok." balas Kak Zahra seketika membuatku merinding mendengarnya.
"Kebiasaan deh, kalau dikasih tahu susah nurut, ya?"
Aaaaargh! Lebay banget sih pasangan ini. Bikin polusi mata!
“Kakak-kakakku, kalian pasti cape, kan? Jadi sebaiknya kalian semua istirahat. Kebetulan Harun yang ganteng dan baik hati ini juga mau keluar sebentar. Jadi, kakak-kakakku tolong gantian jaga rumah, ya, assalamu'alaikum.” Pamit Harun diiringi tangannya memberikan kunci rumah kepadaku.
“Wa'alaikumsalam warahmatullah. Eh, mau ke mana?” tanyaku sebelum bibit cogan itu meninggalkan rumah ini.
“*No*ne of your business,” jawabnya dingin, kemudian berlari pergi.
Dari tempatku berdiri saat ini, dapat kulihat bocah itu pergi dengan temannya berboncengan dengan sepeda bmx. Antara menahan tawa, juga tak percaya, aku tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah adik laki-lakiku itu. Sepertinya kali ini ia sengaja bolos mengaji dengan teman-temannya. Yah, kurasa hal seperti itu tak perlu dianggap serius, toh baru sekali dua kali.
“Adik, ada telepon nih,” panggil Kak Zahra dari ruang tengah, membuatku terburu mendatanginya.
"Dari siapa, Kak?"
"Nggak ada namanya."
[voice call]
Hanna : Halo?
Penelepon : Halo, selamat siang, benar dengan Hanna Aleesa?
Hanna : Iya, Saya sendiri
Penelepon: Baik, Nona Hanna, atau kak Hanna, anda merupakan mahasiswi double degree manajemen bisnis dan Business Administration yang lulus tahun ini, benar?
Hanna : Iya, benar
Penelepon : Jadi begini Kak Hanna, kami dari perusahaan AA Publisher menawarkan anda sebuah lowongan pekerjaan. Kalau kak Hanna bersedia, kami bisa memprioritaskan Kak Hanna karena kebetulan anda memenuhi spesifikasi lowongan pekerjaan di kantor pusat kami. Selanjutnya kami akan mengirimkan undangan interview ke alamat surel anda, mohon untuk dibaca dan dipertimbangkan dengan baik.
Hanna : Untuk itu… bisa saya bicarakan dengan orangtua saya lebih dulu?
Penelepon : Tentu saja, kami juga tidak akan mendesak. Jika sudah yakin untuk mengisi lowongan pekerjaan ini, mohon anda mengirimkan CV ke kantor pusat kami. Format CV sudah kami sediakan dalam bentuk dokumen ke surel anda
Hanna : Baik, secepatnya saya akan menghubungi lagi
Penelepon : Baik, terima kasih Kak Hanna atas waktunya, mohon maaf telah mengganggu waktu anda, selamat menikmati akhir pekan bersama keluarga
Aku menghela napas sesaat. “Kenapa Hann?” tanya Kak Zahra melihat keresahanku.
“Tawaran kerja, Kak.”
“Di mana?”
“Perusahaan penerbit, AA Publisher.”
“Kamu ambil?”
“Belum tahu sih, abisnya sejak masuk kampus pun aku belum kepikiran langsung kerja setelah lulus,” ungkapku.
“Ya udah, kamu bisa pikirkan itu nanti. Jangan buru-buru, izin sama Ayah-Bunda juga jangan lupa. Kalau Kakak boleh kasih saran sih, sebelum kamu masuk ke dunia kerja, lebih baik kamu cari pengalaman dulu soal pekerjaan, cari info lebih banyak. Lagi pula kamu masih muda banget, waktunya buat cari-cari pengalaman,” nasihat Kak Zahra.
“Iya, thanks Kak. Nanti kalau Ayah sama Bunda pulang dari rumah Kakek, aku minta saran mereka dulu deh,” ujarku meninggalkan Kak Zahra menuju kamar.
Beberapa menit setelah penerbit yang menghubungiku, kini giliran Garrin kembali mengacaukan pikiranku. Tiba-tiba ia menghubungiku di siang bolong begini tanpa memberiku pesan lebih dulu.
[voice call]
Garrin : Halo, Hann?
Hanna : Iya? Kenapa?
Garrin : Kamu pulang ke rumah orangtua kamu?
Hanna : Iya, Rin, kenapa?
Garrin : Oh…, anu, itu… aku mau ngomong sesuatu, tapi kayaknya lebih baik kalau kita ketemu langsung. Maaf telepon kamu tiba-tiba, sampai ketemu nanti
Hanna : Hah? Loh?
Cowok itu menutup panggilannya.
*****
Selama seminggu berada di rumah Ayah-Bunda, yang bisa kulakukan hanya berdiam diri di kamar, sesekali menghubungi Khadija, dan membantu Harun belajar. Tapi kemudian aku mendapatkan sebuah ide untuk melakukan rutinitas baru yang merupakan hobi lamaku, menulis cerita fiksi. Aku ingat, sejak kelas dua Sekolah Dasar aku sering membuat ceritaku sendiri, hingga menulis naskah dramaku.
Saat SMP, aku juga pernah mengikuti lomba cipta cerpen meski tak sempat mendapatkan juara. Kini aku memulai lagi hobiku dari awal. Mungkin kisah hidupku akan bagus untuk dibagikan dengan banyak orang. Setiap memiliki inspirasi, aku pasti segera membuka notes, atau ponsel, atau macbookku untuk menulisnya. Lagi pula aku adalah tipe manusia pelupa, jadi akan lebih baik untukku segera menulis inspirasi yang bisa datang dari mana saja dan kapan saja.
Dan, hari itu Ayah dan Bundaku pulang dari rumah Kakek setelah keadaan Kakek cukup membaik. Kami menyambut kepulangan Ayah dan Bunda dengan mempersiapkan makan malam istimewa sekaligus bersiap untuk penyampaian kabar baik dariku dan Kak Zahra.
“Alhamdulillah.” Ayah meletakkan peralatan makannya.
“Yah, Bun, jadi kita punya kabar baik untuk Ayah dan Bunda.” Kak Zahra membuka suara.
“Sini, piringnya bisar Harun aja yang bawa ke belakang,” sela Harun seraya membawa peralatan makan itu ke belakang.
“Kabar baik pertama, Alhamdulillah Hanna bisa lulus tahun ini, dengan predikat summa cum laude!”
“Mashaa Allah, Alhamdulillah, Nak. Selamat ya!” Bunda memelukku tersenyum bahagia.
Kak Zahra tersenyum, mengusap bahu Bunda dan Ayah bersamaan. “Kabar baik keduanya….”
“Zahra hamil, Yah, Bun.”
“Alhamdulillah, tabarakallah, selamat ya, Nak. Sebentar lagi kalian akan jadi orang tua! Mashaa Allah."
“Iya Ayah, doakan semoga Zahra dan bayi kami sehat-sehat di dalam sana.”
Dalam keharuan itu, Harun datang dari belakang setelah meletakkan piring-piring kotor tadi ke tempat cuci. “Kabar baik ketiga?”
v
/_
masih kurang puas nih
sedih mulu